I Am No King

I Am No King
Chapter 38 – Kunjungan Tidak Terduga


__ADS_3

[Maaf, Lugalgin, bisa tolong ulangi lagi? Bagian akhirnya saja cukup.]


 


"Hah...." Aku menghela nafas. "Besar kemungkinan, aku akan ditunjuk menjadi kepala intelijen kerajaan ini. Dan, saat itu terjadi, aku akan merekrutmu sebagai pekerja…. Dan juga instruktur."


 


Diam. Tidak ada respon.


 


Saat ini, aku sedang berjalan pulang dari rutinitas pagi sambil menelepon Mulisu.


 


Semua kejadian kuceritakan secara singkat melalui telepon ini. Mulai dari penunjukanku sebagai kandidat raja karena silsilah keluarga dan status inkompeten, masalah dengan kedua raja, masalah dengan keluarga Alhold, dan penunjukanku sebagai kepala intelijen kerajaan.


 


Meski mengatakan ditunjuk karena status inkompeten, aku tidak menceritakan mengenai kemampuanku yang mampu menghilangkan pengendalian.


 


[Lugalgin, kamu tidak bercanda, kan?]


 


Akhirnya dia memberikan respon. Namun, responsnya belum berubah.


 


"Apakah aku pernah bercanda?"


 


[Sering!]


 


Aku terdiam. Baiklah, tampaknya aku salah berucap.


 


"Baik, maaf. Namun, kali ini, aku tidak bercanda. Semua yang aku katakan adalah serius dan benar adanya."


 


[Hah....]


 


Aku bisa mendengar Mulisu menghela nafas.


 


[Aku akan jujur saja. Jujur, untukku, aku tidak keberatan. Bahkan, kalau perlu, kamu tidak perlu mencari inkompeten lain dan langsung jadi raja saja. Untuk mereka.... aku yakin mereka sependapat denganku. Mereka akan menurut.]


 


“Apa kamu yakin? Maksudku, aku sudah dua tahun lebih tidak mengontak salah satu pun dari kalian. Beberapa minggu lalu, sebelum berangkat ke Mariander, adalah pertama kalinya aku mengontakmu, bukan kalian. Bahkan, kalau seandainya mereka tidak menerima keputusanku dan memilih pergi, aku tidak akan terkejut.”


 


[Gin, percayalah. Mereka adalah orang terakhir yang akan mengkhianatimu.]


 


Mendengar respon Mulisu yang tegas, aku berhenti dan terdiam sejenak.


 


[Daripada mereka, aku justru mempertanyakan kamu. Apa kamu bisa menerima keputusan ini? Menjadi bagian dari sistem kerajaan ini? Apa kamu yakin?]


 


"Jujur, aku tidak yakin. Entahlah. "


 


[Worst case scenario adalah,] Mulisu menyambung. [Kalau sudah lelah dan merasa muak dengan semua yang ditimpakan padamu, kamu akan menghancurkan kerajaan ini hingga fondasinya. Tidak menyisakan apapun bahkan pasar gelap.]


 


Aku kembali berjalan. "Kamu mengatakannya seolah-olah aku adalah raja iblis yang ada di novel-novel."


 


[Memang!] Mulisu menjawab cepat. [Bana’an benar-benar bermain dengan api, menjadikanmu Raja. Risikonya terlalu besar.]


 


“Yah, benar. Aku tidak percaya Fahren ingin menjadikanku Raja serta merta karena aku seorang inkompeten.”


 


[Pasti ada alasan lain.] Mulisu menyetujui pendapatku. [Ngomong-ngomong, aku tidak mau menyampaikan hal ini pada mereka. Kamu yang harus menyampaikannya langsung. Ah, sekalian, kamu bawa dua calon istrimu, perkenalkan pada mereka semua.]


 


"Hah?" Aku sedikit meninggikan suara. "Bagian menyampaikan secara langsung, ya, aku paham dan akan melakukannya. Tapi, di bagian membawa Emir dan Inanna, aku masih belum paham. Bisa tolong jelaskan?”


 


[Dengar! Cepat atau lambat, setelah kamu menjadi kepala intelijen kerajaan dan aktif kembali di pasar gelap, mereka akan mengetahui identitasmu dan kami yang sebenarnya. Kalau kamu tidak segera memberi tahu mereka, ada kemungkinan, mereka akan mengkhianatimu. Mereka akan mengkhianatimu karena merasa tidak dipercaya. Apa kamu lupa dengan Ukin?]


 


Ukin. Sudah lama sekali rasanya aku tidak mendengar nama itu diucapkan. Tampaknya, kamu masih kepikiran hal itu ya.


 


"Kalau begitu, aku ingin bantuanmu. Bisa kamu datang ke rumahku dan menjelaskan hal ini ke Emir dan Inanna? Aku tidak terlalu suka membicarakan diriku sendiri."


 


[Hahaha, kamu masih malu-malu kalau ngomong tentang diri sendiri, ya?] Mulisu merespon dengan tawa. {Ya, bisa diatur. Nantikan kedatanganku ya...]


 


"Ya...."


 


Aku mengakhiri panggilan.


 


Tidak lama, aku tiba di rumah. Rutinitas kembali seperti semula. Inanna sudah siap dengan sarapan di meja makan. Emir juga di meja makan, tapi masih mengenakan piama yang hanya terkancing di depan perut. Semua ini memberi kesan seolah keputusan Fahren untuk menjadikanku kepala intelijen kerajaan tidak pernah terjadi. Atau mereka tidak peduli? Bisa jadi.


 


Kami bertiga mulai sarapan.


 


"Lugalgin!"


 


Tiba-tiba saja, sebuah suara terdengar dari halaman, memaksa kami bertiga menoleh.


 


Di halaman, di balik jendela, terlihat seorang perempuan berambut coklat gelap panjang yang diikat dua, bagaikan laut dibelah. Beberapa bintik kecil di pipinya memberi kesan kalau dia masih peduli dengan penampilan, tapi tidak bisa menang melawan genetik. Mata hitamnya tampak begitu cerah, berkilau, seolah dia tidak menanggung beban apapun di hidupnya. Kulit putihnya memberi kesan


 


Perempuan itu mengenakan celana jeans pendek hijau tua dan tank top putih, yang samar-samar menunjukkan bra hitam di bawahnya. Terlihat tan line di bahu, menunjukkan dia adalah tipe outdoor yang suka mengenakan pakaian minimal.


 


Melihat perempuan ini berdiri di halaman, aku hanya bisa mengurut pelipis dengan perlahan.


 


"Aku tidak bilang harus hari ini, apalagi pagi ini juga." Aku berbisik.


 


Tanpa seizin siapa pun, perempuan itu membuka jendela, masuk ke rumah, dan duduk di sebelahku. Tentu saja, dia sudah melepas sepatu botnya sebelum masuk.


 


Emir dan Inanna terdiam. Mereka melempar pandangan ke perempuan ini, lalu ke aku, lalu ke perempuan ini lagi.


 


"Heh... penampilan mantan tuan putri Emir ini erotis juga ya. Bahkan, aku yang juga perempuan terangsang. Beruntung sekali kamu Gin bisa menikmati pemandangan ini setiap pagi."


 


Setelah mendengar ucapan perempuan ini. Emir langsung menutupi dada dan pinggangnya dengan kedua tangan.


 


"Hmm, jam segini sudah rapi, kelihatannya juga sudah mandi. Dan, aku berani bertaruh kamu yang menyiapkan sarapan ini! Kamu benar-benar cocok menjadi ibu rumah tangga. Waktu luang Lugalgin akan lebih banyak karena dia tidak perlu mengurusi rumah."


 


"Eh, ah, te-terima kasih."


 


Inanna menjawab dengan pandangan tertunduk, wajahnya merona.


 


"Ahahahaha,"


 


Perempuan ini tertawa puas melihat reaksi Emir dan Inanna.


 

__ADS_1


"Lugalgin! Kamu mengenal perempuan ini?" Emir menancapkan pandangan ke arahku.


 


"Iya, aku mengenalnya."


 


"Mengenal? Ayolah, hubungan kita lebih dari itu...."


 


Perempuan ini mendekat dan meletakkan kedua tangannya di pipiku. Perlahan, wajahnya semakin mendekat. Namun, belum sempat bibir kami bertemu, sebuah nampan sudah menempel di depan wajahku, di antara wajah kami.


 


Aku meraih nampan itu dan menoleh, melihat Inanna yang menjulurkan tangan, menggunakan pengendalian.


 


"Baik, sudah cukup jahilnya."


 


Aku meletakkan kedua tangan di bahu perempuan ini dan mendorongnya, memberi jarak antara kami.


 


"Hehehe," perempuan ini masih terkekeh.


 


Aku kembali melihat ke arah Emir dan Inanna. Ketika aku sadar, Emir sudah mengancingkan piamanya. Sial! Gara-gara perempuan ini, pemandangan favoritku jadi terhenti.


 


"Perkenalkan, perempuan ini adalah Mulisu An Kassite. Partnerku ketika aku masih aktif di pasar gelap. Yah, tidak usah perhatikan nama tengah dan belakangnya. Itu hanyalah nama acak yang dia pilih, bukan nama keluarga."


 


"Perkenalkan, namaku adalah Mulisu. Dulu, aku adalah partner Lugalgin, baik di pasar gelap maupun di ran–"


 


"Aku meminta dia datang untuk menjelaskan beberapa hal pada kalian. Terutama, mengenai rencana kita ke depannya."


 


Aku menyela Mulisu sebelum dia mengatakan ranjang. Aku tidak mau dia melempar kata yang akan membuatku kerepotan. Kalau Emir dan Inanna mendengar Mulisu, ada kemungkinan mereka akan merasa tersaingi dan melakukan hal yang sama untuk menyamakan kedudukan. Padahal, apa yang dikatakan perempuan ini adalah sebuah kebohongan.


 


Dia bukanlah partnerku di ranjang. Tidak pernah. Tidak. Pernah.


 


Tapi, biar aku kesampingkan hal itu. Kembali ke topik utama.


 


"Mulisu, aku masih belum yakin akan menceritakan mereka soal semua ini."


 


"Kenapa? Kamu tidak mau mereka tahu siapa dirimu yang sebenarnya? Apa ini berarti, kamu belum mampu memercayai mereka? Kalau begitu, apa menurutmu mereka layak menjadi istrimu? Kalau begini, kurasa, lebih baik, aku saja yang menikahimu karena hanya aku yang mampu kamu percaya."


 


Wait, what?


 


Sebelumnya, Inanna dan Emir sempat melempar pandangan tajam ke arah Mulisu. Sempat. Namun, kini, mereka mengarahkan pandangan padaku. Mata mereka yang ditarik ke bawah itu tampak ingin menangis.


 


Aku tidak sepenuhnya mengelak ucapan Mulisu, tapi aku juga tidak sepenuhnya membenarkan.


 


"Tidak, bukan itu maksudku." Aku melihat ke arah Emir dan Inanna, memastikan maksudku tersampaikan. "Hanya saja, mungkin, akan sulit bagi kalian untuk percaya. Daripada langsung diceritakan semuanya, mungkin, lebih baik–"


 


"Supaya mereka mempelajari siapa kamu perlahan-lahan? Menunggu semuanya terbuka dengan sendirinya? Apa kamu mau mengulangi kejadian Ukin?"


 


Nada ringan dan bercanda Mulisu menghilang. Kini, dia menekan nadanya dan menatapku tajam, dalam.


 


Aku menghela nafas. Ucapan perempuan ini benar. Aku tidak bisa mengulangi hal itu.


 


Di lain pihak, ada apa dengan perempuan ini? Tidak biasanya dia pushy seperti ini.


 


 


"Baiklah," aku menurut. "Tapi, sebelum itu." Aku menoleh ke Emir. "Emir, kamu mandi dan ganti baju dulu."


 


***


 


Sekarang, kami duduk di ruang inti. Televisi di seberang meja kami biarkan menyala tapi dengan volume yang direndahkan. Hanya sekadar mengisi kesunyian, tidak untuk mengganggu konsentrasi dan perhatian kami.


 


Aku duduk di tengah sofa dengan Inanna di kiri dan Emir di kanan. Mulisu duduk di sofa seberang. Tampaknya, Emir dan Inanna masih siaga dengan Mulisu yang tampak begitu dekat denganku. Mungkin, mereka tidak mau Mulisu dekat-dekat denganku? Yah, aku paham.


 


"Jadi, Mulisu, apa yang akan kamu ceritakan pada dua calon istriku ini?"


 


"Baik! Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu pada mereka." Mulisu membuka cerita dengan sebuah pertanyaan. "Apa yang kalian ketahui tentang Lugalgin selain dia menjual barang antik?"


 


Emir dan Inanna saling melihat, meskipun aku berada di antara mereka. Mereka mengangguk dan menoleh ke Mulisu.


 


“”Tidak ada.””


 


Wow, kompak sekali kalian. Kalian bisa mengatakannya secara bersamaan. Bahkan, hingga nada dan penekanannya.


 


"Rekam jejak Lugalgin sebagai pedagang barang antik?"


 


Emir menggeleng. "Tidak. Informasi yang kudapatkan berhenti pada 'oh, pedagang barang antik itu? Entahlah. Sejauh yang kutahu dia hanyalah pedagang barang antik. Tidak lebih.’."


 


"Kalau hanya beberapa orang yang mengatakannya, kami pasti percaya." Inanna menyambung. "Namun, semua informasi hanya sampai di situ. Tidak lebih. Seolah-olah pasar gelap sepakat untuk tidak mengatakan apapun."


 


Setelah mendengarnya, Mulisu meletakkan kedua tangan di depan mulut. Aku bisa melihat tubuhnya yang bergetar dan kelopaknya yang sedikit mengalirkan air mata. Dia sedang berusaha menahan tawanya. Namun, tampaknya, usahanya percuma.


 


"Hahahaha," Mulisu tidak mampu menahan tawa. "Kamu dengar itu Lugalgin? Mereka menganggap pasar gelap sepakat untuk tidak mengatakan apapun. seolah-olah, seolah-olah," Mulisu berusaha berbicara, tapi justru tawa yang muncul.


 


Emir dan Inanna saling memandang, lalu melihat ke arahku dan sedikit memiringkan kepala. Tanpa perlu berkata apapun, aku bisa mendengar mereka berkata 'apa aku salah?' di dalam pikiran mereka.


 


"Maaf, biar, kulanjutkan." Mulisu berhasil menghentikan tawanya. "Jawaban yang benar adalah, sebenarnya, pasar gelap sama sekali tidak mengenal siapa itu Lugalgin Alhold. Nama Lugalgin Alhold baru muncul dan dikenal dua tahun yang lalu.


 


“Dan, sesuai informasi, orang-orang hanya mengenal Lugalgin Alhold sebagai pedagang barang antik karena dia memang hanya pedagang barang antik, dan tidak terkenal."


 


"Eh? Tidak mungkin." Emir menolak. "Barang-barang buatan Lugalgin memiliki kualitas tinggi. Harusnya, barang-barang itu mencapai–"


 


"Telinga kolektor, kan? Dan, menurutmu, berapa banyak kolektor yang tertarik dengan barang antik? Hanya sedikit kolektor barang antik di kerajaan ini."


 


Emir terdiam, tidak mampu memberi respon lebih lanjut.


 


"Jadi," Inanna memberi respon menggantikan Emir. "Kamu mau berkata Lugalgin hanya dikenal sebagai pedagang barang antik hanya karena dia jarang aktif di pasar gelap?"


 


"Yap, tepat sekali." Mulisu mengiyakan. "Setidaknya, sebagai Lugalgin Alhold."


 


Sebuah senyum lebar terkembang di wajah Mulisu.


 


Inanna memicingkan mata. Dia mencurigai senyuman, dan jawaban, Mulisu.

__ADS_1


 


"Sebagai Lugalgin Alhold?"


 


"Ya."


 


Inanna mempertegas pernyataan Mulisu. Mulisu pun memberikan konfirmasi.


 


"Tunggu," aku mengangkat tangan, menghentikan perbincangan mereka. "Mulisu, apa kamu menyebarkan rumor lain mengenaiku?"


 


"Hah? Tidak. Aku belum menyebarkan rumor apapun."


 


Belum? Jadi, kamu berencana?


 


"Kalau begitu," aku berdiri, berjalan menuju balkon, dan membuka jendela. "Perbincangan ini, lebih baik, kita lanjutkan lain kali."


 


"Eh?"


 


Mulisu langsung bangkit dan berlari ke sampingku. Tanpa perlu kuarahkan, Mulisu sudah menyamakan pandangannya denganku.


 


"Apa aku diikuti? Tidak. Aku yakin tidak diikuti. Dengan kata lain–"


 


“Dia sudah mengintai tempat ini sebelumnya.”


 


Kami melihat ke kejauhan. Dari rumah, jaraknya mungkin sekitar tiga atau empat ratus meter. Di tempat itu, terdapat satu rumah yang kordennya sedikit terbuka. Dari korden yang terbuka itu, sebuah cahaya memantul, yang kuperkirakan berasal dari teropong.


 


Aku melihat pantulan cahaya itu kebetulan karena bosan dan melihat ke arah luar. Kalau seandainya orang ini melakukan pengintaian pada malam hari, dan dengan lampu mati, aku pasti tidak akan mengetahuinya.


 


Korden itu tiba-tiba tertutup. Tampaknya, begitu kami mengetahui kalau lokasi pengintaiannya, dia langsung pergi.


 


"Mulisu, tolong cek tempat itu."


 


"Baik!"


 


Mulisu mengenakan alas kaki dan berlari, melompati dinding belakang halaman dengan mudah.


 


"Ada apa Gin?"


 


Emir datang ke samping beserta Inanna.


 


"Ada yang mengintai kita."


 


”Eh?”


 


Inanna dan Emir berteriak bersamaan.


 


Tidak lama kemudian, aku merasakan getaran di saku kanan celana. Aku mengambil handphone model candybar dari dalam dan membukanya.


 


Emir dan Inanna terdiam ketika aku mengeluarkan handphone yang belum pernah mereka lihat.


 


[Lugalgin, lima orang, pemilik rumah ini dan keluarga, telah tewas. Luka tusukan tepat di leher. Tubuh sudah dingin dengan tubuh penuh dengan air kencing dan feses. Kemungkinan, mereka sudah tewas sejak beberapa hari yang lalu.]


 


Berarti, kemungkinan, orang itu sudah mengintaiku sejak beberapa hari lalu tapi aku baru mengetahuinya sekarang.


 


"Baiklah, kami akan segera ke sana."


 


"Ada apa, Lugalgin?" Inanna bertanya.


 


"Penghuni rumah itu, lima orang, tewas."


 


"Hah?"


 


Aku tidak memedulikan reaksi mereka berdua. Aku membuat panggilan lain ke nomor pribadi Fahren.


 


[Hai, Lugalgin, ada apa? Apa kamu sudah mau menerima posisinya tanpa aku perlu memberi dokumen itu?]


 


"Tidak," aku langsung menolak. "Kirim dua agen schneider. Satu yang sudah menjadi agen lebih dari dua tahun, yang satu lagi belum ada dua tahun."


 


[Hah?]


 


"Rumahku diawasi. Aku tidak tahu apakah yang melakukannya orang pasar gelap atau orang kerajaan. Dan, kurasa, aku ingin sekalian membandingkan kualitas agenmu."


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Chapter ini diupload sabtu sore.


 


Halo Semua, sebelum memberi post-notes, Author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author.


 


Kali ini, tidak banyak yang bisa author bahas, baik dari segi komentar maupun dari segi cerita. Jadi, kali ini, mungkin singkat saja.


 


Untuk cerita, chapter ini tidak cukup berbobot, masih nanggung. Belum selesai Mulisu bicara, sudah ada masalah lain. Namun, chapter ini memang tidak direncanakan terlalu berbobot, hanya penyambung antara chapter sebelumnya dan yang akan datang. Dan, chapter ini masih berada di Arc 3 – Part 1, belum beranjak ke Arc 3 – Part 2.


 


Untuk yang sudah jalan-jalan ke IG, kalian pasti sudah melihat siapa yang author jadikan patokan sebagai tokoh Mulisu ini. Namun, di lain pihak, kalau kalian jalan-jalan ke IG, kalian pasti akan kena spoiler. hehe >,<


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


:D


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2