I Am No King

I Am No King
Chapter 158 – Sedikit Dendam


__ADS_3

~Ninlil's POV~


"Ngomong-ngomong, aku boleh main ke rumahmu tidak?" Nanna bertanya.


"Eh? Ke rumah? Tapi sekarang aku tinggal dengan kakak."


"Justru itu." Nanna merespon cepat. "Kalau aku bermain ke rumahmu, yang adalah rumah Kak Lugalgin, aku bisa bertemu dengan Tuan Putri Inanna dan Tuan Putri Emir."


"Ahh.... kamu benar-benar hanya ingin bertemu Kak Inanna dan Kak Emir?"


"Anggap saja demikian."


Nanna menjawab dengan sebuah senyum. Dia tersenyum sambil menutup kedua matanya, menunjukkan sebuah ekspresi yang polos dan tampak pure.


Namun, jangan salah. Aku sudah mengenalnya dua tahun lebih. Nanna bukanlah tipe yang bisa berbohong dengan mudah. Matanya pasti akan tampak ragu. Oleh karena itu, dia memiliki trik ini. Jadi, ya, aku tahu kalau Nanna sedang berbohong.


Apa tujuan Nanna yang sebenarnya adalah Kakak? Ah, tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin, kan?


"Kebetulan," Suen masuk. "Aku juga ingin bertemu dengan Kak Lugalgin. Aku ingin sedikit berkonsultasi dengannya soal proyek kecilku."


"Proyek kecil?"


"Iya. Aku mau bertanya soal metode dan optimalisasi pengendalian yang sedang aku pikirkan. Biasa, aku butuh kecerdasan Kak Lugalgin yang bahkan bisa mendapatkan nilai sempurna di ujian tertulis."


Oh, tentu. Kak Lugalgin gitu. Nilai sempurna di ujian tertulis adalah hal yang lumrah untuk kakak. Hehehe.


Akhirnya, atau sialnya, bel berbunyi tiga kali, menandakan jam pelajaran dimulai. Tidak lama setelah itu, pintu terbuka dan pak Guru masuk.


"Baik, kita lanjutkan yang kemarin ya."


Pak Guru menjentikkan jari dan layar proyektor menyala. Dengan menggunakan pengendalian, Pak Guru dapat mengendalikan mouse atau mengetik di komputer tanpa bergerak dari tempatnya presentasi di tengah ruangan.


***


Akhirnya, jam istirahat kedua sudah datang. Waktunya makan siang.


Seperti biasa, kami bertiga pergi ke kantin untuk makan siang. Aku dan Nanna mencari tempat duduk sementara Suen memesan makan siang. Saat itu, aku melihat dua wajah familier sedang makan di satu meja yang sama. Dengan sengaja, aku memilih duduk di belakang mereka.


Begitu mencapai jarak beberapa meter, aku bisa melihat gerakan tangan mereka terhenti. Mereka juga berkeringat deras padahal makannya tidak tampak pedas atau pun panas, hanya mie goreng kecap biasa.


Yang membuat makan mereka terhenti dan berkeringat adalah aku. Mereka berasal dari keluarga Alhold, pengendali aluminium. Dengan kekuatan pengendalian yang jauh lebih lemah dariku, berada di dekatku saja sudah membuat mereka tidak nyaman. Jujur, aku tidak pernah lelah membully mereka seperti ini.


Belum sempat kami duduk, mereka sudah berdiri sambil membawa piring.


"Kenapa kalian pindah? Kalian tidak sudi duduk di dekatku?"

__ADS_1


"Tidak, bukan maksud kami," salah satu menjawab. "Hanya saja, pengendalian kami terlalu lemah dibandingkan pengendalian kakak. Jadi, kami terpaksa pindah atau tidak bisa makan dengan nyaman."


"Bagaimana kalau kalian coba tahan? Maksudku, di masa depan, aku akan memimpin keluarga Alhold. Kalau anggota keluargaku saja menjauh, bagaimana aku bisa memimpin kalian?"


Setelah mendengar ucapanku, mereka berdua saling melempar pandangan. Mereka pun akhirnya kembali duduk. Aku bisa melihat keringat mereka masih mengalir dan pergerakan tangan juga kaku. Namun, mereka tetap menurutiku.


Apa ini berarti hipotesis kakak dan Kak Inanna adalah benar? Orang dengan pengendalian lebih lemah secara tidak sadar akan menurut pada orang dengan pengendalian lebih kuat.


Kata Kak Inanna, dan dari pelajaran biologi, penurunan pengendalian mengikuti pola yang mirip dengan gen. Pengendalian paling kuat di keluarga Alhold untuk generasiku adalah Aku, Ufia, dan Nammu. Aku yang terkuat, Ufia kedua, Nammu ketiga. Bahkan, pengendalian kami sudah melampaui generasi sebelumnya.


Dengan kata lain, kalau aku coba sederhanakan, gen dominan hanya menurun di keluarga utama.


"Hei, Lil? Ninlil?"


"Eh, ya?"


Tanpa aku sadari, Suen sudah duduk di sebelah Nanna.


"Kamu masih kesal dengan kejadian kemarin?" Nanna bertanya lebih lanjut.


"Ah, ya masih kesa, tapi aku tidak sedang memikirkannya. Aku hanya memikirkan sedikit soal biologi."


"Hah? Kamu bodoh di biologi. Jangan-jangan apa yang kamu pikirkan terbalik lagi seperti biasa?" Suen menghinaku dengan begitu lancar.


Meski sebenarnya aku ingin menyanggah hinaan Suen, tapi aku tidak bisa memungkirinya. Ucapannya adalah benar. Aku benci biologi. Aku lebih tertarik pada matematika dan fisika.


"Kalau begitu, Suen," aku meminta pendapat Suen. "Kalau aku bilang gen dominan pada keluargaku, keluarga Alhold, hanya muncul di anggota keluarga utama, apakah salah?"


"Kurang tepat. Kamu mengatakannya terbalik," Suen mengoreksi. "Bukan gen dominan muncul pada keluarga utama, tapi keluarga utama adalah mereka yang memiliki gen dominan."


Apa bedanya? Sama saja, kan?


"Aku tidak akan menjelaskan bedanya apa. Intinya ucapanmu kurang tepat. Coba kamu pikirkan, sekalian sebagai latihan belajar."


Yee. Kalau tidak mau menjelaskan tidak usah menyanggah. Merepotkan saja ni anak.


Sebuah nampan logam melayang dan mendarat di tengah kami. Kami pun mengambil piring keramik di atasnya dan membiarkan nampan itu melayang kembali, ke dapur.


"Lil, bagaimana kalau kita pindah saja? Aku kasihan pada mereka."


Tampaknya, Nanna tidak mampu melihat penderitaan dua orang Alhold di dekat kami.


Aku kembali melihat ke arah mereka. Terlihat muka mereka pucat. Bahkan tangan mereka mulai bergetar.


Hah, pengendalian keluarga cabang memang lemah. Perbedaan kekuatan kami terlali besar. Bahkan, mereka tampak mulai mengalami gejala yang kemarin diucapkan Kak Inanna, gejala ketika dua orang dengan pengendalian utama yang sama berdekatan.

__ADS_1


Tampaknya, meski kami semua memiliki pengendalian utama lebih dari satu, kalau perbedaan kekuatannya terlalu besar, efeknya tidak terhenti pada perasaan tidak nyaman.


Yah, sudahlah. Aku tidak mau membuat Nanna tidak enak. Namun, aku juga tidak mau pindah. Merepotkan saja.


"Hei, kalian boleh pindah."


"Te, terima kasih Kak Kepala."


Dalam sekejap, mereka berdua langsung pergi dari tempat ini. Aku melihat mereka melanjutkan makan di ujung ruangan.


Mereka benar-benar menurut, ya.


"Lil, apa menurutmu kamu tidak terlalu kejam pada mereka?" Nanna bertanya.


"Tidak! Sama sekali tidak!" Aku menolak pertanyaan, dan pernyataan, Nanna. "Aku sudah pernah cerita kan kalau keluarga Lugalgin pernah mematahkan tangan Kak Lugalgin? Kak Lugalgin tidak pernah mendapat permintaan maaf. Kalau pun Kak Lugalgin memaafkan mereka, aku tidak akan pernah melakukannya."


"Yah, kami tidak akan ikut campur ke masalah internal keluargamu." Suen masuk. "Ngomong-ngomong, sudah tanya Kak Lugalgin dia pulang kerja jam berapa?"


"Ah, iya, aku hampir lupa bilang. Kak Lugalgin tadi membalas kalau dia akan di rumah setelah jam 4 kalau tidak ada kejadian di luar dugaan atau darurat."


"Oke, berarti kita langsung ke rumah Kak Lugalgin, kan?"


"Eh? Tentu saja tidak. Kita mampir dulu, menjemput Kak Lugalgin di kantornya."


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



 

__ADS_1


 


__ADS_2