I Am No King

I Am No King
Chapter 115 – Lelah


__ADS_3

"Gin, tenanglah...."


 


Tiba-tiba saja, kepalaku ditarik ke kanan, mendarat ke sebuah kelembutan, kehangatan, dan kelembutan. Sekarang, Inanna memelukku sambil menyandarkan kepalaku ke dadanya.


 


"Apa kamu lelah?"


 


Aku tidak menjawab. Bukannya aku tidak mau menjawab, tapi aku tidak tahu mau menjawab apa. Aku tidak tahu.


 


"Ketika kamu lelah secara fisik, secara tidak langsung kondisi psikologi dan mentalmu pun akan ikut terbawa lelah." Inanna mengelus kepalaku. "Tampaknya, kamu mulai kepikiran banyak hal gara-gara kecapekan. Kami minta maaf karena tadi malam tidak membiarkanmu beristirahat."


 


Aku tidak menyalahkan kalian. Aku..... entahlah. Aku tidak tahu.


 


Kalau aku merunut kejadian yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, aku menyadari semua itu dimulai ketika aku bertemu dengan mereka di jalan tol itu. Sejak saat itu, kejadian demi kejadian pun muncul. Semua yang ingin kutinggalkan muncul ke permukaan. Pasar gelap, Agade, pembantai keluarga Cleinhad, dan lain sebagainya.


 


Kalau aku orang dengan sumbu pendek, mungkin aku sudah marah dan menyalahkan mereka berdua atas semua yang terjadi. Namun, untungnya, tidak. Aku justru bersyukur karena mereka ada di sini untukku. Aku bisa merasakan ketenangan dan kehangatan ini.


 


"Gin, terima kasih karena selama ini kamu sudah membantu kami."


 


Tiba-tiba saja, aku mendengar suara Emir dari kiri. Selain itu, aku bisa merasakan tangannya yang membelit perutku. Dia mengusap wajahnya ke lenganku.


 


"Kalau bukan karena kamu, aku mungkin masih menjadi tuan putri tomboi yang tidak jelas. Berkat kamu, aku bisa menjadi diriku yang sebenarnya. Aku sadar, kalau aku tidak menjadi calon istrimu, mungkin kamu sudah menyingkirkan ayah, ibu, kak Yurika, dan keluarga kerajaan lain. Setelah itu, kamu bisa pergi dari kerajaan ini, hidup dengan identitas baru. Aku sadar kalau aku hanyalah beban dan rantai di hidupmu.


 


"Aku berterima kasih karena kamu mau menerima semua keegoisanku, karena kamu memutuskan untuk tidak membunuh mereka. Selain itu, aku juga ingin berterima kasih karena kamu tidak menganggapku sebagai beban. Kamu masih menyayangiku dengan sepenuh hati, tanpa mengharapkan imbalan. Aku berterima kasih karena kamu tidak memperlakukanku sebagai tuan putri. Aku berterima kasih karena kamu memperlakukanku sebagai seorang perempuan biasa."


 


Ketika Emir mengatakannya, aku jadi teringat ucapan Yurika saat lamaran Emir, yang mengatakan hal yang mirip. Namun, kali ini, aku mendengarnya dari Emir langsung.


 


Inanna melanjutkan, "untuk aku, Gin, kamu memilih untuk melindungiku, ibu, dan Ninshubur. Padahal, saat itu, kami hanyalah orang asing di hidupmu. Namun, kamu bersedia untuk menyelamatkan kami bahkan memikirkan rencana agar kami bisa pindah kewarganegaraan.


 


"Kamu juga memberiku kesempatan untuk keluar dari lingkungan kerajaan, bukan sebagai tawanan politik, tapi sebagai calon istrimu. Aku berterima kasih karena kamu telah bersedia melakukan itu semua dan selalu mendukung semua keputusan yang aku buat."


 


Aku, aku, aku tidak tahu. Saat ini pikiranku benar-benar kosong dan bingung. Aku sama sekali tidak menduga mereka akan mengatakan semua ini.


 


"Terima kasih, Gin."


 


Emir dan Inanna mengucapkannya bersamaan. Ketika mendengar mereka mengatakan kata-kata itu, entah kenapa, aku merasa begitu tenang, damai, seolah-olah semua beban yang aku pikul menghilang.


 


Terima kasih, Emir. Terima kasih, Inanna.


 


***


 


"Emir, tampaknya kita sudah terlalu mengandalkan Lugalgin."


 


"Ya, kamu benar." Emir menjawab singkat. "Dan, tampaknya, ucapanku menjadi pelatuk terakhir."


 


"Hahaha. Kalau biasanya, Lugalgin akan menjawabmu enteng dengan 'ya, ya, aku paham.'. Namun, tidak untuk kali ini."


 


Setelah semua itu, Lugalgin tertidur. Aku memberikan pangkuanku sebagai bantalnya.


 


Kalau dulu, Emir pasti sudah protes, menyerobot kepala Lugalgin, dan menggunakan pangkuannya sendiri untuk bantal Lugalgin. Namun, kali ini, dia tidak melakukannya. Dia duduk di sofa seberang meja dengan tenang.


 

__ADS_1


Tanpa perlu kami mengatakannya, tampaknya, perasaan kami adalah sama. Selama ini, Lugalgin telah menjadi sosok pemimpin sekaligus kepala keluarga yang bisa diandalkan. Dia memikirkan semua rencana dan jalan keluar dari semua masalah kami.


 


Namun, sayangnya, karena itu semua, kami melupakan satu hal yang krusial. Kami melupakan kalau bahkan Lugalgin belum genap berusia 20 tahun. Dia masih remaja.


 


Di lain pihak, kami yang sudah lebih tua satu tahun justru terlalu bergantung padanya. Tampaknya, membuatnya kelelahan tadi malam adalah sebuah keberkahan yang tidak terduga. Kalau dia tidak kelelahan, mungkin dia tidak akan pernah menyadari semua beban yang dia pikul.


 


Orang bilang, psikologis perempuan lebih cepat dewasa dibandingkan laki-laki meski berusia sama. Kami yang secara fisik saja sudah lebih tua dari Lugalgin, seharusnya lebih dewasa darinya. Kami merasa malu.


 


"Aku sudah menghubungi Ibla. Dia bilang akan mengirimkan Ur untuk berjaga."


 


"Baguslah. Karena tampaknya, kita akan menginap di ruangan ini."


 


"Selain itu, Shu En bilang kita bertiga bisa libur besok."


 


"Haha, aku tidak yakin Lugalgin akan mengambil libur itu."


 


"Kalau tidak mau, kita harus memaksanya supaya mau. Sudah tugas kita sebagai calon istrinya."


 


Aku melihat ke bawah, melihat wajah Lugalgin yang tertidur dengan pulas sambil membelai rambut coklatnya. Selamat tidur, Lugalgin, sayang. Kami menyayangimu.


 


***


 


Hah?


 


Aku membuka mata dengan cepat, melihat ke sekitar. Matahari mulai menampakkan diri di ujung horizon. Di sampingku, Emir dan Inanna tertidur. Mereka masih mengenakan pakaian kasual, bukan piama apalagi telanjang. Kami bertiga tidur di atas satu kasur, di antara kursi kantorku dan jendela.


 


 


Tiba-tiba saja, aku merasakan getaran dari dalam saku jaket. Aku mengambil smartphoneku dan membaca pesan di dalamnya.


 


Aku pulang ya. Maaf kalau kami terlalu membebanimu. Kami akan berusaha agar bisa lebih berguna lagi.


 


Aku tersenyum kecil. Tanpa aku sadari, aku sudah membuat orang-orang di sekitarku merasa bersalah. Meskipun dalam keadaan tidur, instingku masih kuat. Aku bisa merasakan kalau ada ancaman dan langsung bangun.


 


Namun, tampaknya, Ur mencoba menjaga agar tidak ada ancaman yang datang, mencegahku terbangun.


 


Aku pun membalas pesan Ur.


 


Terima kasih


 


"Unn... Gin? Kamu sudah bangun?"


 


Inanna adalah yang pertama bangun. Di lain pihak, Emir, seperti biasa. Meski aku bilang bangun, dia masih mengusap-usap matanya. Rambutnya seperti ibu dan Ninlil yang rapi walaupun baru bangun tidur. Di lain pihak, Emir, dia sudah menjadi seperti singa.


 


"Maaf, apa aku membangunkanmu?"


 


"Tidak apa. Aku juga biasanya bangun jam segini."


 


Aku tersenyum masam. "Kelihatannya aku sudah membuat kalian cemas."


 


"Tidak apa, Gin. Kami lah yang harus meminta maaf karena telah membebanimu." Inanna menjawab dengan senyum lebar. "Bagaimana? Sudah lebih segar?"

__ADS_1


 


"Ya, sudah. Sekarang aku bisa memikirkan semua ini dengan lebih tenang."


 


"Hahaha, lain kali kami akan memperhatikan jadwalmu kalau minta jatah."


 


"Haha,"


 


Aku bangkit dari kasur dan berjalan ke jendela. Tanpa bertanya, aku sudah bisa menyimpulkan kalau kasur ini dibawa oleh Emir atau Inanna dari kamar hotel terdekat. Sebagai Mal terbesar yang memiliki hotel dan ruang konferensi, kasur cadangan adalah hal yang lumrah.


 


"Shu En bilang kita bisa libur hari ini."


 


Ung... rasanya baru minggu lalu aku masuk kerja.


 


"Shu En bilang pencapaianmu selama seminggu ini jauh lebih besar dari keluarga Azzaha selama beberapa tahun. Kamu sudah mencapai kata sepakat dengan Akadia dan Agade, dua dari enam pilar. Selain itu, kamu juga sudah memberi instruksi yang membuat agen-agen yang tidak berguna dirumahkan. Belum lagi soal rekrutmen. Dengan begini, meski ada sedikit gangguan, dia bilang agen schneider memiliki masa depan yang lebih cerah."


 


"Dia bercanda kan?"


 


Inanna menggelengkan kepala.


 


Aku mencapai kata sepakat dengan Akadia karena ada ibu. Agade, tidak usah dibahas. Merumahkan agen? Ayolah, siapa saja bisa melakukannya. Bahkan, yang menyebarkan instruksi dan peringatan itu adalah agen schneider sendiri. Aku sama sekali tidak bekerja.


 


"Dia bilang, dengan kamu menjadi pemimpin dan mengambil keputusan, kamu telah bekerja. Belum lagi, dia bilang, pikiranmu tampak tidak pernah beristirahat, bahkan bekerja di hari Sabtu dan Minggu. Ketika agen schneider beristirahat, kamu justru melakukan pendekatan pada Akadia dan Agade."


 


Ahh, umm, aku tidak tahu ingin mengatakan apa lagi.


 


"Sudahlah gin, terima saja hari liburmu. Bagaimana kalau kamu mengajak kami pergi ke taman bermain? Sejak bertemu, kita belum pernah kencan, kan?"


 


Now that you say it.


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2