I Am No King

I Am No King
Chapter 292 – Perjanjian


__ADS_3

"Aku tidak tahu apa yang telah kalian lakukan, Emir, Inanna. Namun, aku sangat berterima kasih. Berkat kalian, akhir-akhir ini, Lugalgin terlihat lebih rileks dan ceria. Dia tidak menggunakan poker face sesering dulu. Kali ini, kami tidak harus selalu menebak apa yang ada di pikirannya karena dia sudah menunjukkannya di wajah. Sekali lagi, aku sangat berterima kasih."


"Ah, itu, tidak. Kami .... "


Aku tidak bisa tenang setelah mendengar ucapan om Barun. Aku sama sekali tidak menduga Om Barun akan mengatakan itu semua. Ucapannya membuatku malu.


"Tidak perlu berterima kasih, Om Barun." Inanna Nimbrung. "Lugalgin juga sudah memberi kami tempat untuk pulang. Dia pun menerima kami apa adanya, tidak memedulikan latar belakang kami. Dan, Lugalgin juga telah memberi keamanan dan bantuan yang tidak ternilai pada keluargaku. Kami juga berterima kasih pada Om Barun karena telah membesarkan Lugalgin hingga pada titik ini."


"Ya, Inanna benar, Om. Kami juga perlu berterima kasih pada Lugalgin atas segala yang dia berikan."


"Bisa tolong berhenti mengatakan semua itu? Kalian mengatakannya seolah-olah ini adalah pertemuan terakhir kita. Kalian menegakkan sebuah death flag."


 


 


***


 


 


Aku membuka mata dan bangkit dari pangkuan Emir. Pandanganku masih kabur, tapi aku sudah bisa berbicara dengan cukup lancar.


"Ahaha, Gin, kamu terlalu banyak membaca komik dan nonton kartun." Emir merespons dengan enteng. "Kamu bisa tidur lebih lama kok."


"Aku kan sudah bilang hanya perlu tidur sebentar. Aku hanya perlu menghilangkan kecapekan setelah naik pesawat."


Aku bangkit dan berjalan menuju meja makan. Namun, aku terkejut ketika tidak melihat ada meja makan. Inanna, tante Filial, Ninlil, dan Ninshubur mengatur makan di atas tikar. Kami akan makan siang dengan cara lesehan. Ah, iya juga. Meja makan kami hanya bisa menampung 6 orang. Belum lagi ada tambahan Rina.


"Ah, akhirnya makan siang sudah siap. Pas sekali waktunya."

__ADS_1


Ibu muncul dari ruang tamu diikuti Rina. Sementara Ibu terlihat semringah, wajah Rina justru terlihat pucat dan lelah. Aku penasaran ibu menanyakan apa saja pada Rina.


"Emir, Inanna, soft file surat perjanjian sudah kukirim ke email kalian. Nanti baca baik-baik ya. Syarat dan kondisi yang kalian ajukan sudah terpenuhi. Dan, jangan terlalu lega dulu. Tampaknya, persiapan kalian bisa menjadi kenyataan meski tidak dalam waktu dekat."


"Baik!"


Eh? Persiapan? Apa yang mereka maksud.


Aku mengangkat tangan. "Bu, aku bisa lihat surat perjanjiannya juga tidak?"


"Tidak Gin. Ibu tidak akan menunjukkannya padamu. Dan, aku juga menyarankan Inanna dan Emir tidak menunjukkannya padamu. Jangan khawatir. Ibu sudah memastikan kamu tidak akan dikhianati atau dirugikan kok."


Mengingat aku adalah objek dalam perjanjian ini, seharusnya aku juga mendapat hak untuk membaca surat perjanjian tersebut. Dan lagi, untuk soal dirugikan atau tidak, itu subyektif. Bisa saja yang tidak merugikan untuk ibu masih merugikan untukku. Ya, sebenarnya, aku masih ingin menyanggah ucapan ibu. Namun, aku mengurungkannya. Kalau ibu sudah teguh, percuma saja. Apalagi Inanna dan Emir juga tampaknya sudah setuju.


Kami pun makan dengan tenang dan santai, tanpa gangguan. Kompleks perumahan di sekitar sini memang tidak dihuni, tapi bukan berarti kosong. Aku meletakkan anggota Agade dan intelijen yang tersebar secara acak, mengamankan kami. Setiap kali aku merasakan ada aura membunuh atau orang ingin menyerang, dalam waktu singkat, perasaan itu hilang.


Sejak Rina bersamaku, percobaan pembunuhan melalui jalur intelijen dan pasar gelap juga meningkat drastis. Intelijen yang dilumpuhkan oleh Ibla dan yang lain tentu saja berasal dari kerajaan Nina. Untuk pembunuh pasar gelap, rata-rata berasal dari luar Bana'an. Hampir tidak ada pembunuh asal Bana'an yang mengincar Rina.


"Jadi, apa yang akan kalian lakukan setelah ini?" Ibu membuka pembicaraan.


Kami duduk di ruang keluarga. Aku duduk bersama Inanna dan Emir. Rina dan tante Filial duduk di kanan dan kiri, di sofa untuk satu orang. Ayah dan ibu duduk di seberangku, bersebelahan.


Aku melempar pandangan ke Rina.


"Aku juga bertanya padamu, Gin. Masalah ini bukan hanya menyangkut Rina, tapi juga menyangkut kamu. Terutama, Permaisuri Rahayu."


Ketika nama Permaisuri Rahayu terdengar, aku bisa merasakan aura membunuh sedikit bocor dari Emir. Aku menggenggam tangan kanan Emir, mencoba menenangkannya.


"Ada alasan kenapa kamu belum mengumumkan identitas Rina yang sebenarnya, kan?"


Aku menyeringai. Tampaknya ibu bisa membaca pikiranku. Benar. Selama beberapa hari bersamaku, Rina masih menggunakan identitas laki-laki yang adalah bawahanku. Aku belum mengumumkan kalau dia adalah tuan putri Nina. Kenapa? Mudah saja. Aku tidak ingin Permaisuri Rahayu siaga. Kalau dia siaga, aku khawatir akan terjadi sesuatu pada Emir dan Inanna.

__ADS_1


Aku pun mengatakan alasan ini, membuat semua orang mengangguk. Namun, aku melihat ada yang berbeda dari Rina. Dia tidak hanya mengangguk. Rina juga melihat ke arah Emir dengan pandangan Iba. Apakah dia berpikir kalau mereka berada di posisi yang sama?


"Kalau kita memutuskan untuk langsung menikahkan kalian bertiga di saat yang sama, menurutku, ini bisa membuat masalah sedikit reda."


"Apa ibu yakin aku bisa menikahi mereka bertiga semudah itu? Maksudku, Permaisuri Rahayu sedang mengawasi kita. Di hari pernikahan, pasti ada saja masalah yang muncul, yang mencegahku melangsungkan pernikahan. Apalagi Permaisuri Rahayu memegang tampuk pemerintahan tertinggi Bana'an. Kalau dia memanggilku, tidak ada jalur legal yang bisa mencegahnya."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2