
~Lacuna POV~
"Lacuna, aku memiliki permintaan."
Hah? Permintaan? Permintaan apa yang kamu inginkan?
Mila melihatku tajam. "Tolong jangan tunjukkan katana ini pada siapa pun. Kamu boleh menggunakannya, tapi dengan syarat lawanmu harus tewas, seperti misal dalam kerja pembersihan."
Aku terdiam.
Ya, sejak awal, aku memang tidak ingin menunjukkannya pada siapa pun sih. Aku menunjukkan katana tersebut pada Mila adalah sebuah pengecualian. Sebuah pengecualian karena dia adalah ibuku.
Alasan lain aku mengatakan hal ini padanya adalah aku ingin sedikit mengetesnya. Apakah dia adalah seorang ibu yang pantas kuhormati? Atau tidak? Kalau dia adalah orang yang pantas kuhormati, aku tidak rugi, tapi tidak untung juga. Namun, kalau dia bukanlah orang yang tidak pantas kuhormati, aku akan rugi.
Di lain pihak, Sonya masih terus memakan camilan yang baru diletakkan di meja oleh pelayan, sambil minum teh. Dia memilih hanya diam dan mendengar pembicaraan kami.
"Bisa tolong jelaskan kenapa?" aku bertanya.
"Alasannya banyak. Yang jelas, bukan karena aku ingin merebut katana ini lalu membunuhmu. Bukan. Aku sama sekali tidak memiliki niat seperti itu."
Mila berdiri dan mengembalikan katanaku. Aku menerima dan kembali memasukkannya ke dalam sarung di samping sofa.
"Pertama, aku tidak mau menjadi musuh muridmu. Kalau memiliki puluhan senjata seperti ini, dia tidak mungkin berasal dari keluarga biasa. Kalau ada salah satu anggota kami membuat masalah padanya, hanya untuk mendapatkan senjata tersebut, aku khawatir keluarga Anastasia akan dibersihkan olehnya."
Well, kamu benar soal keluarga dibersihkan. Namun, ada alasan lain, kan?
"Kedua, yang merupakan alasan utama, adalah aku tidak mau ranah persaingan mafia yang sebelumnya di bidang perdagangan dan jasa berubah menjadi ranah penghilangan pengendalian, pemusnahan organisasi lain. Kalau sampai hal ini terjadi, kerusakan tambahan yang akan terjadi, collateral damage, pasti meningkat drastis. Tidak menutup kemungkinan juga mereka memberontak dan menggulingkan pemerintahan.
"Kalau benar terjadi, negara ini akan menjadi tempat yang tidak aman bagi siapa pun. Kebijakan pemerintah yang melarang perang gangster pun sangat aku apresiasi. Hal ini mencegah pertumpahan darah dalam skala besar terjadi."
Dampaknya, negeri ini menjadi surga bagi mercenary seperti kami.
"Ambil contoh sekarang, masalah keluarga Ibrahim," Mila menambahkan. "Kalau perang gangster tidak dilarang, pasti banyak anggota baru yang belum tahu apa-apa menyerang keluarga Ibrahim, mencoba mencari nama supaya naik pangkat dengan cepat.
"Ketika hal itu terjadi, mungkin keluarga Ibrahim akan mengalami kerugian. Namun, anggota kami yang menyerang pun pasti juga banyak yang tewas. Kalau ditangani mercenary, jumlah korban akan menurun drastis, hingga setengahnya, karena hanya satu pihak yang dirugikan, kan?"
__ADS_1
Ya, dia tidak salah. Sudut pandang ini adalah benar. Terutama jika....
"Apa kamu sudah berkeluarga?"
Mila tersenyum. "Apa sejelas itu?"
"Ya, sangat jelas," Aku menjawab. "Normalnya, hanya orang-orang yang sudah menemukan orang yang dikasihi atau sudah berkeluarga yang berpikiran seperti itu. Untuk orang-orang yang masih single dan belum bertemu sosok yang dikasihi, mereka lebih mengutamakan pencapaian dan karier."
Senyum masih terpampang di wajah Mila. Dia sama sekali tidak mengelak ucapanku. Bahkan, aku bisa melihat senyumnya semakin lebar ketika dia menyandarkan punggung.
Sesaat, Mila melihat ke arah pelayan. Si pelayan pun mengangguk dan pergi.
Ah, dia ingin menjadikan perbincangan ini personal ya. Aku pun meminta Sonya pergi. Dia menurut dan pergi bersama si pelayan.
"Lacuna, aku ingin bercerita sesuatu hal yang bersifat personal. Apa kamu mau mendengarnya? Ini gratis, kamu tidak perlu menceritakan apa pun sebagai gantinya."
"Aku tidak masala kalau ini gratis. Tapi, apa kamu yakin ingin mengatakannya padaku? Maksudku, jumlah kita bertatap muka baru tiga kali. Apa kamu yakin?"
"Kamu menanyakan apakah aku yakin sampai dua kali adalah bukti aku bisa mempercayaimu. Dan, entah kenapa, aku merasa mempercayaimu adalah hal yang benar."
"Terima kasih."
Setelah itu, Mila mulai bercerita. Di awal, dia bercerita mengenai keluarga yang dulu dia miliki, ayah dan aku. Bayi pertamanya, yang adalah aku, hampir terbunuh ketika lahir. Dokter yang melihat gejala sang bayi kesulitan bernafas langsung membawa sang bayi keluar dari ruangan.
Setelah itu, Mila tidak diperbolehkan untuk mendekati anaknya hingga anak tersebut mampu memperoleh kekuatan yang mampu menandingi Mila. Tentu saja hal ini membuat Mila bersedih. Saat itulah, dia dan suaminya setuju untuk berpisah sementara waktu. Tujuan Mila adalah mencari benda penghilang pengendalian.
Jadi, sejak melahirkan, dia sama sekali belum pernah menyentuh anaknya. Setelah beberapa tahun, akhirnya dia menemukan benda penghilang pengendalian di negara ini. Sayangnya, satu-satunya cara untuk mendapatkan item itu hanyalah dua, menjadi tentara atau bergabung dengan mafia.
Mila tidak mungkin mendaftar menjadi tentara karena itu akan membuatnya tidak bisa pulang. Dan, mengingat latar belakang Mila yang memang bekerja di pasar gelap, dia memilih untuk bergabung dengan mafia, keluarga Anastasia. Sayangnya, belum sempat dia mendapatkan benda itu, sebuah kabar berembus kalau terjadi perang gangster di negara asalnya, tepat tinggalku.
Dia bahkan meminta cuti hanya untuk memastikan keadaan suami dan anaknya. Ketika tiba, suami dan anaknya sudah tidak ditemukan. Mila meyakini bahwa suami dan anaknya tewas karena terseret perang gangster yang terjadi.
Sebenarnya, aku ingin mengatakan kalau ayah tewas beberapa saat sebelum perang gangster itu dan aku pergi. Tapi, aku tidak akan mengatakannya. Aku membiarkan Mila melanjutkan cerita.
Setelah itu dia menjadi putus asa. Di saat itu, seorang laki-laki lain datang dan menenangkannya. Biasa lah.
__ADS_1
Meskipun menikah dengan laki-laki ini, mereka tidak kunjung diberkahi dengan anak. Keluarga Anastasia berpendapat mungkin stres dan depresi yang dialami Mila adalah penyebabnya. Mungkin, jauh di dalam lubuk Mila, dia tidak ingin memiliki anak kalau tidak akan bisa menyentuhnya lagi.
Akhirnya, baru enam tahun yang lalu, Mila hamil. Kejadian yang sama pun terjadi. Kali ini, karena Mila dan suami sudah mendapatkan posisi tinggi di keluarga Anastasia, dia pun dipercayakan dengan cincin penghilang pengendalian. Berkat cincin itu, dia bisa memeluk anaknya yang baru lahir dan menjalani kehidupan normal dengan keluarga barunya. Ya, normal standar mafia.
Usia anak Mila cukup jauh dariku, hampir tiga puluh tahun. Tampaknya kehilangan ayah dan aku menjadi sebuah pukulan telak bagi Mila.
Aku cukup terkejut dia dan suaminya belum berpisah karena tidak kunjung mendapat keturunan. Ya, mungkin suaminya bukanlah orang yang mementingkan keturunan.
Namun, dari semua itu, aku memiliki satu pertanyaan.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Seperti yang dibahas pada minggu lalu, minggu ini akan menjadi penutup arc 4. Jadi, minggu depan, POV akan kembali ke Lugalgin, tidak lagi di Lacuna.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1