I Am No King

I Am No King
Chapter 283 – Ditusuk Dari Belakang


__ADS_3

"Rina, sejauh mana militer Nina mengetahui kekuatanmu?"


"Mereka menganggap kalau mataku sudah dioperasi dan dipasang dengan penghilang pengendalian. Dan ibu juga menyatakan aku di bawah hukum militer. Jadi, maaf Gin, aku tidak bisa asal tukar posisi denganmu."


Rina bisa membaca maksudku. Kalau kami tukar tempat, akan ada kemungkinan Rina dianggap gagal menjalankan misi. Bisa juga dia dianggap tidak menaati perintah. Bahkan, mungkin saja pihak militer yang percaya akan mengoperasi dan mengambil bola mata Rina.


Namun, aku meragukannya. Meski Ratu Amana mengatakan Rina berada di bawah hukum militer, statusnya masih tuan putri. Bola matanya tidak akan diambil begitu saja. Dan lagi, kalau suatu ketika ditemukan bola mata Rina diambil, kerajaan Nina akan digeret oleh pengadilan perang internasional. Semoga saja.


Di lain pihak, kalau aku membiarkan kondisi terus berlanjut, pesisir kota Merkaz akan dikuasai Nina, membuat garis pertahanan mundur Bana'an. Cara yang paling mudah untuk mengatasi semua ini adalah dengan aku mengalahkan dan membunuh Rina. Namun, kalau aku membunuhnya, informasi dari Nina tidak akan pernah mencapaiku lagi.


"Rina, menurutmu, apakah ibumu ingin garis pertahanan maju ke wilayah Bana'an? Apakah dia ingin menguasai kota Merkaz."


"Jujur, aku tidak yakin," Rina menjawab. "Menurutku, ibu lebih mengharapkan serangan ini gagal. Kalau gagal, maka ibu bisa menekan militer untuk menggerakkan armada darat lewat selatan, menyeret Agrab ke peperangan."


"Ya, benar. Pikiran kita sama."


Mungkin kita berjodoh. Kalau kondisi normal, aku akan mengatakan itu sebagai gurauan. Namun, karena kondisi mental lawan bicara sedang tidak stabil, aku mengurungkannya. Aku tidak mau Rina tiba-tiba jatuh hati karena menganggap ucapanku serius. Ya, aku tidak mau menambah calon istri lagi. Aku tidak mau.


Baiklah, saatnya serius.


Sebenarnya, saat ini, aku sangat ingin membuyarkan rencana Ratu Amana dengan memerintahkan Ibla untuk mundur, menyerahkan kota Merkaz pada Nina. Hal ini akan meningkatkan moral tentara Nina dan menurunkan moral Bana'an. Citraku juga akan turun karena sudah dengan sombongnya mengatakan akan menghentikan Rina seorang diri tapi gagal. Hal ini juga akan membuat permintaan Ratu Amana, menggerakkan militer melalui Agrab, sulit diterima.


Aku tidak peduli dengan citra. Jadi, sebenarnya, aku ingin melakukannya. Namun, aku khawatirkan jika moral tentara Nina naik terlalu tinggi. Hal ini bisa memicu butterfly effect yang bisa membuat Bana'an kalah. Taruhannya terlalu besar.


Namun, kembali, kalau aku menggagalkan usaha Nina untuk menduduki kota Merkaz, rencana Ratu Amana akan berjalan mulus.


Sial! Kenapa pilihan yang diberi padaku tidak pernah bagus?


Tiba-tiba saja instingku berontak. Aku langsung mengayunkan tombak tiga mata sekuat tenaga. Membuat Rina melepaskan kedua sabernya.


"Tiarap!"


"Eh?"


Aku langsung melompat dan mendorong badan Rina ke tanah bersamaku.


Blarr blarr blarr


Tepat setelah kami tiarap, ledakan muncul. Namun, ledakan-ledakan itu tidak bertahan lama, hanya tiga kali.


Aku langsung melepas ikatan peti arsenal di pinggang dan menggunakan keduanya sebagai tameng. Di saat itu juga, suara logam bertabrakan terdengar. Tampaknya setelah melepas tembakan dari tank, tentara Nina melepaskan tembakan dari senapan. Karena peti arsenal tahan peluru, aku cukup tenang.


"Rina, tank apa dari kerajaanmu yang diterjunkan di sini?"

__ADS_1


"Tank MIAA-54."


"Ada berapa unit yang tidak menggunakan mesin rotasi?"


"Total ada 25 unit yang diterjunkan ke front danau Mein."


Rina menjawab pertanyaanku dengan cepat.


"Ngomong-ngomong, sampai kapan kamu mau menindihku?"


"Ah...maaf."


Aku baru sadar kalau saat ini posisi tubuhku ada di atas Rina. Sambil mendorong peti arsenal, aku geser, menyingkir dari atas tubuh Rina. Untung debu masih beterbangan, jadi tidak ada yang melihat terutama dari pihak Bana'an. Kalau ada yang melihat ini dan melapor ke Emir atau Inanna, bisa mati aku.


"Gin, tembakan tadi tidak meleset. Tampaknya mereka ingin membunuhku."


"Sudah kuduga. Menurutmu, alasannya kenapa?"


"Aku tidak tahu. Entah itu perintah ibu atau memang mereka marah."


"Tolong jelaskan."


"Kalau aku tewas dan tubuhku hancur, ibu bisa merilis foto jasadku. Dengan demikian, dia mendapatkan bukti kuat kalau aku memang tewas, mendorong kemarahan warga untuk terus berperang."


"Kalau yang satunya?"


"Begitu ya. Jadi, aman kalau aku menganggap kamu di bawah hukum militer hanyalah alasan. Tujuan sebenarnya adalah membuat tidak pergi atau pergi dari titik ini."


"Tampaknya iya."


Di antara debu yang beterbangan, aku dan Rina berbincang-bincang normal. Aku tidak masalah karena instingku tenang, tidak berontak. Jadi, tidak ada peluru lain datang atau diarahkan ke sini. Namun, aku bisa merasakan keberadaan beberapa peleton tentara perlahan mendekat.


Aku menghela nafas dan melempar gurauan. "Permaisuri Bana'an mencoba merebut calon menantunya sendiri. Ratu Nina berusaha membunuh putrinya sebagai bahan bakar perang. Apa tidak ada keluarga kerajaan yang normal?


"Haha, pasti ada. Namun, pasti minoritas."


"Oke, serius lagi." Aku menghentikan senda gurau. "Rina, ada berapa amunisi atau senjata penghilang pengendalian yang dimiliki tentara Nina di Front ini?"


"Aku tidak tahu. Aku tidak memiliki informasi itu."


"Begitu ya. Lalu, apa ibumu memberi perintah untuk tidak membunuhku? Maksudku, agar tentara mengambilku sebagai tawanan perang?"


"Secara peraturan perang, tanpa perlu perintah, kamu akan menjadi tawanan perang ketika menyerah. Namun, apa menurutmu tentara-tentara itu akan mengikuti peraturan?"

__ADS_1


"Aku tidak yakin."


Karena tidak ada saksi dari Bana'an atau pihak luar, tentara Nina bisa mengatakan apa saja di pengadilan internasional. Jadi, percuma.


"Dan, Gin, jangan jadikan aku tawanan perang atau membuatku MIA. Kalau aku menjadi tawanan perang atau MIA, besar kemungkinan Tera yang akan digunakan oleh ibu. Aku tidak mau dia terseret."


"Dasar brocon."


"Aku tidak brocon! Aku hanya menyayangi Tera sebagai adik."


"Ya, ya...."


Kring kring


Tiba-tiba sebuah suara telepon terdengar. Aku memasukkan tangan ke saku jaket, mengambil handphone candybar anti sadap.


[Halo, gin?]


"Halo Ibla. Bagaimana keadaan?"


[Kendaraan perang dan listrik di pesisir kota sudah pulih. Kami sudah bisa memberi perlawanan.]


"Bagus!"


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2