
Chapter ini dan setelahnya (42-2 dan 42-3), adalah chapter bonus. Tidak terlalu berpengaruh pada plot. Untuk cara mengganti selongsong shotgun Lugalgin, kalian bisa search “Terminator 2 truck chase”
\============================================================
Blarr blarr blarr blarr
Wow, Emir benar-benar gegabah. Dia pasti berpikir sumber niat membunuh adalah lokasiku. Sayangnya, dia Salah. Sumber niat membunuh yang dia rasakan adalah lokasiku beberapa detik yang lalu.
Ayolah, aku tidak berjalan, tapi berlari! Beberapa detik sudah lebih dari cukup untuk membuatku pergi dari tempat yang kamu tembak. Bahkan, sesekali, aku menggunakan tombak ini sebagai galah, melontarkan tubuhku lebih cepat dan jauh.
Kalau aku hanya berlari lurus, Emir akan mudah menyadari tempat yang dia tembak adalah posisiku beberapa waktu lalu. Tidak mendidik. Jadi, aku bergerak zig-zag, memberi impresi menghindar. Kalau dia bisa mengetahui kesalahannya, bagus. Kalau tidak, dia butuh latihan lebih lanjut.
Sambil berlari melewati pepohonan, aku terus melihat ke langit, ke arah sumber tembakan. Karena sumber tembakan dan suaranya berpindah-pindah, aku menduga Emir selalu mengendalikan turret tank dari jarak dekat.
Ung? Intensitas tembakan Emir berkurang? Apa dia sudah capek? Baiklah! Ini kesempatanku!
Aku meningkatkan kecepatan. Kini, aku lebih sering melompat dari pohon ke pohon. Dengan tombak ini, aku bisa tetap berada di atas pohon, menambah jarak dan kecepatan yang bisa ditempuh.
Akhirnya, tembakan Emir terhenti sepenuhnya.
Apa yang terjadi padanya? Apa dia terlalu memaksakan diri dan pingsan? Semoga tidak.
Aku bergegas, menggunakan kecepatan maksimal. Ketika Emir mencapai pandanganku, dia melayang di udara. Tangan dan kakinya tampak menggantung. Apa dia terjatuh dari pohon? Bisa jadi. Dan, tampaknya, dia benar-benar kelelahan.
Aku tidak akan membiarkan Emir pingsan. Kalau dia tidak sadarkan diri, tubuhnya tidak akan mampu mengingat tes ini dengan baik. Semuanya akan sia-sia. Namun, aku juga tidak mau langsung mengakhirinya. Aku tidak bisa terlalu memanjakan Emir. Aku harus mendorong Emir benar-benar sampai batas, tapi tidak sampai pingsan.
Baiklah, aku akan sedikit memberinya dorongan.
__ADS_1
Dor
Aku melepas tembakan ke suatu arah. Emir terlihat siaga setelah mendengar suara tembakan. Namun, hanya itu, tidak lebih. Aku melompat, menggunakan tombak sebagai tumpuan, dan menendang pohon tempat Emir berada.
Dugg
Akhirnya, Emir melihat ke bawah, ke arahku. Aku langsung melepas tembakan ketika dia melihat ke sini. Refleksnya cukup cepat. Dia bisa menghindarinya. Namun, instingnya masih kurang. Dia baru bergerak setelah melihatku melepas tembakan. Kalau aku adalah musuh, aku sudah melepas tembakan sebelum dia menoleh. Ini bisa membunuhnya.
Aku kembali mengejar Emir. Dia memang masih cepat, tapi gerakannya tidak teratur. Dia benar-benar kelelahan. Baik, sudah waktunya aku mengakhiri tes ini. Kalau kubiarkan lebih lama, dia bisa pingsan.
Karena tangan kiriku memegang tombak, untuk mengganti selongsong peluru aku harus memutarnya.
Kali ini, aku melepas tembakan tanpa membiarkan dia melihat. Namun, berbeda dengan sebelumnya, kini dia sudah berhenti dan menghindari tembakanku tanpa perlu melihat. Apa instingnya sudah terlatih hanya dari satu serangan itu? Kalau benar, calon istriku ini benar-benar berbakat dalam bertarung.
Namun, tembakanku membuatnya terhenti. Kini, jarak antara kami hanyalah dua pohon.
Blarr blarr blarr
Hah? Aku melihat ke langit, ke arah turret yang terus menerus melepaskan tembakan. Apa dia berpikir barikade ledakan ini bisa menghentikanku? Ya, memang menghentikanku sih. Namun, barikade ini tidak akan menghentikan tembakanku. Kamu meremehkanku. Atau tidak.
Yah, normalnya, orang tidak akan bisa melepaskan tembakan yang bisa menembus barikade ledakan ini sih. Namun, kami bukan orang normal.
Di lain pihak, nafas Emir semakin tersengal-sengal. Tidak. Kamu tidak boleh menghabiskan staminamu.
Tiba-tiba saja aku merasakan getaran di saku celana. Aku mengambil handphone dari dalam saku dan membuka pesan yang masuk.
Message Start
__ADS_1
Dia sudah melebihi waktuku
Message End
Haha, iya, Ibla. Aku tahu kalau kamu benci jadi juru kunci, tapi memang itu kenyataannya. Dan lagi, keahlianmu kan memang bukan bertarung. Apa lah arti peringkat ini. Aku membalas pesan Ibla dan kembali fokus ke Emir.
Aku mengarahkan shotgun ke depan dan melepas tembakan
Dor
\============================================================
Chapter ini diupload Rabu sore.
Seperti yang ditulis di awal, chapter ini adalah sebuah keisengan. Jadi post note nya ga banyak.
Author ingin mengucapkan terima kasih atas semua dukungan yang diberi. Kalau mau melihat gambar-gambar tokoh, bisa cek di ig author di @renigad.sp.author. Sebagian besar gambar cari di internet. Karena copyrightnya bukan punya author, makanya tidak diupload di sini.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1