I Am No King

I Am No King
Chapter 92 – Sarru vs Sarru


__ADS_3

Dengan mengendarai lempengan Krat milik Emir, aku melesat cepat di udara. Jika orang melihat, aku tampak seperti menaiki karpet terbang. Dan, untungnya, Krat milik Emir jauh lebih cepat dari pergerakan Sarru palsu.


 


Aku menahan nafas, mengumpulkan tenaga di lengan dan tangan kanan.


 


"HAH!"


 


Dengan mengerahkan seluruh kekuatan, aku melempar peti arsenal, meninggalkanku hanya dengan tombak tiga mata di tangan kiri.


 


Yang memberi nama tombakku adalah Emir. Dia bilang senjata khusus membutuhkan nama yang khusus juga. Karena tidak ada ruginya, aku pun menggunakan nama yang dia beri.


 


DAR


 


Benda jatuh terdengar. Peti arsenal terjatuh tepat di antara Mulisu dan Sarru palsu. Meskipun aku bilang di antara, sebenarnya, jarak mereka masih cukup jauh. Jadi, aku tidak muncul dan melindungi Mulisu di saat terakhir seperti adegan film.


 


Sarru palsu berhenti, menjaga jarak. Tampaknya, dia tidak terlalu bodoh. Hal ini terbukti ketika dia berhenti setelah melihat peti arsenalku.


 


Belum sempat lempengan Krat milik Emir mencapai peti arsenal, tiba-tiba saja ketinggianku sudah turun.


 


Aku menekan moncong topeng serigala. "E–Sepuluh, ada apa ini?"


 


Hampir saja aku mengucapkan nama Emir. Posisiku sudah di tengah medan pertempuran, akan buruk kalau ada yang mendengar aku mengucapkan nama Emir.


 


[Sepuluh?]


 


[Itu kode untuk namamu. Kamu menduduki posisi nomor sepuluh dalam tes kekuatan. Jadi, kamu Sepuluh. Ngomong-ngomong, kode untuk Inanna adalah Enam.]


 


Daripada menjawabku, Emir dan Ibla justru membicarakan tentang kode nama yang mereka gunakan. Karena mereka berada jauh dari medan pertempuran, mereka tidak khawatir menyebut nama satu sama lain.


 


"Hoi?"


 


[Ah, Maaf, Lu–Sarru. Aku tiba-tiba tidak bisa merasakan lempengan yang kamu tumpangi.]


 


Dia hampir memanggil namaku. Kalaupun dia menyebut namaku, tidak masalah. Hanya anggota Agade, melalui earphone, yang akan mendengarnya.


 


Namun, jawaban Emir membuatku tertarik. Apa mungkin aku mendapatkan jackpot? Kalau benar, ini adalah salah satu hari paling beruntungku. Namun, mungkin, akan lebih baik aku mengatakan hal itu setelah memastikannya.


 


Aku mundur sedikit, membuat lempeng ini sedikit miring ke belakang. Dengan posisi ini, aku bisa mendarat di tanah dengan lebih mudah dan aman. Namun, mungkin tidak semudah itu. Lempeng ini mendarat di atas tubuh-tubuh yang berserakan, yang sudah tewas tentu saja, dan meluncur.


 


Begitu aku mencapai di depan peti arsenal, aku melompat dari lempeng, membiarkannya terus tergelincir di atas tubuh-tubuh hingga akhirnya menabrak pohon.


 


"Oke, pendaratan yang tidak mulus. Ya, setidaknya aku bisa mendarat dengan aman."


 


"Siapa kau?"


 


Sarru palsu itu berteriak dari kejauhan. Dia mengenakan jubah hitam dan topeng badut. Suaranya agak tidak jelas. Aku tidak bisa memastikan dia laki-laki atau perempuan. Mungkin, ada pengubah suara di topengnya. Untuk rambut panjang hitamnya, aku tidak tahu apakah itu wig atau rambut aslinya.


 


Jika gambar yang mencolok di topeng badut Kinum palsu adalah bintang merah di pipi kanan, Sarru palsu ini mengenakan topeng badut dengan gambar air mata di pipi kiri. Untuk senyum di topeng mereka, sama. Sebuah senyum merah yang menyebar teror.


 


Bukan hanya penampilan dan topeng, bahkan dia juga membawa peti arsenal yang mirip dengan milikku dua tahun yang lalu. Sebelum aku melapisi peti arsenal dengan kulit berwarna hitam, agar tidak mematikan pengendalian pada kendaraan, peti arsenal memiliki tampilan yang futuristik dengan banyak garis biru yang berpendar. Secara konsep, penampilan peti arsenal mirip dengan tombak tiga mata.


 


Aku bertepuk tangan. "Hebat sekali. Sepanjang aku hidup, kau adalah orang yang paling niat untuk meniruku. Bravo. Hebat."


 


"Hahaha, aku bisa bilang hal yang sama dengan Kinum palsu ini."


 


Mulisu merespon ucapanku dari belakang. Kami pun tertawa kecil.


 


"Menirumu? Yang benar saja! Kau lah yang meniruku! Aku, Sarru, tidak akan pernah mengenakan topeng aneh seperti itu."


 


Sarru palsu itu terdengar marah. Saat itu juga, sebuah tombak muncul dari peti arsenal di punggungnya. Tombak itu adalah tombak rakitan yang tersusun dari dua pipa besi dan tiga mata pisau di ujung.


 


Setelah dirakit, bentuk tombak itu hampir sama dengan tombak tiga mataku. Hanya satu yang berbeda. Jika tombakku memiliki mata pisau yang melengkung di samping, tombak yang dia gunakan berbentuk segitiga, menyiku.


 


"Mati kau, peniru!"


 


Dia menerjangku dengan menggunakan tombak? Ung, dia bodoh atau hanya termakan emosi? Ya, sudahlah, aku tidak terlalu peduli juga.


 


Aku menancapkan tombak tiga mata ke tanah dan membuka peti arsenal, mengambil dua buah assault rifle.


 

__ADS_1


"Hah?"


 


Tanpa memedulikan keterkejutan Sarru palsu, aku melepaskan tembakan berondong.


 


Dor dor dor dor dor


 


Sarru palsu itu sempat berhenti dan membalikkan badan, melindungi diri dengan peti arsenal di punggungnya.


 


"Dasar pengecut!"


 


"Hahahaha," Mulisu tertawa terbahak-bahak. "Penampilanmu mirip, tapi jalan pikirmu masih belum bisa meniru Sarru yang asli."


 


Mulisu memberi respon terhadap protes yang dilontarkan Sarru palsu.


 


Aku mengabaikan mereka berdua dan menjatuhkan assault rifle di tangan kanan. Aku mengambil pelontar granat dengan tangan kanan yang kosong dan menembakkannya.


 


Blar


 


Tepat sasaran. Granat yang kutembakkan menghantam peti arsenal yang digunakan Sarru palsu dengan telak.


 


Meski memiliki kekuatan besar, aku tidak terlalu suka menggunakan senjata dengan efek ledakan. Asap yang dihasilkan membuatku tidak bisa melihat apa yang terjadi pada lawan. Yang aku benci adalah, dalam waktu singkat ketika asap membumbung, lawan bisa melakukan apapun.


 


Untuk mencegah lawan bergerak, atau setidaknya menghentikan pergerakannya, aku terus melepaskan tembakan dengan assault rifle di tangan kiri.


 


Sambil menyerang Sarru palsu ini, aku melihat kejauhan. Di kejauhan, aku melihat lipan raksasa Mulisu masih mengamuk, menghancurkan semua yang ada di sekitarnya. Apa Lipan itu lepas kendali atau masih dikendalikan oleh Mulisu?


 


"Hei, Kinum."


 


""ya?""


 


Bukan hanya Mulisu yang menjawab, tapi Kinum palsu itu juga menjawab.


 


"Aku tanya pada Kinumku." Aku memperjelas. "Hei, Kinum, apa kamu masih mengendalikan lipanmu yang ada di kejauhan? Yang mengamuk itu."


 


"Ya, masih. Kenapa?"


 


 


"Chain Attack!"


 


Tiba-tiba sebuah teriakan muncul dari balik asap. Tampaknya, berondong yang kulepaskan tidak mampu mencegahnya bergerak.


 


Di saat itu, dari balik asap, muncul belasan senjata. Senjata itu melesat dengan cepat dan mendarat di sekitarku, sebagian menancap di tanah, sebagian menancap di pohon, sebagian lagi tergeletak begitu saja.


 


"Hahahaha! Dia benar-benar meneriakkan Chain Attack? Hahahaha." Mulisu merespon sambil tertawa terbahak-bahak.


 


Aku mencoba mengacuhkan tawa Mulisu. Kalau Sarru palsu ini benar-benar mencoba meniru seranganku, aku harus serius. Chain Attack adalah sebutan untuk serangan yang kulakukan. Serangan ini cukup sederhana. Aku hanya menyebar beberapa jenis senjata di sekitar lawan dan menyerang tanpa henti. Aku tidak menamainya, rumor yang memberinya nama.


 


Aku menjatuhkan assault rifle dan pelontar granat yang kupegang, dan lalu mengambil shotgun dari peti arsenal. Dengan peti arsenal tertutup, aku memegang selempang peti arsenal dengan tangan kiri.


 


"Serangan pertama!"


 


Sebuah sosok melesat dengan cepat, mendatangiku. Sarru palsu itu datang sambil menebaskan pedang dengan tangan kanan. Aku menerima pedang yang dia tebaskan dengan shotgun, menangkisnya.


 


Namun, dia tidak diam begitu saja. Dia menarik pedangnya dan melompat tinggi ke belakangku. Sambil melompat, dia melepaskan tembakan dengan assault rifle di tangan kiri. Aku hanya perlu memutar posisi tubuh dan menahan semua tembakan yang dia lepaskan dengan peti arsenal.


 


"Serangan kedua!"


 


Dia mendarat, membuang assault rifle, mengambil pelontar granat, dan mengarahkannya padaku. Aku tidak membiarkannya begitu saja dan melepaskan tembakan dengan shotgun.


 


Pada jarak jauh, shotgun tidak akurat dan tidak memiliki efek merusak. Namun, tujuanku melepas tembakan bukan untuk mengalahkannya, hanya membuatnya waspada dan terpaksa menghindar.


 


Sarru palsu itu pun terpaksa melepaskan tembakan sambil berlari, menghindar. Sayangnya, tembakan yang dia lepaskan tidak akurat. Granat yang dia lontarkan mendarat cukup jauh dariku.


 


Aku memutar shotgun dan melepaskan tembakan lain, membuat granat yang dia lontarkan mendarat semakin jauh dariku.


 


"Sial! Serangan ketiga!"


 


Kini, dia berganti senjata menjadi sebuah tombak. Namun, sebelum maju menyerang, dia melempar sebuah granat cahaya, flashbang.

__ADS_1


 


Nging


 


Sebuah ledakan suara dan cahaya menghampiriku. Ketika meledak, aku memejamkan mata untuk sejenak, mencegah kebutaan sementara yang mungkin terjadi. Namun, meski aku bisa melihat dengan normal, telingaku tidak luput dari efek flashbang. Untuk sesaat, aku tidak mampu mendengar apapun selain suara melengking.


 


Tanpa pendengaran, hanya bergantung pada mata dan insting, aku berusaha menangkis dan menahan semua serangan yang Sarru palsu lepaskan. Dia hanya menggunakan tombak untuk menyerang. Kedua tangannya hanya digunakan untuk satu tombak. Di lain pihak, aku mengelak dan menangkis serangannya dengan peti arsenal dan shotgun.


 


Perlahan, pendengaranku kembali, membuat gerakanku menjadi tajam kembali.


 


Saat ini, aku tidak bisa memungkiri kalau gerakan Sarru palsu ini tidak sepenuhnya buruk. Dia cukup ahli dalam bela diri. Namun, gerakannya masih cukup berantakan. Karena dia meniruku, dia pasti berusaha mengombinasikan bela diri barat dan timur.


 


"Aku lihat gerakanmu tidak buruk juga. Sayangnya, transisi gerakanmu masih sangat cacat."


 


Aku melepaskan sebuah tendangan ke kepala Sarru palsu. Melemparkannya beberapa meter ke belakang.


 


Sebelum sepatuku menghantam dagunya, dia berhasil melompat mundur, meredam tendanganku. Hal ini juga lah yang membuatnya melayang beberapa meter ke belakang.


 


"Kau mencoba mengombinasikan bela diri barat dan timur. Secara combo dan urutan serangan, sudah cukup bagus. Sayangnya, kau tidak melatih transisi antar serangan."


 


"Serangan keempat!"


 


Seolah tidak mendengarku, dia mengganti tombak dengan sepasang pedang satu sisi, dao. Sama seperti sebelumnya, dia melesat ke arahku.


 


Kalau aku biarkan, serangannya tidak akan berhenti. Jadi, lebih baik, aku akhiri di sini saja.


 


Begitu dia sudah dekat, aku melemparkan shotgun yang kupegang, memaksa Sarru palsu berhenti sejenak untuk menghalaunya. Dalam waktu singkat itu, aku meletakkan kedua tangan di peti arsenal. Dengan mengerahkan seluruh tenaga, aku mengangkat dan mengayunkan peti arsenal.


 


Tidak siap dengan seranganku, Sarru palsu menyilangkan kedua pedangnya di atas, mencoba menahan timpaan peti arsenal. Namun, sayangnya, peti arsenalku menang.


 


"UGH!"


 


Pertarungan pun terhenti dengan peti arsenal menimpa Sarru palsu. Untuk memastikan dia berhenti melawan, aku langsung membuka peti arsenal, mengambil pistol kaliber 10 mm, dan melepaskan tembakan.


 


Aku yakin pakaian yang dia kenakan terbuat dari kevlar, jadi pistol kaliber 10 mm dengan amunisi peluru tajam (hollow point) tidak akan mampu menembusnya. Namun, meskipun peluru ini menghantam kevlar, dalam jarak sedekat ini sama saja seperti menerima ayunan palu godam.


 


Dor


 


"AAAHHHH!!!!"


 


Aku melepaskan tembakan pada bahu kiri Sarru palsu yang menyembul di samping peti arsenal. Saat ini, semua tulang di bahu kirinya pasti sudah hancur.


 


Tangan kanan Sarru palsu menepuk-nepuk peti arsenal. Dia pasti berusaha memegangi bahu kirinya yang hancur, tapi terhalang oleh peti arsenal.


 


Selanjutnya...


 


"Tolong hentikan!"


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Untuk chapter ini, tidak ada post note. Jadi, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1



__ADS_2