
"Jadi, Rina," aku kembali masuk. "Histerismu pagi ini, bisa dibilang, berbeda dari biasanya. Pasti terjadi sesuatu semalam, kan?"
Rina menurunkan kedua tangan dan mengangkat kepala. Pandangannya terlihat sayu.
"Semalam, aku mendapat sebuah email dari salah satu bangsawan Nina. Dia mengatakan aku hanyalah aib dan pengkhianat kerajaan yang meminta tolong orang luar. Orang itu bilang seharusnya aku meminta bantuan bangsawan Nina.
"Dan, bukan hanya satu, banyak sekali email masuk seperti itu. Bahkan, beberapa email datang dari teman bangsawanku. Aku mencoba mengabaikannya dan langsung tidur. Namun, tampaknya, aku tidak bisa benar-benar mengabaikannya. Histerisku yang lebih parah menunjukkan kalau aku masih terguncang."
Posisi Rina sangat sulit. Dia adalah korban dari rencana ibunya. Namun, dia justru dianggap sebagai aib dan pengkhianat karena membawa masalah ini keluar wilayah. Kalau reaksi para bangsawan seperti itu, aku tidak akan terkejut jika perang Bana'an melawan Nina justru semakin parah.
Kalau mental Rina stabil, mungkin, dia bisa mengabaikan ucapan orang-orang itu. Namun, sayangnya, Rina sedang tidak stabil. Jadi, ucapan orang-orang itu membebani pikirannya.
"Rina, apa kamu keberatan kalau mulai sekarang aku yang memegang smartphonemu?"
Satu alasan adalah aku ingin melindungi Rina dari email lain semacam itu. Namun, tentu saja itu bukan satu-satunya alasan. Bisa saja ada email yang menyatakan dukungan tapi tenggelam oleh email ancaman lain, kan? Tidak ada salahnya melakukan pengecekan ulang.
Rina menggeleng. "Aku tidak keberatan. Dan lagi, tidak ada juga yang bisa kusembunyikan dari jaringan informasimu, kan? Kalaupun aku tidak menceritakan semua ini, cepat atau lambat, jaringan informasimu pasti akan mengetahui penyebab histerisku pagi ini."
"Memang benar kalau jaringan informasiku bisa mengetahui itu semua." Aku membenarkan. "Tapi aku lebih senang ketika mendengarnya langsung dari mulutmu. Setidaknya, dengan kamu bercerita sendiri, ini menandakan kami sudah mendapat kepercayaanmu."
"Lugalgin benar." Emir masuk. "Kepercayaanmu adalah yang terpenting. Dan, tenang saja, kami tidak akan memaksamu kok. Lugalgin juga membutuhkan waktu lama untuk mau menceritakan masa lalu dan penyesalannya ke kami. Bahkan, kalau aku bilang, kamu lebih mau bekerja sama daripada Lugalgin."
Ya maaf.
"Dan lagi?" Inanna menambahkan. "Selain kepercayaan, mendengar informasi ini langsung darimu memiliki tingkat kredibilitas tinggi. Kami juga bisa mendapat informasi ini lebih cepat daripada menunggu jaringan informasi Lugalgin. Sisi positif lain juga banyak."
Inanna benar-benar tahu cara meyakinkan Rina. Rina, sama sepertiku, adalah Alhold. Kami mengutamakan logika berpikir. Kalau Inanna bisa mengutarakan logika yang masuk akal, mau tidak mau, kami akan menurut.
"Terima kasih, Gin, Emir, Inanna. Ke depannya, maaf ya aku akan merepotkan kalian."
"Tidak apa." Inanna merespons.
"Iya. Tidak apa-apa. Kami melakukan hal ini juga demi diri kami sendiri, kok." Emir menambahkan. "Kalau histerismu semakin parah dan hanya Lugalgin yang menenangkanmu, kami yang akan repot."
"Repot?" Rina memiringkan kepala.
"Ya, tanpa Lugalgin, aktivitas malam tidak akan bisa dilakukan, kan? Dan, karena sudah ada piket tidur bersamamu, jadwal kami melakukannya dengan Lugalgin pun lebih tertata."
__ADS_1
Aku menepok jidat.
Ternyata alasan utama Emir dan Inanna begitu aktif dalam pembicaraan ini karena tidak ingin jadwal aktivitas malam terhenti. Semakin lama, rasanya, dua calon istriku ini semakin liar.
"Eh, Emir, ngomong-ngomong, apakah mungkin setelah melakukannya, histeris Rina bisa berkurang?"
"Ah. Bisa jadi. Mungkin saja Rina akan kelelahan karena melakukannya semalaman lalu tertidur pulas. Kita tidur bisa pulas dan nyenyak banget juga kan setelah melakukannya dengan Lugalgin."
Emir dan Inanna melempar pandangan ke Rina. Pandangan mereka membuat Rina meringkuk, ketakutan.
Aku hanya bisa pasrah, berharap dua calon istriku tidak melakukan yang macam-macam. Namun, aku lengah.
***
"Emir benar. Kalian langsung saja tidur bareng sejak awal."
Setelah mengatakannya, Emir dan Inanna pergi meninggalkanku dan Rina, di kamarku. Entah kenapa, mereka tampak bersemangat dan bahagia.
Cklek
"Hah?"
Aku menoleh ke sumber suara, pintu. Tanpa aku sadari, pintu sudah dikunci dari luar.
"Hah, Hah, Hah," Rina mendesah. "Gin, aku tidak tahu kenapa, tapi, tubuhku terasa begitu panas?"
Aku menoleh ke kasur, melihat ke sosok Rina yang wajahnya sudah memerah. Nafasnya pendek, tersengal-sengal. Bukan hanya Rina. Aku juga merasa ada yang aneh dengan tubuh ini. Apa yang aneh? Ada yang tegak, tapi bukan keadilan.
Aku ingat dengan sensasi ini. Tidak salah lagi. Emir dan Inanna pasti memasukkan obat perangsang ke makanan atau minuman kami. Mereka benar-benar ingin memaksa kami bercinta malam ini juga hanya untuk mencoba efeknya terhadap histerisnya Rina? Atau mereka memiliki tujuan lain?
__ADS_1
"Gin, tolong. Badanku ... aneh."
Rina terbaring dengan tangan masuk ke dalam piamanya, meraba tubuhnya sendiri. Aku bisa melihat tangan Rina yang bergerak menggerayangi dada dan selangkangannya sendiri.
Sial!
Aku langsung naik ke ranjang dan mencium Rina, mempertemukan bibir kami. Saat bibir Rina bertemu denganku, dia sempat tenang. Kini, tangannya merengkuh tubuhku.
Aku menarik kepala, memperlihatkan sebuah benang perak yang terhubung antara bibirku dan Rina. Pandanganku dipenuhi oleh wajah Rina yang memerah dan bernafas pendek. Bibirnya terlihat lembap dan merangsang.
"... Gin?"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1