I Am No King

I Am No King
Chapter 57 – Pabrik


__ADS_3

~Lacuna POV~


 


Langit sudah berganti warna. Orang-orang pun sudah pulang dari kantor, pulang kerja. Di lain pihak, intensitas pekerjaan orang-orang seperti kami justru meningkat.


 


Aku dan Pirang duduk di atap gedung. Kami berdua sama-sama menggunakan teropong senapan untuk memperhatikan sumber dart gun penghilang pengendalian itu. Aku menggunakan magnum sniper rifle Lupus kaliber 8,58 mm yang sama seperti kemarin. Di lain pihak, Pirang hanya menggunakan senapan militer biasa dengan kaliber 7,62 mm.


 


Produksi dart gun penghilang pengendalian dilakukan di sebuah kawasan perumahan. Dari luar tidak tampak, tapi, dari informasi yang dimiliki Pirang, seluruh kawasan perumahan itu adalah satu pabrik. Satu rumah untuk alat a, satu rumah alat b, satu rumah untuk perakitan, dan lain sebagainya.


 


Tadi siang, kami melewati kompleks perumahan itu beberapa kali. Di siang hari, orang lalu lalang di perumahan tidak terlalu banyak, jarang. Namun, ketika malam mulai merayap, frekuensi orang lalu lalang meningkat drastis.


 


Pakaian kami, pirang dan aku, sama seperti ketika bertemu pertama kali, di ruang bawah tanah itu. Aku mengenakan celana kargo, kaos, kemeja, jaket. Intinya pakaian berlapis-lapis. Pirang mengenakan singlet putih, rok mini hijau dengan stoking semi transparan melilit, dan sebuah jubah musim dingin.


 


Sambil mengamati, kami makan camilan dan menenggak beberapa bir yang kami beli di toserba sebelum ke sini. Kami berdua ternyata sama-sama tahan alkohol.


 


"Kamu terlihat lebih semangat ketika mendengar pabrik ini daripada saat menerima pekerjaan. Jangan-jangan pabrik ini adalah alasan sebenarnya kamu mengambil pekerjaan ini?"


 


"Hahaha, tentu saja tidak. Kebetulan saja pabrik ini ada di dalam misi ini."


 


Tapi, memang benar sih. Padahal pabrik ini, pabrik senjata penghilang pengendalian, adalah tujuan sampingan, entah kenapa aku merasa lebih bersemangat ketika mengamati pabrik ini daripada petinggi keluarga Ibrahim kemarin. Mungkin karena ini adalah hal baru? Ya, mungkin.


 


"Tapi, Pirang," aku membuka mulut. "Skala produksinya cukup besar, ya. Kalau melihat skalanya, menurutmu, seberapa besar kemungkinan semua anggota Keluarga Ibrahim memiliki dart gun itu?"


 


"Sangat besar, bahkan," Pirang menambahkan. "Ada kemungkinan mereka sudah berada pada level produksi peluru."


 


"Peluru penghilang pengendalian? Kalau benar demikian, Keluarga Ibrahim hanya tinggal tunggu waktu sebelum menjadi organisasi terbesar di negara ini."


 


"Di lain pihak, ada juga kemungkinan cara membuat senjata itu bocor, membuatnya menyebar di pasar gelap."


 


Kalau itu terjadi, aku ragu efeknya hanya akan terjadi di dalam negara ini. Dalam waktu singkat, peluru itu pasti akan menyebar ke luar negeri. Lalu, hanya tinggal menunggu waktu sebelum peluru itu meninggalkan pasar gelap, muncul ke permukaan.


 

__ADS_1


"Tapi, kemungkinan peluru itu keluar organisasi masih belum tampak." Aku memberi pendapat. "Mungkin di masa depan, tapi masih jauh. Kalau mereka sudah cukup berhasil, pasti benda itu sudah mulai disebar, tes ombak. Tapi, hingga saat ini, benda itu masih pada level rumor. Dengan kata lain, penggunaannya masih di lingkungan dalam."


 


"Ah, detailnya?" Pirang meminta penjelasan lebih lengkap.


 


"Memang ada kemungkinan barangnya belum tersebar karena belum ada kebocoran, karena integritas dan kesetiaan anggota. Namun, ada kemungkinan lain kenapa senjata itu belum bocor, yaitu belum layak beredar. Dari informasi yang beredar, dan yang dari kita dapatkan, senjata itu hanya menghilangkan pengendalian untuk sesaat.


 


"Nah, sesaat yang dimaksud ini berapa lama? Apakah beberapa menit? Atau detik? Atau hanya menghilangkan kemampuan saat itu juga? Detailnya belum diketahui. Dan, mungkin, ada keterbatasan lain yang tidak kita ketahui."


 


Pirang terdiam sejenak, tidak memberi respon. Aku menoleh sejenak, mengalihkan pandangan dari teropong senapan. Dia juga melepaskan pandangan dari teropong senapan, memegang dagu.


 


"Kemungkinan itu bisa juga," Pirang setuju.


 


Tampaknya, Pirang belum cukup perhatian untuk hal-hal semacam ini. Perhatiannya masih terlalu fokus pada hubungan antar manusia, sosial. Namun, terkadang, kamu lupa ada hal di luar sosial yang mengganggu semuanya, seperti hal teknis.


 


Namun, tentu saja itu semua hanya kemungkinan. Kami sama-sama tidak tahu yang sebenarnya.


 


 


"Ya?"


 


Pandangan kami sama-sama kembali ke teropong.


 


"Bagaimana kamu bisa menemukan pabrik ini dengan cepat padahal kita baru mendapatkan pekerjaan ini kemarin lusa."


 


"Ah, itu," Pirang menanggapi enteng. "Itu karena aku memang sudah menaruh perhatian lama pada keluarga Ibrahim. Anggap alasan pribadi."


 


"Oh."


 


Ketika dia mengatakan alasan pribadi, sudah wajar untuk berhenti bertanya. Di dunia mercenary, terdapat ratusan atau bahkan ribuan orang. Dan, salah satu peraturan tidak tertulis yang kami pegang teguh adalah jangan bertanya masa lalu mercenary lain kecuali orang itu bersedia bercerita sendiri.


 


Ketika lawan berbicaramu menjawab "alasan pribadi" atau "luka lama" atau yang sejenis, maka sudah saatnya berhenti bertanya.

__ADS_1


 


Di lain pihak, kami masih terus memperhatikan rumah-rumah yang menjadi pabrik kecil itu. Bagi orang yang tidak tahu, mereka berpikir pekerjaan mercenary selalu penuh dengan keseruan dan sensasi. Namun, sayangnya, kejadian itu tidak terlalu sering.


 


Normalnya, sebelum penyerang, kami harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dengan melakukan observasi, seperti sekarang. Bisa berjam-jam, atau bahkan berhari-hari. Bahkan, kami sudah lupa berapa lama duduk di sini, dengan mata menempel di teropong senapan. Sudah banyak kaleng bir dan kemasan makanan berserakan.


 


Pengintaian semacam ini terkadang membuatku teringat pada Ukin yang sama sekali tidak menyukai bagian ini dari pekerjaan sebagai Mercenary. Pada awalnya, Ukin terkadang bersedia melakukan observasi. Sayangnya, semakin ke belakang, Ukin tidak mau. Ujung-ujungnya tugas observasi pun digilir antara aku, Mulisu, dan Lugalgin.


 


"Eh? Apa itu Merah?"


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Chapter ini satu dari 6 chapter yang diupload secara bersamaan (53-58)


 


Akhirnya sudah bisa pulang dari rawat inap. Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya. Author sangat berterima kasih bagi reader yang masih kembali setelah sempat kosong gara-gara rawat inap.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 

__ADS_1



__ADS_2