
~Maila POV~
"LEPASKAN AKU! KAU TIDAK TAHU BERURUSAN DENGAN SIAPA!"
Raja ini benar-benar tidak sopan. Dia sudah diselamatkan tapi masih menginginkan perlakuan istimewa.
"Raja bodoh, bisa diam, tidak?"
"Ra, Raja bodoh?"
Ukin membungkam Raja dengan sebuah hinaan. Dan, untunglah, hinaan itu berhasil membungkam si Raja dengan mudah.
Saat ini, kami berada di sebuah ruang pertemuan. Tempat ini hampir sama besarnya dengan ruang pertemuan Alhold sebelumnya yang digunakan oleh Enlil. Beberapa peserta pertemuan tidak berubah, beberapa yang lain berubah.
Untuk mencegah korban jiwa tambahan, kali ini, mereka tidak membawa anak buah yang tidak berpengalaman. Di dalam ruangan ini, yang sedang duduk di meja bundar adalah perwakilan dari Apollo, Orion, Quetzal, dan aku.
Di dalam ruangan, ada empat wajah baru. Yang pertama adalah laki-laki dengan rambut panjang yang lurus dan jatuh, seolah rambutnya sangat berat. Wajahnya bisa dibilang datar. Yang aku maksud datar adalah hampir tanpa ekspresi. Dia duduk sementara Karla berdiri di belakangnya. Laki-laki ini memperkenalkan diri sebagai Leto, pimpinan Apollo.
Wajah baru kedua adalah perempuan berkulit sawo matang dengan rambut putih pendek, tidak menutup telinga. Dia memiliki mata hijau dengan pandangan tajam, bagaikan predator. Pakaiannya, bisa aku bilang sangat terbuka, bahkan lebih terbuka dari Karla. Dia mengenakan kaos tanpa lengan yang diikat di dada, menunjukkan belahan dan perutnya. Bahkan dia juga mengenakan celana yang, menurutku, seperti celana dalam. Seolah-olah dia mengenakan celana dalam berbahan jeans. Dia memperkenalkan diri sebagai Stella, pimpinan Quetzal.
Untuk wajah baru ketiga dan keempat, mereka adalah pengawal Stella dan Constel. Dua laki-laki dengan perawakan yang mirip, botak dengan tubuh penuh otot.
Jadi, di dalam ruangan ini, total ada 9 orang. Empat orang duduk, empat berdiri, dan satu terikat di ujung ruangan.
"Jadi, ternyata, sang sekretaris adalah sang dalang, ya?"
"Ya, begitulah," aku menjawab Constel. "Yang aku tidak duga adalah akhirnya Quetzal memilih untuk berpartisipasi dalam perang antar organisasi ini."
"Yah, Guan sudah berpartisipasi di pihak Sarru, kan? Akan aneh kalau Quetzal diam saja."
"Dan, apa alasan Quetzal memilih pihak ini?" Leto bertanya.
"Hanya penyeimbang. Tidak lebih."
Sebenarnya, aku ingin menanyakan lebih lanjut mengenai motif Stella. Namun, aku mengurungkannya. Kalau terlalu banyak ditanya, ada kemungkinan dia malah pindah ke pihak Lugalgin.
__ADS_1
"Jadi, apa rencananya?"
"Rencananya adalah–"
Sebuah suara berdering muncul. Bukan hanya dari satu orang, tapi semua. Tanpa menunggu izin dari pihak lain, masing-masing orang mengambil smartphone di saku, termasuk aku. Dering itu memberi sebuah pemberitahuan yang dikirim ke semua nomor kerajaan, sebuah peringatan. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang kulihat. Aku benar-benar tidak menduga hal ini akan terjadi.
"Bagaimana kalau kita tonton siaran dulu?"
Ukin, tanpa menunggu jawaban, menyalakan televisi layar lebar di samping ruangan. Stella terpaksa memutar kursi karena dia memunggungi televisi.
Begitu televisi menyala, terlihat seorang reporter menyiarkan berita.
[Pemirsa, saat ini, pihak kerajaan akan memberikan pernyataan mengenai serangan besar-besaran di kompleks istana yang terjadi beberapa saat lalu. Mari kita dengarkan bersama.]
Gambar berudah dari reporter menjadi bagian dalam ruangan dengan meja panjang di ujung. Di belakang meja, tampak dua kesatria duduk di ujung kanan kiri. Mereka mengenakan baju zirah berat yang biasa digunakan di medan perang.
Namun, yang membuatku terkejut adalah dua sosok di antara kesatria itu. Di sebelah kiri, tampak sosok Lugalgin. Dia mengenakan pakaian igni dan kevlar. Di belakangnya, tampak sebuah peti mati besar.
Di samping Lugalgin, tampak sebuah sosok perempuan cantik dengan rambut merah muda lembut. Perempuan itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah permaisuri Rahayu. Namun, aku tidak bisa bilang keadaannya baik. Tubuhnya penuh dengan perban. Bahkan, perban di leher dan lengan kirinya masih mengeluarkan darah. Selain itu, tangan kirinya pun di gips. Keringat tampak mengalir di sekujur tubuh Permaisuri Rahayu.
Aku memperhatikan siaran baik-baik. Mata permaisuri Rahayu bergerak ke sana kemari, tidak tetap. Sesekali, dia melirik ke arah Lugalgin. Namun, dalam waktu singkat, pandangannya kembali ke depan.
"Brengsek! Lugalgin, apa yang sudah kau lakukan pada Rahayu?"
Yang mengeluarkan respon hanya Fahren. Dia mencaci maki Lugalgin yang tampil di sebelah Rahayu.
[Selamat malam, Warga Kerajaan Bana'an yang berbahagia. Selamat malam, para reporter yang telah sudi hadir di tengah malam ini. Beberapa saat yang lalu, telah terjadi serangan yang begitu mengerikan dan tidak manusiawi. Telah jatuh korban jiwa baik dari pihak keluarga kerajaan dan juga karyawan yang bekerja di istana. Kepada keluarga karyawan yang menjadi korban, saya menyampaikan bela sungkawa yang sebesar-besarnya.]
Permaisuri Rahayu berhenti sejenak, menarik nafas dalam.
[Selain itu, serangan ini, juga telah merenggut nyawa Yang Mulia Paduka Raja.]
Suara siaran langsung riuh, ramai. Semua wartawan langsung menanyakan kebenaran berita tersebut.
[Saya juga sulit mempercayainya. Namun, tubuh Yang Mulia Baginda Raja telah ditemukan beberapa saat yang lalu oleh tim penyelamat.]
__ADS_1
Permaisuri Rahayu terhenti. Dia mengusap air mata dan suaranya sesenggukan. Di sampingnya, Lugalgin mengelus punggung Permaisuri. Mungkin ada reporter yang menyadari, mungkin juga tidak. Namun, tubuh Permaisuri sempat tegang ketika tangan Lugalgin menyentuh punggungnya.
Tiba-tiba saja, Lugalgin mengambil alih konferensi pers.
[Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Namun, saat ini, kondisi Permaisuri Rahayu sangat tidak cocok untuk menjawab semua pertanyaan. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan. Sebagai catatan, saya berada di sini untuk mewakili intelijen kerajaan. Sebenarnya, saya sudah mulai bekerja dengan intelijen sejak memenangkan battle royale. Dan saat ini, karena saya adalah calon suami Emir, maka saya dipilih untuk menemani Permaisuri Rahayu. Dan tolong jangan tanya keadaan Emir. Sudah jelas dia tidak baik-baik saja.]
Sedari dulu, aku selalu terkagum dengan kemampuan Lugalgin untuk berbohong. Dia bisa berbohong tanpa mengalihkan pandangan. Bahkan, tidak ada jeda suara atau keringat di tubuhnya. Kamu tidak akan pernah tahu kalau Lugalgin berbohong kecuali mengetahui faktanya.
[Pertama, karena Yang Mulia Paduka Raja telah tewas, untuk sementara, takhta kerajaan akan dipegang oleh Permaisuri Rahayu. Takhta akan diberikan kepada putra mahkota atau pangeran lain setelah mereka ditemukan.]
Lugalgin melanjutkan, [Kedua, mengenai dalang serangan ini. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh Intelijen Kerajaan, kami mendapati serangan ini didalangi oleh beberapa kelompok pemberontak dan separatis. Sayangnya, kelompok-kelompok ini tidak pernah muncul ke permukaan. Walaupun keberadaan kelompok-kelompok ini hanya sebatas urban legend atau desas-desus, sayangnya, kelompok-kelompok ini benar-benar nyata.]
Urban Legend? Tidak mungkin! Apa dia bermaksud–
[Warga pasti telah mendengar nama mereka entah sekali atau dua kali. Dalam serangan ini, kami mendapati tiga kelompok yang mendalanginya. Selama ini, pihak Kerajaan mencoba berdialog dan menemui mereka. Namun, sayangnya, serangan malam ini menunjukkan mereka tidak ingin berdialog. Oleh karena itu, kami menyatakan Kerajaan Bana'an akan mengejar dan menghukum kelompok-kelompok ini.]
Tidak! Tidak mungkin! Apa dia benar-benar serius?
[Nama ketiga kelompok ini adalah Quetzal, Apollo, dan Orion. Mereka lah yang bertanggung jawab atas serangan malam ini yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa]
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya