
"Jadi, apa rencanamu setelah ini?"
"Rencana? Setelah ini? Maksud ayah?"
Aku belum jelas apa yang ayah tanyakan. Apa mengenai Emir? Atau Inanna? Atau rencanaku setelah mulai bekerja? Ya, aku hanya mengatakan pada ayah, ibu, dan Ninlil kalau aku bekerja sebagai konsultan keamanan kerajaan sih, yang kebetulan kantornya ada di Haria? Atau pertanyaan yang lain?
"Bukan. Maksudku, apa yang akan kamu lakukan setelah kamu membangkitkan Agade kembali."
"....Ah..., maaf. Apa maksud ayah?"
"Sudah, tidak usah berpura-pura. Kamu memang pintar. Aku sadar karena aku dan ibumu juga pintar. Tidak mungkin kami melahirkan anak yang tidak pintar."
Wow, percaya diri sekali ayah. Ah, tidak. Ini bukan waktunya memikirkan tentang kepercayaan diri ayah.
"Kembali ke pertanyaanku, apa yang kamu rencanakan, mengingat kamu sudah membangkitkan Agade."
Aku terdiam.
"Gin, kamu tidak benar-benar berpikir kalau ayah dan ibumu tidak tahu, kan? Kamu pikir kami percaya ketika kamu pulang pagi atau tidak pulang dengan alasan menginap di rumah teman atau berlibur ke luar kota? Kamu pikir, kenapa kami membiarkanmu ketika kamu pulang di pagi hari sebelum battle royale? Kami tahu kalau kamu bertemu dengan Emir saat itu."
Meski selama ini aku memiliki perasaan ayah dan ibu MUNGKIN tahu mengenai aktivitasku, tapi aku tidak pernah benar-benar menanyakannya. Dan, aku berdoa dan berharap ayah dan ibu tidak tahu. Sayangnya, doa dan harapanku tidak menjadi kenyataan.
Mengingat identitas ayah dan ibu, hal ini seharusnya normal, dan seharusnya aku tidak terkejut. Namun, tetap saja, aku tidak bisa benar-benar tenang.
"Sebelum aku menjawab, aku ingin bertanya dulu pada ayah. Sejauh mana ayah mengetahui aktivitasku di pasar gelap."
"Bagaimana kalau aku bilang SEMUA?"
Ahh....
"Se-semua?"
"Mulai dari kamu menjadi murid Lacuna, menjadi mercenary, mendirikan Agade, membantai keluarga Cleinhad, lalu berhenti, menjadi pedagang barang antik, lalu–"
"Baik, baik, aku paham. Aku paham."
Aku menduga kalau ayah tahu kegiatanku. Namun, aku sama sekali tidak menduga kalau dia tahu sebanyak itu. Apa dia menugaskan mata-mata untuk mengikutiku? Tapi aku tidak pernah merasakan ada mata-mata atau pandangan ke arahku.
"Atau perlu aku sebutkan juga kehidupanmu sebelum terjun di pasar gelap? Mulai suka berkelahi, belajar bela diri secara otodidak, dan juga ketika kamu rutin mengunjungi panti asuhan itu?"
Aku terdiam ketika ayah menyebutkan hal yang terakhir. Dari semuanya, hal itu adalah satu-satunya yang paling tidak kuduga. Di saat itu, pikiranku terasa berhenti. Tanpa keinginanku, mulutku terbuka dengan sendirinya.
"Jadi, ayah tahu tentang Tasha?"
"Ya, ayah tahu. Dan, ayah meminta maaf karena ayah terlambat untuk melakukan sesuatu saat itu."
"Terlambat? Apa yang ayah maksud polisi-polisi korup yang memintaku bungkam soal panti asuhan dan Tasha?"
__ADS_1
"Sebenarnya, mereka bukan polisi. Mereka adalah orang-orang yang aku suruh untuk menghentikan keluarga Cleinhad sebelum mencapai panti asuhan itu. Namun, seperti yang kamu ketahui, mereka terlambat."
"Lalu kenapa mereka memintaku bungkam?"
"Kalau kamu tidak bungkam, memangnya ada yang akan mendengarkanmu?"
Aku tidak mampu memberi jawaban.
"Kalau kamu tidak bungkam, keluarga Cleinhad lah yang akan membungkammu. Dan, yang aku maksud bungkam, adalah membunuhmu."
Aku menenggak isi kaleng ini, mencoba mendinginkan kepala dengan bir dingin. Dan, untungnya, berhasil. Aku kembali mendapatkan kemampuanku untuk berpikir. Cukup ironis, dimana seharusnya bir membuat orang melupakan semuanya justru saat ini membantuku berpikir.
Ucapan ayah memang benar. Kalau orang-orang itu tidak memintaku bungkam, aku pasti sudah dibungkam oleh keluarga Cleinhad. Dan, seperti ucapanku, mereka meminta. Mereka tidak memaksa. Dan, sebenarnya, saat itu aku juga sadar kalau permintaan mereka adalah demi kebaikanku. Namun, tetap saja, entahlah, emosiku merasa ingin meledak.
"Jadi, aku juga tidak perlu bertanya kalau ayah tahu mengenai kekuatanku, kan?"
"Maksudmu penghilang pengendalianmu? Tentu saja? Ayah sudah membesarkanmu hampir selama 18 tahun, 19 tahun dua bulan lagi. Tentu saja ayah tahu."
Ya, sebenarnya aku tidak terlalu peduli juga sih mengenai kekuatanku.
"Apa Ninlil juga mengetahui kegiatanku?"
"Kami tidak yakin. Meski aku ingin bilang tidak, tapi aku tidak bisa menutup kemungkinan dia tahu. Maksudku, di tubuh Ninlil juga mengalir darah Alhold dan darah ibumu."
Darah Alhold dan darah ibu?
"Karena dia belum mau memberikan kekuasaan dan kekuatan keluarga Alhold padaku?"
"Ya, benar sekali. Dugaanmu benar-benar tajam. Darah Alhold memang benar-benar mengalir di tubuhmu." Ayah menenggak bir lagi. "Keluarga Alhold adalah keluarga yang tidak mau repot dan tidak mau disorot publik, dibuktikan dari proses pemilihan Raja zaman dulu. Dan, kami semua, akan menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Bahkan, berkat kamu, Ufia mulai melakukan hal yang sama. Kamu pikir kenapa dia begitu cepat berubah?"
Ah, aku mengerti maksud ayah. Kalau aku tidak melatih Ufia, dia hanya akan menjadi Regal Knight, tidak akan pernah mampu menjadi agen schneider. Dan, setelah aku melatihnya, yaitu untuk menghalalkan segala cara agar bisa bertahan sebagai agen schneider, insting Ufia sebagai keluarga Alhold pun bangkit. Berlaku curang dan licik sudah ada dalam darah Ufia.
"Dan, itu adalah penyebab kakek mencuci otak semua anggota keluarga, membuat masa kecilku suram."
Meski ayah dan ibu sudah mencoba mengurangi kesengsaraanku di masa kecil dengan keluar dari keluarga, sayangnya, keluarga Alhold ada dimana-mana. Di masa SD dan SMP, mereka selalu berhasil membuat siswa lain untuk membullyku. Karena hal ini, SD dan SMP ku selalu terpisah menjadi dua kubu, kubu yang bersamaku dan kubu yang bersama keluarga Alhold lain.
Ketika mengingat masa itu, rasanya konyol juga menyeret satu sekolah hanya karena masalah keluarga. Ya, setidaknya hal itu tidak terjadi ketika aku SMA karena keluarga Alhold tidak ada yang satu SMA denganku.
Berkat semua itu, aku menjadi peka terhadap kehadiran orang lain. Tanpa perlu mereka memancarkan aura haus darah, niat membunuh, atau bahkan niat buruk, aku mampu mengetahui keberadaan mereka. Kepekaan itu hadir karena aku terus hidup dalam lingkungan penuh dengan ancaman, bahkan hingga membuat tulangku retak dan patah.
"Menurutmu kenapa aku memilih menjadi dokter sementara ibumu yang menangani semua uang dan perusahaan? Karena aku Alhold."
Ya, aku sudah bisa menduganya sih. Namun, daripada itu semua, aku ingin mencari tahu satu hal.
"Ayah dan ibu tidak marah atau membenciku karena aku membantai keluarga Cleinhad?"
Kali ini, ganti ayah yang terdiam. Aku terus menenggak bir, yang tanpa aku sadari sudah habis. Aku pun meletakkan kaleng kosong ini dan mengambil air mineral dari kulkas, lalu kembali ke beranda.
__ADS_1
"Jadi?"
"Jujur, untuk masalah kamu membantai keluarga Cleinhad, ayah dan ibumu masih bingung. Kami tidak tahu harus bereaksi seperti apa."
"Bingung?"
"Meski kami tahu apa yang dilakukan keluarga Cleinhad salah, tapi tidak bisa dipungkiri metode yang mereka gunakan mampu menekan angka kriminalitas. Dan setelah kamu membantai mereka, angka kriminalitas meningkat hingga tiga kali lipat. Jadi, kami bingung."
"Kriminalitas ya...." aku menarik nafas sejenak. "Apa tingkat kriminalitas itu juga termasuk yang dilakukan oleh Akadia?"
Ketika aku mengatakannya, suara kaleng diremas pun terdengar. Aku tidak memedulikan respon ayah dan meneruskan ucapanku.
"Ayah mengetahui semua aktivitas dan kegiatanku. Lalu, apa yang membuat ayah berpikir kalau aku tidak mengetahui aktivitas dan kegiatan Ayah dan Ibu di pasar gelap? Apa yang membuat ayah berpikir aku tidak tahu kalau ibu adalah pendiri sekaligus pendiri Akadia, satu dari enam pilar?"
Tanpa perlu ayah mengatakannya, aku sudah tahu. Alasan sebenarnya kenapa ayah menanyakan rencanaku adalah karena dia tidak ingin Akadia dan Agade berseteru. Dengan kata lain, dia tidak mau aku dan ibu berseteru di pasar gelap. Namun, tampaknya, aku tidak bisa memenuhi keinginan itu.
"Sebenarnya, rencanaku membangkitkan Agade hanya untuk membantu pekerjaanku sebagai kepala intelijen sekaligus mencari inkompeten lain untuk menggantikanku. Namun, kurasa, aku bisa menghilangkan sumber kebingungan ayah yang adalah angka kriminalitas tinggi."
"Maksudmu?"
"Ayah bingung karena setelah keluarga Cleinhad kubantai, angka kriminalitas menjadi sangat tinggi, kan? Menurutku, cara paling efisien untuk membasmi kriminalitas adalah membersihkan sumbernya, yang adalah organisasi pasar gelap dan mafia."
"Gin, tidak jangan katakan."
Aku berdiri dari kursi dan menyandar ke balkon, memandang ayah.
"Jangan khawatir. Aku akan bertanggung jawab dengan meredam angka kriminalitas. Bagaimana caranya? Mudah saja. Aku tinggal membasmi semua organisasi pasar gelap dan mafia yang ada di kerajaan ini, yang adalah sumber kriminalitas. Dan, tidak terkecuali, Akadia."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1