I Am No King

I Am No King
Epilog 10 – Tamu


__ADS_3

Anak-anak sudah tidur. Aku juga meminta tolong agar Emir dan Inanna menemani mereka.


"Memangnya siapa tamunya, Gin?"


"Lihat saja nanti."


Aku membantu Lugalgin menyeduh dan menyiapkan teh herbal. Saat ini, teh herbal ramuan Lugalgin sudah sangat terkenal di kalangan elite Bana'an dan Nina. Akhir-akhir ini, aku juga mendengar kalangan elite kerajaan dan negara lain juga mulai melirik teh herbal ramuan Lugalgin.


Aku melihat ke Lugalgin yang memasak air dan menyeduh teh herbal dengan piawai. Meski sudah tidak bisa memasak karena butuh dua tangan, untuk hal-hal seperti menyeduh minuman Lugalgin masih sangat ahli. Aku cukup yakin Lugalgin bukan kidal. Dia juga mengaku bukan kidal. Namun, kalau melihatnya beraktivitas, kamu pasti akan berpikir dia kidal.


Meski Lugalgin masih bisa melakukan banyak hal dengan lancar, dadaku masih sesak dan miris setiap melihatnya. Tangan Lugalgin menjadi setengah lumpuh dikarenakan daging dan otot yang terlalu padat. Dan, orang yang membuat Lugalgin mengalami hal ini, tidak lain dan tidak bukan adalah aku. Gara-gara aku berusaha bunuh diri, Lugalgin kehilangan tangan kanannya. Sial!


Meskipun Lugalgin berkali-kali mengatakan agar aku tidak memikirkannya, tetap saja aku merasa bersalah. Sejak saat itu, kami benar-benar melarang Lugalgin untuk turun ke lini depan kalau ada masalah. Atasan biar tetap di atas. Biar kami yang turun.


"Lima gelas? Tamunya tiga orang?"


"Yap. Tiga orang."


Tamu tiga orang. Jujur, aku masih bingung siapa tamu yang dimaksud oleh Lugalgin. Namun, entah kenapa, aku merasa senyum Lugalgin seolah dipaksakan. Ujung matanya sedikit turun. Mungkin tamu yang akan datang ini membawa berita buruk.


Setelah teh siap di teko, aku membawanya dengan nampan ke ruang tamu. Belum sempat kami duduk, bel sudah berbunyi.


"Biar aku. kamu tunggu saja di sini."


Lugalgin langsung pergi membuka pagar. Aku memilih untuk duduk, menunggu di ruang tamu, layaknya istri yang baik.


"Selamat malam, Tuan Lugalgin."


"Selamat datang, Ira."

__ADS_1


Ira? Aku tidak salah dengar? Lugalgin menyambut Ira? Kalau Ira adalah satu dari tiga tamu yang dimaksud Lugalgin, siapa dua yang lainnya? Apa suami dan anak Ira? Namun, rasanya kecil kemungkinan Ira akan pergi ke kerajaan lain dengan membawa keluarganya.


"Maaf, sudah merepotkan. Dan, terima kasih, Lugalgin."


Bulu kudukku berdiri ketika mendengar suara ini. Meski sudah bertahun-tahun tidak mendengarnya, aku masih sangat familier dengan suara ini. Napasku pun menjadi pendek. Aku langsung menuangkan teh herbal ke satu cangkir dan menyeruputnya, berusaha menenangkan diri. Pintu dan pagar tidak terpisah jauh. Namun, aku tidak berani melihat keluar. Aku takut.


"Rina, ini adalah tamu kita malam ini."


Mengikuti suara Lugalgin, perlahan, aku menoleh ke pintu, melihat orang-orang dengan pakaian kasual. Lugalgin, Ira, dan ayah minggir, menunjukkan sosok berambut perak yang seharusnya sudah tewas 9 tahun lalu.


"I-ibu?"


"Selamat malam, Rina. Maaf karena berkunjung malam-malam."


"Ini ... tidak mungkin! Aku sudah membunuhmu 9 tahun lalu. Aku ...."


"Rina!"


Lugalgin langsung mengambil cangkir di tanganku dan menggenggamnya erat. Dia berusaha menenangkanku yang gemetaran.


"Sebelum memulai cerita lengkapnya, aku ingin mengatakan kalau Ratu Amana yang kamu bunuh 9 tahun lalu adalah palsu."


"Pa-palsu?"


"Ya," Lugalgin mengangguk.


Lugalgin langsung duduk di sebelahku, masih menggenggam erat tanganku.


"Ibu Amana, Bapak Bilad, Ira silakan duduk."

__ADS_1


"Tidak, terima kasih, Tuan Lugalgin. Saya akan berdiri saja."


Ira, selayaknya pelayan istana, loyal pada pekerjaannya. Sementara ayah duduk begitu saja, ibu masih berdiri, terlihat ragu. Wajahnya tampak masam. Bahkan, dia tidak berani memandangku.


"Ibu Amana, tolong. Semakin cepat Ibu Amana duduk, semakin cepat kita bisa memulai perbincangan ini."


"Tapi ...."


"Amana."


Panggilan ayah tidak mampu membuang keraguan ibu. Pandangannya masih tidak fokus. Dia melihat ke sana sini. Di saat itu, entah apa yang terlintas di benakku, sebuah kalimat muncul dari mulut ini.


"Ibu, tolong duduk. Aku ingin mendengar apa yang kalian ingin sampaikan."


Ketika mendengarku, ibu tampak terentak. Tidak terlihat lagi niat melawan. Ibu pun duduk di sofa, di seberang meja.


"Baiklah, mari kita mulai. Rina ...."


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2