
"Selamat datang kami ucapkan kepada Tuan Lugalgin beserta Tuan Putri Emir dan Tuan Putri Inanna."
Mereka semua membungkuk, menyambut kami.
"Ka-Lugalgin," Mari memelukku dari belakang. "Sudah kami bilang kan kalau kami akan mencoba sebaik mungkin untuk berguna bagimu."
Karena postur tubuh Mari yang kecil, kalau aku melihat dari luar, seperti adegan seorang kakak yang dipeluk adik.
"Awalnya," Ur masuk. "Kami membeli bangunan ini hanya untuk menjaga semua senjatamu. Tapi,"
Umma menambahkan, "tampaknya, gudang senjatamu sudah penuh dengan perangkap. Dan ketika kami menyadari kalau penjagaan senjatamu tidak dibutuhkan,"
Elam menyambung, "Kami berpikir untuk melakukan hal yang lain. Kami tidak mungkin diam saja saat kamu pergi."
Uru'a menjelaskan, "Kalau kamu kembali dan kami tidak melakukan apa-apa, kemampuan kami akan berkurang drastis, kan?"
"Kalau itu terjadi," Ninmar melengkapi. "Yang ada, kami hanya akan menjadi beban, tidak mampu berguna untukmu."
Simurrum masuk. "Kami tahu kalau informasi adalah senjata utamamu. Oleh karena itu,"
"Aku menyarankan untuk mendirikan perusahaan ekspor import." Ibla menjelaskan. "Dengan demikian, kami bisa mendapatkan informasi apapun dengan cepat dan akurat."
Yarmuti berdiri di depanku. "Jadi, Lugalgin, apa kami akan berguna untukmu?"
Aku terdiam sejenak, mencoba memproses semua yang mereka katakan.
"Lalu, orang-orang yang bekerja di sini?"
"Kami adalah orang-orang yang beruntung telah Anda dan Mulisu selamatkan dalam semua operasi itu."
Tunggu dulu, aku tidak ingat menyelamatkan orang tua dalam misi-misiku. Atau mungkin...
Aku menoleh ke belakang, ke arah Mulisu yang berdiri di antara Emir dan Inanna.
Tanpa aku bertanya, Mulisu sudah berbicara, memberi jawaban dari tatapanku.
"Berbeda denganmu, Gin, aku tidak hanya mengampuni nyawa anak-anak. Aku akan mengampuni nyawa orang dewasa." Mulisu mendekat ke telingaku dan berbisik, "selama mereka berguna."
Heh, ini adalah pertama kalinya aku melihat sisi ini.
Tapi, biar aku kesampingkan Mulisu dan orang-orang tua karyawan ini. Yang aku khawatirkan adalah anggota elite Agade.
Apa yang mereka lakukan di luar dugaanku. Di satu sisi, aku bangga karena mereka menunjukkan kemandirian. Namun, di sisi lain, aku khawatir karena mereka terlalu mendewakanku. Mental mereka sudah rusak. Bahkan, aku bisa bilang mereka semua sudah di ambang yandere. Kalau seandainya tadi Emir dan Inanna tidak dapat melampaui Ibla, aku khawatir mereka akan membunuh Emir dan Inanna saat itu juga, menganggap mereka hanya beban.
"Jadi,” Inanna masuk sejenak. “Apa kalian sudah tahu sebelumnya kalau aku sempat berada di gudang itu?"
"Tentu saja," Mari menjawab, tanpa melepaskan pelukan dari pinggangku. "Dan, untung saja kamu tidak melukai Lugalgin. Kalau kamu sampai melukai Lugalgin."
"Kematian terlalu ringan untukmu," Ur meneruskan.
Begitu mendengar jawaban Mari dan Ur, Inanna langsung bergeser, bersembunyi di belakang Emir.
Yup, mereka sudah diambang yandere.
__ADS_1
"Ah, untuk senjata kalian, berikan saja pada mereka. Mereka akan mengantar senjata kalian ke gudang." Ibla menambahkan.
"Senjataku saja." Aku melempar tombak dan shotgun yang kubawa ke salah satu orang. "Emir dan Inanna belum menguasai semua jenis senjata seperti kalian. Kalau diserang, mereka belum bisa bertarung dengan senjata lain."
"Baiklah, kalau itu keputusanmu." Umma menurut.
Mereka benar-benar terlalu penurut.
"Jadi, apa tidak salah kalau aku berpikir kalian juga sudah menyiapkan ruangan untukku?"
"Tentu saja. Silakan ikut kami." Ninmar memimpin.
Sementara orang-orang yang menyambut kami pergi entah kemana, anggota elite Agade, kecuali Mulisu, berjalan di depan. Hanya Mari yang masih berjalan sambil memeluk pinggangku.
Sedari dulu, Mari selalu lengket padaku. Kalau di depan yang lain, dia berusaha memanggilku dengan sebutan Lugalgin, normal. Aku sudah berulang kali mengatakan kalau dia mau memanggilku dengan Kak, aku tidak keberatan. Namun, dia menolaknya, menganggap hal itu bisa menodai reputasiku. Padahal, anggota elite yang lain juga sudah tahu kalau kamu berkali-kali salah panggil.
Di belakangku, Emir dan Inanna melihat Mari baik-baik. Bahkan, mereka sempat bertukar pandang. Begitu Mari melihat mereka berdua, dia mempererat pelukannya. Emir dan Inanna hanya tersenyum kecil.
"Jadi, apakah penyebab turunnya kecepatan mengumpulkan informasi, beberapa bulan lalu, karena kalian hiatus?"
"Itu...."
Tidak ada seorang pun yang menjawab, bahkan Mari yang ada di pinggangku, mengalihkan pandangan.
Aku melihat ke arah Mulisu. Berbeda dengan yang lain, dia bersedia menjawab.
"Sebenarnya, saat itu, sebagian dari kami sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Jadi, yang aktif mencari informasi tidak sampai setengah."
"Jangan bilang kalian tidak sanggup menjawab karena kalian bilang ingin berguna untukku, tapi ketika aku membutuhkan informasi, ternyata kalian tidak bisa bertindak karena sedang di luar negeri? Dengan kata lain, kalian merasa telah gagal untuk memenuhi fungsi kalian?"
"Ma, maaf Ka- Lugalgin,"
Mari menjawab pelan.
Hah... kalian tidak perlu merasa gagal hanya karena hal itu. Tujuan aku menyelamatkan kalian bukanlah untuk berguna, tapi agar kalian bisa hidup. Namun, walaupun aku mengatakan hal ini, aku yakin mereka tidak akan benar-benar menerima ucapanku. Aku hanya mengatakannya di dalam kepala.
Akhirnya, kami tiba di sebuah ruangan yang berada tepat di tengah-tengah lantai, di lantai tiga.
Simurrum dan Uru'a, dua berandal, membuka pintu dengan sebuah senyuman.
"Selamat datang gin, di ruanganmu."
Kami pun masuk ke dalam ‘ruanganku’. Desainnya tidak berlebihan. Terpasang satu set sofa dan meja di ujung ruangan, yang bisa digunakan hingga lima belas orang. Rak senjata tajam dan senjata api dipasang pada sudut ruangan yang lain. Dan, yang terakhir, sebuah meja besar dan kursi di tengah bangunan membelakangi jendela. Di dinding ruangan, terpasang rak buku yang hampir penuh. Hanya beberapa tempat yang masih belum terisi.
"Hmm.... tidak buruk."
"Iya, kan?" Mari menjawab, masih dengan nada ketusnya.
Aku mengambil handphone dan melihat jam. Sudah hampir jam lima sore. Apa kita akhiri saja hari ini? Rasanya, aku juga belum ada keperluan di Agade untuk hari ini.
"Hei, cewek-cewek, kalian ada jadwal apa malam ini?"
"Ung? Tidak ada sih." Mulisu yang pertama menjawab.
__ADS_1
Umma menambahkan, "kami langsung mengosongkan jadwal begitu mendengar kamu ingin bertemu."
"Cowok?" Aku mengalihkan perhatian.
"Maaf," Ur adalah yang pertama merespon. "Padahal kami sudah menegaskan kalau kami ingin berguna untukmu, tapi, sayangnya, kami sudah memiliki jadwal."
Padahal, tadi siang, Ur adalah orang yang mengeluh karena aku memanggilnya mendadak. Namun, justru dia adalah orang pertama yang meminta maaf. Apa yang dia lakukan tadi siang hanyalah sandiwara? Atau dia memang masih bingung dalam menentukan prioritas?
"Ya, Ur, benar." Ibla menambahkan. "Kami benar-benar meminta maaf yang sebesar-besarnya."
"Aku tidak mempermasalahkannya." Aku harus segera menghentikan permintaan maaf mereka. "Justru, menurutku, ini adalah kesempatan yang bagus."
Semua orang terdiam sejenak ketika mendengar responsku.
"Emir, Inanna, aku ingin kalian menghabiskan malam ini bersama para cewek ini. Dekatkan diri dan cari informasi yang kalian inginkan sebanyak-banyaknya." Aku melihat ke arah cowok-cowok. "Untuk yang cowok, kalian tidak dibutuhkan di sini. Ini adalah perbincangan antar cewek."
"Eh?" Inanna dan Emir merespon bersamaan.
"Siap!" Simurrum merespon.
"Lalu, Lugalgin, apa yang akan kamu lakukan?" Uru'a bertanya.
"Aku mau pulang dulu."
Sebuah kesunyian muncul, tapi hanya sesaat, sebelum semua orang memberi respon secara bersamaan.
"EEHHHH?"
Bersambung
\============================================================
Chapter ini diupload Kamis sore.
Chapter sebelumnya diupload rabu sore, tapi sampai kamis sore, chapter ini di upload, belum juga rilis.
Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya.
Untuk post note, tidak banyak yang bisa dibicarakan. Hanya mengingatkan kalau mulai minggu ini panjang chapter berkurang, tapi frekuensi update bertambah. Dan kembali mengingatkan kalau minggu depan sudah berganti Arc (anggap ganti season). Dan, Arc selanjutnya sepenuhnya bukan dari sudut pandang Lugalgin.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1