I Am No King

I Am No King
Chapter 260 – OP vs OP


__ADS_3

Aku berdiri di atas satu dari 20 kontainer yang berserakan, memandang Ukin di sisi lain lapangan.


Aku membutuhkan 10 truk trailer panjang untung memindahkan semua kontainer ini dari Haria, jadi, aku sudah siap di sini sejak siang. Beberapa jam setelahnya, tiba-tiba Ukin datang dengan kontainer berjumlah sama.


Semua anggota Agade dan Orion tersebar di seluruh penjuru kota Abu. Aku memilih stadion bola karena tempat ini adalah yang paling lapang, memudahkanku untuk mengendalikan semua senjataku.


Awalnya, aku tidak tahu apakah Ukin datang ke stadion ini untuk bertarung melawanku atau hanya karena tempat ini lapang. Namun, perasaanku mengatakan dia memang ingin mengakhiri konflik denganku untuk selamanya.


Pakaian bertarung Ukin hampir mirip dengan kami, anggota elite Agade. Dia mengenakan pakaian igni hitam, celana kargo coklat, sepatu bot, dan jubah. Hampir sama karena dia tidak mengenakan jaket.


Ukin dan aku berdiri di ujung stadium, dipisahkan oleh lapangan sepak bola sepanjang 110 meter. Di samping stadion, layar raksasa masih menyala, menunjukkan jam 11.59. Normalnya, anggota kedua organisasi akan berada di tempat yang berbeda, menghindari konflik sebelum waktunya. Namun, aku dan Ukin sama sekali tidak mengkhawatirkan itu. Kami adalah orang yang menaati kode etik.


Selain jam dan menit, juga ada perputaran yang menunjukkan detik. Namun, aku sama sekali tidak melihat ke arah perputaran detik itu. Pandanganku fokus pada sosok di seberang lapangan. Pergerakan waktu mundur sudah otomatis muncul di kepala, terhitung sejak masuk minus 5 menit. Dan, aku yakin, Ukin melakukan hal yang sama.


Tiga puluh detik lagi.


Aku membuka semua kontainer dengan pengendalian dan mengeluarkan semua senjata yang ada di dalamnya. Seolah sedang merakit model, aku menyambungkan semua senjata yang telah dibuat khusus. Aku melompat ke kepala lipan, membiarkan sudut pandangku semakin tinggi. Dalam waktu kurang dari 10 detik, sebuah lipan raksasa dengan panjang hampir 400 meter dan lebar 5 meter sudah bersiap.


Aku tidak membuat banyak lipan seperti sebelumnya, tapi hanya fokus pada 1 lipan panjang. Dan, satu perbedaan lain adalah posisi senjata tajam dan senjata api di dalam lipan ini tidak menentu, acak. Hanya orang-orang dengan pengendalian utama tembaga dan telah menjalani latihan berat sepertiku lah yang bisa mengetahui lokasinya dengan pasti.


Di sisi lain lapangan, ribuan pedang dan senjata api beterbangan dan berputar bagaikan pusaran angin. Di tengah-tengahnya, terdapat sosok yang menaiki satu pedang seolah dia sedang bersiap untuk berselancar, Ukin. Tidak akan berlebihan kalau aku mengatakan pedang dan senjata api yang dikendalikan Ukin memenuhi langit stadium. Dan, kami sama-sama memegang pedang di tangan kanan dan assault rifle di tangan kiri.


"Lugalgin, aku ingin kamu meletakkan pembicaraanku dan Ukin sebagai prioritas. Ada sesuatu yang harus kamu dengar."


[Baiklah. Aku sudah memindahkan pembicaraan kalian ke saluran pribadi. Jadi, hanya aku yang bisa mendengarkan.]


Aku sama sekali tidak menduga Lugalgin akan langsung menjawab. Tampaknya, dia mulai menyadari ada hal lain di balik perseteruanku dengan Ukin. Dan, aku tidak heran kalau dia tidak curiga. Saat ini, satu-satunya hal yang mencegah Lugalgin memeriksa masa laluku dan Ukin hanyalah karena kami berdua juga murid Lacuna. Dia menghormati privasi kami. Kalau bukan, semua masa lalu kami pasti sudah diketahui olehnya.


Suara sirene terdengar kencang.

__ADS_1


Aku menggerakkan Lipan ke bawah, melayang tidak terlalu tinggi dari tanah. Di lain pihak, Ukin memilih berselancar di atas pedangnya dari ketinggian.


"Selamat tinggal!"


Dengan ratusan atau bahkan ribuan senjata yang dia kendalikan, Ukin melepaskan tembakan. Dia menghujani stadium ini dengan peluru, literally.


"Dalam mimpimu...."


Aku membuat lipan ini berhenti dan mengibaskan ekornya. Sambil menghalau semua peluru yang mendekat, aku membuat semua senjata api di ekor melepaskan tembakan. Meski bentuknya lipan, gerakannya sama sekali tidak mirip lipan. Aku menggerakkannya semauku, tidak ada pola gerakan.


Ukin tidak diam begitu saja. Dia menggunakan pedang yang dia kendalikan untuk mengelak peluru yang mendekatinya.


Tembakan yang dilepaskan tidak benar-benar terarah dan kami tidak benar-benar berharap akan membunuh lawan hanya dengan ini. Kami lebih menggunakan ribuan peluru yang beterbangan sebagai pengalih perhatian. Tidak hanya peluru, kadang, kami melemparkan beberapa granat, membuat ledakan dimana-mana.


Dalam waktu kurang dari 1 menit, lapangan bola ini sudah berubah menjadi tanah penuh lubang. Bukan hanya lapangan bola. Tribune, layar raksasa, dan gedung di sekitar pun tidak lepas dari peluru dan granat yang melayang ke semua arah.


Kepala lipan menuju ke atas. Menerjang ke tengah-tengah senjata yang melayang. Meski ukuran lipan ini besar, pengendalianku membuat gerakannya cepat. Dalam waktu singkat, aku berhasil mencapai Ukin. Pedang kami pun berhadapan.


"Aku tidak memiliki masalah denganmu. Kamu yang memiliki masalah denganku?"


"Hah? Benarkah?"


Ukin dan aku sama-sama melepas tembakan dari assault rifle di tangan kiri. Namun, kami sama-sama menghindar. Pedang di tangan kanan saling bertikai. Namun, bukan hanya pedang di tangan kanan. Semua senjata di sekitar kami juga saling bertikai. Ukin terus melepaskan tembakan dari segala arah. Sama, lipan raksasa ini terus melepaskan tembakan dan meluncurkan senjata tajam sebagai proyektil. Dari luar, pemandangan ini seperti sebuah lipan dikerubungi oleh nyamuk yang beterbangan.


"Akhirnya kamu serius. Tidak seperti di rumah sakit yang menjaga jarak karena berusaha melindungi perempuan itu, kali ini kamu benar-benar serius ingin mengakhiri hidupku."


"Tentu saja serius, sebagai senior dan kakak yang baik, aku harus sungguh-sungguh jika ingin menghukummu, kan?"


"Senior? Kau bukan seniorku! Hingga saat ini, kita tidak tahu siapa yang benar-benar senior sebagai murid Lacuna."

__ADS_1


"Bukan senior yang itu, tapi yang lain."


Ketika mendengarku, Ukin sedikit berkedut. Meski sejenak, sangat singkat, Ukin tampak terkejut. Dan, waktu yang sangat singkat ini membuat pedangku hampir menebas tubuh Ukin. Namun, dia bergerak cepat dan menahannya. Meski demikian, pedangku terlalu dekat dengan tubuhnya. Dengan siku yang terlipat hampir 180 derajat, sulit baginya menghalau pedangku. Satu-satunya pilihan adalah mundur.


Ukin, dengan berselancar di atas pedang, mulai mundur. Namun, aku tidak membiarkannya begitu saja. Lipan ini terus mengejar Ukin. Aku, dari atas kepala Lipan, terus dan terus melancarkan serangan ke Ukin.


"Tidak seperti Lugalgin yang menghormati privasi kita, aku yakin kamu sudah menyelidiki latar belakangku, kan, Ukin? Di lain pihak, aku tidak perlu menyelidikimu untuk mengetahui latar belakangmu."


"Ah, itu ya yang kamu maksud."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2