
~Lacuna POV~
Aku sudah mengenakan pakaian beserta jaket berlapis, lengkap dengan persenjataan. Aku berjalan menuju pintu depan, lalu membukanya.
Diluar dugaanku, tempat ini tidak lagi sepi. Ya, kalau standar sepi adalah suara, tempat ini masih sepi. Namun, kalau standar sepi adalah keberadaan orang, lorong apartemen sudah tidak sepi lagi. Ada tiga orang berdiri di depan pintu apartemen Pirang yang gosong, menelitinya. Salah seorang mendekat ketika melihatku.
"Nyo–"
"Nona,"
"Maaf, biar saya ulangi," laki-laki itu mengoreksi ucapannya. "Nona, apa tadi Anda mendengar keributan terjadi?"
"Ah, tidak ada keributan. Hanya ada ledakan." Aku menjawab enteng. Selain itu, aku tambahkan juga hal lain. "Kemungkinan, pemilik apartemen di sebelah memasang perangkap pada pintu, kalau-kalau ada orang berusaha masuk dengan paksa."
"Ah, jadi benar dugaan kami."
Kami berdua terdiam, melihat ke orang yang masih meneliti pintu.
[Ada... sepertinya, empat tubuh, di semak-semak. Tubuh mereka terbakar dan hancur. Menurutku, mereka lah yang terlempar dari lantai 74 dan terjatuh ke sini. Ganti.]
Sebuah suara terdengar dari laki-laki di depanku. Lebih tepatnya, dari handy talky yang terpasang di bahu kanannya.
"Baik, amankan tubuh itu. Ganti."
[Siap. Selesai.]
Tubuh hancur. Aku penasaran sehancur apa. Maksudku, mereka terlempar dari lantai 74. Bahkan, aku ragu wajahnya masih bisa dikenali. Mungkin, itu alasan orang di ujung saluran tampak ragu. Dia tidak yakin apakah kumpulan hancuran tubuh itu benar-benar berasal dari 4 orang. Ya, aku paham.
Sebuah suara lain terdengar. Kali ini, bukan suara orang, melainkan nada dering smartphone.
"Permisi,"
"Silakan,"
Laki-laki itu membuka smartphone dan menjauh sejenak. Tidak lama setelah itu, dia kembali mendekat.
"Maaf, ada telepon untuk Anda."
"Terima kasih,"
Meski belum mendengar suara orang di ujung telepon ini, aku bisa menduga siapa yang menelepon. Orang ini adalah satu dari sedikit orang yang mengetahui nama dan tempat tinggalku di negara ini.
[Nona Lacuna.]
"Ya, dengan saya sendiri."
[Perkenalkan, nama saya adalah Nora, dari keluarga Adams. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih karena telah memilih Apartemen Pagoda sebagai tempat tinggal Anda. Dan, saya ingin mengucapkan permintaan maaf sebesar-besarnya karena kenyamanan Anda telah terganggu.]
__ADS_1
"Tidak masalah."
Ah, terlalu banyak basa-basi ini orang. Langsung saja to the point.
[Sebelumnya, saya mendengar Anda telah mengambil pekerjaan dari keluarga Anastasia untuk membersihkan keluarga Ibrahim. Apakah ini benar?]
"Benar. Lalu?"
[Apa Anda bersedia mendapatkan dana tambahan?]
Sudah kuduga.
[Kalau Anda bersedia membersihkan keluarga Ibrahim minggu ini juga, kami akan memberi hadiah tambahan. Untuk nominalnya, bagaimana kalau saya samakan dengan hadiah yang diberi keluarga Anastasia?]
Cukup menggiurkan. Hanya dengan melakukan pekerjaan yang sama, aku akan mendapatkan uang sebanyak dua kali lipat.
Kalau aku tidak sedang bimbang, seperti sekarang, aku pasti sudah menerima tawaran ini dengan senang hati. Namun, sayangnya, meski tidak ingin menerima tawaran ini, aku tidak bisa menolaknya begitu saja.
Apartemen ini dimiliki oleh keluarga Adams, satu dari lima keluarga terbesar di negeri ini. Keluarga Ibrahim berani melancarkan serangan ke apartemen ini adalah sebuah penghinaan besar terhadap keluarga Adams. Kejadian ini sama saja seperti keluarga Ibrahim menganggap keluarga Adams bukanlah keluarga yang patut ditakuti.
Oleh karena itu, reputasi keluarga Adams dipertaruhkan di sini. Kalau seandainya hukum negara ini membolehkan perang gangster, pasti saat ini keluarga Adams sudah mengerahkan seluruh anggotanya untuk menyerang keluarga Ibrahim. Sayangnya, tidak.
Dan, entah untung atau sial, aku tinggal di apartemen ini.
Bagaimana keluarga Adams bisa tahu kalau penyerang ini adalah keluarga Ibrahim? Mudah saja. Setiap anggota mafia di negara ini wajib memiliki tanda pengenal logam, kalung dog tag, seperti militer. Bagi orang yang tidak mengenakan kalung dog tag, akan dianggap sebagai orang luar atau mercenary.
Kalung dog tag tersebut juga tanda kebanggaan sebagai anggota suatu keluarga, sekaligus alat bagi setiap keluarga untuk mendeklarasikan kehebatan mereka. Di lain pihak, kalung tersebut juga menjadi bumerang dalam identifikasi seperti ini.
Kalau aku menolak tawaran ini, antara reputasiku akan dihancurkan oleh keluarga Adams, atau mereka akan melakukan hal yang lain. Intinya, kalau aku menolak, hanya kerugian yang aku dapatkan. Jadi, jawabanku pun sebenarnya sudah pasti. Namun, aku tidak mau menerimanya begitu saja.
"Aku mau setengah dikirim ke rekeningku malam ini juga, setengahnya lagi bisa diberi setelah selesai."
[Malam ini? Tidak usah lama-lama. Aku baru saja mentransfernya ke rekeningmu.]
Sesuai ucapannya, smartphone di sakuku bergetar. Aku membukanya dan melihat konfirmasi dana sudah masuk.
Aku lupa bilang. Nomor rekening ini hanyalah nomor rekening transit. Jadi, semua uang yang masuk dan keluar akan selalu melalui nomor rekening ini. Rekeningku yang asli tersimpan aman, tidak seorang pun selain aku yang mengetahui atas nama siapa dan nomornya.
"Baiklah, akan aku kabari kalau sudah selesai. Sesuai keinginanmu, minggu ini."
[Terima kasih. Maaf sudah merepotkan.]
Aku memberi smartphone ini kembali ke laki-laki di depanku.
"Oke, aku mau istirahat dulu."
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Nona." Laki-laki itu membungkukkan badannya.
Aku menutup pintu dan kembali masuk. Aku kembali melepas pakaian, berganti ke kaos dan celana dalam, dan pergi ke kamar tidur.
"Bagaimana? Apa mereka sudah pergi?"
"Orang-orang Ibrahim tidak akan datang lagi malam ini. Mereka sudah berurusan dengan orang yang salah," aku menjawab Pirang dengan enteng. "Malam ini, keamanan apartemen ini pasti langsung diperketat. Kalau mereka mencoba menyerang lagi, mereka akan langsung dihabisi oleh penjaga apartemen ini, yang adalah orang keluarga Adams."
Karena hanya pada level penjaga dan tidak sampai perang gangster, hal itu masih diperbolehkan.
"Aku mau tidur dulu. Kita bicara besok lagi."
"Eh? Aku tidur di sofa nih?"
Setelah ke kamar, aku mengambil selimut dari lemari dan satu bantal dari kasur. Aku keluar sejenak dan melempar selimut dan bantal.
"Iya, kamu tidur di sofa saja. Kalau kamu mau tidur di kasur, denganku, kamu harus berusaha agar tidak memicu satu pun jebakan yang kupasang di apartemen ini."
"Ah, itu...."
Pirang tidak melanjutkan jawabannya. Dia hanya melirik ke sekitar.
Aku tidak memedulikannya dan pergi tidur. Selamat malam dunia.
Bersambung
\============================================================
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Untuk post note belum ditulis karena masih di tengah aksi. Tidak banyak yang bisa dijelaskan dari chapter ini.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1