
Selama beberapa hari, aku dan agen schneider yang masih aktif mendatangi semua bangsawan di kerajaan. Kami mencoba memberi solusi atas status quo kerajaan. Solusi, atau lebih tepatnya saran, yang kami beri ke mereka sama dengan yang aku tawarkan pada tante Hervia.
Bagaimana respon para bangsawan? Secara sederhana, ada tiga respons. Respon pertama adalah menolak. Mereka memiliki alasan yang sama dengan tante Hervia, menerima saran itu sama saja membuang usaha mereka selama ini. Respon kedua, menerima. Agen schneider pun bekerja sama dengan instansi lain kerajaan untuk "memfasilitasi" bangsawan yang setuju. Respons yang ketiga adalah menunggu. Mereka akan setuju kalau Agade menang pada perang tapi akan menolak kalau Orion yang menang.
Jujur, dari tiga respon itu, aku paling benci bangsawan-bangsawan yang menunggu. Kenapa? Karena mereka tidak memiliki pendirian dan oportunis. Mereka adalah tipe orang yang akan mengkhianatimu ketika posisi tidak menguntungkan. Jadi, berdasar hasil diskusi dengan Emir dan Inanna, orang-orang yang menunggu kami anggap menolak. Di lain pihak, orang yang menolak akan diberi kesempatan kedua setelah perang pasar gelap berakhir tapi tawarannya tidak semanis awal.
Kondisi lain adalah keluarga Jeanne dan anak-anak Rahayu tidak lagi dikurung. Namun, informasi mengatakan mereka tidak melakukan kontak dengan permaisuri Rahayu setelah lepas dari tahanan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikiran Jeanne dan Emir. Sebenarnya, aku ingin mencari tahu apa yang direncanakan Emir dengan melepaskan Jeanne dan saudara-saudaranya. Namun, karena Inanna sudah membantu Emir, dan aku juga masih banyak yang harus dipikir, aku pun mengurungkan niatku untuk bertanya. Aku ingin mempercayai Emir dan Inanna.
"Nanti malam ya...."
Aku membaca laporan mengenai bangsawan yang setuju dengan saran Emir dan proses yang telah mereka tempuh. Kini, aku berada di sofa ruanganku, di mal Haria. Intelijen bekerja cepat. Dalam waktu kurang dari 2 hari, ruanganku dan ruangan Yuan sudah kembali normal.
Hari ini adalah hari terakhir gencatan senjata. Sesuai kesepakatan, pertarungan akan dilakukan tepat jam 12 malam ini. Untuk memfasilitasi pertarungan, dan mencegah korban jiwa dari pihak sipil dan warga, aku mengerahkan intelijen kerajaan untuk mensterilkan dua kota kecil di bukit timur.
Aku meminta bantuan pada salah satu bangsawan yang bekerja di Akadia untuk menyediakan tempat bertarung tersebut. Tentu saja, biaya ganti rugi sudah kusiapkan. Dari mana aku mendapatkan dana ganti rugi? Tentu saja anggaran intelijen kerajaan. Aku tidak merogoh sakuku untuk pertarungan ini karena ini menyangkut masa depan kerajaan.
Meskipun ada pihak yang tidak setuju, terutama kepolisian, dua kota di bukit timur berhasil dikosongkan, Kota Abu dan Kota Tua. Kota Abu akan menjadi zona pertarungan Agade dan Orion, Kota Tua untuk Akadia dan Quetzal. Tambahan informasi, mayoritas bangsawan yang tidak setuju ide Emir memiliki kekuatan dan koneksi di kepolisian. Begitu juga sebaliknya, mayoritas bangsawan yang setuju di Militer.
Ini sesuai dugaan karena bangsawan kepolisian memiliki harga diri bangsawan yang tidak rasional dan mereka tidak akan melakukan hal yang bisa mencoreng nama baik. Dan, mensterilkan dua kota, menggusur warga dari tempat hidupnya, akan mencoreng nama baik. Di lain pihak, bangsawan militer tidak terlalu peduli dengan nama baik. Dan lagi, sejak awal, Emir lebih akrab dengan militer. Jadi, militer pun memiliki kepercayaan pada ide yang dicetuskan oleh Emir.
Saat ini, seharusnya, empat organisasi enam pilar sedang melakukan mobilisasi besar-besaran. Baik senjata, material, jammer, dan apapun yang bisa digunakan dalam pertarungan pasti dibawa. Karena pertarungan akan menggunakan pengendalian, semua material yang bisa dikendalikan pun digerakkan. Mulisu seorang diri saja membawa 10 truk berisi material untuk lipan raksasa dan serangan tidak mencoloknya. Jadi, tentu saja, mobilisasi yang terjadi amat sangat besar.
Kalau aku tidak menggerakkan intelijen, berita dan televisi pasti sudah menayangkan berita mengenai truk-truk dan pesawat yang menuju ke dua kota dan menurunkan barang-barang, dan mungkin menyebarkan asumsi bahwa Bana'an akan membuat pangkalan militer baru.
Media yang dimiliki oleh bangsawan dan ibu tidak perlu perlakuan khusus karena mereka sadar apa yang perlu dilakukan. Yang harus aku bungkam adalah media yang dimiliki oleh warga sipil. Aku harus mengeluarkan surat larangan meliput hingga radius 100 Km dari area pertempuran. Tidak sedikit laporan wartawan ditahan oleh intelijen dan militer karena melanggar laranganku.
Wartawan-wartawan ini mengatakan undang-undang perlindungan jurnalistik memberi mereka hak untuk meliput dan pihak kerajaan tidak memiliki hak untuk melarang. Jujur, kalau tidak berbaik hati, aku ingin mereka ditembak di tempat dan mayatnya disemen lalu dibuang ke laut. Kalau media yang bersangkutan mencari tahu, aku tinggal bilang tidak tahu karena menurut surat edaran seharusnya mereka tidak ada di zona terlarang.
Namun, karena masih berbaik hati, mereka hanya ditahan karena memasuki zona terlarang, barang-barang disita, dan dipulangkan ke instansi masing-masing. Apakah para wartawan ini sadar mengamankan dan memulangkan mereka membutuhkan dana yang tidak sedikit? Apa mereka begitu inginnya menghambur-hamburkan uang kerajaan?
__ADS_1
Matahari sudah terbenam dan aku menyalakan lampu ruangan. Lima jam sebelum pertempuran terakhir dalam perang pasar gelap Bana'an. Bagian atas gedung Mal Haria, yang menjadi markas intelijen saat ini, sudah kosong. Semua pegawai intelijen kerajaan dan agen schneider aktif sedang berada di sekitar kota Abu dan kota Tua. Bersama militer, mereka akan mengawasi jalannya pertarungan.
Aku tidak mengatakannya pada siapa pun selain pada Rahayu, tapi aku sudah membuat skenario untuk berjaga-jaga kalau Agade kalah dan aku tewas dalam proses. Jika aku tewas, Yuan akan mengambil posisi sebagai kepala intelijen. Rahayu sudah menandatangani dokumen persetujuan untuk melimpahkan wewenang intelijen kerajaan ke Yuan kalau aku tewas. Meski demikian, dia sama sekali tidak menginginkan aku tewas. Aku harap Rahayu tidak mau aku tewas demi Emir, bukan yang lain.
Jujur, saat ini, aku gugup dan tidak bisa berdiam diri. Perutku mulas dan jari-jariku terasa kaku. Aku berdiri, berputar-putar di ruangan dan beberapa kali menenggak teh herbal. Namun, tidak peduli berapa banyak teh herbal yang kutenggak, kegugupan ini tidak kunjung hilang. Sial!
Emir dan Inanna tidak ada di tempat ini karena mereka bersama Anggota Agade yang lain mempersiapkan senjata di kota Abu. Aku juga tidak mungkin meminta Yuan di ruang sebelah untuk menenangkanku. Kalau Emir dan Inanna tahu, aku tidak akan lolos begitu saja.
"Gin?"
"YAAHHH????"
Teriakanku membuat Yuan terperanjat. Dia bahkan mundur dari pintu yang terbuka. Tampaknya aku terlalu tegang.
Baru saja aku memikirkan Yuan, dia sudah muncul di pintu. Tidak! Aku tidak boleh meminta Yuan untuk menenangkanku! Tidak boleh!
"Ah, ya. Semoga lancar ya."
Yuan tersenyum. "Harusnya aku yang bilang seperti itu. Semoga rencanamu lancar ya. Aku tidak mau mendapatkan promosi terlalu cepat."
Dengan langkah ringan, Yuan meninggalkanku seorang diri di ruangan ini.
Bagus! Untung dia segera pergi sebelum aku sempat memintanya untuk menenangkanku.
Kenapa aku di sini tapi tidak di Kota Abu? Aku sendiri tidak tahu! Aku sudah menyiapkan dua kotak arsenal dan membawanya ke gedung Agade untuk dibawa. Di sana, aku bertemu Mulisu. Dia bilang biar Agade saja yang mengurus semua mobilisasi dan aku bersantai saja di ruangan ini, nanti akan ada yang menjemputku. Emir dan Inanna pun mengatakan hal yang sama.
Tanpa meminta persetujuan, mereka memasukkanku ke mobil dan langsung mengantarkanku ke tempat ini. Tampaknya Mulisu dan yang lain sudah menduga kalau aku akan menggunakan penghilang kekuatan untuk menghentikan mobil dengan mesin rotasi, jadi dia meminjam mobilku di gudang yang menggunakan bensin. Dari mana Mulisu mendapatkan kunci mobilku? Kemungkinan besar dari Emir dan Inanna.
Karena Emir dan Inanna juga bersikeras, aku tidak ingin melawan. Dan, karena itu, kini aku sendirian di tempat ini, gugup.
__ADS_1
Aku gugup, takut, khawatir. Kenapa? Aku takut kalau mereka tiba-tiba memulai pertarungan sebelum waktunya! Meski tante Hervia dan Orion bisa dipercaya, bisa saja Rina atau mercenary bekas Guan yang memantik masalah, kan? Karena kondisi tegang, serangan dalam bentuk apa pun akan dianggap sebagai serangan lawan.
"Gin?"
"HAAHHH!!!"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1