
~Lacuna POV~
"Dari caramu mengatakannya, seolah-olah pasar gelap negeri ini sudah mengetahui itu semua. Namun, kenapa di informasi yang kau berikan, dan aku kumpulkan, mengatakan bahwa semua itu hanya rumor?"
Mila menggigit crepes sebelum memberi jawaban. "Di negeri ini, hanya ada lima organisasi yang mengetahuinya. Namun, tidak semua anggota mengetahuinya. Hanya petinggi, mungkin satu atau dua orang, yang memiliki benda ini dan mengetahui informasi tersebut.”
Jadi, anggap setiap organisasi memiliki dua cincin itu, maka, maksimal, hanya sepuluh orang yang memiliki cincin dan informasi.
Aku menebak, “kalian bersepakat untuk tidak menyebarkan informasi ini lebih jauh, dan berusaha menekannya menjadi hanya sebatas rumor?"
"Ya, tepat sekali. Kau tampak pintar, jadi, rasanya aku tidak perlu menjelaskan alasannya, kan?"
"Ya, aku bisa menduganya.”
Mila melanjutkan penjelasan. "Namun, sayangnya, setelah keluarga Ibrahim berganti kepemimpinan, mereka melanggar kesepakatan itu. Tidak peduli berapa kali pun kami memberi peringatan, pimpinan yang baru ini tidak kunjung mendengarkan. Jadi, kami pun harus membersihkan keluarga Ibrahim."
"Jadi, beberapa usaha yang gagal sebelumnya bukan hanya karena perselisihan, tapi juga karena kesepakatan ini?"
"Tepat sekali. Sayangnya, para pimpinan itu bodoh. Daripada langsung turun tangan, mereka menyuruh organisasi kecil membersihkan keluarga Ibrahim. Organisasi menengah ke bawah tidak memiliki anggaran yang besar, jadi mercenary yang bisa mereka sewa hanya kelas teri."
"Dan, karena sudah terlalu sering gagal." Aku memasukkan dugaan. "Akhirnya, kalian. lima keluarga besar, turun tangan."
"Benar. Karena itulah aku bilang mereka bodoh. Kenapa tidak dari awal saja langsung turun tangan?"
Hmm.... begitu ya. Aku mendapatkan informasi yang sangat banyak, dan berkualitas. Tanpa kusadari, crepes di tanganku sudah habis, begitu juga dengan milik Mila.
"Lalu, kenapa kamu mengatakan semua ini padaku? Kamu ingin mendapatkan bagian dari bayaran itu kalau aku berhasil?"
"Ahahaha, tidak. Aku sama sekali tidak menginginkan bagian. Aku hanya," Mila terhenti, pandangannya kosong untuk sejenak. "Entahlah, aku merasa perlu melakukan ini. Aku sendiri tidak tahu kenapa."
__ADS_1
Aku terdiam ketika mendengar jawaban Mila.
"Dan lagi, aku sedikit merasa bersalah karena sudah mengganggu waktu istirahatmu sore ini."
Mila berdiri dan membuang kertas crepes ke tempat sampah di sampingku.
"Aku duluan."
"Silakan."
Mila pun berjalan, meninggalkanku.
Aku tidak langsung bergerak, tapi menyandarkan punggung dulu. Awalnya, ketika mendengar Mila berbicara mengenai orang tua dan anak tadi, aku mengira dia sudah mengetahui kalau aku adalah putrinya. Namun, sayangnya, dan untungnya, dugaan ini terpatahkan oleh responsnya yang terakhir.
Namun, mungkin, meskipun dia tidak tahu, insting keibuannya sedikit bangkit. Ya, mungkin meski dia tidak mengenalku, tubuhnya masih kenal.
Aku penasaran, kalau seandainya dulu perempuan itu bersama kami, sebelum ayah tewas, apakah aku bisa merasakan kebahagiaan yang dialami oleh anak itu? Kalau seandainya Mila pergi karena alasan yang dia ucapkan, secara tidak langsung membunuhku karena kekuatan pengendalian yang tidak menurun, aku terpaksa memaklumi.
Ahh, semakin tua, aku semakin lunak dan sentimen. Aku jadi kangen waktu dulu masih remaja dan bisa melakukan apapun semauku. Aneh juga sih. Normalnya, cewek akan emosional dan tidak stabil di usia remaja. Namun, entah kenapa, aku baru mengalaminya sekarang. Apa ya yang menyebabkannya?
Ah, aku pikir lain kali saja lah. Sekarang, lebih baik aku pulang dan mengambil peralatan untuk menonton Pirang menyerang.
***
Sambil mengenakan pakaian, menyiapkan alat-alat, dan persenjataan, aku memikirkan tentang cincin itu dan peluru keluarga Ibrahim. Kalau dari info yang diberi Mila, cincin yang dimilikinya adalah purwarupa dari peluru keluarga Ibrahim. Daripada purwarupa, mungkin lebih pantas kalau sku menganggapnya sebagai benda yang asli.
Jadi, benda yang asli adalah sebuah cincin. Cincin itu bisa menghilangkan kekuatan pengendalian bagi yang mengenakannya. Mekanismenya adalah cincin itu memancarkan gelombang, atau apapun, yang membuat penggunanya tidak mampu berkonsentrasi.
Namun, yang jadi pertanyaan, apakah gelombang atau apapun itu yang dipancarkan berasal dari materialnya? Atau dari cara membuatnya? Atau ada mekanisme lain di dalamnya?
__ADS_1
Kemungkinan pertama adalah materialnya. Namun, menurutku, tidak mungkin kalau yang dapat menghilangkan pengendalian adalah material. Kalau bisa menghilangkan kekuatan pengendalian, material ini pastilah sebuah material khusus. Organisasi lain dan pemerintah negara ini pasti sudah memblokade semua cara untuk mendapatkan material itu. Karenanya, kemungkinan ini sangat kecil.
Kemungkinan kedua, mekanisme di dalamnya. Sulit untukku membayangkan cincin dan peluru sekecil itu bisa memiliki suatu mekanisme di dalamnya. Terlalu sulit. Kalaupun bisa, butuh laboratorium skala internasional untuk membuatnya.
Oleh karena itu, pilihan jatuh ke kemungkinan ketiga. Cara membuatnya. Kalau Mungkin material atau bahan dasarnya adalah bahan normal. Namun, setelah diproses secara khusus, entah dipanaskan dengan suhu tertentu, dialiri listrik, dilapisi, atau apapun, muncul sifat yang baru. Dan, dari tiga kemungkinan yang ada, kemungkinan ini adalah yang paling besar.
Baiklah, untuk saat ini, aku akan beraksi dengan menggunakan kemungkinan ketiga sebagai asumsi. Aku juga harus waspada agar tidak ada satu pun peluru yang mendarat di tubuh atau kekuatan pengendalianku akan hilang, seperti Mila tadi.
Kalau satu saja peluru mendarat di tubuh Pirang, kemungkinan dia keluar hidup-hidup adalah nihil.
Oke, waktunya berangkat.
Bersambung
\============================================================
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author. Di situ juga akan dipost ilustrasi Lacuna, Pirang, dan Mila. Well, sebenarnya author kepikiran Lacuna seperti Ak-12 dari game girls Frontline. Namun, yah, ada reimagine dikit tidak apa-apa lah. Wkwkwkwk.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1