
Akhirnya, aku bertarung melawan Lacuna. Aku menggunakan tombak shotgun dan shotgun sebagai senjata utama, peti arsenal senjata tambahan 1. Sebagai senjata tambahan 2, aku juga meletakkan berbagai senjata di setiap sudut bangunan.
Aku juga sudah menyiapkan seribu satu jebakan di gedung tempat kami bertarung. Mulai benang logam untuk menghambat pergerakan Lacuna, ledakan yang menyebabkan langit-langit runtuh, tembakan dari mesin otomatis, sensor gerakan agar aku selalu mengetahui posisinya, dan masih banyak lagi.
Sayangnya, sedikit sekali jebakan yang mampu menghantam Lacuna. Refleks Lacuna sangat cepat. Selain kecepatannya seperti monster, dia juga sangat telaten dan memperhatikan kondisi sekitar. Hal itu membuatnya bisa tahu ketika salah satu jebakanku menunggu atau aktif.
Akhirnya, kami pun bertikai langsung. Lacuna dengan pita dan aku dengan tombak. Sebelum pertarungan itu, Lacuna sudah menyadari kalau tombakku mampu membuat kekuatan pengendalian hilang. Jadi, dia bertarung dengan menjaga jarak dan tidak membiarkan pitanya melilit tombakku.
Namun, akhirnya, dia melilit tombakku. Meski kekuatan pengendaliannya hilang, dia menggunakan pita itu untuk menarik tubuhnya ke arahku. Dia merelakan pita, aku merelakan tombak. Setelah itu, kami lanjut bertarung dengan senjata api, dari jarak dekat.
Dia menggunakan assault rifle dan aku menggunakan shotgun. Daripada sebagai senjata api, kami lebih sering menggunakannya sebagai senjata tumpul, sebagai pemukul.
Akhirnya, pertarungan berakhir seimbang. Jangan pikir kekuatan bertarungku sudah sama dengan Lacuna. Tanpa semua jebakan dan rencana yang kusiapkan matang-matang sebelum menghadapi Lacuna, aku tidak akan mungkin memiliki kesempatan untuk bersaing dengannya.
Akhirnya, Lacuna dan aku menghentikan pertarungan. Dia bilang sudah cukup puas dengan performa yang kutunjukkan, tapi masih kurang. Jadi, Lacuna memberi syarat tambahan, aku harus menghancurkan organisasi yang menyewa jasanya dalam waktu satu minggu. Dengan spesifik, dia mengatakan aku, bukan Agade.
Aku pun menyanggupi syarat itu.
Setelah itu, kami berbincang-bincang, sedikit membicarakan masa lalu ketika pertama bertemu, ketika dia melatihku, dan lain sebagainya, menanti pertarungan Ukin dan Mulisu selesai.
Setelah beberapa menit, akhirnya Ukin datang.
"Kalian sesantai itu?” Mulisu menyela. “Kalau sudah selesai, kenapa tidak bantu aku? Aku kesulitan tahu menghadapi Ukin seorang diri."
"Sudahlah. Yang berlalu biarlah berlalu."
Tampaknya, Ukin sama sekali tidak menduga, dan tidak menginginkan, hasil itu. Setelah itu, dia berteriak kalau kami semua adalah pengkhianat, tidak terkecuali Lacuna. Dan, satu-satunya hal yang layak diterima oleh pengkhianat adalah kematian.
Dalam amarahnya, Ukin mulai mengendalikan rangka besi yang menopang gedung. Rangka gedung itu adalah baja dan seharusnya Ukin tidak mampu mengendalikan baja. Dia terlalu percaya diri sehingga tidak mau mempelajari benda lain. Namun, entah apa yang sudah dilakukan Mulisu, dia memaksa Ukin membuang harga dirinya dan mempelajari pengendalian lain.
Lacuna dan aku berhasil keluar sebelum gedung runtuh dan bertemu dengan Mulisu. Kalau aku dapat memenuhi syarat yang diberi Lacuna, maka dia akan menyatakan aku dan Mulisu sudah layak pergi dari naungannya. Kalau tidak, dia akan memaksa kami membubarkan Agade dan kembali.
__ADS_1
Di lain pihak, sejak saat itu, kami tidak melihat Ukin lagi. Tidak. Dia tidak tewas oleh runtuhan bangunan. Beberapa hari setelah kejadian itu, pihak berwenang melakukan pembersihan dan menyatakan tidak ada korban jiwa. Tentu saja. Kalau hal semudah itu bisa menghentikan Ukin, dia tidak layak disebut sebagai murid Lacuna.
Di mata Ukin, kami bertiga adalah pengkhianat. Kami sudah mengkhianati semua harapan dan ekspektasi Ukin.
"Di saat itu," Mulisu masuk ke cerita. "Aku berpikir, mungkin kalau aku tidak menyembunyikan Agade dari Lacuna dan Ukin, hasil itu bisa dihindari. Karena itulah, aku mau Lugalgin menceritakan ini semua pada kalian, Emir, Inanna. Aku tidak mau Lugalgin mengulangi kesalahanku di masa lalu, dan membuat kalian menganggap Lugalgin sebagai pengkhianat."
Suasana menjadi murung. Di saat itu, aku bisa melihat Mulisu yang mengepalkan tangan kuat-kuat. Emir dan Inanna tidak memberi respon apapun. Mereka hanya melihat ke arahku. Daripada merasa terkejut dengan ceritaku, mereka lebih bingung apa yang harus dilakukan dan dikatakan pada Mulisu.
“Hah...” Aku menghela nafas berat.
Aku melanjutkan cerita. Bukannya aku tidak peduli dengan Mulisu, tapi, menurutku, cerita ini akan sedikit membuat Mulisu lega.
Sesuai perjanjian, aku menyerang organisasi yang menyewa Lacuna seorang diri dan membinasakan mereka tanpa sisa. Ya, kalau aku menemukan anak-anak lain, aku tidak membersihkannya sih. Aku mengirim anak-anak itu ke panti asuhan.
Secara sederhana, aku menceritakan kalau aku menyusup ke rumah masing-masing anggota lalu mencampur makanan dan minuman mereka dengan racun. Ketika keracunan, tidak berdaya, aku cukup membunuh mereka, termasuk pimpinannya.
Tanpa aku menceritakan soal darahku, Inanna dan Emir pasti sudah paham.
Sebagai catatan, ada beberapa anak yang juga diberi makan yang sudah kucampur racun dan darahku. Mereka pun sempat tidak mampu melakukan pengendalian. Namun, untungnya, serum pembangkit pengendalian bekerja pada tubuh mereka.
Setelah aku memenuhi syarat Lacuna, aku mendatangi apartemennya. Tidak seperti biasa yang hancur dengan sampah berserakan, saat itu apartemen Lacuna sangat bersih. Setelah melaporkan keberhasilanku, dan naiknya Agade ke enam pilar menggantikan organisasi itu, kami pun mengucapkan perpisahan. Dia akan pergi ke negara lain.
Di malam itu, kami sedikit berbicara mengenai Ukin. Berbeda dengan Mulisu yang menganggap amukan Ukin bisa dihindari, kami justru berpikir hal itu tidaklah terhindarkan. Melihat sifat Ukin yang arogan dan selalu merasa di atas, cepat atau lambat jalan hidup kita dan Ukin akan berpisah.
Yang dirasa Lacuna justru sebaliknya. Lacuna merasa beruntung karena saat itu ada aku dan Mulisu. Mulisu pasti sudah menghabiskan stamina Ukin. Ditambah, Ukin pasti menyadari kalau dia tidak akan mungkin menang melawan Lacuna dan aku secara bersamaan. Oleh karena itu, dia lebih memilih meruntuhkan gedung dan kabur.
Setelah aku menceritakan hal ini, wajah Mulisu sedikit mengendur, tidak lagi tegang. Tangannya pun tidak lagi mengepal.
"Terima kasih Lugalgin."
__ADS_1
Aku tidak memberi respon. Aku hanya memberi senyum.
Di luar cerita, aku memiliki kisah yang tidak akan kukatakan pada semua orang di dalam bus ini, atau siapa pun. Setiap kali aku ke apartemen Lacuna untuk melapor, atau sekedar bersih-bersih, dia selalu, aku katakan SELALU, menyambutku hanya dengan kaos dan celana dalam, tanpa lapisan lain, tidak juga bra. Dan, aku tidak akan mengatakan apapun mengenai perpisahan kami di malam itu.
Bersambung
\============================================================
Chapter ini diupload Selasa sore.
Seperti dugaan, walaupun chapter sebelumnya diupload senin sore, tidak pasti kapan chapternya akan diupload. Yah, sudahlah.
Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya.
Untuk post note, tidak banyak yang bisa dibicarakan. Hanya mengingatkan kalau mulai minggu ini panjang chapter berkurang, tapi frekuensi update bertambah. Dan kembali mengingatkan kalau minggu depan sudah berganti Arc (anggap ganti season). Dan, Arc selanjutnya sepenuhnya bukan dari sudut pandang Lugalgin.
Lalu, mungkin, ke depannya, author akan sesekali merespon komentar. Kalau komentarnya hanya memerlukan respon pendek, akan author respon. Kalau panjang, lewat post note seperti biasa.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1