I Am No King

I Am No King
Chapter 327 – Terpojok


__ADS_3

"ibu ...."


"Tidak apa, sayang. Ibu di sini."


Sementara Lord Susa menenangkan Maru, aku melepas tembakan.


Setelah gedung pemerintahan runtuh, Emir membawa kami turun ke tanah. Namun, kami tidak lolos begitu saja. Serangan terus datang. Selain itu, musuh sangat berhati-hati. Mereka tidak mengonfrontasi kami langsung, tapi menggunakan sniper. Ketika mencoba bergerak, serangan di arah tersebut langsung intens. Karena hal ini, kami masih terkunci di depan reruntuhan gedung.


Emir dan Inanna fokus menahan dan mengelak peluru artileri. Sementara itu, aku dan Rina menggunakan senapan untuk menjatuhkan semua sniper.


Insting Rina cukup peka. Dia bisa mengetahui dari mana tembakan datang dan menggunakan peti arsenal sebagai pelindung. Aku tidak tahu apakah insting Rina lebih kuat atau lemah dari Inanna dan Emir. Namun, itu tidak penting. Yang penting dia bisa melindungi diri. Di lain pihak, aku mampu mendeteksi aura membunuh para sniper dan menembak mati mereka sebelum peluru meluncur.


"Gin, kamu tidak normal."


"Memang."


Aku dan Rina berbincang santai sambil melepaskan tembakan.


Orang mungkin berpikir kalau saat ini kami lebih unggul. Sayangnya, tidak! Saat ini, posisi kami dan musuh relatif seimbang, tidak ada yang lebih kuat ataupun lebih lemah. Namun, sayangnya, itu adalah keadaan saat ini. Nanti? Aku ragu.


Kalai dibiarkan lebih lama dan musuh memilih untuk mendatangkan tank, bisa dipastikan kami kalah. Aku hanya bisa membunuh infanteri. Tidak satu pun senjata yang kumiliki bisa menghancurkan kendaraan perang berat. Mata Rina bisa mematikan kendaraan perang, tapi hanya yang dia lihat. Dari sudut lain? Tidak. Emir dan Inanna bisa menghancurkan kendaraan perang dengan mudah. Namun, perhatian mereka sudah fokus pada pertahanan.


Aku sempat berusaha menghubungi Ibla dengan handphone candybar. Sayangnya, usahaku gagal. Tampaknya musuh meletakkan jammer yang tersembunyi. Aku tahu kalau saat ini, Ibla dan Agade, pasti sedang bergerak di belakang layar. Namun, kami tidak memiliki waktu yang lama. Emir, Inanna, dan Rina mulai kehabisan napas.

__ADS_1


Pengawal Lord Susa? Mereka sudah tewas ketika gedung runtuh karena prioritas Emir adalah kami, Lord Susa, dan Maru. Aku tidak akan menyalahkan Emir atas kematian para pengawal. Maksudku, mereka adalah pengawal feodal lord dan bisa terbunuh oleh bangunan runtuh? Mereka pasti bercanda!


"Gin, terima kasih sudah mengulur waktu."


"Terima kasih, Lord Susa! Emir, Inanna, fokus pada musuh di timur!"


"Siap!"


Emir dan Inanna berhenti menahan serangan dan mengarahkan pandangan ke timur. Emir langsung mengubah Krat menjadi artileri, siap menghancurkan musuh. Inanna, sebagai pemandu, mengeluarkan smartphone dan membuat perhitungan, memperkirakan sumber peluru. Serangan balik Emir dan Inanna pun dimulai.


Peluru artileri lain datang menghujani kami. Meski demikian, tidak satu pun peluru berhasil mencapai tempat ini. Sekilas, peluru yang datang seolah meledak di udara tanpa sebab. Namun, kalau diperhatikan baik-baik, peluru itu tidak meledak tanpa sebab. Sesaat sebelum meledak, muncul sebuah sengatan listrik di udara.


Kami melindungi Lord Susa bukan karena dia perempuan tidak berdaya. Namun, kami melindunginya untuk mengulur waktu.


Kubah listrik yang melindungi kami tidak bisa dibandingkan dengan amulet. Jika amulet bisa ditembus oleh peluru tajam, kubah listrik ini bisa menahan peluru artileri. Hal ini disebabkan sumber listrik kubah ini tidak berasal dari benda kecil, tapi langsung dari kabel listrik yang tertanam. Selain Lacuna, ini adalah pertama kalinya aku melihat pengendalian perak yang memukau.


Kami mengulur waktu gara-gara debu yang disiapkan berserakan setelah gedung runtuh. Jadi, butuh waktu untuk Lord Susa menemukan posisi semua debu dan mengendalikannya.


Sebenarnya, aku ingin protes kenapa tidak sejak awal saja dia menggunakan kubah listrik ini, sebelum gedung runtuh. Namun, aku mengurungkan niatku karena Lord Susa harus menenangkan Maru. Seperti ucapan Rina, Lord Susa lebih mengutamakan perannya sebagai ibu daripada feodal lord.


Untuk saat ini, kondisi kami sudah membaik. Namun, entah untuk berapa lama. Tinggal menunggu waktu sebelum musuh menyadari teknik Lord Susa dan memutus aliran listrik ke tempat ini. Emir dan Inanna berusaha menghancurkan artileri di timur secepat mungkin demi meningkatkan kondisi. Sesaat sebelum Emir melepas tembakan, Lord Susa membuat sedikit lubang, membiarkan peluru keluar.


Aku terus memperhatikan Emir dan Inanna. Keringat mereka mengalir deras. Tidak ada satu pun bagian tubuh yang tidak basah. Kalau kami berada di rumah, mungkin aku sudah terangsang. Namun, kami di tengah medan perang.

__ADS_1


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2