I Am No King

I Am No King
Chapter 288 – Pertemuan Kakak Adik


__ADS_3

"Bagaimana? Tanpa perlu aku jelaskan, kamu sudah tahu keuntungan kalau melindungi kakak, kan?"


"Ya, kamu tidak perlu menjelaskannya. Namun, aku ada pertanyaan. Kenapa sekarang dan kenapa buk–" aku terhenti. Mataku membelalak melihat Tera. "Tera, telingamu mengeluarkan darah."


"Ah?" Tera mengusap darah di telinganya dengan enteng. "Tampaknya efek penawarnya sudah mau habis."


"Mau habis? Jangan bilang ... "


"Ya. Ibu menyuntikkan racun ke dalam tubuhku sejak aku menjadi intelijen. Kalau tidak meminum penawarnya setiap 24 jam, aku akan mati. Dan, terakhir aku meminum penawar itu adalah kemarin malam."


"Ke–"


"Tentu saja aku tergesa-gesa. Tadi siang saja, ibu sudah berencana membunuh kakak. Kalau kakak mati, tidak ada alasan aku mau mengikuti perintahnya, kan? Aku menduga ibu juga akan membunuhku. Dan, dugaanku benar. Tadi sore, aku mendapatkan informasi yang menyatakan kalau agen yang mengawasi tidak akan memberi penawarnya untuk malam ini. Karena itulah, aku langsung mencari Ibla dan mengatur pertemuan ini."


Ratu Amana benar-benar gila. Dia bahkan bersedia membunuh kedua anaknya hanya untuk membakar semangat perang.


"Jadi, Gin, apa kamu mau menerima permintaanku?"


Bagaimana aku bisa menolak permintaan orang yang sudah di ujung hidupnya? Sial!


"Baiklah. Namun, dengan satu syarat."


"Apa itu."


"Kamu ucapkan perpisahan dengan kakakmu, sekarang juga, dengan mulutmu itu."


"...Gin, kamu tega membuat kakak melihatku mati di depan matanya."


"Anak muda, dengarkan aku. Aku sudah kehilangan banyak orang yang aku kasihi. Dan, sampai sekarang, aku masih menyesalinya. Kalau kematiannya memang tidak terhindarkan, satu-satunya hal yang aku sesali adalah tidak bisa berada di sisinya saat itu. Aku hanya bisa membayangkan betapa takut dan kesepiannya mereka di akhir hayat. Dan, hingga kini, aku masih menyesal dan marah pada diriku sendiri."


Aku memanggil Tera anak muda. Padahal, usiaku lebih muda darinya. Haha.


"Kamu bertanya apa aku tega membiarkan kakakmu melihat kematianmu? Ya, aku tega. Sekarang, aku balik bertanya. Tera, apa kamu tega membuat kakakmu menyesal dan tidak tenang untuk seumur hidupnya? Setelah ini, ada kemungkinan kakakmu tidak akan bisa tidur dengan nyenyak di malam hari. Setiap memejamkan mata, Rina sebuah bayangan mengenai momen terakhirmu akan terlintas di benaknya. Dia akan menyalahkan dirinya terus menerus. Apa itu yang kamu inginkan?"


"Itu...."


"Ayo masuk. Kamu ucapkan perpisahan secara langsung."


Aku bangkit dan membuka jendela. Di tangan kiriku, masih ada satu botol wine.


Tera menurut dan ikut masuk bersamaku. Baru saja kami masuk, sebuah sosok sudah berdiri di balik jendela.


"Gin, kenapa kamu meninggikan suaramu? Aku berusaha tidur, tahu..."


Aku sudah menyadari kalau Rina terbangun. Seharusnya, suaraku tertutupi oleh angin malam dan jendela. Namun, melihat Rina yang terbangun, mungkin dia juga memiliki indra yang peka.

__ADS_1


Rina berdiri hanya dengan menggunakan kemeja dan celana dalam. Kalau dalam kondisi normal, mungkin aku akan mempermasalahkan pakaiannya. Namun, saat ini, hal itu sama sekali tidak terlintas di benakku.


Tera bisa mati sewaktu-waktu. Ini lebih penting.


"Aku hanya berbicara dengan adikmu."


Aku menjawab Rina sambil menutup jendela di belakang Tera.


"Adik?"


Rina menoleh ke kiri sambil mengusap mata.


"Halo, kak."


"Eh, Tera? Perasaan ini, kamu benar-benar Tera!" Seketika itu juga, Rina melompat ke dada Tera dan memeluknya erat. "Tera, kakak merindukanmu. Kakak bersyukur kamu selamat."


"Kakak...." Tera menerima tubuh kakaknya dan terjatuh.


Tera tersenyum masam. Dia tidak bisa menjawab kebahagiaan kakaknya. Tera sadar bahwa saat ini dia hanya akan membawa kesedihan bagi kakaknya. Namun, kalau Tera mempertimbangkan ucapanku, dia harus memberanikan diri demi mengurangi penderitaan kakaknya di masa depan.


Di lain pihak, wajah Tera semakin pucat. Aku tidak yakin dia pucat hanya karena tidak tega. Ada kemungkinan racun di tubuhnya sudah semakin parah. Dugaanku didukung dengan aliran darah di telinga Tera yang semakin deras.


"Kakak," Tera merengkuh tubuh Rina erat, tidak ingin melepasnya. "Detailnya akan dijelaskan oleh Lugalgin. Namun, aku ingin kakak mendengarkanku baik-baik."


"Tera, ada apa?"


"Tera, apa maksudmu?"


Rina mulai berontak. Dia ingin melepaskan diri dari Tera dan melihat wajahnya.


Tera tidak membiarkan Rina lepas begitu saja. Dia terus merengkuh Rina dengan erat. Namun, wajah Tera semakin pucat. Saat ini, aku yakin, Tera mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan Rina.


Aku duduk di samping mereka, meletakkan pistol di atas karpet, dan menekan punggung Rina.


"Rina, tidak usah berontak. Jalani saja momen ini di pelukan adikmu."


"Terima kasih, Lugalgin." Tera tersenyum ke arahku.


Setelah merasakan tubuh Rina yang tidak berontak lagi, aku melepas tangan dari punggung Rina dan kembali menenggak botol wine.


"Kak, terima kasih karena telah menjadi kakak yang baik selama ini. Dan, maafkan aku yang telah membuat kakak sengsara."


Rina tidak menjawab. Dia tenang. Namun, samar-samar, aku bisa mendengar suaranya yang sesenggukan di dada Tera. Saat ini, aku yakin Rina sudah menyadari kalau ada yang salah dengan adiknya. Namun, aku tidak yakin dia sadar kalau adiknya akan tewas malam ini juga.


"Kakak, mungkin aku egois karena melakukan hal ini. Namun, aku berterima kasih karena kakak mau menemaniku malam ini. Terima kasih, kak. Untuk ke depannya, Lugalgin yang akan melindungi kakak. Maaf. Dan, sekali lagi, terima...."

__ADS_1


Tera tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Kedua tangan Tera merosot dari tubuh Rina. Kepalanya pun terjatuh ke depan, menyandar ke bahu Rina.


"Te...ra..."


Kini, ganti Rina yang memeluk tubuh Tera erat, tidak ingin membiarkannya pergi. Dia menangis dengan Tera di pelukannya. Selama itu, aku hanya mengusap punggung Rina sambil minum wine. Setelah hampir satu jam menangis dan sesenggukan, akhirnya Rina tertidur di atas tubuh Tera.


Aku meminta Ibla mengurus jenazah Tera. Tidak perlu melakukan autopsi. Cukup diletakkan di kamar jenazah sampai Rina siap untuk menguburkannya.


Dari informasi yang Ibla dapatkan, seharusnya, Tera sudah tewas ketika petang datang. Namun, Tera bisa terus melawan bahkan memperpanjang hidupnya hingga beberapa jam untuk meminta tolong padaku.


Aku bersyukur bisa memaksa Tera untuk menjalani momen akhir hidup bersama kakaknya.


Sementara itu, aku menggendong Rina kembali ke atas kasur. Aku tidak akan melakukan apa-apa padanya. Aku hanya membiarkan Rina tidur di pelukanku sambil membelainya dengan lembut.


Saat ini, mungkin, kondisi Rina sama seperti aku saat mendengar kematian Tasha dan anak-anak panti asuhan. Terakhir, saat mendengar kematian Mari, aku juga merasakan hal ini. Tanpa kehadiran Emir dan Inanna, mungkin aku sudah kembali ke kebiasaan lama tidur di makam Tasha. Berkat Emir dan Inanna lah aku bisa menerima kematian Mari sedikit lebih baik.


Kalau saat ini aku membiarkan Rina tidur di kasurnya seorang diri begitu saja, aku khawatir dia akan mulai mengembangkan kebiasaan tidak normal, borderline gila, sepertiku. Karena itulah, saat ini, aku mencoba memberi kenyamanan dan ketenangan pada Rina, seperti yang telah dilakukan Inanna dan Emir padaku.


Dalam tidurnya, Rina masih menitikkan air mata dan memanggil-manggil Tera.


"Te...ra..."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1



__ADS_2