I Am No King

I Am No King
Chapter 148 – Serangan Frontal


__ADS_3

~Unknown's POV~


 


"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dari tadi, kau hanya mengatakan Lugalgin ini, Lugalgin itu. Aku butuh solusi! Aku mau inkompeten itu mati!"


 


"Yah, aku hanya memberi informasi dan mengatakan apa yang jangan dilakukan sih. Untuk apa yang bisa dilakukan, aku sendiri belum tahu. Dulu, dulu sekali, aku berpikir bisa membunuh Lugalgin dengan melempar gedung ke arahnya. Namun, sekarang, dengan adanya dua monster itu sebagai calon istrinya, aku ragu."


 


Enlil bertanya dengan menggebu-gebu. Namun, di lain pihak, Ukin merespon enteng, tanpa beban.


 


Dua monster sebagai calon istri, ya. Memang, Emir dan Inanna terkenal sebagai monster di dunia pasar gelap. Kemampuan bertarung mereka tidak terlalu hebat, kalau kamu bisa mendekat, besar kemungkinan kamu akan menang.


 


Pertanyaannya adalah, apakah kamu bisa mendekat? Mereka berdua mampu menghasilkan ledakan yang begitu besar. Kalau pun Ukin melempar gedung, dua monster ini bisa menghancurkannya dengan sangat mudahnya.


 


Selain itu, sudah setengah tahun lebih mereka bersama Lugalgin, yang adalah Sarru. Besar kemungkinan mereka dilatih Lugalgin untuk bisa mengatasi pertarungan jarak pendek. Kalau benar, mereka tidak memiliki kelemahan lagi.


 


Namun, entah kenapa, aku merasa ada yang aneh dengan laki-laki ini. Meski dia sempat menggaruk muka dan sedikit cemberut, aku bisa melihat ujung bibirnya sedikit terangkat. Dia, tersenyum simpul.


 


"Apa kamu benar-benar tidak ada solusi? Atau kamu tidak mau mengatakannya."


 


"Hehe, tajam juga persepsimu," Ukin menjawabku. "Mungkin ini agak naif, dan klise, tapi saat ini satu-satunya cara mengalahkan Lugalgin adalah memisahkan dia dari semua orang dan kita mengeroyoknya."


 


Kalau melihat informasi yang diberi oleh Ukin, cara itu memang benar-benar paling ampuh. Kalau Lugalgin bisa dipisahkan dari kedua calon istrinya, kita bisa melempar gedung atau apa pun ke arahnya. Namun, kita juga harus memastikan Lugalgin tidak bisa menghindar. Satu-satunya cara adalah dengan menahannya dengan bertarung melawannya.


 


Namun, tidak mungkin semudah itu. Di belakang Lugalgin ada Akadia, Agade, dan juga intelijen kerajaan. Kalau mau melawan Lugalgin tanpa gangguan, kami harus menahan mereka.


 


Empat organisasi enam pilar saling bertarung. Ditambah intelijen kerajaan yang berselisih, belum lagi masalah internal keluarga Alhold. Pasar gelap di ambang peperangan hanya untuk mengalahkan satu orang? Lugalgin benar-benar sosok yang berbahaya. Dan aku tidak bisa menyangka putriku jatuh hati pada laki-laki ini.


 


Ada ungkapan kamu tidak bisa menyalahkan seseorang tanpa menyalahkan orang tua dan lingkungan tempat dia tumbuh. Dengan menggunakan ungkapan ini, aku jadi penasaran apa yang dilakukan oleh Enlil sehingga Lugalgin menjadi sosok berbahaya seperti sekarang.


 


"Jujur, aku benci mengakuinya, tapi cara itu adalah yang paling masuk akal." Karla masuk ke pembicaraan. "Permasalahannya adalah, seperti yang kau ucapkan, Lugalgin terlampau kuat. Bahkan, dari ucapanmu, aku menduga dia tidak pernah benar-benar serius. Dengan kata lain kita tidak tahu batas kemampuannya.


 


"Belum selesai sampai di situ. Sekarang, walaupun mengeroyok Lugalgin, kita hampir tidak mengenal satu sama lain, kerja sama bisa dipastikan buruk. Kalau kita mengeroyok Lugalgin dalam kondisi seperti ini, kemungkinan kita menang justru lebih kecil daripada mengonfrontasinya sendiri."


 


Seperti ucapan Karla, bagaimana pun juga, kita semua berasal dari organisasi yang berbeda. Ditambah lagi, kami bukanlah orang baik-baik seperti di dongeng. Kami adalah gerombolan penjahat yang bertindak karena keuntungan pribadi. Kami tidak akan pernah bekerja sama dengan orang lain semudah itu.


 


Di lain pihak, aku tidak pernah menyangka Karla, yang diklaim sebagai orang terkuat Apollo, menyatakan setuju dengan saran Ukin. Aku mengira dia tidak akan percaya ucapan Ukin dan lebih memilih untuk langsung melawan Lugalgin sendirian. Aku tidak tahu apakah dia sudah berubah atau ucapan Ukin memang bisa meyakinkannya.


 


HAH? INI?


 


"Sial!"

__ADS_1


 


Tiba-tiba saja aku merasakan sebuah material, dalam jumlah besar, melayang ke tempat ini.


 


Aku mengangkat tangan. Dua koper yang dibawa oleh anak buahku melayang, memunculkan beberapa tali baja dari dalamnya. Dengan pengendalian, aku membuat kubah jaring, melindungiku dan anak buah.


 


Karla mengayunkan kedua tangan. Sama sepertiku, dia membuat koper yang dikendalikan kedua anak buahnya melayang dan mengambil apa yang ada di dalamnya. Dari dalam koper, aku melihat puluhan batang logam melayang. Karla membuat sangkar dan melindungi kelompoknya.


 


Enlil menarik logam yang adalah langit-langit untuk melindungi dirinya. Belum sempat aku memperhatikan Ukin dan bangsawan, pandanganku sudah menghilang.


 


Brugg


 


Tiba-tiba sebuah benda besar menabrak ruangan ini, menghancurkan segalanya. Aku bisa merasakan kubah jaring yang kugunakan untuk melindungi kami ditimpa benda besar dan berat.


 


"KALIAN BERDUA! TIARAP DI DEKAT KAKIKU"


 


"BAIK!"


 


Benda yang menimpa kami belum berhenti. Beberapa bagian mulai hancur, menghasilkan debu.


 


Tampaknya, benda yang dilemparkan adalah gedung semen. Kalau mereka melempar gedung logam, semua debu ini tidak akan muncul. Koreksi, gedung ini tidak dilempar, tapi lebih seperti didorong. Bagian ujung yang menghantam kami hancur tapi bagian belakang masih datang, mendorong.


 


 


Aku tidak yakin sudah berapa lama waktu berlalu. Mungkin sudah satu jam. Namun, bisa saja belum ada satu menit. Persepsi waktu di keadaan genting seperti ini tidak bisa diandalkan.


 


Akhirnya, dorongan yang kurasakan di jaring baja ini berhenti. Namun, debu masih beterbangan, menghalangi pandangan.


 


Aku harap tidak ada serangan lain datang. Sekujur tubuhku sudah penuh dengan luka. Aku tidak bisa melindungi dua pemula ini lagi.


 


Akhirnya, debu menghilang dari pandangan. Di kejauhan, aku melihat Karla bernasib sama denganku. Di pihak Enlil, hanya dia yang masih hidup. Dua orang di belakangnya tewas. Untuk bangsawan, tampaknya dia tidak sempat melindungi diri.


 


"Wow, ketika kita berpikir melempar gedung ke Lugalgin, tidak kusangka, mereka melempar gedung duluan ke kita."


 


Sebuah suara familier terdengar.


 


Aku menoleh ke kiri. Di tempat itu, terlihat Ukin berdiri tanpa luka sedikit pun. Jangankan luka. Bahkan pakaiannya masih utuh. Bukan hanya dirinya, perempuan berpakaian sekretaris di belakangnya pun bebas dari goresan.


 


Aku melihat ke sekitar tubuhnya, tapi tidak terlihat apa pun. Pengendalian apa yang dia miliki? Dan bagaimana caranya dia bertahan dari dorongan gedung tadi?


 


Tiba-tiba saja, aku merasakan sebuah aura berat di udara.

__ADS_1


 


"Pergi dari tempat ini! Kalian hanya beban!"


 


Aku menarik jaring baja yang melindungi kami dan menggunakannya sebagai rantai. Sebagian dari kabel baja ini melilit di tanganku, memberi perlindungan tambahan.


 


Dor dor dor dor


 


Suara tembakan terdengar. Dengan sigap, aku mengendalikan kabel baja, menggerakkannya ke semua arah, membuat kubah pelindung. Dengan teknik ini, aku bisa menghalau peluru yang datang.


 


"Guah!"


 


"Ahh!"


 


Sial! Tampaknya mereka terlambat kabur. Kini, kedua anak buahku tewas.


 


Di luar ruangan, terlihat beberapa orang mengenakan helm full face, jaket kulit merah maroon, dan celana jeans. Mereka membawa assault rifle, tombak, dan pedang.


 


Hanya ada satu organisasi yang menggunakan helm full face ketika melakukan serangan, Akadia.


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1


 



__ADS_2