I Am No King

I Am No King
Chapter 169 – Kecerobohan dan Perubahan


__ADS_3

~Ninlil's POV~


"Ninlil, menyerahlah. Kalau kamu menyerah, aku akan mengabaikan semua ini."


"Tidak akan! Aku tidak akan pernah menyerah pada kalian! KALIAN AKAN MATI!""


Aku berteriak, mengerahkan semua tenaga untuk mengendalikan kabel-kabel yang tergelak di sekitar.


"AHH!"


"KYA!"


"AGH!"


Aku mengubah kabel-kabel yang tergeletak menjadi tombak, menusuk ke atas. Aku tidak memfokuskan pengendalian pada beberapa atau sedikit kabel, tapi semuanya. Begitu orang-orang di sekitar tertusuk, dua orang yang menahan gerakanku terkejut. Aku bangkit dan melepaskan diri dari dua paman itu. Dua orang yang menahanku pun tewas oleh tombak lain.


Meski ada beberapa orang tewas oleh tombak, sayangnya, masih banyak yang bertahan hidup. Dan, tentu saja, ayah adalah salah satu orang yang masih hidup. Mereka yang masih bertahan langsung memegang dan mengambil alih pengendalian semua aluminium di sini.


Maafkan aku, kakak, aku masih belum bisa mengaplikasikan pelajaran yang kakak beri. Aku masih terlalu bergantung pada pengendalian.


"Kenapa kamu tidak mau menyerah juga?"


"Kenapa aku harus menyerah padamu, pengkhianat?"


Hanya ayah yang berbicara, tidak ada orang lain yang berbicara.


Kenapa? Apa karena mereka terkena tekanan pengendalian ayah? Namun, seharusnya, pengendalianku lebih kuat dari ayah. Seharusnya, berdasarkan diskusi dengan Kak Inanna, ayah dan semua orang di sini akan menurut padaku.


"Apa kau berpikir semua orang akan menurut hanya karena pengendalianmu lebih kuat? Hahaha, dasar anak kemarin sore."


Suara ini adalah suara paling menjengkelkan dalam hidupku. Dari dalam rumah, dia muncul, berdiri, Enlil. Begitu Enlil muncul, semua orang terdiam, memberi jalan untuknya.


"Jangan lupa, pengendalianku lebih kuat darimu. Sebelum kamu membuat mereka tunduk, kamu harus membunuhku dulu."


Begitu ya. Ya, itu masuk akal.


"Namun, itu tidak cukup. Masih ada ini,"


Tiba-tiba udara terasa begitu berat. Nafasku pun menjadi pendek. Aku bisa merasakan keringat dingin mengalir dari sekujur tubuh. Ya, perasaan ini mirip seperti ketika kakak memancarkan aura haus darah atau niat membunuh.


Teror yang saat ini tidak separah seperti yang dipancarkan oleh kakak. Namun, tetap saja, aku merasakan tubuhku menjadi sangat sulit bergerak. Belum lagi fakta kalau pengendalianku lebih lemah dari Enlil. Sekarang aku paham kenapa ayah menurut pada Enlil.


Namun, aku tidak akan menerima ini begitu saja.


Klang klang

__ADS_1


Beberapa lempeng aluminium dilemparkan ke depanku.


"Aku akan memberimu kesempatan. Kalau kau bisa mendaratkan satu serangan saja padaku, maka aku akan membiarkanmu pergi. Kalau tidak, aku akan memaksamu menuruti semua ucapanku."


Kalau keadaan normal, aku akan marah karena dia meremehkanku. Namun, kali ini, aku cukup sadar kalau kemampuan dan pengendalianku tidak sebanding dengan Enlil. Aku benci mengakuinya, tapi, kemungkinan untukku bisa keluar dari keadaan ini adalah nol.


Namun, hal itu tidak akan membuatku menyerah begitu saja.


"SIAALLL!!!!!"


Aku berteriak! Mengeluarkan seluruh udara yang ada di paru-paru ini. Meski akan kalah, aku tidak akan menyerah tanpa perlawanan.


Aku mengambil beberapa lempeng aluminium yang tergeletak dan mengubahnya menjadi satu tombak. Enlil bersiap dengan sarung tangan zirah. Suara logam berdenting terdengar berkali-kali. Aku bergerak ke kanan dan ke kiri, melancarkan serangan tebasan dan tusukan berkali-kali. Namun, semua seranganku berhasil dihindari atau dihalau oleh Enlil dengan sarung tangan zirahnya.


Kalau Enlil mau, dia bisa saja mengambil alih pengendalian tombak ini ketika bersentuhan dengan sarung tangan zirahnya. Namun, dia tidak melakukannya. Senyumnya menandakan dia hanya menganggap ini sebagai permainan, tidak lebih dan tidak kurang. Namun, aku tidak memungkirinya.


Daripada memaksakan diri untuk memenangkan pertarungan yang pasti kalah ini, aku memiliki pikiran lain. Aku mengubah tombak ini menjadi beberapa paku kecil dan meluncurkannya ke semua arah. Seranganku berhasil menewaskan beberapa orang lagi. Setidaknya, dengan ini, rintangan kakak akan sedikit berkurang. Namun, ayah dan dua saudaranya tidak terkena seranganku.


Akhirnya, Enlil melepaskan tinju tepat ke perutku, membuat tubuhku terpelanting hingga beberapa meter.


Selama bertarung, Enlil masih terus memancarkan aura haus darah dan niat membunuh. Kalau tahu akan menghadapi aura haus darah dan niat membunuh seperti ini, aku akan meminta kakak melatihku dengan pancaran itu. Namun, percuma saja menyesali semuanya.


Kakak, aku akan menanti pertolonganmu. Namun, kalau Enlil berhasil mencuci otak dan menjadikanku musuh, aku tidak keberatan tewas di tanganmu, kakak.


~Lugalgin's POV~


"Ah, Kak Lugalgin,"


"Hai, Corba. Mau kemana?"


Aku menyapa anak kecil setinggi pinggang yang baru keluar dari kamar rumah sakit. Dia memiliki mata dan rambut hitam, seperti kakaknya. Potongan rambutnya rapi, seperti anak-anak pada umumnya. Tidak ada fitur yang mencolok dari anak ini. Pakaiannya pun bisa dibilang normal, celana pendek dan kaos.


"Mau beli minuman di mesin lantai 1."


"Mau beli berapa?"


"Cuma 1. Kakak katanya tidak mau."


"Kalau begitu, Kak Lugalgin titip satu kaleng ya, lemon tea." Aku memberi sebuah kartu pada Corba. "Minumanmu juga beli pakai kartu ini saja. Kak Lugalgin tidak keberatan kok.."


"Wah, terima kasih kak Lugalgin!"


Corba menerima kartu dari tanganku dan berlari.


"Jangan berlari..."

__ADS_1


"Baik Kak!"


Meski mengatakan baik, dia tetap berlari. Aduh, anak ini. Aku mengabaikannya dan masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar pasien, terlihat seorang perempuan bermata dan berambut hitam, Nammu. Rambut pendeknya memberikan kesan kalau dia cekatan. Dia sedang melihat keluar jendela. Pemandangan dari lantai 10 memang cukup indah. Seperti pasien rumah sakit pada umumnya, Nammu mengenakan pakaian seperti piama berwarna putih kehijauan.


Wajah Nammu masih sedikit pucat, tapi setidaknya, sudah jauh lebih baik jika dibandingkan pertama dibawa ke sini. Yah, mau bagaimana lagi sih. Aku hampir membuatnya tewas karena kehabisan darah. Jadi, cukup normal kalau dia terkadang merasa pusing.


Kini, Nammu sudah berada di fase penyembuhan. Semoga Infus yang terpasang di tangan kirinya dapat mempercepat proses penyembuhan.


"Hai, Nammu. Bagaimana kabarmu?"


"Ah, Gin." Nammu menoleh ke arahku. "Kabarku sudah cukup baik. Kalau aku bilang, aku merasa sudah bisa keluar rumah sakit kapan saja."


Nammu mengangkat dan melipat kedua tangan, menunjukkan otot-ototnya.


Aku duduk di kursi, di sebelah ranjang pasien. "Jangan terburu-buru. Kamu hampir tewas malam itu."


"Ehehehe, kalau kamu bilang begitu, aku akan menurut."


"Baguslah."


Di meja samping ranjang pasien, aku melihat sebuah apel dan pisau. Agar tidak menganggur, aku mengambil pisau dan mulai mengupas apel.


"Jadi, Gin, apa yang kamu inginkan?"


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2