
"Tidak. Sebagai pelayan istana, saya disumpah untuk netral, tidak berpihak pada anggota keluarga Kerajaan mana pun. Kalaupun netralitas saya diragukan, saya bersedia untuk menerima hukumannya."
Aku mengalihkan pandangan ke Rina. "Kamu dengar sendiri, Rina."
"Dari tadi! Apa kamu benar-benar percaya para pelayan netral, Gin?"
"Kenapa tidak?"
Aku sudah membunuh Shu En karena dia mengkhianatiku. Aku juga sudah membunuh Kesatria Kerajaan Bana'an karena dia tidak mau berkhianat. Jadi, saat ini, aku tidak ingin membunuh pelayan yang sudah mendeklarasikan netralitas.
Kalau musuh, aku sudah menendang perut lawan dan membuatnya menjauh. Namun, serangan yang kuhentikan berasal dari Rina, istriku. Dia juga sedang hamil. Tidak mungkin kan aku menendang perutnya!
"Rina, target dendammu adalah ibumu, Ratu Amana. Kenapa kamu mau membunuh orang yang jelas-jelas tidak melawan?"
"Tapi–"
"Kumohon, pertimbangkan kembali, Rina. Akan sangat disayangkan kalau kita harus membunuh orang sekompeten Ira."
"..."
"Kalau membunuh orang yang jelas-jelas netral, kamu lebih buruk dari Ratu Amana. Apa kamu sadar hal itu?" Jadi, Rina, sayang, kumohon. Aku tidak mau kamu jadi pribadi yang lebih buruk dari Ratu Amana."
Rina menggertakkan gigi ketika mendengar ucapanku. Meski tampak ragu, akhirnya dia menarik bayonetnya.
Aku berbalik, "Ira, apakah Ratu Amana ada di balik pintu ini?"
"Benar, Tuan Lugalgin." Ira menjawab masih dalam posisi membungkuk.
Aku melirik ke belakang, melihat Emir yang berusaha menenangkan Rina. Di lain pihak, Inanna masih menjaga jarak, khawatir tidak bisa mempertahankan kebohongannya.
"Rina, lebih baik kamu segera perintahkan Ira untuk minggir dan kita masuk. Kita juga dikejar waktu. Kalau Militer kerajaan Nina masuk sebelum kita mendeklarasikan kematian Ratu Amana, ada kemungkinan mereka juga akan membunuh kita dan menjadi Kepala Kerajaan Nina yang baru."
"Baiklah ... Gin." Rina, masih menggertakkan gigi, menurut. "Ira, minggir dan biarkan aku masuk!"
Tanpa mengatakan sepatah kata, Ira melangkah ke samping lorong, menurut. Sementara Rina, Emir, dan Inanna berjalan melewati pintu, aku masih berdiri di depan Ira. Aku tidak mau Rina tiba-tiba menyerang Ira.
"Tuan Lugalgin," Ira berbisik dari belakang. "Meski ada masalah pada militer, saya bisa bilang rencana lancar. Namun, saya mendengar informasi bahwa Tuan Putri Rina ingin meringkus Ratu palsu dan mengeksekusinya di depan umum. Saya harap Tuan Lugalgin bisa mencegah hal ini. Saya khawatir kalau diberi waktu lama, Tuan Putri Rina akan mengetahui kalau ratu ini adalah palsu."
Ya. Meskipun Ira sudah memilih orang yang memiliki fisik semirip mungkin dengan Ibu Amana, ada kemungkinan Rina bisa mengetahuinya. Mungkin ada sesuatu yang hanya diketahui oleh Rina dan Amana, semacam hubungan ibu dan anak.
"Ya, aku tahu." Aku merespons. "Setelah ini hubungi Ibla dan sampaikan ucapanku. Pertama, aku ingin semua petinggi militer yang bertanggung jawab, atas serangan dan barikade, ditangkap dan dipastikan bersalah di hadapan pengadilan. Lalu, kerahkan semua personil dan sumber daya untuk menghentikan pergerakan militer Nina."
__ADS_1
"Baik, Tuan Lugalgin."
Aku benci didesak. Daripada berlomba dengan waktu karena khawatir serangan Militer Nina, aku lebih memilih untuk menghentikan pihak yang bertanggung jawab. Dengan demikian, pergerakan Militer Nina akan terhenti juga.
"Kedua, aku ingin Ibla...."
Ira tidak langsung menjawab setelah mendengar instruksi keduaku. Mungkin dia terkejut.
"Baik, Tuan Lugalgin."
"Bagus. Aku percayakan semua padamu."
Setelah ketiga istriku masuk, aku menyusul. Sebuah aula besar dengan satu singgasana di ujung ruangan menyambut. Berbeda dengan di luar, ruang audiensi ini memiliki lampu penerangan berwarna coklat yang terang. Tidak ada satu pun lampu yang mati. Di atas singgasana, terlihat Ratu Amana duduk. Di kanan kiri singgasana terlihat sepasang pedang panjang.
"Selamat datang, Rina."
"Ibu!"
Rina tidak mampu menunggu lebih lama. Dia menerjang Ratu Amana.
Ratu Amana bangkit dan menahan serangan Rina dengan sepasang pedang panjang. Satu bayonet senapan ditahan oleh sepasang pedang panjang.
Emir dan Inanna hanya berdiri, melihat pertarungan ibu dan anak yang berlangsung di depan mata. Sementara itu, aku menutup pintu ganda ruang audiensi. Aku mensyukuri fakta kalau aura keberadaan yang dipancarkan oleh Ratu Amana berbeda dengan Ibu Amana. Jadi, aku bersyukur karena ibu Amana mau mengikuti rencanaku, tidak bersikeras.
Ratu Amana terus menempel Rina. Meski dia memberi Rina kesempatan untuk mengambil assault rifle, Ratu Amana tidak membiarkannya melepas tembakan. Pedang dan bayonet berkali-kali menggores dan menebas tubuh Ratu Amana dan Rina. Namun, semua luka yang dihasilkan tidak cukup dalam, tidak cukup untuk membunuh lawan. Sebelum pedang atau bayonet memberi luka parah, lawan akan menangkis atau menghindar.
Di lain pihak, tampak bahwa Ratu Amana tampak sangat awas terhadap serangan yang dilancarkan. Matanya bergerak sangat cepat. Sebelum melancarkan serangan, Ratu Amana melirik perut Rina, lalu menyerang. Tampaknya, Ratu Amana sudah mendapat informasi kalau Rina hamil.
"Hei, Rina, apa kamu tidak mau mencari tahu kenapa aku, ibumu, melakukan semua ini?"
"Tidak penting! Ibu sudah membunuh Tera. Fakta ini sudah lebih dari cukup untuk membalas dendam."
"Hahaha, kamu benar-benar putriku."
Dan kalian berdua benar-benar sepertiku. Aku jadi teringat pembersihan keluarga Cleinhad hanya karena mereka menggeret anak-anak panti asuhan Sargon.
Teknologi pencucian otak Kerajaan Nina benar-benar mengerikan. Teknologi ini bisa mengubah sifat dan perilaku orang sampai ke akar. Ratu Amana yang tidak menyerang perut lawan menunjukkan bahwa dia tidak mau menyakiti atau mengganggu kehamilan Rina. Dan, yang lebih membuatku terkejut, terlebih lagi, Ratu Amana memiliki jalan pemikiran selayaknya seorang Alhold.
Di kursi penonton, Emir dan Inanna menonton dengan reaksi berlawanan. Sementara Inanna tampak khawatir, Emir tampak–
"Tch."
__ADS_1
Tunggu dulu! Kenapa Emir mendecakkan lidah? Apa yang membuatnya kesal? Apa dia tidak sabar?
"Emir, Inanna, aku ingatkan kalau kalian dilarang ikut campur dalam pertarungan ini."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1