
Chapter ini kembali ke Lugalgin. Enjoy....
============================
Akhirnya mereka datang juga.
Aku sudah berdiri di landasan pacu bandara bersama para petugas. Bandara ini sudah disterilkan sejak pagi dan tidak akan ada pesawat yang berangkat atau datang hingga 2 jam ke depan. Bahkan, tidak ada satu pun pengunjung yang berada di terminal ini. Semua pengunjung dan penumpang dialihkan ke terminal lain. Wartawan pun hanya mampu mengambil gambar dari terminal lain tersebut.
Pengamanan ini sangat ketat. Terlalu ketat. Apa pihak Bana'an meminta Mariander melakukan pengamanan ini untuk memperkuat kesan kalau mereka sedang perang dingin? Meski pihak Mariander tidak menyebarkannya, tapi bisa saja Bana'an meminta bantuan mereka.
Ya, aku tidak peduli karena pengamanan ini mempermudah pekerjaanku.
Akhirnya, jet pribadi yang membawa Jeanne dan lainnya mendarat. Aku melepas penutup telinga dan mendatangi tangga yang turun dari jet.
Jeanne muncul diikuti Ufia, Emir, dan personel keamanan lain dari Bana'an.
Baiklah, ada yang aneh. Jeanne mengeluarkan terlalu banyak keringat. Dan, meski hampir tidak terlihat, gerakan kaki kirinya lebih kaku dari kaki kanan. Apa dia terluka? Bisa saja. Kalau benar dia terluka, maka aku bisa memperkirakan kalau dia menaruh nikel di sekitar kaki kiri dan mengendalikannya.
Aku melihat ke arah Ufia dan Emir. Ufia sudah bisa memandangku tanpa mengalihkan pandangan. Tampaknya, dia sudah mengatasi kekhawatiran, atas penghinaan yang dilakukannya padaku, selama ini.
Di lain pihak, Emir mengalihkan pandangan dariku. Seperti biasa, dia mudah dibaca. Apa yang terjadi setelah aku pergi ke sini? Ya, akan aku cari tahu nanti.
Sama sepertiku, Ufia dan Emir mengenakan pakaian militer dan amulet. Di bawah pakaian militer kami, tentu saja, terdapat pakaian igni. Perlu dicatat kalau amulet tidak memberi jaminan keamanan. Banyak peluru militer yang didesain mampu menembus amulet. Jadi, amulet hanyalah pengamanan terhadap serangan non militer.
Sebagai catatan, peluru yang kugunakan untuk melatih Ufia dan di battle royale bukanlah peluru kelas militer.
Bagaimana dengan saat ini? Tentu saja aku menggunakan peluru kelas militer. Sementara yang lain hanya membawa pistol atau SMG (Sub Machine Gun), aku membawa kotak arsenal yang berbentuk peti mati di punggung. Aku sadar kalau aku mencolok. Namun, lebih baik berjaga-jaga lebih daripada menyesal kemudian.
Bersamaku adalah rombongan penyambut dari Kerajaan Mariander, beberapa bangsawan dan satu Pangeran. Pangeran ini adalah Karisma Kai Behequem. Dia adalah putra mahkota Kerajaan Mariander. Berbeda dengan kerajaan Bana'an yang bangsawannya memiliki rambut hitam, bangsawan Mariander didominasi oleh rambut pirang.
Ketika Jeanne turun, Pangeran Karisma merendahkan tubuh dan meraih tangan Jeanne, sebuah gestur yang umum dilakukan terhadap tamu kerajaan.
"Terima kasih telah datang ke Kerajaan Mariander. Adalah sebuah kehormatan untuk menyambut kedatangan Tuan Putri Jeanne."
"Kehormatan adalah milik kami. Terima kasih karena Mariander sudi menerima kunjungan Kerajaan Bana'an."
Mereka bertukar basa-basi tata krama kerajaan.
Jadwal hari ini adalah makan siang bersama bangsawan kerajaan lalu dilanjutkan dengan kunjungan ke fasilitas pemerintah. Di saat kunjungan, Jeanne dan pihak Mariander akan mendiskusikan hubungan dan kerja sama dua negara dan sebagainya.
Untuk besok, kami akan naik pesawat dan pindah kota di pagi hari. Kami akan mengunjungi beberapa panti asuhan, fasilitas kesehatan, dan sekolah. Hari kedua diisi dengan kegiatan sosial. Sesuai permintaan Jeanne, acara sosial akan dilakukan di kota lain.
Di hari ketiga, acaranya adalah liburan dan lalu ditutup dengan pesta di malamnya. Hari keempat, kami sudah bisa kembali ke Bana'an.
***
Aku tidak pernah mendatangi pertemuan bilateral antar kerajaan. Namun, tidak kuduga atmosfernya terasa begitu familier. Kenapa aku bilang familier? Mudah saja. Suasana dan prosesnya mirip ketika dua mafia melakukan perundingan.
Jeanne dan Karisma masing-masing duduk di sebuah kursi, yang tampak mahal, dan dipisahkan oleh meja bundar. Masing-masing pengawal berdiri di belakang tokoh utama.
"Tidak bisa. Kami tidak bisa memberikan bantuan lebih dari ini tanpa adanya kompensasi yang setara."
"Tapi Kerajaan Bana'an telah memberikan bantuan kepada kota Ernesti beberapa bulan lalu ketika mengalami bencana besar kan? Tanpa bantuan kami, aku tidak yakin Ernesti sudah berdiri lagi seperti sekarang."
"Kami tidak meminta bantuan kalian. Kalian sendiri yang datang sendiri dan membawa bantuan. Bahkan tanpa bantuan kalian, kami bisa membangun Ernesti kembali tanpa masalah?"
"Benarkah itu? Apa anda bisa mengatakan itu ke hadapan para penduduk Ernesti?"
Aku tidak akan pernah menduga kalau bantuan terhadap bencana gunung api di Ernesti akan dibawa-bawa ke meja diskusi.
Yup, mereka tidak jauh berbeda dari mafia. Mereka sama-sama menggunakan ancaman dan membawa-bawa jasa yang pernah dilakukan.
"Baiklah kalau begitu, kami akan menyanggupi permintaanmu untuk izin ekspor barang ditambah. Namun, hanya untuk produksi kulit. Tidak lebih. Tidak ada pengecualian juga untuk pajak produksinya."
Akhirnya permintaan penambahan volume izin ekspor produksi dan kerajinan kulit disetujui oleh Pangeran Karisma.
"Tapi sebagai gantinya, Kerajaan Bana'an harus mengirimkan beberapa ahli pengrajin kulit untuk mengajar di beberapa sekolah di Mariander."
"Baiklah, kami setuju dengan syarat itu."
Jeanne tidak mengajukan keberatan sama sekali. Tampaknya, dia sudah menduga permintaan Karisma.
Dari informasi yang beredar, Kerajaan Mariander tidak memiliki alat dan pengrajin kulit sebagus Bana'an. Oleh karena itu, banyak kerajinan kulit dari Bana'an beredar di pasar gelap Mariander. Dan ya, tentu saja, aku terkadang memperjual belikan kerajinan kulit Bana'an kepada orang Mariander.
"Lanjut ke pembahasan selanjutnya, yang kebetulan adalah topik terakhir. Masalah pemberontakan di perbatasan."
Akhirnya negosiasi ini tiba di penghujung acara. Pembahasan yang terakhir adalah mengenai pemberontakan di kerajaan ini.
Dari informasi yang kudapat kemarin, muncul pemberontak di daerah-daerah tertinggal, terluar, dan terpencil. Sebenarnya, Kerajaan Bana'an juga memiliki masalah pemberontakan yang sama, tapi skalanya belum sebesar Kerajaan Mariander.
Menurut informasi pasar gelap, pada kunjungan ini, ada kemungkinan besar kelompok pemberontak itu akan melancarkan serangan. Antara mereka, pemberontak, menginginkan bantuan Kerajaan Bana'an atau mungkin hanya ingin uang tebusan. Kemungkinan masalah ini lah yang harus aku hadapi dalam tiga hari ke depan.
Aku jadi penasaran siapa sponsor utama pemberontakan ini. Mungkin pihak asing. Mungkin juga bangsawan kerajaan ini.
"Kelompok pemberontak ini menyebut mereka sebagai True One." Karisma memberi penjelasan singkat. "Mereka memiliki tujuan untuk menggulingkan sistem kerajaan dan monarki di Mariander dan menggantinya dengan sistem lain. Dari informasi yang kami dapatkan, mereka menganggap sudah waktunya demokrasi dan republik mengambil alih. Sistem kerajaan dan monarki sudah tidak memiliki tempat di dunia ini."
"Tampaknya kita memiliki masalah yang sama untuk hal ini." Jeanne sependapat dengan Karisma. "Tapi, apa kelompok ini sudah menjadi ancaman yang cukup serius sehingga dibawa dalam diskusi ini?"
__ADS_1
"Ya, tentu saja."
Aku penasaran siapa yang membuat nama itu, True One. Nama yang benar-benar aneh. Sederhana, tapi aneh. Kenapa tidak sebut saja diri kalian pasukan revolusi atau revolusioner? Itu lebih sederhana dan lebih jelas kan?
"Saya membawa topik ini karena kebetulan anda membawa orang yang mungkin dapat membantu kami."
Pangeran Karisma diam. Dia hanya terdiam dan mengarahkan pandangannya pada....... aku.
Aku menoleh ke samping, memastikan kalau dia tidak memandang ke orang lain. Tapi tidak! Yang lain juga memandang ke arahku. Bahkan, Jeanne sedikit memutar leher dan melihat ke arahku.
"Saya?"
Aku pura-pura bodoh.
"Benar."
Tiba-tiba saja, sebuah nampan dengan dokumen melayang dari depan Pangeran Karisma. Nampan itu berhenti di depanku dan aku mengambil dokumen di atasnya.
Ketika aku bilang melayang, Pangeran Karisma tidak melemparkannya. Dia menggunakan pengendalian untuk membuat nampan ini melayang.
Aku membuka dokumen yang dia beri dan melihat beberapa nama dan foto di dalamnya.
"Coba cek pada nama Etana."
Aku membolak-balik dokumen, mencari orang bernama Etana. Meski aku sudah mendapatkan informasi ini sebelumnya, tapi aku tidak mungkin mengatakannya. Aku harus berpura-pura.
Akhirnya aku menemukannya. Laki-laki dengan rambut coklat panjang dikuncir. Wajahnya tidak terlihat mengancam, tapi matanya berbeda. Matanya terlalu tajam untuk wajahnya yang tampak polos. Yang cukup mencolok adalah dagunya yang lebar. Dan ya, satu kolom yang menjelaskan semua.
Pengendalian : tidak ada.
"Dia... seorang inkompeten?"
"Ya, benar. Setidaknya, itulah informasi yang kami miliki."
Pangeran Karisma membenarkan ucapanku.
Aku juga tertarik dengan laki-laki ini. Jarang sekali ditemukan seorang inkompeten di zaman sekarang. Tidak. Bahkan kata jarang masih terlalu melebihkan, overstatement.
Dan ya, dia sama sepertiku. Well, sama, tapi ada aspek yang berbeda.
"Apakah ada informasi yang bisa anda berikan mengenai seorang inkompeten? Kami tidak memiliki satu orang pun inkompeten di kerajaan ini. Etana adalah satu-satunya inkompeten di kerajaan ini. Lalu," Pangeran Karisma menambahkan. "Tidak peduli baik dia atau dirimu, tampaknya, kalian para inkompeten memiliki kemampuan yang luar biasa. Kalian berdua mampu diakui dan mendapatkan posisi yang cukup tinggi di dunia kalian. Aku mencurigai kalian memiliki sesuatu yang tidak kami ketahui."
Tidak semua inkompeten sukses seperti dia dan aku. Tapi, ini bahasan untuk lain kali.
Tiba-tiba sebuah suara berbisik di sebelahku.
Aku sedikit menoleh dan melihat Emir yang melekatkan pandangan ke dokumen.
Yang dimaksud Emir seperti aku bukanlah kami sama-sama inkompeten, tapi kami memiliki kemampuan yang sama, menghilangkan pengendalian.
"Menurutmu?" Aku berbisik padanya dan menunjukkan sebuah senyum.
Baiklah, aku tidak mungkin menjelaskan kemampuanku yang sebenarnya pada orang-orang di ruangan ini. Namun, aku juga tidak mungkin mendiamkan pertanyaan pangeran Karisma. Namun, tentu saja, aku melihat ke Jeanne sebelum memberi jawaban. Dia mengangguk pelan.
Aneh, aku kira dia akan meminta sebuah persyaratan pada Pangeran Karisma sebelum aku menjawabnya. Apa yang kamu rencanakan?
"Tidak banyak informasi yang bisa saya berikan," aku menjawab. "Yang jelas adalah, orang-orang seperti kami terbiasa hidup menggunakan tangan dan kaki kami sendiri. Oleh karena itu, saya bisa bilang, kami memiliki kelincahan, kekuatan, dan kemampuan fisik yang lebih tinggi dari orang normal, bahkan tentara. Sederhananya, spek fisik kami lebih tinggi."
Raut wajah Pangeran Karisma tidak berubah.
"Dan satu lagi," aku menambahkan. "Kalau saya pasti akan mempelajari dan menguasai semua jenis senjata yang ada. Bagi saya, variasi senjata adalah sebuah keunggulan."
Di masa ini, menguasai semua jenis senjata adalah sebuah keunggulan yang sangat besar. Ketika orang-orang dengan pengendalian harus menyesuaikan diri dengan satu senjata, kami bisa menggunakan senjata apapun semau kami.
Orang-orang dengan pengendalian harus membiasakan diri dengan satu senjata karena kalau bentuk benda yang digunakan berbeda, maka tingkat konsentrasi yang dibutuhkan juga berbeda. Oleh karena itu, jumlah lebih diutamakan dibandingkan variasi.
Ambil contoh Emir. Turret tank yang dia kendalikan bisa mencapai angka 6 atau bahkan lebih. Namun, tidak terdapat perbedaan variasi bentuk dari semua turret tank yang dia buat.
Ufia juga sama. Kalau dia menggunakan pedang dengan bentuk lain, misal lebih kecil, dia tidak akan bisa mengendalikannya dengan baik. Ada kemungkinan besar dia menggunakan terlalu banyak pengendalian pada pedangnya. Hal ini membuat seolah-olah dia mengayunkan ranting, tenaganya tidak akan terkumpul dan tersalurkan dengan efektif. Refleks tubuhnya tidak terlalu terlatih.
Namun, kami para inkompeten berbeda, atau setidaknya bagiku. Bagi kami, variasi senjata adalah hal yang terpenting. Kami tidak menggunakan konsentrasi dan pikiran kami hanya untuk mengendalikan benda. Kami mengendalikan benda dengan tenaga fisik. Pikiran hanya digunakan untuk menyusun strategi dan membaca gerakan lawan. Kami, yang lebih sering bergerak, lebih mudah menguasai semua senjata karena tubuh kami akan mengingatnya secara refleks.
Ya, menurutku, hanya itu sih kelebihan inkompeten. Namun, kalau orang yang bersangkutan tidak melakukan latihan fisik, maka dia tidak akan memiliki kelebihan itu.
Itu tidak memasukkan faktor penghilang pengendalian karena aku tidak tahu apakah semua inkompeten memilikinya.
"Hmm, begitu ya." Pangeran Karisma memberi respon lemah. "Tampaknya laporan dimana dia menggunakan lebih dari satu senjata bukanlah sebuah kebohongan."
Hahaha, tampaknya dia tidak puas dengan jawabanku.
"Baiklah, demikian saja untuk diskusi ini." Pangeran Karisma menutup diskusi. "Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk diskusi ini."
"Sama-sama. Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih karena Kerajaan Mariander telah bersedia menerima kami."
Pangeran Karisma berdiri, bersiap meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Sebelum Jeanne berdiri, aku berdiri di sampingnya dan memberikan tanganku. Dia terlihat cukup terkejut ketika aku memberikan tanganku.
Sudah, jangan pura-pura. Kamu terlalu memaksakan diri dengan kakimu. Setidaknya, kalau kamu sudah berdiri, bebanmu lebih ringan.
Jeanne menghela nafas pelan. Dia pasti merasa kalah ketika aku mengetahui kalau dia terluka. Jeanne pun menerima tanganku dan aku membantunya berdiri.
Jeanne dan Pangeran Karisma mendekat dan berjabat tangan. Dengan begini, sesi diskusi, atau aku bilang negosiasi, selesai.
Kami semua keluar dari ruangan dan mengadakan jumpa pers. Jumpa pers berjalan normal tanpa adanya serangan atau apapun. Setelah jumpa pers selesai, kami pun meninggalkan ruangan konferensi.
"Seharusnya, saya dan adik saya yang akan mendampingi anda dari hari ini hingga hari terakhir. Sayangnya, saya ada agenda mendadak dari Yang Terhormat Paduka Raja dan adik saya pun baru menyelesaikan panggilan Yang Terhormat Paduka Raja. Tampaknya ada urusan gawat darurat. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya karena hanya adik saya yang akan menemani anda."
"Ah, tidak apa. Kami tidak keberatan."
Agenda apa yang lebih penting dibandingkan menemani tamu negara? Apakah itu? Ada rumor yang mengatakan masalah suksesi kerajaan, ada juga yang mengatakan masalah pemberontakan.
Namun, menurutku, Jeanne yang disambut oleh putra mahkota sudah mendapatkan perlakuan yang lebih dari cukup. Normalnya, hanya putra mahkota yang pantas disambut oleh putra mahkota. Dengan kata lain, hanya Maxwell yang seharusnya mendapatkan perlakuan seperti ini.
Begitu kami tiba di lobi gedung, terlihat sebuah sosok sudah menunggu kami. Sebuah sosok yang akan membuat Emir terkejut.
"Perkenalkan, ini adalah adik saya yang akan menemani anda. Namanya adalah Inanna Arc Spicante."
Bersambung
============================
Halo Semua. Seperti biasa, Author kirim ke mangatoon kamis sore. Entah kapan chapternya dipublish sama admin. Lalu, minggu lalu, author sempat berpikir untuk lebih aktif di kolom komentar, tapi ternyata pusing juga ya. Bukan sombong atau mau apa, tapi real life cukup merepotkan akhir-akhir ini.
Lalu, ketika istirahat membaca komik cetak, author berpikir “bagaimana kalau dibuat seperti di bagian akhir manga?”. Jadi, sebelum publish, author akan melihat komentar-komentar yang ada dan menjawabnya di akhir cerita, seperti sekarang. Untuk nama, tidak akan author tulis.
_________
Komentar:
“hah gk ada gambar”
“Kok gak ada gambar nya”
“ko gk ada gambarnya”
“apakah orang akan tertarik membaca kalo tidak ada gambarnya min?”
“gw baca komiknya hanya untuk dapet koin kalau gk....ogah banget gw...membosankan banget tau”
“gak usah di baca, tapi di buka trus di tinggal”
Balasan author:
Meski sudah dibalas reader lain, tapi author perlu tekankan lagi kalau ini novel, bukan komik atau manga. Jadi, yah, memang tidak ada gambar. Yah, tapi sekali lagi author ucapkan terima kasih karena telah membuka Novel ini.
_________
Komentar:
“kok rasanya jadi ga jelas yah, dari mananya dia jadi agen gulganan?”
Balasan author:
darimana dia agen gugalanna? Hehe, kalau dijawab sekarang, spoiler entar. Tunggu kelanjutan cerita ;)
_________
Komentar:
“ngakak baca judulnya”
Balasan author:
Well, author ga tahu author nangkep ini bener apa enggak, tapi hampir semua rekan-rekan (dan reader) yang memberi komen ini mengatakan seharusnya judul yang benar ‘I am Not a King’. Well, ‘I am Not a King’ adalah british english sedangkan ‘I am No King’ adalah american english. Beda style, seperti “I am No Man” di ‘The Lord of the Rings’.
_________
Komentar:
“gambaran cerita yang detail dan deskripsi yang jelas membuat pembaca larut dalam novel fiksi ala eropa ini. congrats thor !”
“ditunggu klnjtnya.trima kasih...mantap bro...”
“Semangat terus Author, yang selalu saya tunggu tunggu updatenyaa”
“di tggu kelanjutan nya”
“Lanjutkan perjuanganmu wahai anak bangsa, bapak selalu mendukung kalian semua dari belakang hidup indonesia yang jauh lebih baik lagi dan lagi”
Balasan author:
Meski belum semua komentar tercantum, tapi percayalah author membaca semua komentar. Berkat kalian lah Author masih mau melanjutkan menulis cerita di Mangatoon. Terima kasih banyak atas responsnya. Semoga ke depannya dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan kualitas tulisan. Sekali lagi, terima kasih :D
_________
Komentar:
“Bagus aku suka awalnya, cuma perlu pembenahan untuk penyampaian cerita agar mudah dipahami”
“Oke biasanya aku akan tidak nyaman kalo tanda baca kurang tp akuterkesan dengan pembawaan author Imajinasiku semakin liar hahaha”
Balasan author:
Terima kasih untuk komentarnya. Untuk di bagian prolog, memang dibuat seambigu mungkin karena prolog ini memberi spoiler cukup jauh ke belakang.
Untuk tanda baca kurang, biar author coba cek lagi. Atau kalau berkenan dan berbaik hati, mungkin bisa disebutkan dimana yang kurang. Author masih berkembang. Sekali lagi, terima kasih untuk komentar dan kritiknya.
_________
Sebenarnya, masih ada banyak sekali komentar-komentar yang ingin author respon. Namun, kalau semua direspon, respon komentarnya lebih banyak dari isi ceritanya.
Sekali lagi, Author ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada reader yang telah meluangkan waktu untuk membaca “I am No King”.
Jadi, mulai minggu depan, author akan membaca dan merekap semua komentar dan menuliskannya di sesi “komentar dan respon” seperti yang baru saja.
Dan, seperti biasa, pada bagian akhir ini, author ingin melakukan endorse pada artist yang gambarnya author jadikan cover, yaitu 千夜 atau QYS3. Kalian bisa membuka pixiv pagenya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 dan like galerinya atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa
__ADS_1
Terima kasih :D