
~Mulisu POV~
"Hahahaha, benar sekali. Kamu benar. Kalau kamu benar-benar ingin mengetahuinya, coba paksa aku."
Ting
Tanpa penjelasan atau ucapan apapun, sebuah pedang talwar sudah bersilang di hadapan kami. Ternyata, pilihan pedang kami sama.
Ting ting ting ting
Kami berkali-kali saling bertukar tebasan menggunakan talwar. Namun, tidak satu pun serangan mampu mendarat, baik di tubuhku maupun tubuh Ukin. Akhirnya, kami berdua sama-sama menarik sebuah assault rifle dari balik jubah.
Dor dor dor dor dor
Kami sama-sama melepaskan tembakan, dan sama-sama menghindar. Tembakan kami pun meleset, bersarang di dinding dan memecahkan kaca.
Kami terus bertarung sambil menebaskan talwar dan melepas tembakan. Bahkan tidak jarang kami menggunakan assault rifle sebagai senjata tumpul atau untuk menahan tebasan talwar.
"Kamu belum mau serius?"
"Kamu sendiri juga sama. Dimana lipanmu itu, hah?"
"Tepat di sampingmu."
"Huh?"
Dor dor dor dor dor
Ukin melompat ke atas ke bawah, sambil perlahan mundur, menghindari semua tembakan yang kulepaskan dari balik dinding. Aku tidak meletakkan lipan itu di dalam kamar Illuvia hanya untuk menjaganya. Aku juga membutuhkannya untuk melancarkan sergapan.
Aku tidak diam begitu saja. Aku menarik dan mengaktifkan lipan yang ada di lantai atas. Dengan tiba-tiba, langit-langit koridor jebol, menunjukkan sosok lipan sepanjang lima meter dengan puluhan kaki pedang. Aku tidak meletakkan senjata api di mulutnya karena aku memiliki tujuan lain untuk lipan ini.
Dengan pengendalianku, aku membuat lipan itu melayang dan menerjang Ukin. Ukin berhasil menghindar. Namun, aku tidak membiarkannya begitu saja. Aku membuat agar lipan itu melilit Ukin. Kalau orang normal, dia akan tewas, tercabik-cabik dan tersayat oleh puluhan kaki pedang. Namun, Ukin bukanlah orang Normal.
Ukin melempar talwar yang dia gunakan ke Udara lalu menarik tangannya ke bawah. Dengan gerakan tangan, dia membuat talwar itu meluncur dengan cepat ke bawah, menusuk dan membuat lipanku tertancap di lantai.
Normalnya, pedang atau pisau apapun yang diarahkan ke lipanku akan terpental. Hal ini disebabkan oleh berat lipan itu yang tersusun atas puluhan besi dan pedang. Hanya Ukin yang mampu mengabaikan itu semua dan menusuknya.
__ADS_1
"Kamu tidak lupa dengan pengendalianku, kan?"
Ukin membuka jubahnya. Dari balik jubah, terlihat belasan pisau dan pedang. Semua pisau dan pedang itu melayang, meluncur ke arahku. Aku melompat ke samping, ke jendela yang sudah pecah. Dari lantai bawah, sebuah lipan sudah melayang, menangkapku di udara.
Kalau aku yang dulu, aku sudah mencoba untuk menyatukan besi yang dikirim oleh Ukin dengan tubuh lipan yang terbuat dari tembaga, membuat Ukin tidak mampu mengendalikannya lagi karena telah menjadi baja.
Namun, sayangnya, cara itu tidak lagi ampuh. Aku sudah mencoba meleburkan lipan yang ditusuk dengan talwar yang dia gunakan. Namun, entah kenapa, aku tidak bisa melakukannya. Seolah-olah besi talwar yang dia gunakan menolak untuk dilebur dengan tembaga.
"Kamu menghindar. Jadi, tampaknya, kamu sudah menyadari kalau besi yang kukendalikan tidak bisa kamu leburkan lagi seperti dulu. Haha, kamu kira aku tidak akan belajar dari pengalaman?"
Sial! Padahal, keras kepala dan kesombongan Ukin, yang membuat dia tidak mau belajar selain dari Lacuna, adalah kelemahan yang paling ingin aku eksploitasi. Namun, sekarang, kelemahan itu sudah tidak ada lagi. Sial, akan sulit untuk memaksanya mundur.
Aku kembali melompat ke koridor. Pedang talwar yang kugunakan bukanlah talwar biasa. Aku telah memodifikasinya sehingga pedang ini bisa berubah bentuk menjadi pedang ular. Dengan kata lain, saat ini, senjataku adalah pedang setengah cambuk.
Beberapa pedang kembali menerjang dan aku menghindar. Satu pedang berhenti dan mendarat di tangan Ukin. Aku mengayunkan pedangku, mencoba melukai Ukin dari jarak jauh. Namun, Ukin mampu menangkis dan menghalau semua seranganku.
Tanpa perlu aku menoleh, aku bisa merasakan beberapa proyektil mendekat dari belakang. Lipan yang ada di dalam kamar Illuvia pun keluar mendobrak dinding, dan menggeliat di udara.
Kalau aku mencoba menahan proyektil Ukin, hasilnya adalah lipanku akan tertusuk. Bahkan, ada kemungkinan proyektil Ukin akan menembus lipan dan menancap di tubuhku. Dengan menggeliat, lipan itu akan menghantam pisau dan proyektil dari samping, membelokkan jalur.
Lugalgin, aku bingung. Apakah kamu sudah berubah? Atau belum? Meski kamu mengatakan kemungkinan Ukin akan membunuh Illuvia adalah kecil, tapi kemungkinan itu masih ada. Apa kamu benar-benar tidak keberatan meninggalkan perempuan ini begitu saja?
Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Illuvia. Kalau aku meninggalkan Illuvia dan dia tewas, maka ada kemungkinan Lugalgin akan meraih sosoknya di masa lalu. Aku sudah berjanji. Aku sudah memaksamu mendirikan Agade. Adalah suatu kebahagiaan ketika aku mengetahui kamu sudah berubah ketika kita mengobrol di kamar mandi saat itu. Aku tidak mau semua ini sia-sia.
Di saat itu, tiba-tiba Ukin melakukan sebuah gestur yang cukup asing. Dia tiba-tiba menggerakkan tangannya seperti melempar sesuatu. Namun, aku tidak melihat apa pun. Meski demikian, instingku berteriak, mengatakan yang sebaliknya. Aku mengangkat tangan kiri, menutupi tubuhku dengan assault rifle.
Apa ini? Terlihat beberapa benda tajam menembus assault rifle. Benda tajam kecil ini adalah jarum. Terlihat beberapa jarum sepanjang beberapa belas centimeter menembus assault rifle. Untungnya, semua jarum ini dihentikan oleh assault rifle. Kalau tidak, semua jarum ini mungkin sudah mendarat di tubuh dan kepalaku, membunuhku. Namun, hal ini membuatku tidak bisa menggunakan assault rifle lagi.
Ahh! Karena aku terlalu fokus pada jarum yang menancap di assault rifle, aku tidak menyadari kalau beberapa jarum juga mendarat di tangan kiri. Ketika aku lengah, Ukin sudah berdiri di depanku. Dia menebaskan pedangnya dengan cepat.
Aku melingkarkan pedang ular di depan. Bersama dengan assault rifle, aku mencoba menahan tebasan Ukin.
Blarr
Tubuhku terpental, menembus dinding dan mendarat di dalam kamar Illuvia.
__ADS_1
Aku mengecek kondisi senjata. Pedang ularku masih bisa kugunakan, tapi assault rifle sudah bengkok karena menerima tebasan Ukin. Kalau tadi aku tidak mengatur kemiringan pedang Ukin, pasti assault rifle beserta tubuhku sudah terpotong. Selain itu, topengku juga rusak karena dihantam oleh assault rifle.
Aku pun melepaskan topeng ini daripada mengganggu pandangan.
"Hei, kau tidak apa-apa?"
Perempuan dengan fitur generik, Nerva, berteriak padaku. Dia dan Illuvia berada di ujung ruangan. Dia tampak begitu panik dan terkejut. Apa setelah mengetahui kalau aku perempuan, dia jadi khawatir?
Di lain pihak, karena anggota Agade menuruti ucapan Lugalgin, mereka berpikir aku akan mundur dan membiarkan Ukin membunuh Illuvia begitu saja. Oleh karena itu, saat ini, belum ada satu pun anggota yang membantuku. Mereka hanya akan bergerak kalau ada perintah. Dan, untungnya, mereka masih menuruti perintahku.
Aku menekan sebuah tombol di dekat leher, mengirim pesan pada Ibla.
"Ibla, aku membawa perempuan ini. Jalankan rencananya."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1