
Sekali lagi, tempat yang seharusnya ruang kerjaku di Agade, menjadi ruang perawatan. Aku tidak terlalu peduli karena aku jarang menggunakannya. Aku lebih peduli pada fakta anggota Agade terluka parah.
Saat ini, sebagian anggota Agade dan aku, menunggu di luar. Menanti perawatan Yarmuti selesai. Untuk memastikan tidak terjadi apa-apa, aku meletakkan Mulisu dan Ur di dalam, mengawasi dokter yang bekerja. Aku tidak mau kalau tiba-tiba ternyata dokter itu sudah dibayar untuk membunuh anggota Agade.
Tadi, setelah menemukan Yarmuti, aku memerintahkan Shinar pulang lalu pergi ke kantor intelijen. Aku mau dia memberi info pada Shu En kalau hari ini aku terlambat ke kantor. Alasannya adalah masalah dengan Keluarga Alhold dan Agade.
Aku langsung naik mobil bersama Emir ke tempat ini. Sementara aku mengemudi, Emir mengikat kedua tangan dan kaki Yarmuti agar pendarahannya berhenti. Selain itu, dia juga menelepon Mulisu untuk meminta dokter bersiap.
Sementara kami mengantar Yarmuti, aku meminta Inanna tetap di rumah bersama Ninlil. Aku meminta agar mereka membersihkan rumah dan mencari tahu identitas orang yang menyerang. Aku perlu tahu siapa dari keluarga Alhold yang telah menyakiti Yarmuti. Agar tidak kerepotan, aku meminta pada Jeanne dan Ufia untuk membantu mereka.
Jadi, saat ini, aku dan Emir masih belum mandi pagi setelah latihan. Kami masih mengenakan pakaian penuh dengan keringat.
Aku beruntung Illuvia dan pelayannya sudah tidak ada di sini. Dengan bersusah payah, aku dan Mulisu berhasil meyakinkan Illuvia agar melanjutkan kuliah. Kalau mereka masih di sini, satu-satunya yang akan mereka bawa adalah masalah. Tentu saja, aku mengizinkan Illuvia dan Nevia pergi setelah mereka bersumpah untuk tidak pernah mengatakan apa pun yang terjadi di sini.
Untuk pengawasan Illuvia dan Nevia, Ibla yang mengambil alih.
Ngomong-ngomong soal Ibla, dia masih belum menampakkan wajahnya. Namun, tidak untuk waktu yang lama.
Aku mendengar langkah kaki dari tangga dan berbalik, melihat sosok laki-laki sipit dengan rambut coklat panjang dikepang ekor. Tidak semua rambutnya diikat. Terlihat dia masih menyisakan poni.
"Yar–"
"Ibla," aku menyela Ibla. "Apa kamu yang mengirim Yarmuti untuk berjaga di rumahku."
"Hah? Iya. Aku yang–"
Sekali lagi, aku tidak membiarkan Ibla menyelesaikan ucapannya. Namun, aku tidak menyelanya dengan ucapan. Kali ini aku melemparkan sebuah pukulan tepat ke pipi Ibla.
"Gin?"
Aku mendengar suara beberapa orang yang tersentak.
Ibla terlempar. Bahkan, dia terjatuh kembali ke tangga.
Aku berjalan ke tangga, melihat sosok Ibla yang tergeletak di platform antar tangga. Terlihat darah berceceran di tangga dan sekitar kepala Ibla. Ceceran darah itu tidak disebabkan oleh luka di kepala dia menghantam tangga, tapi dari mulutnya yang kutinju.
"Buh..." Ibla duduk dan meludah.
Yang keluar dari dalam mulut Ibla bukanlah ludah, melainkan darah dan satu buah gigi geraham.
__ADS_1
Aku duduk di anak tangga paling atas. "Sejak awal. Sejak awal aku kembali aktif sebagai Sarru, aku tidak pernah memerintahkan Yarmuti untuk menjaga rumahku. Bahkan, aku terus menjauhkan dia dari rumahku.
"Yarmuti tahu dan paham kenapa aku tidak pernah memperbolehkannya mendekati rumahku. Jadi, dia menurut. Namun, sekarang, tiba-tiba saja kamu memerintahkan dia untuk menjaga rumahku? Apa yang ada di kepalamu?"
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau keluarga Alhold sekuat itu."
"Keluarga Alhold tidak kuat. Mereka lemah." Aku menolak pernyataan Ibla mentah-mentah. "Apa kamu tidak ada niat untuk bertanya kenapa aku tidak memperbolehkan Yarmuti menjaga rumahku?"
Ibla tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepala.
Aku meneruskan ceramahku. Pada dasarnya, Ibla mulai congkak dan arogan dengan kemampuannya mengumpulkan informasi. Ketika aku tinggalkan, hingga beberapa bulan yang lalu, Ibla adalah yang bertanggung jawab mengarahkan Agade. Bahkan, sampai sekarang, banyak hal yang masih dia urus.
Meski sebenarnya anggota Agade yang lain juga memiliki peran besar, Ibla pasti berpikir kalau dia adalah alasan utama Agade dapat menjadi seperti sekarang. Dia mempercayai hal itu.
Satu-satunya hal yang membuat Ibla ingin memercayai hal itu adalah karena dia anggota Agade yang paling lemah. Bahkan lebih lemah dari Emir. Ibla membohongi dirinya sendiri dengan menyatakan, "aku memang paling lemah, tapi aku lah alasan Agade bisa sebesar ini,". Dan, tanpa Ibla sadari, Inferiority complexnya berubah menjadi superiority complex.
Aku beberapa kali mendapati Ibla bergerak sebelum dia memastikan kredibilitas informasi yang dia dapatkan. Dia berpikir, 80 persen informasi tidak akan mungkin dikalahkan oleh 20 persen informasi. Dan, hal ini juga lah yang membuat Ibla berani meletakkan Yarmuti berjaga di rumahku.
"Jadi, apa pembelaanmu?"
"Tapi, kamu juga sering maju walaupun informasinya yang didapat belum 100 persen, kan?" Ibla melihat dalam-dalam ke arahku.
"Kalau begitu, aku ingin bertanya, ketika aku belum mendapat informasi hingga 100 persen, siapa kah yang berhadapan dengan ketidakpastian itu?"
"Itu...."
"Aku," aku menegaskan. "Kalau ada lawan yang informasinya belum kudapat 100 persen, aku lah yang akan menghadapinya. Jangan lupa! Ketika aku membuat rencana, lawan yang kalian hadapi adalah yang informasinya lengkap, 100 persen. Yang tidak lengkap? Sekali lagi, Aku!
"Lain kali, kalau kau mau bertaruh dengan informasi kurang dari 100 persen, pertaruhkan dirimu sendiri. Jangan orang lain. Kamu pikir, kenapa Mulisu memilih menghadapi Ukin seorang diri? Tidak mengeroyoknya bersama kalian?"
Ibla membelalak tanpa respon. Tampaknya, ketika melawan Ukin, dia baru sadar kenapa Mulisu berlaku seperti orang bodoh dengan meletakkan anggota Agade hanya sebagai sniper. Alasan yang benar adalah karena informasi mengenai Ukin sangat sedikit dan dia tidak tahu kemampuan lawan sepenuhnya.
"Ma, maafkan aku..."
Akhirnya, terdengar jawaban dari Ibla. Kini, dia hanya menundukkan kepala. Bahkan, dia tidak mau repot-repot bergerak dari tempatnya berada.
Apa aku ambil alih saja Agade lagi? Namun, kalau aku melakukan itu, kepercayaan diri Ibla akan hancur. Selain itu ada kemungkinan, meski sangat kecil, kalau hal itu akan membuat Ibla mengkhianatiku.
"Sudahlah Gin. Dia sudah mendapat pelajarannya. Aku juga yang salah karena sudah menetapkan peraturan itu."
__ADS_1
Sebuah suara familier terdengar dai belakang. Aku berbalik dan melihat Mulisu sudah berdiri di pintu.
Apa dia membaca pikiranku? Yah, sudahlah.
"Hasilnya?"
Aku mengabaikan ucapan Mulisu yang baru saja dan langsung menanyakan hasil operasi Yarmuti.
"Dia tidak akan kehilangan pengendaliannya seperti aku. Namun, repotnya, dia tidak akan bisa menggunakan kaki kiri dan tangan kanannya."
"Lumpuh sebagian ya." Aku merespon Mulisu pelan. "Dengan kekurangan itu, dia tidak akan bisa bertarung dengan baik lagi. Dan lagi, kalaupun bertugas mengumpulkan informasi, dia tidak akan bisa menyelamatkan diri kalau ada masalah. Berarti, kita harus menariknya dari lini depan, ya?"
Mulisu mengangguk.
Aku memegang pelipis. Dan, satu sumber daya manusia yang berkualitas pun hilang.
"Anu, Gin, kalau aku boleh tanya," Emir masuk ke pembicaraan. "Apa yang membuat Yarmuti bisa mengalami itu semua? Maksudku. Seharusnya dia lebih kuat dariku, kan? Kenapa keluarga Alhold bisa memberinya luka separah itu?"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1