I Am No King

I Am No King
Chapter 45 – Agade, Konfrontasi Mulai


__ADS_3

Belum ada sehari setelah Lacuna menyampaikan target pembersihan, Mulisu murung. Bahkan dia sempat menangis, merengek, tidak mau Agade menjadi target pembersihan, tapi juga tidak mau menjadi musuh Lacuna. Aku bahkan harus merengkuhnya hanya untuk menenangkannya. Benar-benar merepotkan.


 


"Mau bagaimana lagi? Kamu tahu sendiri kan kekuatan tempur Lacuna?"


 


Ya, aku tidak menyalahkan keraguan Mulisu, sih. Aku juga sangat tidak yakin bisa menang melawan Lacuna.


 


Sementara aku berpikir hal itu, Inanna dan Emir memandang tajam ke arah Mulisu.


 


"Eh? Kenapa? Aku tidak ada hubungan apa-apa kok dengan Lugalgin, sumpah. Kami hanya rekan kerja."


 


Kembali ke cerita. Intinya, Mulisu dan aku memutuskan untuk mempertahankan Agade. Berarti, tentu saja, kami harus melawan Lacuna.


 


Meskipun anggota elite Agade sudah kami latih dan memiliki cukup pengalaman, masih terlalu awal 10 tahun untuk mereka berhadapan dengan Lacuna dan Ukin. Tidak! Bukan hanya 10 tahun. Aku bahkan tidak tahu butuh berapa tahun untukku bisa mengalahkan Lacuna, apalagi mereka.


 


Jadi, untuk dapat mengimbangi Lacuna dan Ukin, aku harus meramu sebuah strategi yang matang. Namun, aku tidak melibatkan anggota elite Agade dalam konfrontasi ini. Anggota elite Agade terlalu lemah kalau dibandingkan dengan kami. Mereka hanya akan menjadi beban. Jadi, hanya aku dan Mulisu yang akan menghadapi dengan Lacuna dan Ukin.


 


Sebelum melakukan pembersihan, tugas mencari informasi selalu digilir. Aku selalu bertugas setelah Mulisu. Dan, kebetulan, saat itu adalah tugasku mengumpulkan informasi.


 


Aku memanfaatkan informasi yang mengatakan kalau Agade hanya dijalankan oleh Sarru dan Kinum, sisanya adalah mercenary dan anggota lepas. Informasi yang kuberi adalah Sarru dan Kinum selalu bertemu pada satu gedung apartemen setengah jadi pada hari dan jam yang sama. Tentu saja, informasi itu adalah palsu.


 


Di hari yang telah ditentukan, kami bergerak untuk melakukan pembersihan. Seperti biasa, Lacuna dengan Ukin dan aku dengan Mulisu. Rencananya adalah aku menghadapi Lacuna dan Mulisu menghadapi Ukin.


 


"Apa saat itu kamu berpikir bisa mengalahkan Lacuna, Gin?"


 


Tidak. Tentu saja tidak.


 


Sudah kubilang, hingga sekarang aku tidak yakin bisa mengalahkan Lacuna. Kalau bertarung terang-terangan, kemungkinanku menang adalah nol persen. Kalau menggunakan akal bulus dan strategi, Dia bisa menang dengan mudah, tapi efeknya apa? Jadi, untuk menghindari efek ini, aku berharap dengan strategi yang kubuat, Lacuna bersedia mempertimbangkan opsi negosiasi.


 


Untuk Mulisu melawan Ukin, Mulisu mungkin lebih lemah dari Ukin, tapi setidaknya dia lebih ahli dalam menggunakan strategi dan bergerilya. Ya, tidak seahli aku sih.


 


"Iya, iya, Lugalgin adalah master strategi dan gerilya."


 


Mulisu menyela cerita.


 


"Hahaha, kamu bilang aku master? Kamu tahu sendiri guru kita, Lacuna, seperti apa."

__ADS_1


 


"Iya sih..."


 


Kembali ke cerita.


 


Setelah kami berpisah, aku dan Mulisu berganti pakaian, menjadi Sarru dan Kinum. Lalu, kami muncul di depan mereka. Sebenarnya kami tidak perlu berganti pakaian sih, tapi, ya, agar memberi efek lebih.


 


Aku masih ingat bagaimana Ukin tertawa, mengatakan kami bodoh karena mau keluar begitu saja. Namun, begitu kami membuka topeng, tawa Ukin terhenti. Di saat itu, dia benar-benar murka dan berkali-kali meneriakkan kata pengkhianat. Di lain pihak, Lacuna masih tenang, tidak memberi respon apapun.


 


Sebelum aku melanjutkan cerita, aku merasa perlu memberi sedikit penjelasan mengenai gaya bertarung masing-masing orang.


 


Mulisu lebih suka menggunakan pisau yang saling berhubungan, membentuk seperti lipan. Ukin lebih sering menggunakan senjata tajam seperti pisau dan pedang sebagai proyektil. Dan, mereka berdua menggunakan senjata tersebut sebagai homing. Dengan kata lain, senjata mereka akan terus mengejar. Dan jelas, senjata api adalah senjata sekunder kami semua.


 


"Jangan lupa ditambahkan. Aku bukanlah orang yang berbakat atau spesial, jadi aku harus berpikir keras untuk mengulur waktu Ukin."


 


Ya, seperti ucapan Mulisu, dia bukanlah orang yang berbakat apalagi spesial. Dia memiliki pengendalian utama yang generik, yaitu tembaga. Dia masih harus mempelajari tembaga dengan seksama dan detail untuk dapat meningkatkan pengendalian. Namun, justru karena Mulisu tidak berbakat dia bisa menyaingi Ukin.


 


Ukin adalah orang yang berbakat. Dia lahir dengan pengendalian utama berupa besi dan aluminium. Tanpa perlu mempelajari apa pun mengenai besi dan aluminium, dia sudah bisa melakukan banyak hal. Dan lagi, besi dan aluminium adalah benda yang bisa ditemukan dimana pun dan memiliki banyak fungsi. Oleh karena itu, dia bisa mendapatkan senjata kapan pun dan dimana pun. Karena dua pengendalian ini, aku sempat mengira Ukin adalah keluarga Alhold, ternyata bukan.


 


 


"Dan, untungnya, Ukin selalu menggunakan besi atau aluminium murni.” Mulisu masuk. “Jadi, saat itu, ketika senjataku berhasil menangkap pedang Ukin, aku tinggal mengalirkan listrik ke tembaga yang kukendalikan. Hal ini membuat logam Ukin melebur dengan tembagaku, menjadikan senjataku tidak lagi tembaga, tapi baja. Untung aku belajar cara mengendalikan besi, jadi aku juga bisa mengendalikan baja."


 


Sementara Mulisu berurusan dengan Ukin, aku berurusan dengan Lacuna.


 


Sekali lagi aku tegaskan, Lacuna adalah lawan yang SAMA SEKALI TIDAK MAU aku lawan. Senjatanya tampak sederhana yaitu benang, pita, dan assault rifle. Di atas rambut putih sebahunya, dia masih menambahkan wig yang terbuat dari benang perak. Bukan hanya wig, kain yang menutup lengan Lacuna juga terbuat dari benang perak.


 


Jangan dikira benang adalah benda yang tidak berbahaya. Lacuna sering menggunakan benang untuk menjebak lawan. Kalau benang biasa, mungkin tidak berbahaya. Namun, benang perak dapat memotong tubuh dengan mudah. Jadi, kalau kamu terkena jebakan Lacuna, besar kemungkinan anggota tubuhmu sudah terpotong.


 


Selain benang, masih ada pita. Saat bertarung langsung, tidak menyiapkan jebakan, lengan baju Lacuna akan berubah menjadi pita. Pita perak itu bergerak seperti ular yang terbang di udara. Dengan bentuk dan ketajamannya, pita itu seperti sebuah pedang elastis sepanjang beberapa meter.


 


Sementara Ukin dan Mulisu sudah mulai bertarung, pindah tempat, Lacuna dan aku masih belum.


 


"Eh? Kalian tidak langsung bertarung? Padahal saat itu aku langsung menyerang Ukin."


 


Hahaha, tampaknya, bahkan, Lacuna siaga denganku yang licik dan ahli strategi ini. Jadi, kami memulai dengan percakapan ringan. Perlahan, percakapan itu berubah menjadi wawancara.

__ADS_1


 


Pertama, Lacuna menanyakan kenapa aku melakukan itu semua. Aku menjawab kalau kalian membutuhkan bimbingan. Selain itu,  aku juga berpikir mencari pendapatan tambahan. Lalu, pertanyaan kedua adalah kalau seandainya Agade tidak ada, berapa lama lagi aku akan berada di bawahnya? Aku menjawab entahlah. Yang jelas, cepat atau lambat aku akan pergi, keluar dari sarang.


 


Dia sadar apa yang ingin kulakukan, yaitu bernegosiasi tanpa perlu bertarung. Namun, sayangnya, Lacuna tidak mau mengabulkan keinginanku begitu saja. Dia mengatakan, kalau aku mampu memuaskannya, maka dia akan menurut. Kalau tidak, maka aku harus lanjut bekerja di bawahnya.


 


Aku pun menerima syarat itu.


 


Ada apa dengan pandangan kalian? Tidak hanya cewek, yang cowok pun memandangku dengan dingin?


 


"Kenapa?"


 


"Tidak ada apa-apa." Jawab Mari dengan nada ketusnya.


 


Bersambung


 


\============================================================


 


Chapter ini diupload Senin sore.


 


Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya.


 


Untuk post note kali ini, tidak banyak yang bisa dibicarakan. Hanya mengingatkan kalau mulai minggu ini panjang chapter berkurang, tapi frekuensi update bertambah. Dan kembali mengingatkan kalau minggu depan sudah berganti Arc (anggap ganti season). Dan, Arc selanjutnya sepenuhnya bukan dari sudut pandang Lugalgin.


 


Lalu, mungkin, ke depannya, author akan sesekali merespon komentar. Kalau komentarnya hanya memerlukan respon pendek, akan author respon. Kalau panjang, lewat post note seperti biasa.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1



__ADS_2