I Am No King

I Am No King
Chapter 176 – Kemungkinan


__ADS_3

~Mulisu POV~


 


 


"Beruntung?"


"Cara bertarung Lugalgin yang menggunakan apapun sebagai senjata dan perlindungan sangat sesuai jika melawan banyak orang. Anggap ada 50 orang mengeroyok Lugalgin, dia bisa membunuh satu atau dua orang, lalu menggunakan jasadnya sebagai pelindung. Dia akan mengulanginya sampai lawanya habis."


Aku melanjutkan, "sayangnya, saat ini, dia memerintahkan untuk seluruh keluarga Alhold yang tidak tewas diamankan oleh Agade. Jadi, dengan kata lain, dia tidak akan menggunakan jasad mereka sebagai pelindung."


"Dan," Ukin menambahkan. "Kalau Lugalgin melawan satu orang dengan kekuatan pengendalian yang besar, tanpa strateginya, kemungkinan dia bisa menang adalah nol. Aku sudah bilang kan kalau di antara kami bertiga dia adalah yang paling lemah."


"Lalu, apakah ada orang dengan pengendalian kuat yang bisa mengalahkan Lugalgin di keluarga Alhold?"


"Ada tiga orang," aku menjawab Maila. "Enlil, Ninlil, dan Barun."


"Kondisi tambahan," Ukin melanjutkan. "Tampaknya, banyak bagian rumah, pagar, atau benda lain di permukiman keluarga Alhold yang terbuat dari Aluminium. Dari informasi umum, kita tahu bahwa pengendalian keluarga Alhold adalah aluminium. Walaupun Lugalgin memiliki senjata dan peluru penghilang pengendalian, aku ragu itu cukup untuk seluruh permukiman keluarga Alhold."


Ya, benar. Orang awam akan berpikir Lugalgin tidak terkalahkan dengan peluru penghilang pengendaliannya. Namun, sayangnya, peluru itu tidak akan cukup untuk semua aluminium di kediaman keluarga Alhold. Ya, tidak akan cukup.


"Dan lagi, Mulisu, apa kamu menyadarinya?"


"Maksudmu bagaimana Lugalgin menyerang tanpa memancarkan aura haus darah atau niat membunuh sama sekali?"


Ukin mengangguk, "Ya benar. Dengan kata lain, dia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya. Apa benar dugaanku kalau ada orang yang tidak ingin dia bunuh."


"Tentu saja ada! Adik dan ayahnya."


Ukin, seolah bisa menebak jalan pikiranku, mulai berbicara pada Maila.


"Maila, ada sebuah ungkapan, 'jika kamu ingin menang tanpa membunuh lawan, kamu harus 3 kali lebih kuat dari lawan. Jika kamu ingin menang tanpa memberi luka berat pada lawan, kamu harus 10 kali lebih kuat dari lawan,'."


Ya, aku mengingat benar ungkapan itu. Lacuna membuat kami mencamkan ungkapan itu baik-baik.


Kalau ditelaah secara lengkap, dalam pertarungan, kalau ingin membunuh lawan kamu hanya perlu lebih kuat sedikit saja. Kalau ingin menang tanpa membunuhnya, tapi masih memberi luka berat seperti patah tulang, kamu hanya cukup 3 kali lebih kuat. Jika ingin menang tanpa luka berat pada lawan atau bahkan tidak melukainya, kamu harus 10 kali lebih kuat.


Saat ini, Lugalgin pasti tidak ingin memberi luka berat pada adiknya. Yah, kalau ke ayahnya sih mungkin dia tidak masalah selama tidak tewas. Namun, kalau Ninlil, aku yakin Lugalgin tidak akan mau memberi luka berat. Sederhananya, Lugalgin tidak cukup kuat untuk bisa mencapai tujuan itu.


Padahal, kalau benar dicuci otak, Ninlil akan melawan Lugalgin. Dengan aluminium tersebar sejauh beberapa ratus meter, Lugalgin benar-benar berada di pihak yang dirugikan. Dia tidak akan bisa serius karena bisa melukai atau bahkan membunuh adiknya. Di lain pihak, dia membiarkan dirinya terpapar pada risiko kematian.


"Jadi, kalau begitu, kemungkinan 10 persen Lugalgin menang adalah..."

__ADS_1


Aku melanjutkan ucapan Maila. "Kalau Lugalgin meminta bantuan. Namun, sayangnya, kalau dia meminta bantuan, kemungkinan besar adiknya akan terluka parah. Aku yakin Lugalgin tidak menginginkannya."


"Pada momen ini," Ukin menambahkan. "Lugalgin harus memilih antara hidupnya atau kondisi adiknya."


Ya, ucapan Ukin benar. Kalau seandainya kami masuk tanpa izin dan memberi luka parah pada Ninlil, Lugalgin akan benar-benar kehilangan kepercayaan pada semua orang. Namun, kalau dia terus melanjutkan misi ini seorang diri, nyawanya lah yang akan melayang.


Lugalgin, kenapa kamu membuatku menjadi bingung?


Di lain pihak, aku yakin para anggota Agade dan agen schneider yang berjaga tidak menyadari hal ini. Mereka terlalu menganggap Lugalgin sebagai pribadi yang bisa melakukan apa saja. Saat ini, aku hanya bisa berharap pada Inanna dan Emir. Aku harap, mereka bisa meyakinkan Lugalgin untuk meminta bantuan walaupun harganya adalah adiknya terluka parah.


Tiba-tiba saja, sebuah transmisi yang benar-benar tidak kuinginkan muncul.


[Gin, Ninlil dan Om Barun sudah menampakkan diri!]


Sial! Kalau Ninlil dan Barun melawan Lugalgin, masalah akan semakin runyam. Kalau Lugalgin bersedia membunuh Barun, mungkin dia bisa mengalahkan Ninlil tanpa memberi luka berat. Dengan kata lain, menggunakan Barun sebagai pelindung. Namun, sayangnya, siang ini Lugalgin sudah menyatakan kalau dia tidak akan membunuh ayahnya.


Aku menarik pandangan dari teropong, melihat ke arah Ukin. Saat ini, hanya ada satu cara untuk mengeluarkan Lugalgin dari kondisi ini hidup-hidup dan tanpa memberi luka parah ke adiknya. Namun, sayangnya, hal ini tidak akan mungkin tercapai.


Ukin, menyadari pandanganku, mulai berbicara kembali.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu berpikir, satu-satunya cara agar Lugalgin bisa tetap hidup, misi ini berhasil, dan adiknya tidak mengalami luka berat, adalah dengan aku dan kamu bekerja sama, kan?"


"Eh?" Maila merespons.


"Yah, aku tidak memungkirinya. Kalau kamu dan aku bekerja sama, kita bisa menekan adik Lugalgin dengan mudah."


"Lalu, apa kamu akan melakukannya?" aku mengajukan pertanyaan balik.


Ukin tersenyum, "Tentu saja, tidak!"


Yah, sudah kuduga. Maksudku, saat ini, posisi kami adalah musuh. Ukin tidak memiliki alasan untuk membantu Lugalgin. Di lain pihak, aku ingin bertanya satu hal pada perempuan di samping Ukin.


"Maila, apa kamu keberatan kalau aku bertanya mengenai motifmu membantu Ukin dan memperdaya Illuvia?"


"Aku tidak keberatan. Kalau seandainya Lugalgin mengirim pesan padaku untuk menanyainya pun juga akan aku jawab."


"Jadi, kenapa?"


"Kalau boleh jujur, aku ingin melepaskan Lugalgin dari semua beban yang dia pikul."


"Eh?"


Maila mulai bercerita. Selama tiga tahun di SMA yang sama, Maila menyatakan tidak pernah melihat sosok Lugalgin yang sebenarnya. Semua yang dilakukan Lugalgin terkesan selalu terhitung, terkalkulasi dengan baik. Bahkan, emosi yang ditunjukkan oleh Lugalgin pun tampak terkalkulasi.

__ADS_1


Illuvia sudah buta dengan cintanya pada Lugalgin dan Arde terlalu mengidolakan Lugalgin. Hanya Maila seorang yang mampu melihat bagaimana Lugalgin memalsukan semua emosi dan ekspresi yang dia tunjukkan.


Keadaan Lugalgin pun semakin parah sejak berita pembantaian keluarga Cleinhad. Sejak saat itu, Lugalgin tampak semakin menutup diri. Maila tidak sanggup melihat Lugalgin yang terus menutup diri dan hanya menunjukkan ekspresi yang terkalkulasi. Oleh karena itu, dia mulai menyusun rencana untuk membunuh Lugalgin. Setidaknya, kalau tewas, Lugalgin tidak perlu menderita lagi.


"Yah, rencana awalnya seperti itu. Namun, sekarang, ketika melihat Lugalgin di ambang kematian, aku tidak terlalu yakin."


Yah, benar. Dia belum pernah melihat orang tewas oleh perbuatannya. Jadi, aku tidak terkejut kalau sekarang dia menjadi ragu. Di lain pihak, aku setuju dengan ucapannya. Semua ekspresi dan emosi yang ditunjukkan oleh Lugalgin tampak terkalkulasi dengan baik. Itu adalah satu alasan kenapa Ukin dulu sangat membencinya.


"Oh, iya, kapan kalian bertemu?"


"Mungkin dua tahun lalu," Ukin menjawab. "Sekitar beberapa bulan setelah pembantaian Keluarga Cleinhad. Saat itu, aku hampir tewas dalam pekerjaan, terlantar di pinggir jalan, dan dia menolongku. Sejak saat itu, aku mulai beraktivitas di pasar gelap dengannya."


"Ah, serius? Klise sekali!" Aku memberi respons dengan nada tinggi.


"Hahaha, aku juga berpikir demikian," Ukin setuju. "Ngomong-ngomong, bagaimana kakimu?"


"Kakiku sudah tidak bisa digerakkan, makanya aku menggunakan eksoskeleton seperti ini." Aku menyentil logam yang terpasang di kakiku. "Namun, berkat itu, kekuatan pengendalianku bertambah. Bahkan kakiku yang digerakkan oleh eksoskeleton bisa bereaksi lebih cepat dari sebelumnya."


"Sama-sama."


Ukin merespons seolah aku akan mengucapkan terima kasih. Yah, sudahlah.


Aku kembali menaruh pandangan di teropong.


"Lugalgin, tolong jangan mati."


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1



__ADS_2