I Am No King

I Am No King
Chapter 213 – Bukan Waktunya


__ADS_3

"Hah?"


Entah kenapa, tiba-tiba saja, perasaanku tidak enak. Bahkan, perasaan tidak enak ini mampu mengalihkan kesedihan yang semalam kurasakan atau rasa bersalah yang tadi pagi muncul. Ada apa ini?


Teet Teet Teet


Tepat setelah perasaan tidak enak itu muncul, smartphoneku berbunyi sangat keras. Bunyi ini akan muncul secara otomatis ketika sistem keamanan rumah aktif.


Apa ini berarti Emir dan Inanna diserang?


Aku langsung membuka smartphone dan memunculkan proyeksi ke udara. Di udara, di depanku, terlihat 16 persegi menampilkan gambar yang berbeda. Namun, aku fokus pada kamera nomor dua dari kanan dan bawah. Di situ, aku melihat sosok Inanna yang tergeletak, tidak bergerak.


DI gambar itu, terlihat Inanna yang terluka. Bahkan, sebagian tubuhnya tampak hangus. Apa terjadi sebuah ledakan? Aku mengarahkan pandangan ke koridor pintu dan melihat tempat itu juga sudah hangus. Selain bekas ledakan, terlihat banyak sekali peluru berserakan di atas lantai.


Aku kembali mengarahkan pandangan ke Inanna. Tidak terlihat aliran atau genangan darah dari tubuh Inanna. Tampaknya, pakaian anti peluru yang dia kenakan menyelamatkannya. Namun, aku tidak bisa lega. Walaupun mengenakan pakaian anti peluru, dia tetap bisa terluka. Mungkin peluru itu tidak masuk dan bersarang ke dalam tubuh Inanna, tapi peluru yang ditahan oleh kevlar masih memberi efek setara dengan ayunan palu.


Tunggu dulu! Ini bukan waktunya untuk melakukan analisis dengan tenang! Aku harus segera bergerak.


Sebelum aku mematikan layar monitor, terlihat sebuah pergerakan. Di layar, Emir datang dan melepas baju Inanna dengan cepat, memeriksa tubuhnya. Aku sedikit bersyukur ketika dugaanku terkonfirmasi, tidak ada satu pun lubang peluru di tubuh Inanna. Meski demikian, aku masih marah karena kini tubuh Inanna penuh dengan lebam.


Setelah memastikan kondisi Inanna, Emir mengeluarkan telepon dari saku.


Sebuah alunan musik terdengar dari handphone. Panggilan ini hanyalah suara. Emir tidak melakukan panggilan video. Dia pasti menyadari aku sudah melihat kondisi rumah melalui kamera keamanan.


Aku mengangkat telepon. "Emir, bagaimana kondisi Inanna?"


[Antara baik atau tidak,] Emir menjawab. [Kita beruntung tidak ada satu pun peluru yang bersarang di tubuhnya. Namun, kini tubuhnya penuh dengan lebam. Dan, selain itu...]


"Selain itu?"


[....aku akan jelaskan nanti. Yang jelas, Inanna membutuhkan pertolongan secepat mungkin.]


"Baiklah. Aku tutup teleponnya."


[Terima kasih.]


Aku berjalan ke peti arsenal sambil membuat telepon lain.


[Gin?]

__ADS_1


Selain suara Ibla, aku mendengar tembakan dan ledakan di latar.


"Ibla. Serangan di rumahku?"


[Saat ini, kami sedang berusaha melumpuhkan serangan mereka. Namun, sangat susah. Selain serangan langsung, mereka juga melancarkan serangan jarak jauh dengan menggunakan artileri dan mortar. Pergerakan kami pun terkunci. Dan, karena Inanna sudah tidak bisa bertarung, kami kesulitan menghentikan peluru mereka.]


Aku membuka peti arsenal dan mengambil sebuah laptop. Laptop ini terhubung dengan sistem keamanan yang tersebar di sekitar rumahku. Karena serangan keluarga Alhold beberapa saat lalu, banyak tetanggaku yang memilih untuk pindah. Bahkan, aku membeli rumah mereka lebih mahal dari harga pasar, dengan anggaran belanja kerajaan tentu saja.


Sebagian besar pemukiman di sekitar rumahku kosong dan kupasang perangkap. Sebelumnya, banyak sekali penyerang yang mencoba memasuki rumah kosong di sekitar dan terjebak, tewas di dalamnya.


Namun, tampaknya rumor kalau rumah-rumah kosong itu sudah kupasang perangkap telah tersebar. Penyerang yang sekarang tidak ada yang menempati rumah kosong. Mereka memilih untuk membawa truk atau kendaraan tinggi lain dan membuat perlindungan di atasnya.


Sayangnya, tentu saja, aku tidak memasang jebakan di jalanan. Maksudku, jalan masih fasilitas umum. Kalau ada orang yang tidak tahu apa-apa lewat dan terkena jebakan, mereka bisa tewas. Namun, tentu saja, ini tidak membuatku diam begitu saja.


Melalui laptop, aku memeriksa keadaan setiap sudut area di sekitar pemukiman. Setelah memastikan keberadaan semua penyerang, aku menyalakan program baru dan sebuah tampilan dengan lingkaran bidik muncul. Meski tidak memasang perangkap, aku memasang beberapa senapan sniper yang bisa dioperasikan melalui laptop.


Tidak ada penyerang yang menyadari keberadaan senapan sniper ini, jadi aku bisa membidik mereka semua secara bersamaan dan mudah. Tidak kuduga, jumlah penyerang kali ini cukup banyak, mencapai 70 orang. Di lain pihak, anggota Agade yang berjaga hanya 15 orang, tidak termasuk Emir, Inanna, dan 4 anggota elite.


Kalau seandainya tidak ada serangan artileri dan mortar, semua penyerang ini pasti sudah dilumpuhkan oleh para anggota elite. Jika Inanna masih sadar, dia bisa menghentikan peluru artileri. Untuk peluru biasa, anggota elite bisa menghentikannya dengan menggunakan pelindung baja atau benda sejenis. Dengan kata lain, tampaknya, penyerang kali ini sengaja menyerang Inanna di awal.


Aku menekan tombol enter dan semua orang di layar yang tidak kukenal pun terjatuh, tewas. Sebuah peluru sudah mendarat di kepala atau menembus leher, memastikan kematian mereka. Anti klimaks, aku tahu. Dengan ini, setidaknya baku tembak dan mortar sudah bisa dihentikan.


"Ya, aku yang membunuh mereka! Sekarang, aku butuh sumber artilerinya!"


Ya. Aku sudah membunuh semua orang, tapi artileri tetap menjadi masalah utama. Meski rumah itu sudah aku desain untuk menahan peluru kaliber 210 mm, tapi kalau dibombardir terus menerus, apalagi kalau kebetulan mendarat di titik yang sama, hanya tinggal menunggu waktu hingga roboh. Dan, saat ini, aku sama sekali tidak ada niatan untuk mencari tahu berapa lama rumahku bisa bertahan.


[Sudut datang 56 derajat, arah 7 derajat West. Sebentar," Ibla berhenti sejenak. [HEY! PERKIRAAN KECEPATAN PELURU!]


Terdengar suara Ibla yang berteriak pada seseorang. Di latar, aku mendengar teriakan balasan.


Sementara Ibla mencari sumber peluru artileri, aku mulai bersiap dan mengambil benda yang paling salah tempat di dalam peti arsenal, out of place.


Sumber artileri adalah arah 7 derajat west. Berarti tempat artileri ini berada di utara dari rumah. Gudang senjata ini berada di selatan. Dengan kata lain, untuk mencapainya, aku harus melewati kota, pergi dari ujung ke ujung. Kalau pun pesawat yang dikendarai Mari dan yang lain bisa digunakan, mereka tidak akan bisa menghentikan bombardir ini.


Kenapa? Karena sumber bombardir ini pastilah salah satu markas penyerang. Atau pun kalau bukan markas, pasti ada puluhan atau bahkan ratusan orang yang berjaga. Satu-satunya cara adalah.....


Aku terdiam. Tidak mampu berpikir lagi. Apa aku benar-benar akan melakukan ini?


[Ketemu! Tempatnya adalah lapangan Golf Emeza. Lapangan golf ini dimiliki dan dikelola oleh Apollo, satu dari enam pil– Gin? Gin?]

__ADS_1


Aku masih mendengarkan ucapan Ibla dengan baik. Namun, karena kami tidak melakukan panggilan video, dia tidak tahu apakah aku masih mendengarkan atau tidak. Dia berteriak berkali-kali, terdengar putus asa.


[Gin! Gin! Kamu tidak apa-apa? Ada apa? Gin?]


"Ya, aku baik-baik saja. Tidak ada serangan. Aku hanya sedang berpikir."


Aku paham apa yang terlintas di pikiran Ibla. Dia pasti khawatir tempat ini, dan aku, diserang oleh musuh.


[Gin?]


Suara lain terdengar. Sekarang, telepon tidak hanya dua arah antara aku dan Ibla. Mulisu juga sudah memasuki diskusi. Sejak awal, telepon ini merupakan saluran terbuka bagi anggota elite Agade. Jadi tidak heran kalau ada anggota yang tiba-tiba masuk di tengah.


[Aku akan berangkat dengan salah satu pesawat.]


[Bagus! Aku akan memberi arah–]


"Dan apa yang akan kamu lakukan di sana?" Aku menyela Ibla. "Logam di pesawat itu tidak terlalu banyak. Dengan ukurannya yang hanya sebesar mobil, bahkan kamu tidak akan bisa membuat satu lipan raksasa. Dan kamu tidak memiliki pengendalian timah seperti Inanna. Jadi, kamu tidak akan bisa bertahan kalau mereka menghujanimu dengan peluru. Agade tidak bisa kehilanganmu."


[Lalu apa yang harus kita lakukan? Menunggu hingga rumahmu roboh? Membiarkan Emir dan Inanna tewas begitu saja?]


"KARENA ITU AKU SEDANG BERPIKIR!"


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1



__ADS_2