I Am No King

I Am No King
Chapter 285 – Izin


__ADS_3

[Jadi, sekarang, dia menetap di kamarmu?]


"Jangan khawatir. Ibla sudah mengganti kamarnya menjadi double bed. Jadi, kami tidak akan tidur satu ranjang."


Hari ini benar-benar kacau. Setelah perseteruan tadi, aku membawa Rina bersamaku. Aku beruntung dia adalah perempuan Alhold. Dengan dadanya yang datar, hanya dengan memberinya hoodie dan kaca mata, Rina sudah tampak seperti laki-laki.


Aku mengatakan pada Zortac kalau laki-laki yang bersamaku adalah salah satu orang intelijen. Alasan kenapa aku mengetahui keberadaan dan kehadiran penghilang pengendalian tipe optik juga berkat agen ini. Ya, semua itu bohong. Dan , tentu saja, Ibla mengetahuinya. Namun, itu tidak penting.


Aku membeberkan semua informasi yang kudapat dari Rina pada Zortac dan Ibla, terutama mengenai kerajaan Nina yang berniat mengobarkan perang ke seluruh benua. Aku memiliki perkiraan kenapa Ratu Nina melakukan itu, tapi tidak mengatakannya. Di lain pihak, Ibla dan Zortac juga memiliki perkiraan sendiri. Mereka menduga kerajaan Nina berniat menjadikan perang ini menjadi perang dunia.


Kondisi saat ini adalah intelijen dari berbagai penjuru dunia mencegah agar tidak ada negara sekutu di luar benua yang ikut terlibat. Kalau perang sampai menyebar ke seluruh benua, mau tidak mau, sekutu-sekutu tersebut akan bergerak. Mereka tidak mau kehilangan negara yang berhutang menjadi hilang.


Kalau negara tersebut hilang, hutang yang mereka beri akan hilang untuk selamanya. Kalau seandainya tidak memiliki hutang, para sekutu tidak akan peduli walaupun negara tersebut hancur. Bahkan, saat ini, yang menekan sekutu Mariander agar tidak bergerak adalah negara-negara lain yang tidak ingin perang dunia meletus. Dengan kata lain, mereka harus merelakan hutang kerajaan Mariander.


Namun, kalau perang sudah membara di seluruh benua, tidak ada alasan lagi sekutu masih diam. Dengan embel-embel akan meningkatkan impor setelah pelebaran wilayah, Nina bisa menggoda sekutunya.


Kalau dipikir menggunakan logika normal, aku akui, ucapan Zortac sangat masuk akal. Namun, sayangnya, yang melakukan ini adalah keluarga Alhold. Jadi, aku meragukannya. Meski demikian, aku tidak menyatakan keraguan ini. Aku membiarkan mereka begitu saja.


Setelah selesai, kebetulan, pasukan masih berkumpul di pelabuhan dan area sekitar. Jadi, Zortac dan Ibla langsung memberiku tur untuk muncul di depan semua orang. Kami menemui tentara-tentara berpangkat brigadir jenderal hingga kapten. Kami hanya bertukar salam dan Zortac menjelaskan bagaimana jaringan informasi dan senjata penghilang pengendalian telah memberi banyak kontribusi.


"Lihat! Itu Lugalgin Alhold!"


"Eh? Regal Knight terkuat itu?"


"Regal Knight? Dia itu kepala intelijen."


"Apa benar dia yang memasok peluru penghilang pengendalian."


"Aku dengar dia juga yang menghancurkan penghilang pengendalian yang tadi digunakan."


"Kita benar-benar beruntung dia bukan musuh."


Ketika berjalan melewati tentara dan pangkalan, tentu saja, perbincangan mengenai diriku tidak terelakkan. Pandangan para tentara ini pun tidak lepas dariku. Apalagi aku dipandu oleh Mayor Jenderal.


Di lain pihak, Rina hanya diam seharian. Dia memainkan peran orang pemalu dan hanya akan berbicara denganku. Setelah kunjungan selesai, acara dilanjut dengan makan malam bersama dengan Zortac dan beberapa Brigadir Jenderal.

__ADS_1


Dan, setelah semua itu selesai, aku pergi ke hotel yang sudah dipesan oleh Ibla. Sebelumnya, kamar yang aku tempati adalah presiden suite di lantai paling atas dengan single bed besar. Namun, Ibla sudah menghubungi pihak hotel untuk segera mengganti kasurnya dengan dua kasur besar. Aku benar-benar bersyukur dia bergerak cepat.


Setelah mandi¸ Rina langsung merebahkan badan ke kasur, tertidur. Aku, di lain pihak, harus memberi laporan pada Emir dan Inanna. Mereka sudah aku beri telepon candybar anti sadap, jadi aku bisa berbicara dengan tenang. Aku harus menyampaikan semua informasi dan keadaan pada Emir dan Inanna. Aku tidak mau mereka khawatir.


Untuk menambah pengamanan, aku meminta Ibla menaruh beberapa orang Agade yang dia bawa berjaga. Aku tidak mau ada kebocoran informasi, baik ke pihak Nina maupun ke militer Bana'an.


Saat ini, aku menelepon Emir dan Inanna di balkon. Sayangnya, telepon candybar ini tidak memiliki fitur proyeksi. Jadi, aku harus menempelkannya di telinga. Meski ada fitur loud speaker, aku tidak menggunakannya. Kalau menggunakan fitur tersebut, sama saja aku membeberkan informasi ke semua orang.


[Namun, gin, aku tidak mengira kalau ideku akan dilakukan oleh Ratu Amana.]


"Jangankan kamu, Inanna. Bahkan putrinya sendiri tidak menduga kalau dia akan melakukan ini."


[Ya, setidaknya, kita juga bisa mencari inkompeten lain untuk dijadikan kambing hitam kalau terpaksa.]


Inanna mengatakan semua itu tanpa keraguan. Aku tidak tahu apakah perempuan ini memang logis atau sadis. Namun, ucapannya memang benar.


"Ngomong-ngomong, Emir, Inanna, kenapa kalian tidak marah aku tidur satu kamar dengan Rina. Apa kalian tidak khawatir aku bercinta dengannya?"


[...]


[Jujur, Gin,] Emir membuka pembicaraan. [Sebenarnya, aku sendiri khawatir dan takut kamu melakukannya. Namun, aku merasa, kami tidak memiliki hak untuk melarangmu.]


"Tidak memiliki hak? Apa maksud kalian? Kalian calon istriku! Tentu saja kalian punya hak! Aku bisa bercinta dengan orang lain, tahu. Dan apa kalian ingat saat Yuan datang? Kalian menginterogasiku dan bahkan menangis. Aku masih ingat jelas kejadian itu."


[Itu....] Emir ragu, tidak bisa memberi konfirmasi.


[Gin,] Inanna menyela. [Jujur, kami sendiri juga agak ragu kali ini.]


"Kenapa begitu?"


Inanna menjelaskan, [Pertama, intervensi kami saat itu membuatmu jadi ragu, kan? Dan gara-gara intervensi kami lah kamu terluka parah. Jujur, aku tidak mau melihatmu terluka parah lagi.]


"...."


[Kedua, Rina berada di posisi yang sama denganku dan Emir, tuan putri yang dikhianati oleh keluarga sendiri. Sebagai tuan putri, normalnya, tidak ada pihak yang berani menolong kami. Tapi–]

__ADS_1


[Tapi kamu melakukannya!] Emir melanjutkan. [Jika orang normal lain, pasti mereka hanya akan menuruti ucapan Raja, tapi kamu tidak melakukannya. Kamu menentang ayah kami, seorang Raja, untuk melindungi kami. Tidak banyak orang sepertimu. Bahkan, aku tidak pernah bertemu dengan orang sepertimu.]


"Ah, begitu ya. Iya, iya, aku paham. Meski ada alasan kalian tidak ingin membuat ragu atau khawatir, yang sebenarnya adalah kalian melihat Rina sebagai sosok kalian di masa lalu. Dan, kalau kalian melarangku untuk menolongnya, seolah kalian munafik, begitu?"


[[Ya...]] Emir dan Inanna menjawab bersamaan.


Dua calon istriku ini benar-benar baik.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


__ADS_1


__ADS_2