
"Ahh ...."
Dimana aku?
Aku bangkit dan melihat sekitar. Saat ini, aku berada di kamar dengan desain minimalis.
"Lugalgin? Emir? Inanna?"
Kemana semua orang? Apa yang terjadi?
Aku berusaha mengingat semua kejadian. Kami tengah diserang oleh militer Nina. Lalu, aku menusukkan serum pembangkit. Di saat itu, Lugalgin, yang sebelumnya cemberut, justru tersenyum. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.
Tidak mungkin! Tidak mungkin! Aku tidak mau menerimanya! Lugalgin pasti tahu kalau aku akan menggunakan serum pembangkit dan dia menggantinya dengan obat tidur. Dia pasti sengaja tidak menghilangkan serum pembangkit agar aku lengah, tidak memikirkan alternatif lain.
"LUGALGIN!"
Aku mencoba berdiri dan berlari. Namun, belum ada satu langkah, tubuhku terasa berputar, membuatku terjatuh.
"Rina?"
"Emir?"
Di pintu yang terbuka, muncul Emir. Dia langsung membantuku bangkit dan mengembalikanku ke kasur.
"Rina, kamu baru saja tidur seharian. Jangan langsung bergerak."
"Dimana Lugalgin? Apa yang dia lakukan?"
Emir tidak menjawab. Dia hanya tersenyum masam.
"Rina, lebih baik kamu makan dulu."
Inanna muncul dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Inanna tidak menggunakan pengendalian untuk membawa nampan, tapi tangan.
"Tapi Inanna–"
"Makan. Ibu hamil tidak boleh kekurangan makan. Setelah makan, baru kami akan jelaskan."
__ADS_1
Entah kenapa, Inanna yang biasanya lunak dan penurut berubah menjadi tegas. Aku ingin tahu detail kejadian, tapi instingku mengatakan tidak bijak untuk menentang Inanna. Aku pun mulai memakan sup hangat yang dibawa oleh Inanna.
Aku kira akan memakan sup ini dengan ogah-ogahan, terpaksa. Namun, setelah asupan pertama, aku baru menyadari betapa laparnya perut ini. Aku memakan sup ini dengan cepat dan lahap.
"Rina, jangan lupa kalau kamu hamil. Jadi, kamu tidak boleh kekurangan makan."
Ah, begitu ya. Jadi laparku ini karena hamil. Sial! Kalau tahu hamil akan merepotkan seperti ini, aku akan meminta Lugalgin untuk selalu mengenakan pengaman. Namun, di lain pihak, aku juga membutuhkan anak ini agar kerajaan Bana'an mengakui pernikahanku dengan Lugalgin.
Tidak! Tidak! Rina, jangan kamu berpikir anak ini sebagai alat untuk mencapai tujuan! Jangan sampai kamu menjadi seperti ibu! Jangan!
Tidak lama, aku menghabiskan sup ini. Sebelum meminum teh, aku menambahkan beberapa balok gula. Saat aku menenggak teh manis ini, Inanna memberi penjelasan.
Setelah aku tertidur, Lugalgin membuat kubah raksasa untuk melindungi kami semua. Menurut laporan anggota Agade yang tersebar, Lugalgin telah menghancurkan seluruh pangkalan militer di wilayah Anshan.
"Lalu, Lugalgin?"
Inanna menggeleng. "Dia menghilang. Tidak ada tanda-tanda atau informasi mengenai keberadaannya."
"Lalu, kenapa kamu tampak tenang, Inanna?"
"Karena dia adalah Lugalgin."
"Rina," Emir masuk. "Lugalgin bukanlah seorang yang lemah. Dia adalah murid Lacuna, mercenary terkuat. Identitas lain Lugalgin adalah Sarru, pendiri sekaligus pemimpin Agade. Dia juga kepala intelijen Bana'an. Dan, jangan lupa, Lugalgin mampu membersihkan keluarga Cleinhad tanpa membuka identitasnya. Dia adalah Lugalgin Alhold, suami kita. Apa kamu tidak mampu memercayai suamimu?"
"Tidak! Ucapan kalian salah! Lugalgin manusia juga. Dia bukanlah dewa atau makhluk abadi. Dia bisa mati. Dia ... dia ...."
Aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan. Rasanya, aku sangat ingin menyanggah dan menolak semua ucapan Inanna dan Emir. Namun, entah kenapa, tidak ada yang bisa keluar dari mulut ini. Seharusnya ada seribu satu alasan yang bisa digunakan untuk menolak ucapan mereka.
"Intinya Lugalgin bisa mati. Kalau Lugalgin tewas, tidak ada alasan Bana'an dan pasar gelap mau membantuku."
Setelah berusaha, hanya sanggahan itu yang muncul.
Inanna menyeringai. "Rina, ingat, janin di rahimmu adalah anak Lugalgin. Kandunganmu sudah menjadi alasan untuk Bana'an dan pasar gelap melindungimu. Menurutmu bagaimana respons Lugalgin ketika dia kembali dan tahu istri dan anaknya sudah ditelantarkan begitu saja? Jadi, dengan menjaga kehamilan, kamu akan mendapatkan perlindungan dari Bana'an dan pasar gelap."
"Ta, tapi ...."
Ketika aku berusaha untuk tidak menganggap janin ini sebagai alat, Inanna justru menyatakan hal yang sebaliknya.
__ADS_1
"Rina," Emir menyela. "Kenapa kamu begitu bersikeras kalau Lugalgin sudah tewas dan kamu akan ditelantarkan? Apakah kamu takut ditinggalkan?"
Tubuhku terentak ketika mendengar ucapan Emir.
Apa aku takut ditinggalkan? Tidak mungkin. Tidak ... mungkin? Entahlah. Aku tidak yakin. Mungkin aku memang takut ditinggalkan.
Aku sudah ditinggalkan oleh ibu dan hampir semua kenalan di kerajaan Nina. Bahkan, Tera pun sudah meninggalkanku.
Ketika aku dalam kondisi paling jatuh, justru orang dari kerajaan lain, Lugalgin, yang datang dan menerimaku. Bukan hanya Lugalgin. Emir, Inanna, keluarga Lugalgin, keluarga Inanna, Agade, dan Mulisu juga menyambutku. Mereka tidak membenciku walaupun aku terus mengatakan kalau pernikahan dengan Lugalgin hanyalah diplomasi.
Apa ini berarti, aku takut ditinggalkan oleh orang-orang yang baru kukenal ini?
"Oke, mari kita kesampingkan pembicaraan soal Lugalgin." Emir memotong pemikiranku. "Sekarang, aku akan memberi update apa saja yang sudah terjadi saat kamu tertidur."
Aku mendengarkan penjelasan Emir dan Inanna dengan saksama.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1