
"Jangan lari! Nanti kalian jatuh!"
"Baik ...."
Anak-anak. Tidak peduli sesering apa pun diingatkan, mereka tidak akan pernah menurut kalau belum jera.
Aku sebenarnya ingin keluar dan berlari. Namun, luka ketika revolusi mencegahku. Terlalu menyepelekan sih kalau bilang luka. Kaki kananku, mulai dari lutut hingga telapak, sudah hilang karena tertimpa material bangunan. Sejak saat itu, aku menggunakan kaki palsu. Meskipun masih bisa beraktivitas normal, staminaku menurun drastis. Ditambah dengan usia yang terus bertambah, aku tidak bisa menemani anak-anak dengan cepat.
[Pemirsa. Saat ini saya berada di tepi danau Mein. Di belakang saya Anda dapat melihat Presiden Lowe berjalan untuk menaiki kapal. Seperti yang kita tahu ... ]
Sudah hampir 1 dekade sejak revolusi mengubah Mariander menjadi republik. Meski mengatakan revolusi, hampir tidak ada satu pun anggota keluarga kerajaan yang tersakiti. Keluarga Selir langsung menyerah ketika kami menyerang. Keluarga Raja dan Permaisuri inti sudah menghilang ketika kami tiba di istana. Hingga hari ini, kami tidak tahu dimana mereka berada.
Setelah republik Mariander berdiri, hampir semua anggota revolusi True One menduduki posisi penting di pemerintahan. Namun, tidak satu pun dari kami yang pernah memegang posisi presiden. Bukan tidak sanggup, tapi tidak mau. Anggota True One lebih percaya mereka bisa mencegah kemunculan tirani kalau tidak berada di puncak pemerintahan.
Lalu, sebagian kecil, memilih untuk berkecimpung di luar dunia pemerintahan.
"Pak kepala, jangan terlalu memaksakan diri. Ingat usia."
Nin tiba-tiba muncul dari dalam rumah dan menegurku. Perempuan bekas bangsawan ini, entah kenapa, memilih untuk menghabiskan hidupnya bersama orang tua sepertiku.
Bersama Nin, beberapa nampan dengan teko dan piring melayang di belakangnya. Tentu saja aku mengenakan lensa dan kaca mata berwarna untuk mencegah mematikan penghilang pengendalian.
Aku, dan Shera memutuskan untuk mendirikan panti asuhan setelah mendengar kisah Maul. Nin ikut di tengah. Kami juga melakukan hal ini sebagai upaya penebusan karena menyandera panti asuhan di masa lalu. Percobaan pertama sekaligus terakhir yang digagalkan oleh Lugalgin. Lugalgin, terima kasih karena kamu menggagalkan serangan kami saat itu.
"Aku tidak memaksakan diri. Dan, Nin, aku bahkan belum mencapai kepala 4."
"Tapi kaki Anda Pak ...."
Entah kenapa, ketika orang lain yang bilang soal kaki dan usia, aku merasa ingin berontak.
"Dan, Nin, tolong berhenti memanggilku pak. Kita adalah rekan. Bertahun-tahun kita memperjuangkan revolusi. Ketika kamu memanggilku Pak, entah kenapa, jarak kita terasa jauh."
__ADS_1
"Hah ...." Nin menghela napas. "Maaf, Pak. saya belum bisa melakukannya selama tamu kita belum pulang."
"Mereka belum pulang?"
"Kalau sudah, Bu Shera pasti sudah kesini, kan?"
Nin meletakkan nampan dan teko di atas meja. Kini, meja di samping kananku sudah terdapat camilan dan es teh herbal. Setelah anak-anak capek, mereka bisa beristirahat sambil menikmati camilan dan minuman.
Sementara aku duduk, Nin masih berdiri. Sesekali dia berteriak, mencegah anak-anak yang berlari terlalu kencang. Ada juga momen ketika Nin berlari ke taman karena ada yang terjatuh. Di saat itu, Nin akan berusaha menghibur anak yang terjatuh, membuatnya berhenti menangis. Terkadang, Nin membawa mereka kembali ke teras untuk menikmati camilan dan minuman dingin.
Sementara aku dan Nin berada di taman belakang, Shera masih berada di ruang depan, berbicara dengan perwakilan perusahaan. Karena pengurus dan pemilik panti asuhan ini adalah tokoh revolusioner, pemerintah dan perusahaan berlomba-lomba mengucurkan dana. Dengan demikian, mereka bisa meningkatkan image. Tidak jarang kami menolak dana berlebih dan memberi referensi panti asuhan lain yang membutuhkan.
"Akhirnya selesai juga."
"Terima kasih banyak."
Aku berusaha bangkit. Namun, Shera menahan pundakku, memberi isyarat agar aku tidak perlu berdiri.
"Begini saja cukup kan?"
Perempuan berambut panjang dikuncir ini merendahkan badan dan memegang daguku. Wajahnya begitu dekat. Aku bahkan bisa merasakan napasnya menyentuh kulitku. Pandangan yang tajam dipadu dengan senyum menawan membuatku semakin jatuh hati. Perlahan, wajah kami mendekat.
"Eits, masih sore, masih banyak anak-anak!"
"Yah..."
Shera melepaskan daguku dan kembali berdiri tegak, mengalihkan pandangan ke taman. Shera yang tersenyum lebar, tampak lega dengan pemandangan anak-anak yang bermain dan bahagia.
"Ngomong-ngomong, Shera, apakah kamu sudah berbicara dengan Nin?"
"Tentu saja sudah."
__ADS_1
"Lalu?"
"Dia bilang tidak tertarik. Dia tidak ingin pergi ke Bana'an dan ingin menghabiskan waktu di sini saja, bersama kita."
"Ah, begitu ya."
Jujur, aku tidak tahu harus senang atau tidak dengan keputusan Nin. Dia bercerita kalau salah satu anggota Agade, organisasi pasar gelap yang didirikan Lugalgin, menawarinya posisi. Nin tidak melupakan ucapannya pada Lugalgin dulu. Namun, pada akhirnya, Nin tidak mengambil tawaran tersebut.
"Lalu? Kekasihnya?"
"Entahlah. Beberapa hari lalu dia datang, mengatakan ingin meminang Nin. Namun, setelah itu, tidak ada kabar lanjut. Ah, laki-laki ini serius atau tidak sih?"
"Apa menurutmu laki-laki itu mundur ketika mengetahui Nin bekerja di panti asuhan?"
"Seharusnya tidak. Dia pasti sudah tahu mengenai Nin yang bekerja di sini. Mungkin ada alasan lain yang membuatnya mundur."
"Iya juga sih."
"Sudahlah. Aku mau ke dapur. Sudah waktunya masak untuk makan malam."
Shera berbalik dengan cepat dengan nada sedikit meninggi. Tampaknya dia sedikit kesal.
"Biar aku bantu."
"Tidak usah."
"Biar aku bantu."
"... baiklah."
__ADS_1