
~Ninlil's POV~
"BUKA PINTU!"
Aku pergi ke rumah utama. Rumah utama Alhold tampak seperti kastel. Sebuah dinding setinggi empat meter dan parit memisahkan tempat ini dari kompleks perumahan Alhold.
"Apa kau menyesal?"
"Sudah seharusnya."
Dua paman penjaga gerbang ini mengobrol tidak jelas. Mereka mengatakan sesuatu tentang berkhianat pada keluarga Alhold dan sebagainya.
Selain di rumah kakak, aku juga menyimpan beberapa rol kabel aluminium dan tombak pendek di tempat lain. Dan, saat ini, aku juga mengenakan jubah, menyembunyikan delapan rol kabel yang terpasang di pinggang.
"Kau mendengarkan tidak?"
"Kalau kalian tidak mau membuka pintu, biar aku yang membukanya."
Aku mengendalikan dua tombak pendek yang terikat pada kabel aluminium dan menancapkannya ke pintu gerbang. Pintu gerbang ini terbuat dari aluminium, jadi aku bisa mengendalikannya dengan mudah.
"Apa yang kau lakukan?"
Aku mengayunkan pintu, menghempaskan dua paman yang berjaga, jauh. Kalau tidak memiliki aluminium di tubuh atau pakaian, pasti mereka akan tewas karena jatuh dari ketinggian. Namun, mungkin tidak. Mungkin pukulan dari pintu aluminium yang baru kulancarkan sudah menghancurkan tulang-tulang di tubuh mereka.
"DIMANA KAKEK!?"
Aku masuk ke dalam bangunan utama.
Di dalam, terdapat sebuah taman yang begitu besar. Di belakang taman, terlihat sebuah rumah besar. Sebuah lorong tanpa dinding menghubungkan rumah besar dengan dua bangunan kecil di samping.
Bagian depan tampak indah. Namun, di bagian belakang, terdapat lapangan dan beberapa ruang bawah tanah. Tempat-tempat itu digunakan untuk melatih semua anggota keluarga Alhold. Ibu yang dianggap berasal dari luar tidak pernah memasuki tempat itu. Kakak tidak pernah masuk karena dia inkompeten. Aku juga tidak pernah masuk karena kami sudah pindah dari kompleks perumahan Alhold sebelum menginjak usia 7 tahun.
Aku hanya mendapat informasi mengenai tempat latihan itu dari anak-anak keluarga Alhold yang kebetulan satu sekolah dengan. Tempat latihan itu juga lah yang membuat anak-anak keluarga Alhold merasa percaya diri di sekolah.
"Ninlil, apa yang–"
Aku tidak membiarkan paman yang tidak kukenal menghalangi. Sebelum dia menyelesaikan kalimat, aku sudah meluncurkan sebuah pintu ke arahnya.
Paman itu mengarahkan tangan ke depan, berusaha menghentikan pintu yang melayang. Karena dia keluarga Alhold, maka paman itu juga pasti mampu mengendalikan aluminium. Normalnya, pintu itu akan terhenti di depannya, tapi, tidak dengan sekarang. Pintu itu menerjangnya dengan cepat, menimpanya. Tidak hanya menimpa, aku juga menekan pintu ke tanah, melumatkan paman itu.
__ADS_1
"Nin–"
Orang lain muncul. Kali ini seorang perempuan yang mungkin seumuran denganku. Aku tidak peduli kalaupun dia seumuran. Sebelum dia sempat memanggil, aku sudah melumatkannya.
"DIMANA KAU KAKEK TUA!?"
Tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba saja, dari belakang bangunan, muncul puluhan orang. Aku tidak pernah memedulikan keluarga Alhold, jadi aku tidak tahu apakah mereka anggota keluarga atau bukan. Dan aku tidak peduli.
"KATAKAN PADAKU DIMANA KAKEK TUA ITU!"
Tidak ada yang menjawabku. Mereka langsung maju menerjangku dengan membawa tongkat, pemukul, dan senjata tumpul lain. Mungkin mereka berusaha tidak membunuhku. Dengan dua pintu gerbang, aku melumatkan beberapa orang sekaligus. Lalu, aku mengirim enam tombak yang tersisa untuk menusuk kepala beberapa orang dan mengambil aluminium lain.
Aku mengambil satu pemukul yang tergeletak di tanah dengan kabel dan mengubahnya menjadi pedang. Aku tidak berlari, tapi berjalan. Ketika ada yang berhasil melewati serangan pintu dan tombak, aku memotong orang itu dengan pedang. Terkadang, ada anak-anak yang juga menerjangku.
Kalau yang saat ini menyerang adalah kakak, mungkin dia akan mengampuni anak-anak itu. Aku tahu kalau kakak pasti merasa bersalah atas tragedi yang menimpa panti asuhan Sargon. Hal ini juga lah yang membuat anak-anak keluarga Cleinhad tidak dibantai, tapi dibiarkan hidup.
Namun, aku berbeda. Aku tidak peduli apakah mereka sudah dewasa atau anak-anak. Kalau mereka keluarga Alhold, mereka adalah musuh. Dan lagi, aku juga masih SMP. Secara umur aku masih anak-anak, kan? Jadi, aku tidak perlu merasa bersalah.
Dua bola besar melayang. Namun, karena terbuat dari aluminium, aku bisa menusuknya dengan tombak dan mengendalikannya. Kini, aku memiliki dua pintu dan dua bola besar. Pembantaian ini terus berlangsung.
Akhirnya, setelah beberapa menit berlalu, tidak ada lagi orang yang menerjangku. Taman yang sebelumnya indah dan hijau telah tiada. Warna hijau tumbuhan telah digantikan oleh warna merah darah. Ranting dan dedaunan telah digantikan dengan besi dan anggota tubuh manusia.
"Hah?"
Aku mengenal suara ini. Ya. Suara ini seharusnya berada di pihakku, pihak kakak, pihak ibu. Namun, dia telah mengkhianati kami semua dan kembali ke keluarga Alhold. Laki-laki berambut hitam dan mata hitam dengan wajah setengah berkeriput itu berdiri di depan pintu rumah. Barun.
Dia tidak berdiri sendiri, beberapa orang berdiri di sampingnya. Yang aku kenal hanyalah Deuter dan Chez. Sisanya? Tidak kenal!
"Kenapa aku harus berhenti?"
"Apa kau sadar kau membunuh keluargamu sendiri?"
"Hah? Keluarga?"
Aku mengayunkan bola aluminium besar ke arah Barun. Dia mengambil kuda-kuda dan mengendalikan pintu di belakangnya. Barun tidak bodoh. Dia tidak membiarkan pintu itu ditangkap oleh kabelku, tapi membiarkannya hancur bersama bola yang kukendalikan.
"Keluarga macam apa yang menyerang teman baikku?"
"Ninlil!"
__ADS_1
"Gara-gara kalian, kini, Nanna dan Suen tidak lagi memiliki keluarga dan rumah. Aku tidak akan puas sebelum seluruh keluarga Alhold mati!"
"Apa aku termasuk?"
"Apa aku harus mengulangi ucapanku? Keluarga.Alhold."
"Jangan khawatir. Meski kamu ingin membunuhku, aku tidak akan membunuhmu."
Setelah mengatakan itu, ratusan genteng yang terbuat dari aluminium melayang. Dengan sebuah jentikan jari, ayah mengirim semua aluminium itu ke arahku. Aku menggunakan dua pintu sebagai pelindung. Namun, dua pintu ini tidak bisa menahan serangan ayah. Dalam waktu singkat, kedua pintu ini pun hancur oleh hujan genteng.
Aku terpaksa melompat mundur, menghindari hujan genteng. Sial! Karena saking cepatnya, genteng-genteng itu mampu memotong kabel-kabel yang kukendalikan. Kini, aku tidak memiliki satu pun kabel yang bisa kukendalikan.
Ninlil, berpikir! Berpikir! Kamu sudah menjalani latihan bersama Kakak, Kak Emir, Kak Inanna, dan Shinar. Pasti ada yang bisa kamu lakukan!
Tanpa aku sadari, ada beberapa orang menyerang dari belakang. Tampaknya Barun membuat agar genteng yang meluncur tidak mengenai mereka. Mereka berdua melompat dan mendorongku ke tanah.
Sial! Mereka orang dewasa. Dengan tubuh yang besar itu, mereka mampu menahan tubuhku dengan mudah.
Hujan genteng logam berhenti. Di saat itu, aku mendengar suara pengkhianat itu lagi.
"Ninlil, menyerahlah. Kalau kamu menyerah, aku akan mengabaikan semua ini."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1