
~Lugalgin's POV~
"Arahkan masing-masing 2 kamera pada Enlil, Karla dan Constel."
[Baik!]
Sesuai permintaan, kamera pun fokus pada tiga orang itu. Biar aku tidak repot, aku juga mengatur tampilan proyeksinya. Satu kamera yang mengawasi Enlil akan kuletakkan di tengah kanan. Dua kamera yang mengawasi Karla ada di kiri atas dan tengah atas. Constel ditampilkan di kiri tengah dan tengah. Terakhir, Ukin, ditampilkan di kiri bawah dan tengah bawah.
Karla bertarung dengan gaya yang berbeda jika dibandingkan Enlil. Pengendalian Karla berperan cukup besar dalam pertarungan. Sementara dia menggunakan satu toya dengan ujung runcing, beberapa tongkat besi panjang melayang di sekitarnya.
Karla maju menyerang dengan toya di tangan dan beberapa tongkat besi melayang, yang tampak seperti linggis. Bagi lawan, sama saja seperti dia diserang oleh beberapa orang secara bersamaan. Meskipun Karla fokus pada satu musuh, beberapa linggis lain sibuk melayani musuh yang lain. Bahkan, walaupun Karla tidak bergerak, semua linggis yang dia kendalikan akan sibuk menyerang.
Sesekali, lawan mencoba melepas tembakan. Namun, semua tembakan itu mampu ditangkis oleh linggis melayang Karla. Hingga saat ini, tampaknya, Karla hanya bermain-main. Tidak. Kata bermain-main tidak cocok. Lebih tepatnya dia mengukur kemampuan orang yang menyerangnya.
Melalui rekaman, meski aku tidak mendengar suara Karla, aku bisa membaca pergerakan bibirnya.
"Kenapa kalian tidak menggunakan pengendalian? Antara Akadia meremehkanku atau mereka hanya uji ombak?"
Karena aku tidak yakin yang lain bisa membaca pergerakan bibir Karla, aku mengatakannya dengan kencang.
Aku juga setuju dengan ucapan Karla. Kenapa para penyerang ini tidak menggunakan pengendalian?
Kalimat itu adalah ucapan terakhir yang Karla katakan sebelum mengakhiri pertarungan. Hanya dengan satu jentikan jari, dia mengirim semua linggis ke tubuh penyerang, menembus dari berbagai arah.
"Kalau lawanku lemah, seperti ini, aku akan berbaik hati membunuh kalian dengan cepat, tanpa rasa sakit."
Sekali lagi, aku mengatakan ucapan Karla dengan keras.
Baik, saatnya mengalihkan perhati–aw... aku hampir lupa kalau Constel terkenal dengan tali bajanya.
"Ninlil, kamu jangan lihat." Aku mencoba menutup kedua mata Ninlil.
"Terlambat! Aku sudah lihat!"
Ninlil menerima tanganku dan meletakkannya di bahu.
Baiklah, aku akui kalau aku terlambat. Namun, tetap saja, aku menutupi pandangan Ninlil.
"Tetap tidak boleh!"
Pemandangan ini sangat, aku ulangi, sangat tidak nyaman dilihat, baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Kedua lawan Constel kini tidak bisa memberi perlawanan sama sekali. Tali baja yang menyelimuti kedua tangan Constel bergerak seperti tentakel. Satu tali baja terpisah menjadi beberapa tali kecil, memasuki telinga, hidung, mulut, ***** dan organ vital kedua orang itu, tidak peduli baik yang laki-laki maupun perempuan. Mereka berdua ditelanjangi dan disiksa.
Kedua orang itu bahkan tidak mampu berteriak. Mulut mereka dimasuki kabel baja yang pasti membuat bernafas menjadi sulit. Mereka berdua menangis, mengeluarkan air mata tanpa henti.
Semua orang di tempat ini, kecuali aku dan Ninlil, mengalihkan pandangan. Kalau Ninlil mau mengalihkan pandangannya, aku tidak akan perlu menutup matanya. Namun, dia terus berusaha menurunkan tanganku dari matanya. Tentu saja aku tidak membiarkannya.
Akhirnya kabel baja yang masuk keluar dari dalam tubuh mereka. Perut mereka berlubang, menunjukkan kabel baja yang menggeliat. Kedua bola mata mereka pun lepas, ditusuk dari dalam.
Aku merasa kasihan pada orang-orang ini. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah berharap mereka pingsan sebelum kabel baja itu menembus tubuh mereka.
Setelah memastikan kedua lawannya tewas, Constel melemparkan tubuh tanpa nyawa itu ke tanah. Karena lokasi tubuh sudah fix, aku mengatur proyeksi agar melakukan sensor pada tubuh tak bernyawa itu.
Aku bergerak dengan cepat karena harus melepas tangan dari mata Ninlil.
__ADS_1
"Adegan yang baru saja sudah kusensor. Sekarang kita fokus pada Ukin."
Empat perempuan yang sebelumnya mengalihkan pandangan kembali melihat ke proyeksi.
Sekarang pandangan kami semua fokus pada satu orang, Ukin. Saat ini, dia bertarung seperti Karla, membiarkan pedang yang dia kendalikan melayani lawan. Namun, berbeda dengan Karla yang mengepung lawan dengan banyak senjata, Ukin hanya menggunakan satu pedang, melayang, untuk melayani lawannya.
Sementara pedangnya melayani dua lawan, dia berbicara dengan sekretaris. Karena dia membelakangi kamera, aku tidak bisa membaca bibirnya.
Perasaanku tidak enak. Dan, benar saja. Tiba-tiba di proyeksi tengah bawah, Ukin memandang ke sini. Dia melihat ke arah kamera.
"Agen Schneider, mundur! Sekarang! Tinggalkan semua benda yang kalian bawa! Cepat!"
Tidak ada perubahan di proyeksi, jadi aku tidak tahu apakah agen yang bertugas berhasil mundur atau tidak.
"Shu En, status!"
[Mereka sudah pergi. Semua agen langsung pergi secepat mungkin ketika mendengarmu berteriak.]
"Mendengarku?"
[Ya, aku menyambungkan teleponmu ke jaringan komunikasi mereka. Komunikasi ini satu arah, jadi hanya bisa dari kamu ke mereka.]
Meski aku ingin protes, menginginkan komunikasi dua arah, tapi aku menahannya.
Tidak lama setelah para agen dikonfirmasi mundur, gambar Ukin membesar. Bukan membesar, Ukin tampak mendatangi salah satu alat perekam. Dia melayang dan mendarat di depan kamera, di proyeksi tengah bawah.
[Halo, Gin? Apa kamu mendengarku?]
Sambil melihat ke arah Ukin, sesekali, aku melirik ke layar di kiri bawah, melihat nasib dua orang terakhir. Akhirnya, mereka tidak bisa kabur dari takdir dan tewas.
[Sebelum berbicara, aku ingin bertanya, apa kau yang memberi mereka pedang dan tombak itu? Pedang yang kukendalikan terasa hilang sejenak ketika bersinggungan dengan senjata mereka.]
Hah?
[Bukan hanya itu. Bahkan, sekarang, asistenku mengatakan dia tidak bisa mengetahui material apa yang digunakan pada kedua senjata itu. Aku pun sama sekali tidak bisa merasakannya ketika melawan mereka, seolah senjata itu hanya ilusi mata.]
Tidak mungkin!
[Yah, aku tahu kamu tidak bisa memberi jawaban. Namun, sebelum itu, aku ingin mengatakan terima kasih karena kamu telah memberi senjata itu secara cuma-cuma pada kami. Sekali lagi, terima kasih ya.]
This is not good.
Di saat itu, sebuah alunan musik rock terdengar.
Suara ini berasal dari telefon lain. Aku merogoh saku dan mengambil telepon model candybar berwarna hitam. Telepon ini tersambung pada saluran yang tidak bisa disadap dan bisa melewati blok sinyal. Telepon ini lah yang kugunakan untuk berkomunikasi dengan Selir Filial, True One, dan beberapa klien VVIP.
Aku tidak perlu melihat layar untuk mengetahui siapa yang menelepon. Setiap orang memiliki nada dering masing-masing.
[Halo, Gin, apa kamu butuh bantuan untuk mengambil senjata-senjata itu?]
"Kamu ada di lokasi?"
[Apa kamu perlu bertanya?]
__ADS_1
Tidak perlu. Kalau dia menawarkan, pasti dia ada di tempat itu. Dan, karena tampaknya dia tahu isi ucapan Ukin, dia pasti menyadap saluran komunikasi intelijen.
Di satu sisi, aku prihatin dengan saluran komunikasi intelijen yang bisa disadap. Di sisi lain, aku lega karena kelemahan ini memberiku kesempatan.
"Apa yang kamu inginkan?"
Tidak usah basa-basi. Aku langsung menanyakan apa yang dia mau.
[Kuota transaksi kami tiap bulan ditambah 10 persen.]
"Lima persen. Ambil atau tidak?"
[Baiklah, lima persen. Senang berbisnis denganmu.]
Laki-laki ini tidak menawar lebih tinggi. Berarti, sejak awal, targetnya memang lima persen, bukan sepuluh persen.
Sial! Aku sudah ditipu. Namun, aku tidak peduli. Bagiku, saat ini, mendapatkan senjata-senjata itu adalah prioritas utama.
Tiba-tiba saja, terlihat kepulan asap di beberapa tempat pada proyeksi. Asap itu tidak berasal dari api atau debu yang beterbangan, tapi dari granat.
[Hah?]
Ukin terperanjat. Meski tampak terkejut, dia tidak beranjak dari depan kamera. Dia hanya mengalihkan pandangan.
Dalam waktu singkat, akhirnya, asap yang sempat muncul pun menghilang. Bukan hanya asap yang menghilang, jasad dan semua senjata yang dibawa oleh penyerang pun juga menghilang.
[Tampaknya kamu sudah merencanakan ini semua ya? Kamu memang benar-benar cerdik.]
Tidak. Bukan aku yang merencanakan semua itu. Kamu salah kira.
Setelah melihat ke arah rekan-rekannya sejenak, Ukin kembali mengalihkan pandangan ke kamera. Meski sempat terperanjat, kini dia tampak normal lagi. Sebuah senyum terkembang lebar di wajahnya.
[Yah, itu tidak penting. Intinya, sekarang, aku beraliansi dengan keluarga Alhold, Apollo, Orion, dan agen yang kau rumahkan. Mari kita mulai pestanya.]
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1