
Aku terdiam, melihat langit yang mendung. Ditambah dengan angin yang berembus kencang, hujan telah dijanjikan.
"Kanu, menurutmu, apa kematian kita bisa keluar hidup-hidup dari peperangan ini?"
"Pasti ... Mungkin? Entahlah, aku juga tidak tahu."
Kanu tidak dapat memberi jawaban pasti.
Ini adalah hari ke enam kami menghabiskan hari di parit. Menurut rumor, sudah satu minggu sejak 17 dari 24 wilayah Kerajaan Nina mendukung Tuan Putri Rina. Wilayah di sekitar ibukota, Muir, telah menyatakan dukungan Tuan Putri Rina. Untuk mempertahankan ibukota, militer pun membuat parit dan barikade di sekeliling Muir. Saat ini, satu-satunya wilayah yang belum dihinggapi musuh, di sekitar ibukota, adalah lautan di utara.
Di dalam parit, kami, tentara muda, berpatroli rutin. Setiap hari, kami harus memperhatikan ke luar parit dengan teropong, berharap musuh tidak mendekat.
"Kenapa Yang Mulia Paduka Ratu dan Tuan Putri Rina tidak bisa berdamai saja, ya?"
"Sebenarnya, aku mendengar rumor menarik soal barikade ini."
"Apa itu?"
Tidak biasanya Kanu suka membicarakan rumor. Apa yang salah dengan kepalanya? Di lain pihak, beberapa orang yang kebetulan dekat langsung menghampiri.
"Sebenarnya, katanya, Yang Mulia Paduka Ratu Amana ingin menyerah dan mengundurkan diri. Beliau bersedia dihukum dan dieksekusi oleh Tuan Putri Rina. Namun, para petinggi militer tidak mau melakukannya."
"Tunggu dulu! Apa itu berarti yang memerintahkan barikade pertahanan ini bukan Yang Mulia Paduka Ratu Amana? Tapi petinggi militer."
Sebuah anggukan dari Kanu membuat kerumunan riuh. Mereka berbicara sendiri, saling mengumpat dan meluapkan kemarahan.
Aku paham dengan kemarahan mereka. Aku sendiri kesal dan marah ketika mendengar barikade ini bukanlah perintah Yang Mulia Paduka Ratu Amana. Ketika memasuki militer, kami disumpah untuk setia kepada Ratu, bukan kepada petinggi militer.
Namun, mau bagaimana lagi? Kami hanya tentara baru yang berusaha menggugurkan kewajiban militer. Kami tidak mungkin melawan atasan, kan? Dan lagi, semua ini masih sebatas rumor, belum ada bukti pasti.
"Jeju."
"Ya?" Aku merespons Kanu.
"Menurutmu kenapa para petinggi militer melakukan hal ini? Dari kita semua, kamu yang paling pintar, kan? Kamu pasti bisa memperkirakan apa yang diinginkan para petinggi militer."
"Aku tidak pintar. Aku hanya suka membaca."
"Sama saja!"
__ADS_1
Semua orang berteriak, menolak pernyataanku. Tampaknya akan percuma meski aku berusaha meyakinkan mereka. Api yang berkumpul tidak bisa dipadamkan oleh satu ember air.
"Ini hanya dugaanku," aku membuat hipotesis. "Mungkin petinggi militer berniat membuat warga kelaparan."
"Membuat warga kelaparan?"
"Kenapa?"
Wajar bagi semua orang mempertanyakannya. Militer, normalnya, hidup untuk melindungi masyarakat. Namun, kali ini, yang terjadi justru sebaliknya.
Aku melanjutkan hipotesis. "Ketika rakyat kelaparan, mereka akan memberontak dan berusaha menggulingkan Yang Mulia Paduka Ratu Amana. Di saat itu, kemungkinan, petinggi militer ini akan muncul dan menghukum atau menangkap Yang Mulia Paduka Ratu.
"Kemudian, dia akan menyerahkan Yang Mulia Paduka Ratu pada Tuan Putri Rina dengan syarat pemberian makanan, pembebasan Muir, dan sebagainya. Dengan demikian, dia akan mendapatkan reputasi yang baik di mata masyarakat. Muir, Feodal Lord, kalian mengerti maksudku, kan?"
Semua orang mengangguk, tanpa pertanyaan. Hanya dengan kata Muir dan Feodal Lord, orang-orang ini pasti sudah bisa menerka maksud dan tujuan petinggi militer.
Muir, sebagai ibukota Kerajaan Nina. Adalah satu-satunya wilayah tanpa Feodal Lord, langsung dikelola oleh keluarga kerajaan. Dengan rencana yang sedang berjalan, mungkin, petinggi militer itu ingin menjadi Feodal Lord.
Di lain pihak, kalau sudah mencapai prajurit di parit, besar kemungkinan rumor ini sudah tersebar luas. Dan, besar kemungkinan, hipotesis sejenis dengan milikku juga sudah tersebar. Dengan kata lain, pasti, ada pihak lain yang akan menunggangi kondisi ini.
"Hei, kalau seandainya salah satu dari kita memilih untuk menangkap Yang Mulia Paduka Ratu Amana saat ini juga, menurut kalian bagaimana?"
Sebuah pendapat muncul, sukses memunculkan ledakan tawa dari semua orang, termasuk aku. Kenapa kami tertawa? Jangankan menyelamatkan Yang Mulia Paduka Ratu Amana, pergi meninggalkan parit ini saja tidak mungkin!
Untuk pergi dari parit, kami harus mendapat izin dari atasan. Tanpa izin, kami akan dianggap sebagai pembangkang. Di saat itu, peluru tidak akan segan-segan bersarang di tubuh.
"Eh, Kapten datang!"
"Ayo baris! Ayo baris! Cepat!"
Di saat itu, kami semua berbaris, menyambut kapten.
"Pasukan, apa kalian siap mati?"
"SIAP!"
"APA KALIAN SIAP MATI?"
"SIAP!"
__ADS_1
Tentu saja tidak! Aku tidak siap mati! Namun, tidak mungkin aku mengatakannya. Kalau menjawab jujur, justru aku adalah orang pertama yang akan meninggalkan dunia.
"Bagus! Aku ingin kalian semua pergi ke parit di sebelah selatan. Musuh di selatan mulai mendekat. Di lain pihak, tidak tampak musuh di sisi barat. Oleh karena itu, kita akan memperkuat pertahanan di selatan."
"SIAP! LAKSANAKAN!"
Setelah mendengar perintah, kami berjalan cepat, bergegas menuju selatan.
Sial! Aku tidak mau berperang! Aku tidak mau berperang! Kenapa di saat aku wajib militer justru terjadi peperangan, sih? Padahal aku sempat bersyukur ketika tidak dikirim ke Front Bana'an atau Mariander. Namun, sayangnya, peperangan masih mendatangiku. Apa ini yang dinamakan tidak bisa kabur dari takdir?
"Kanu, menurutmu, apa kapten tahu rumor itu?"
Sunyi. Tidak ada jawaban.
Aku menoleh ke kiri dan kanan, mencari Kanu. Namun, tidak peduli selama apa pun aku mencari, Kanu tidak terlihat. Kemana dia? Dia tidak kabur, kan?
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1