I Am No King

I Am No King
Chapter 343 – Rencana Alternatif, Lagi


__ADS_3

[Benar. Dalang penyerangan istana kerajaan kemarin malam adalah kami. Kami melakukannya karena Ratu Amana sempat menculik suami saya, Lugalgin Alhold, dan menyekapnya di istana.]


Rina membuat deklarasi dengan penuh semangat di konferensi pers. Bersama Emir, Zortac, dan Feodal Lord lain, mereka berusaha menggaet simpati masyarakat sekaligus menunjukkan kalau kubu ini memiliki kekuatan.


"Rina tampak jauh lebih bersemangat ya, Gin."


Sesuai ucapan Inanna, Rina tampak lebih bersemangat dan percaya diri. Bahkan, aku bisa melihat ujung bibirnya selalu naik, tersenyum.


Aku dan Inanna tidak menghadiri konferensi pers. Kami berdua di atas ranjang, menetap di kamar hotel. Mereka bilang aku butuh istirahat karena baru menggunakan serum pengendalian. Inanna menemani sekaligus menjagaku. Aku dan Inanna tidak telanjang, tentu saja. Kami mengenakan pakaian kasual, siap kalau tiba-tiba diserang.


Di lain pihak, aku terkejut serum pengendalian tidak membunuhku. Maksudku, kalau serum pengendalian melemahkan sistem imun, seharusnya, seluruh tubuhku sudah dipenuhi kanker. Namun, tidak terjadi perubahan apa pun. Apakah ini berarti pelemahan oleh serum pengendalian bisa diabaikan? Apakah ada faktor yang membedakan serum pengendalian dengan luka normal?


Aku sangat penasaran dengan efek serum pengendalian pada tubuhku. Namun, aku juga tidak mau melakukan percobaan manusia pada tubuhku sendiri. Sama sekali tidak mau. Apa aku mencari inkompeten lain untuk kelinci percobaan? Ah, tidak. Jangan. Bisa-bisa aku menyulut dendam inkompeten. Melihat Rina dan aku, inkompeten kalau sudah dendam sangatlah berbahaya.


Aku beruntung karena Inanna lah yang menetap bersamaku. Jadi, aku bisa menceritakan semua hal yang kudengar dari Ibu Amana, Bapak Bilad, dan Ira. Aku berharap Inanna mampu mendengarkan ceritaku dan tidak langsung menolaknya. Dan, harapanku terkabul. Selama penjelasan, Inanna sering mengangguk dan berkata, "ah, iya, masuk akal,".


"Inanna, apa alasan kamu tidak meragukan pendapat Ira?"


"Mudah saja, Gin. Kamu."


"Aku?"


"Sejak awal, kamu juga selalu berperan menjadi orang jahat, kan? Kamu sengaja menjebak ibu dan menyandera adikku demi keselamatan kami. Lalu, kamu mengklaim sebagai pembunuh tunggal keluarga Cleinhad. Lalu, saat pembersihan keluarga kerajaan, kamu juga menunjukkan diri sebagai pemimpin. Intinya, sejak awal, entah sadar atau tidak, kamu selalu berusaha mengarahkan kebencian semua orang padamu."


"Maksudku, memang aku yang melakukan itu semua, kan? Menurutku itu adalah hal yang normal."


"Tidak, Gin. Kamu tidak normal. Kamu memang menyalahkan sistem, tapi tidak serta merta menjadikan sistem sebagai kambing hitam sepenuhnya. Kamu sadar dan juga mengaku salah atas perbuatanmu. Kalau orang lain, mereka hanya akan menyalahkan sistem dan sebisa mungkin tidak ingin disalahkan. Di sini, kita bisa melihat bagaimana kamu mengambil peran sebagai orang jahat."


"Tapi ...."


Aku ingin menyanggah ucapan Inanna, tapi tidak bisa. Ucapan Inanna tepat sasaran. Tampaknya, tanpa disadari, aku sudah berusaha mengalihkan kebencian orang padaku.


"Ceritamu juga menjelaskan kenapa helikopter kami bisa mencapai istana semalam. Maksudku, ada jarak ribuan kilometer dari sini ke istana. Namun, sejauh itu pula, kami tidak menghadapi satu pun perlawanan atau serangan militer. Ibla sendiri mengatakan walaupun sistem pertahanan Rina diretas, seharusnya militer tidak selengah itu."


Yap, sesuai ucapan Inanna. Helikopter mereka bisa mencapai istana adalah sebuah keanehan. Namun, keanehan ini akan menjadi masuk akal kalau Ibu Amana bergerak di belakang layar. Bisa saja Ibu Amana menginstruksikan akan ada 1 helikopter mata-mata yang kabur dari Anshan ke istana, atau alasan lain.


"Jadi, Gin, apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku juga bingung, Inanna. Makanya aku menceritakan ini semua ke kamu, bukan ke Emir apalagi Rina."


"Aku sudah bisa mengira apa yang ada di pikiranmu. Namun, untuk memastikan, aku ingin mendengarnya dari mulutmu."

__ADS_1


"Emir sudah dikhianati oleh Permaisuri Rahayu, jadi dia bias kalau menyangkut urusan ibu dan anak. Rina sendiri sudah termakan dendam. Mereka berdua akan menganggap ibu yang baik adalah langka. Hubunganku dengan ibu juga tidak seperti ibu dan anak, kami lebih kepada rekan kerja, pure memperhitungkan pro dan kontra.


"Hanya kamu, Inanna, yang memiliki hubungan normal, layaknya ibu dan anak, dengan ibumu. Dibanding kami bertiga, kamu adalah yang paling bisa melihat situasi ini dengan memperhitungkan sifat keibuan."


"Well, aku tidak menyangkalnya. Namun, aku bisa saja bias, Gin. Bisa saja aku terlalu memandang Ibu Amana terlalu tinggi, kan?"


Ung, sejak kapan Inanna memanggil Ratu Amana dengan sebutan Ibu Amana? Ah, itu tidak penting untuk sekarang.


"Tidak masalah. Setidaknya kamu bisa memberi sudut pandang berbeda."


"Baiklah, kalau begitu." Inanna menerima permintaanku. "Kalau dari perspektifku, besar kemungkinan Ibu Amana ingin agar Rina membunuhnya tanpa belas kasih. Ibu Amana rela menjadi tempat pelampiasan dan dendam Rina demi keselamatan dan keberlangsungan hidup putrinya. Dia tidak akan mau Rina mengetahui fakta ini. Ibu Amana akan berusaha untuk membawa rahasia ini hingga ke liang lahat. Kamu tahu kenapa, kan?"


"Ya. Rina yang saat ini didorong oleh dendam kepada ibunya akan hancur, depresi. Bahkan, bukan tidak mungkin dia langsung memilih bunuh diri ketika mengetahui dendamnya hanyalah dendam kosong."


Yap, benar. Kemungkinan Rina depresi dan bunuh diri sangatlah besar. Bahkan, terlalu besar. Walaupun Rina, mungkin, sudah menyadari kalau dia bergantung padaku, alasan utamanya bertahan hidup masihlah melampiaskan dendam. Aku hanyalah tumpuan sekunder.


"Gin, menurutmu, kalau kita ingin menghentikan rencana Ibu Amana, berapa persen kemungkinan berhasil?"


"Jujur, terlalu kecil." Aku menghela napas. "Ibu Amana pasti sudah menyiapkan banyak skenario untuk mencegah rencananya gagal. Bahkan, aku bisa menduga dia sudah mengonsumsi racun yang membunuh Tera. Ibu Amana pasti berusaha menaruh dirinya di posisi Tera demi mengurangi rasa bersalah."


Kalau Rina berhasil melakukan kudeta dan menjadi Ratu, Ibu Amana akan dieksekusi. Kalaupun Rina gagal, Ibu Amana juga bisa tewas dengan berhenti mengonsumsi penawar. Semua ending berujung pada kematian Ibu Amana. Dan, jujur, aku merasa perih ketika melihat hubungan Rina dan Ibu Amana yang seperti ini.


Jujur, dadaku sesak dan perih ketika harus membunuh orang-orang baik dan berkompeten hanya karena kesalahan orang lain. Aku sangat ingin mengampuni Shu En dan anaknya, tapi itu tidak akan adil untuk Nanna dan Suen. Aku juga tidak ingin membunuh Bu Melinda, tapi dia berpotensi membelot yang bisa membahayakan keluargaku karena kesetiaannya.


Kenapa orang baik selalu berada di antara orang buruk? Kenapa?


Aku memutar badan dan membenamkan wajah ke dada Inanna, membiarkannya membelaiku.


"Inanna, aku bingung."


"Hehehe. Ini mungkin pertama kalinya kamu memintaku secara personal, Gin. Sebelumnya, kamu selalu meminta tolong padaku dan Emir."


"...."


"Hehehe, jangan ngambek, dong, Gin."


Aku gak ngambek! Aku hanya bingung!


Inanna berbaring, membiarkan tubuhku menindihnya.


"Seperti yang kamu bilang, Gin. Saat ini, Rina termakan dendam. Dendamnya tidak akan bisa menghilang begitu saja. Aku sendiri sama. Dendamku pada Yang Terhormat Paduka Raja Mariander, yang telah menjualku padamu, bisa dibilang belum sepenuhnya reda."

__ADS_1


Aku mengangkat kepala, melihat ke wajah Inanna.


"Tidak, aku tidak membencimu, Gin." Inanna menyangkal. "Dendamku memang belum sepenuhnya hilang. Namun, dendam itu lebih menjadi samar, tertutupi oleh kondisi ibu dan Ninshubur yang menurutku jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Dan, tentu saja, karena pernikahan kita."


Untunglah. Aku tidak yakin hati ini bisa menerima kalau Inanna bilang dia menyimpan kebencian padaku karena ulah Raja Arid.


"Menurutku, yang terbaik adalah membuat Rina mengetahui faktanya secara perlahan. Tidak harus sebelum Ibu Amana tewas. Kita bisa melakukannya setelah Ibu Amana tewas. Setidaknya, perlahan, dendam Rina bisa tergantikan. Namun, aku khawatir dengan perasaan yang akan menggantikan dendam, antara penyesalan atau rasa bersalah. Aku tidak tahu apakah dua hal ini lebih baik dari dendam atau tidak."


"Tidak harus sebelum Ibu Amana tewas, ya. Kalau begitu, Inanna, bagaimana kalau begini."


Aku mulai menjelaskan ide yang terlintas di pikiranku setelah mendengar Inanna. Posisi kami tidak berubah, aku memeluk Inanna dan menindihnya dan dia masih membelai kepalaku lembut. Namun, belaian tangan Inanna berhenti ketika mendengar ideku. Wajahnya menjadi muram.


"Sekarang aku paham perasaan Ira, pelayan istana itu."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


__ADS_1


__ADS_2