I Am No King

I Am No King
Chapter 165 – Collateral Damage


__ADS_3

~Jin's POV~


[Yang Mulia Paduka Raja, semuanya berjalan sesuai rencana. Sekarang, keluarga Alhold sedang melawan Lugalgin.]


[Bagus. Bagus sekali.]


Aku mendengarkan suara telepon dari salah satu agen schneider dengan Yang Mulia Paduka Raja. Mereka tidak berbicara padaku, tapi aku menyadap telepon Yang Mulia Paduka Raja.


Siang tadi, Lugalgin mengontak dan meminta agar aku memonitor semua pergerakan Akadia, Agade, intelijen kerajaan, dan juga Yang Mulia Paduka Raja. Aku tidak menerima pekerjaan ini sebagai Guan, tapi sebagai Jin. Sebelum menjadi pemimpin Guan, aku adalah informan sekaligus mercenary. Jadi, hal seperti ini normal bagiku. Dari enam pilar, mungkin, pemimpin yang bisa melakukan hal ini tanpa mengandalkan anak buahnya hanya aku dan Lugalgin.


Saat ini, aku yakin, gerak-gerikku dan Guan juga diawasi oleh aliansi di bawah Lugalgin. Aku berani bertaruh Lugalgin menyuruh semua anggota di bawahnya untuk mengawasi satu sama lain. Bahkan, dia sendiri tidak sepenuhnya percaya pada Agade, organisasi yang dia pimpin sendiri.


Lugalgin menciptakan sistem tidak berdasarkan kepercayaan, tapi lebih kepada pengawasan. Dengan setiap organisasi saling mengawasi, tidak akan ada yang berani macam-macam. Kalau pun ada yang macam-macam, organisasi yang lain akan melaporkannya.


Sistem saling mengawasi cukup sempurna kalau organisasi yang terlibat tidak akur satu sama lain. Namun, kalau akur, maka organisasi yang terlibat bisa bersekongkol memberi informasi palsu pada Lugalgin.


Ini mengindikasikan Lugalgin memang benar-benar susah percaya pada orang lain. Saat ini, aku merasa dia mempercayaiku. Namun, aku tidak tahu apakah dia benar-benar memercayaiku atau tidak menganggapku sebagai ancaman. Dan, sayangnya, kejadian seperti ini akan semakin membuat Lugalgin sulit mempercayai orang lain. Namun, di dunia pasar gelap, pilihan Lugalgin adalah yang rasional.


Sambil mendengarkan percakapan agen ini dan Yang Mulia Paduka Raja, aku mengontak orang lain, informan pasar gelap, langgananku. Aku tidak menelepon, tapi mengirim pesan. Tentu saja, pesan ini adalah kode. Jadi, kalaupun ada orang atau pemerintah yang membaca pesan ini, mereka tidak akan tahu apa maksud ucapanku.


Saat menerima pekerjaan dari Lugalgin, aku sama sekali tidak mengira kalau akan mendapatkan hasil secepat ini. Dan, mungkin bukan hanya aku, tapi Agade dan Akadia juga akan melaporkan temuan ini pada Lugalgin.


***


~Lugalgin's POV~


[Gin! Kita memiliki masalah! Tolong segera pulang!]


Masih belum selesai juga masalah malam ini? Apakah keluarga Alhold ingin punah? Kalau mereka terus menerus mengirimkan serangan seperti ini, bisa-bisa kami membasmi semua anggota keluarga.


"Aku akan pulang sekarang juga."


Aku menaiki sepeda motor dan kembali. Berbeda dengan sebelumnya dimana aku harus bermanuver untuk menghindari peluru yang terbang, sekarang aku bisa melaju dengan normal.


Aku akhirnya sampai di rumah. Setelah mengembalikan sepeda motor di garasi, aku pergi ke ruang utama dengan peti arsenal masih terpasang di punggung.


Di ruang utama, aku tidak melihat Ninlil, Emir, dan Suen, hanya ada Nanna dan Inanna. Inanna memegangi bahu Nanna yang menempelkan smartphone di telinga.


Aku punya firasat buruk.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Kak.....anu......ini......rumah,"


Nanna tidak bisa menjawabku. Kata-katanya tidak tertata dengan rapi.


"Keadaannya," Inanna menyela. "Nanna tidak bisa menjangkau ayah, ibu, dan kakaknya. Hal yang sama juga terjadi dengan Suen. Kini, Emir dan Ninlil berusaha mengejar Suen yang terbang pulang."


Aku ke Inanna dan mengambil handphonenya lalu berbisik, "jangan biarkan Nanna mendengar komunikasiku dengan Agade."


Tanpa banyak bertanya, Inanna mengangguk dan memutus telepon. Dia paham kalau komunikasiku mungkin adalah berita buruk bagi Suen.


Aku pergi ke lantai dua, memastikan suaraku tidak terdengar kalau berbicara.


"Agade, apakah ada informasi mengenai keluarga Nanna dan Suen?"


[Sebenarnya, kami memiliki informasi ini sejak tadi, tapi kami tidak berani membicarakannya lewat telepon karena tadi Nanna dan Suen mendengarkan.]


Meski yang menjawab adalah Elam, aku yakin semua anggota berpikiran hal yang sama. Dan, karena mereka tidak mau mengatakannya ketika Inanna masih menelepon, maka, berarti, hanya ada satu kemungkinan.


"Biar kutebak, keluarga Nanna dan Suen tewas?"


Aku duduk di atas kasur dan mengelus kening. Apa perintah yang kuberi pada Shu En terlambat?


"Ur,"


[Ya, Gin?]


"Saat ini, kamu adalah anggota elite Agade peringkat 2, setelah Mulisu, sekaligus anggota intelijen Kerajaan. Aku kamu mau pergi dan melindungi adik Suen, Iris. Tidak usah melindunginya dari bayangan, langsung saja terang-terangan. Datangi pihak sekolah dan gunakan nama intelijen."


[Baik! Aku berangkat!]


Perintah pertama diberikan. Laki-laki pendek itu pasti sudah bergerak.


Sekarang, perintah kedua.


"Elam,"


[Ya?]

__ADS_1


"Aku mau kamu mengejar Suen. Aku memberimu tugas untuk melindungi Suen.]


[Siap!]


Sebenarnya, aku ragu Elam cocok untuk tugas penjagaan. Secara, penampilan dia begitu mencolok. Badan bengkak oleh otot dengan rambut potongan cepak. Bukan cepak biasa, tapi cepak habis. Di kanan dan kiri kepalanya tidak ada rambut.


[Tambahan, Elam, cari wig dan ubah penampilanmu. Kamu terlalu mencolok.]


[Ah? Eh, ba-baik.]


Elam memberi respon putus-putus. Di lain pihak, aku mendengar beberapa tawa dari anggota lain.


Aku mengambil smartphone lain dan menelepon ibu. Melalui telepon, aku menjelaskan pada ibu apa yang terjadi. Ibu sudah tahu soal serangan Alhold, tapi dia tidak menduga kalau keluarga Nanna dan Suen akan diserang. Dengan demikian, aku meminta ibu mengirim satu orang untuk menjaga Nanna.


Aku tidak menyalahkan ibu. Aku sendiri tidak menduganya. Meskipun kami berhubungan dengan pasar gelap, keluarga Nanna dan Suen tidak akan pernah diseret kecuali mereka sudah memiliki hubungan dengan pasar gelap sebelumnya. Namun, keluarga Alhold dan intelijen berbeda. Mereka menyeret siapa saja yang ada.


Aku tidak perlu mengkhawatirkan Arde karena dia berada di Akadia, yah meski masih di tingkat bawah sih. Illuvia juga sudah di bawah pengawasan Ibla. Dan Maila, yah, aku ragu orang akan macam-macam dengannya.


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



 

__ADS_1


 


__ADS_2