I Am No King

I Am No King
Chapter 349 – Bukan Musuh


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, kami mengobrol tanpa arah. Sesekali, kami mendengarkan radio, mencari tahu berita tentang kenaikan tingkat kriminalitas. Bahkan, baru saja, ada berita yang menyatakan kemunculan kelompok pertama yang mendeklarasikan sebagai pemberontak. Kelompok ini mengirim pesan radio ke semua saluran, meminta bantuan pada Militer Bana'an.


Siaran ini, tentu saja, tidak akan terdengar kalau menggunakan jalur komunikasi Kerajaan Nina. Kami bisa mendengarnya karena jalur komunikasi Anshan sudah tersambung ke Bana'an. Selain Anshan, Peer, dan Ursia, empat wilayah lain sudah tersambung ke Bana'an. Secara geografi, 9 wilayah ini masih di bawah Kerajaan Nina. Namun, secara praktik, semua wilayah ini sudah menjadi bagian dari Bana'an.


"Jadi, sudah setengah jalan dari kantor ke rumah sementaraku. Sampai kapan kamu mau bersembunyi, Ira?"


"Kalau tuan Lugalgin sudah tahu sejak awal, kenapa baru sekarang memanggil?"


Aku menoleh, melihat Ira yang berpindah dari kursi belakang ke tengah. Dia tidak mengenakan pakaian berkibar ala pelayan, tapi pakaian kasual dengan parka.


"Well, aku berharap kamu yang mau muncul sendiri, Ira. Dan," aku menoleh ke Lord Susa. "Jangan khawatir, Lord Susa, aku tidak akan menganggapmu sebagai pengkhianat."


"Untunglah ...." Lord Susa menghembus napas panjang. "Di satu sisi, aku takut mengkhianatimu. Di sisi lain, aku juga tidak punya kemampuan untuk menghadapi Ira."


"Well, alasan aku tidak menganggapmu pengkhianat bukan karena itu sih. Tapi, karena Ira bukanlah musuh."


"Bukan ... musuh?"


"Mata ke jalan!"


Hampir saja Lord Susa menoleh ke arahku. Namun, aku tidak mau mati gara-gara kecelakaan. Kan tidak lucu aku yang bisa bertahan hidup dari serangan militer tapi malah tewas karena kecelakaan! Aku memiringkan badan, sesekali melihat Ira sambil memastikan Lord Susa melihat ke jalan.


"Jadi, Ira, apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Sebelumnya, aku ingin mengucapkan selamat, Tuan Lugalgin. Tampaknya, rencanamu berjalan mulus. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum mayoritas wilayah menyatakan dukungan pada Tuan Putri Rina."


Yap, hanya tinggal menunggu waktu.


"Lalu?"


"Yang Mulia Paduka Ratu mulai stres. Kini, Yang Mulia Paduka Ratu sering membentak orang di istana."


"Menurutmu, orang-orang istana memercayainya?"


"Ya, orang istana mulai memercayainya. Bahkan, orang-orang di istana sudah mulai takut menemui Yang Mulia Paduka Ratu."


"Begitu ya. Jadi, dia ingin Rina disambut ya."

__ADS_1


"Benar sekali ...."


"Tunggu dulu! Apa –"


"Mata ke jalan!"


Kali ini aku harus memegang pelipis Lord Susa, memaksa matanya tetap fokus berkendara.


"Sederhananya, Lord Susa, Ratu Amana sudah merencanakan ini semua."


"Hah?"


"Lalu, Ira," aku menoleh ke belakang. "Kenapa kamu di sini?"


"Untuk memperkuat kesan kalau orang istana sudah tidak tahan dengan kelakuan Yang Mulia Paduka Ratu, aku diperintahkan untuk pulang kampung, atau pergi kemana pun yang aku mau."


"Yang kamu mau?"


"Namun, Yang Mulia Paduka Ratu memintaku untuk tidak menemui Tuan Putri Rina. Hanya ini permintaan Yang Mulia Paduka Ratu."


Aku membuka smartphone dan membuat panggilan. Aku menelepon Emir dan mengatakan ada informasi mengenai wilayah lain yang ingin mendeklarasikan dukungan pada Rina. Jadi, aku dan Lord Susa mungkin akan berada di kantor sedikit lama.


Sebenarnya aku ingin menelepon Inanna dan mengatakan ada Ira. Namun, aku mengurungkan niatku, mengingat keahlian Inanna untuk berbohong masih di bawah Rina. Inanna akan ketahuan berbohong dalam waktu singkat.


Bahkan, hingga saat ini, Inanna memilih untuk menghindar ketika Rina atau Emir membawa topik mengenai Ibu Amana. Aku meyakinkan Rina dan Emir kalau Inanna tidak nyaman karena dia adalah satu-satunya dari ketiga istriku yang dibesarkan dengan kasih sayang oleh ibunya.


Rina terkadang curiga pada ucapanku. Namun, tampaknya, aku masih lebih ahli berbohong dari Rina. Jadi, dia hanya bisa mengabaikannya. Di lain pihak, Emir memercayai semua ucapanku begitu saja selama berhubungan dengan keburukan Ibu Amana. Jadi, memanggil Emir adalah pilihan yang tepat.


"Kita bisa berputar-putar sedikit. Jadi, Ira, tolong ceritakan kamu tahu mengenai Tera, Rina, dan Ibu Amana."


"Lengkap?"


"Tidak perlu. Setidaknya, yang belum diceritakan oleh Ibu Amana saja."


"Baiklah."


"Hei! Hei! Tunggu dulu!" Lord Susa menyela. "Kalian yakin mau membicarakannya di depanku? Ini rahasia kerajaan, kan?"

__ADS_1


Aku mengangguk. "Kamu tidak mau mendengarnya?"


"Itu ... jujur, aku bingung. Di satu sisi, aku ingin mendengar rahasia dibalik semua kekacauan ini. Di lain pihak, aku tidak yakin perasaanku bisa menerimanya."


Aku terdiam, pandangan terpaku ke Lord Susa. Jujur, untuk seorang Feodal Lord, yang setara bangsawan, Lord Susa bisa dibilang aneh. Bangsawan normal tidak akan pernah peduli dengan perasaan bersalah. Bahkan, tidak sedikit bangsawan yang mengabaikan rakyat demi kepentingan pribadi.


"... tuan Lugalgin, ada alasan kenapa aku mendatangi Lord Susa. Karena beliau adalah satu dari sedikit Feodal Lord yang masih memiliki hati nurani."


"Oke." Aku menerima alasan Ira. "Jadi, Lord Susa, kamu mau mendengarkan percakapan kami atau tidak?"


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


So\, saat ini\, author dah ga pake FF**UU**CC**KK OFF lagi untuk reply komen promo\, tapi dah pake kearifan lokal pake kata guuooblogg. Dan kliatannya dah ada yang kebakar. wkwkwkwk. Padahal di prolog dah ada larangan\, sepanjang chapter juga ga ngitung berapa kali bikin chapter pengumuman larangan promo. Bahkan (mungkin) sudah ada yang sadar kalau peringatan sudah diletakkan di sinopsis/blurb. Kalau masih promo\, berarti sudah siap menerima reply nya dong. wkwkwkwk.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


__ADS_1


__ADS_2