
"Gin ... "
Tiba-tiba sebuah aura haus darah muncul ... dari belakangku. Aku mengenal aura haus darah kecil ini, yang bisa dibilang hanya bocor. Aura haus darah ini muncul dari Emir. Dan, tampaknya, dia sendiri tidak sadar kalau dirinya sudah bisa mengeluarkan aura haus darah.
Aku berdehem. "Jadi, ada keperluan apa Permaisuri Shara menemui kami? Aku kira kami hanya memiliki urusan dengan organisasi pasar gelap Agrab? Mengingat mereka lah yang akan mengantar kami ke Kerajaan Nina."
"Kudengar kamu tidak suka basa-basi, jadi, aku langsung to the point. Gin, aku ingin kamu mengambil putri ketigaku ini, Usmu, sebagai istri keempat."
"..."
"..."
Semua orang terdiam. Bukan hanya orang dari pihak kami yang terkejut. Bahkan, orang-orang di belakang Permaisuri Shara juga terkejut. Mereka semua membuka mulut dan mata lebar-lebar.
Di lain pihak, aura haus darah yang muncul dari Emir semakin pekat. Padahal, dulu, Emir tidak pernah bisa memancarkan aura haus darah. Sejak Rahayu mencoba merebutku, terkadang, Emir membiarkan aura haus darahnya bocor. Dan, entah kenapa, jika dibandingkan dengan Inanna dan Rina, aura haus darah yang dikeluarkan Emir adalah yang paling kental.
Aku menghela nafas. "Maaf. Tapi, tidak, terima kasih."
Begitu aku menolak tawaran Permaisuri Shara, aura haus darah Emir menghilang. Tanpa perlu melihat ke belakang, aku bisa tahu kalau mood Emir sudah membaik.
Di lain pihak, setelah aku menolak tawaran Permaisuri Shara, terlihat kepalan Tuan Putri Usmu sedikit lemas.
"Kenapa? Apakah putriku tidak cukup cantik?"
Permaisuri Shara memiringkan tubuh dan membuka kedua tangan ke perempuan di sampingnya yang masih duduk.
"Tidak. Putrimu cantik dan jelita. Aku tidak memungkirinya. Kecantikannya tidak kalah jika dibanding dengan ketiga istriku."
"Lalu?"
"Aku tidak melihat alasan kenapa harus menikahinya. Kalau berkenan, bagaimana kalau Permaisuri Shara menceritakan kenapa kau ingin aku mengambilnya sebagai istri keempat?"
"Menurutku alasannya sudah cukup jelas, untuk mencegah Bana'an mendeklarasikan perang pada Agrab."
Aku menyilangkan tangan dan berpikir.
Ucapan Permaisuri Shara cukup logis. Kalau aku mengambil Tuan Putri Usmu sebagai istri, kecil sekali kemungkinan Bana'an akan mendeklarasikan perang pada Agrab. Jika aku tewas, Bana'an justru akan menjalin aliansi dengan Agrab karena tuan putrinya sudah menjadi istriku. Yap. Masuk akal.
__ADS_1
Namun, aku tidak mau melakukannya.
"Tidak, terima kasih."
"Begitu ya,"
Permaisuri Shara membuang pandangan sambil tersenyum masam.
"Dengar, Permaisuri Shara, daripada mencoba menikahkanku dengan putrimu, bagaimana kalau kau langsung menghubungi Permaisuri Rahayu dan membuat persekutuan dengan Bana'an."
Permaisuri Shara menggeleng. "Tidak mungkin. Kalau Agrab bersekutu dengan Bana'an, berarti dua pertiga benua ini sudah dalam kondisi perang. Kalau sudah begitu, cepat atau lambat, perang ini bisa merambat ke seluruh benua, atau seluruh dunia."
"Baiklah. Jadi, persekutuan adalah ide yang buruk. Kalau begitu, biar aku hubungi saja Permaisuri Rahayu, memintanya untuk menyetujui perjanjian non agresi."
"... Kau pikir dirimu adalah Raja yang bisa memerintah Permaisuri seenaknya?"
"Tidak, aku bukan Raja. Aku hanya seorang inkompeten."
Aku mengambil handphone candybar dari saku dan menekan tombol ... tunggu dulu! Kita di dalam terowongan, kan?
"Ruang pemberhentian di dalam terowongan ini sudah didesain khusus agar sinyal handphone dan smartphone bisa masuk."
"Sama-sama. Daripada itu, aku tidak mengira kalau kau, yang hanya kepala intelijen, memiliki handphone candybar itu. Bahkan di kerajaan ini, hanya suamiku yang memilikinya, dia gunakan untuk menerima panggilan rahasia dari intelijen atau militer."
Aku tersenyum. "Aku membawa empat buah handphone candybar di dalam kotak senjataku. Rencananya satu akan aku beri pada pendukung di wilayah Anshan, satu lagi untuk pendukung lain yang mungkin muncul kemudian hari. Sisa duanya adalah jaga-jaga, kalau kondisi seperti ini muncul."
Aku melempar handphone ke kanan, ke Emir.
"Emir, telepon ibumu. Bilang mengenai kondisi dan tawaran yang aku berikan pada Permaisuri Shara."
Sementara dia menghubungi Rahayu, atau Mulisu, aku melanjutkan perbincangan dengan Permaisuri Shara.
"Jadi, permaisuri Shara, apa Anda menginginkan satu handphone ini?"
"Tidak terima kasih. Handphone itu memang tidak bisa disadap dan bisa melewati jammer. Namun, telepon itu tidak cukup efisien. Kalau bertemu jammer, kamu masih harus mengetahui jammer apa yang digunakan dan setelah itu kamu masih harus mencoba-coba kode yang belum tentu tebakanmu benar. Dan lagi, tidaklah bijak untuk orang selain Raja memiliki telepon itu. Hanya dengan memilikinya, aku bisa diduga sebagai pengkhianat yang sedang merencanakan pemberontakan."
"Ya. Untuk orang penting seperti kalian, saluran militer dan intelijen sudah cukup aman, lebih mudah, dan efisien."
__ADS_1
Handphone candybar ini, secara fungsi, memang tidak efisien jika dibandingkan saluran militer dan intelijen. Namun, yang menjadi masalah bukanlah tidak efisien, tapi kepemilikannya. Jika seseorang memiliki handphone candybar, secara tidak langsung, dia menyatakan kalau tidak ingin didengar oleh pihak manapun, termasuk Kerajaan atau Negara. Secara tidak langsung, kamu seperti mendeklarasikan kalau dirimu melakukan hal yang ilegal.
Organisasi pasar gelap pun jarang yang memiliki handphone candybar karena mereka bisa dianggap sebagai pengkhianat. Aku? Hah! Aku memang sudah menjadi pengkhianat sejak Bana'an merenggut Tasha. Anggota Agade juga telah dikhianati kerajaan karena mereka diperdagangkan. Jadi, secara tidak langsung, kepemilikan handphone candybar adalah lambang pemberontakan.
"Gin, aku hanya bertanya, kalau tidak tahu tidak apa. Kalau tidak mau menjawab juga tidak apa. Apa kamu tahu jumlah handphone candybar yang tersebar di Bana'an?"
"Aku punya, ketiga istriku punya, permaisuri punya, pemimpin Agade punya, beberapa orang VVIP punya, baru-baru ini pemimpin Quetzal dan Akadia juga punya. Kalau ditotal, mungkin antara 20 – 30. Ya, mungkin sekitar segitu."
Well, sebelumnya, Permaisuri dan Fahren tidak memiliki handphone ini. Permaisuri yang memiliki handphone ini adalah Mulisu, bukan Rahayu.
Permaisuri Shara tidak merespons. Dia hanya menatapku tajam. Di lain pihak, orang-orang di belakangnya masih menunjukkan respons yang sama dengan tadi, mulut dan mata terbuka lebar. Bahkan, informasi dariku mampu memaksa Tuan Putri Usmu mengubah ekspresi wajah. Dia tidak lagi menunduk, tapi juga melihatku dengan mulut dan mata terbuka lebar.
"Itu belum menghitung yang mungkin dimiliki orang lain, yang tidak kamu ketahui, kan?"
"Ah, ung, tidak." Aku menolak ucapan Permaisuri Shara. "Itu sudah semua. Maksudku, aku adalah satu-satunya distributor handphone candybar di Bana'an, jadi aku tahu siapa saja yang memilikinya."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1