
Aku mengangkat handphone candybar yang bergetar di meja samping kasur dan menempelkannya ke telinga.
"Aku memberimu izin berbicara. Berikan laporanmu."
[Siap!]
Aku mendengarkan laporan sambil membiarkan laki-laki di depanku ini mencumbuku. Laki-laki ini, tidak memedulikan telepon yang menempel di telingaku, terus menghantamkan selangkangannya dengan penuh tenaga. Tidak hanya itu, dia terus memainkan dada ini dengan penuh semangat.
[Rina menginap di kamar yang sama dengan Lugalgin. Lalu, tadi, pada jam 11, Tera telah melakukan kontak dengan Lugalgin Alhold.]
Seharusnya Tera tewas ketika petang tiba. Namun, untuk menjalankan rencana, aku sengaja memberi obat penawar yang lebih kuat dari biasanya. Kalau tubuh tera diautopsi, pasti akan ketahuan. Namun, aku yakin mereka tidak akan melakukannya. Rina tidak akan mau tubuh adiknya diautopsi.
Saat ini, pasti mereka mengira Tera bisa bertahan dengan mengandalkan kegigihannya. Hahaha.
"Bagaimana dengan agen dan pembunuh bayaran yang dikirim?"
[Mereka semua sudah diringkus oleh anggota keamanan pribadi Lugalgin.]
"Informasi yang mereka pegang?"
[Tidak ada masalah. Mereka memiliki informasi yang memang kita inginkan bocor.]
"Jadi, rencana berjalan mulus, kan?"
[Benar.]
"Bagus. Dengan ini, aku memberimu wewenang dan izin untuk melanjutkan rencana ke fase empat."
[Siap! Yang Mulia Paduka Ratu Panjang Umur!]
Aku menutup telepon dan mengembalikannya ke meja.
"Malam ini, jatahmu akan aku perpanjang. Bahkan,"
Aku mencengkeram tangan laki-laki di depanku dan mendorongnya ke samping. Dalam sekejap, kini posisi kami sudah bertukar, aku di atas, dia di bawah. Aku menjilat bibirku, membasahinya, sambil memperhatikan mangsa di depan mata.
"Aku akan memberi servis spesial kali ini."
***
"Gin."
"Ah, akhirnya kamu bangun ya."
Saat terbangun dan sadar dirinya berada di pelukanku, Rina langsung berontak. Tanpa perlawanan dariku, dia berhasil melepaskan diri. Rina bangkit dan berjalan menjauh. Dengan hanya kemeja dan celana dalam, Dia berdiri memunggungiku.
"Maaf ya Gin, soal semalam."
__ADS_1
"Kamu–"
"Aku tidak apa-apa kok. Kematian Tera memang membuatku syok, tapi mau bagaimana lagi. Mau tidak mau, aku harus menerimanya, kan?"
Tidak!
"Walaupun aku bersedih. Walaupun aku menangis. Tera tidak akan kembali."
Jangan!
"Yang aku perlukan hanyalah membalas dendam ke ibu dan semua orang di Nina yang mendukung perang ini. Dengan begitu, amarahku bisa diredam."
Refleks, aku bangkit dan melingkarkan tangan ke badan Rina dari belakang.
Rina tidak berontak. Dia hanya diam dan menunduk.
"Gin, apa yang kamu lakukan? Apa kamu mau memanfaatkan suspension bridge effect untuk membuatku jatuh hati padamu?"
Jujur, kamu jatuh hati padaku adalah hal terakhir yang aku inginkan. Namun, aku tidak bisa mengatakannya begitu saja. Aku tidak yakin bagaimana Rina akan merespons kalau aku mengatakannya yang berada pada kondisi hancur.
"Aku hanya tidak ingin kamu menjadi diriku yang dulu."
"Dirimu yang dulu?"
"Berpura-pura semuanya baik-baik saja, padahal tidak."
"Tapi, aku ba–"
Aku menyela Rina. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Rina. Namun, tubuhnya sempat terentak sedikit ketika aku mengatakannya.
"Normal bagimu untuk bersedih. Normal bagimu untuk tidak baik-baik saja. Semua itu normal."
"Tapi ... aku ... Tera ...."
Rina tidak mampu memberi jawaban dengan jelas. Suaranya sesenggukan.
Aku memutar tubuh Rina dan merengkuhnya, membiarkan Rina membenamkan wajahnya ke tubuhku.
"Aku sudah berjanji pada Tera untuk menjaga dan melindungimu."
"Tapi–"
"Kamu tidak baik-baik saja. Menangislah. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa."
"Uuu...uaa...."
Dan, akhirnya, Rina menangis di dadaku.
__ADS_1
Perlahan, aku melangkah mundur, membawa tubuh kami kembali ke kasur. Aku hanya mengusap dan membelai punggung Rina, tidak mengatakan apapun, membiarkannya menangis.
Kalau orang yang tidak mengenalku melihat ini, mereka pasti mengira aku sudah jatuh hati pada Rina. Kenapa seorang pembunuh yang telah membersihkan beberapa keluarga mau menjadi tempat bersandar seorang perempuan yang seharusnya adalah musuh? Orang normal, atau lebih tepatnya mereka yang pikirannya hanya dipenuhi romansa, akan mengatakan satu-satunya alasan adalah aku sudah jatuh hati pada Rina. Sayangnya, tidak!
Rina adalah tiket untuk mencegahku menjadi Raja. Dia harus memimpin pemberontakan dan menjadi Ratu Nina di masa depan. Kalau aku membiarkannya begitu saja, ada kemungkinan dia akan diperdaya oleh orang lain. Kalau diperdaya orang lain, aku tidak bisa menjamin dia tidak akan mengarahkan taringnya padaku.
Namun, aku tidak benar-benar melakukan ini hanya untuk alasan logis tersebut. Ada empati dan rasa iba yang muncul dalam diriku. Sebelumnya, aku mengira posisi Rina relatif sama denganku di masa lalu, ketika mendapati Tasha tewas. Namun, dari yang aku lihat, tidak! Posisi Rina lebih buruk dariku di masa lalu! Dulu, ketika Tasha tewas, aku membuat dua janji, menyelamatkan anak-anak panti asuhan Sargon dan membuat keluarga Cleinhad mendapatkan timbal balik dari perlakuan mereka.
Janjiku membalas dendam ke keluarga Cleinhad terpenuhi dengan cukup mudah. Tanpa janji untuk menyelamatkan anak-anak panti asuhan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah membantai keluarga Cleinhad. Aku pasti kehilangan arah. Ada kemungkinan aku akan memilih mengakhiri hidup, ingin menyusul Tasha. Namun, ada juga kemungkinan aku mengarahkan amarah dan murka yang belum hilang kepada seluruh warga Bana'an. Tidak ada yang tidak mungkin.
Untuk Rina, saat ini, dia hanya memiliki keinginan untuk membalas dendam kematian Tera. Tanpa ada keinginan lain yang bisa menahannya, Rina bisa dipermainkan. Dia bisa diperdaya dan mengarahkan dendamnya ke siapa pun. Rina bisa diperdaya untuk menghancurkan Nina. Kenapa? Karena rakyat Kerajaan Nina mendukung penguasa tertinggi, Ratu, tanpa mempertanyakan apapun.
Rakyat Kerajaan Nina percaya semua yang dikatakan oleh Ratu. Bahkan, mereka tidak mempertanyakan mengenai kebenaran berita kematian Rina dan Tera beberapa bulan sebelum ini. Secara tidak langsung, rakyat Nina ikut bertanggung jawab dalam kematian Tera.
Di lain pihak, Rina juga bisa diperdaya untuk mengincar nyawaku. Kalau aku tidak pernah memenangkan battle royale, misi pengalihan kekuasaan ke inkompeten lain tidak akan dijalankan. Kalau misi tersebut tidak pernah dijalankan, Tera tidak akan tewas. Daripada kerajaan Nina, aku lah yang akan menjadi target Rina. Semuanya bergantung pada sudut pandang dan bagaimana kamu mengatakannya.
Dan lagi, aku sudah berjanji pada Tera. Aku bukanlah tipe orang yang akan mengingkari janji. Jadi, ya, aku akan menjaga dan melindungi Rina.
Setelah setengah jam, akhirnya Rina berhenti menangis. Dia pun melepaskan diri dan menyeka air matanya.
"Maafkan aku Gin sudah menunjukk...Gin?"
"Apa?"
Rina setengah melompat dan mendekatiku. Wajahnya benar-benar dekat, tepat di depan wajahku. Kedua tangan kecilnya memegang pipiku dengan kuat.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1