
“Jadi, apa itu yang membuatmu tidak pernah menerima cinta Illuvia atau tawaran kami menjadi bangsawan?”
“Mungkin. Entah. Aku sendiri tidak terlalu yakin. Namun, yang jelas, itu bukan alasan utama.”
“Mungkin? Bukan alasan utama? Kalau itu bukan alasan utama, lalu apa?”
Keadaan kembali reda dan kami kembali menikmati daging bakar sambil berbincang-bincang. Di lain pihak, tante Hervia tampak tidak puas dengan jawabanku.
“Kalau itu adalah alasan utama aku tidak menerima cinta Illuvia, lalu bagaimana dengan Emir?”
“....bisa tolong jelaskan?”
Tante Hervia yang sempat terdiam memberi indikasi bahwa dia juga bingung dengan jawabanku.
“Menurutku, dosa dan kesalahan orang tua tidak otomatis harus dipikul oleh sang anak. Kalau mau membenci seseorang hanya karena keputusan orang tuanya, seharusnya, aku lebih membenci Emir daripada Illuvia. Kenapa? Karena ayah Emir, Raja Fahren, adalah orang yang mengizinkan praktik jual beli anak. Dengan kata lain, ayah Emir bertanggung jawab atas seluruh nasib buruk yang menimpa anak-anak panti asuhan Sargon. Jadi, dengan logika ini, seharusnya aku tidak pernah menerima Emir, kan?”
“Lalu?”
“Lalu, semuanya berubah ketika Emir bersedia meninggalkan status tuan putrinya hanya untuk menjadi calon istriku. Tidak hanya itu. Bahkan, Emir juga menyatakan rela melawan ayahnya, Fahren, demi berada di sisiku. Di lain pihak, berbeda dengan Emir, Illuvia tidak mau melepaskan gelar bangsawannya. Dia lebih memilih untuk mencoba membujukku menerima tawaran ayahnya dan tante untuk menjadi bangsawan. Dan, dari sini, aku bisa memperkirakan kalau Illuvia akan mengambil keputusan yang sama dengan tante, melegalkan perdagangan anak.”
Dari penjelasan tersebut, aku memberi isyarat bahwa Emir lebih baik dari Illuvia. Sementara Emir bersedia menempuh jalan yang berbeda dari orang tuanya, Illuvia tidak.
Alasan ini juga lah yang membuatku tidak membantai anak-anak keluarga Cleinhad. Mereka tidak serta merta ikut bersalah karena keputusan orang tuanya. Namun, tentu saja, bukan berarti semua anak-anak akan dapat lepas dari keputusan orang tuanya. Seperti Illuvia, kalau menerima keputusan orang tuanya, mereka sama bersalahnya.
Ya, aku menyatakan hal itu juga setengah ragu sih.
“Gin, kenapa kamu melarang praktik perdagangan anak? Kamu tahu sendiri kan kalau praktik ini adalah yang membuat organisasi pasar gelap menuruti kuota transaksi? Dan, ini juga yang membuat angka kriminalitas bisa ditekan. Dan, tanpa kamu ketahui, hal ini lah yang menjadi penyokong stabilitas Bana’an.”
Tiba-tiba saja, tante Hervia membawa topik pembicaraan baru. Aku sama sekali tidak menduga tante Hervia akan membawa topik ini. Apa dia berusaha meyakinkanku agar mengalah atau tidak memberi perlawanan lebih lanjut? Bisa jadi.
“Kenapa? Karena anak panti asuhan Sargon menjadi korban. Dan, karena menjadi korban, beberapa anak panti asuhan Sargon pun meminta agar aku menghentikan praktik ini. Mereka tidak mau anak yatim piatu lain menjadi korban juga. Benar-benar permintaan yang mulia. Jadi, aku hanya memenuhi janji.”
“....hanya memenuhi janji? Sudah? Hanya itu?”
“Iya, hanya itu.”
“Hanya untuk memenuhi janji, kamu membantai keluarga Cleinhad, melarang perdagangan anak, dan mengancam stabilitas kerajaan ini?”
__ADS_1
“Yang aku lakukan karena janji hanyalah pemberhentian peradangan anak. Aku membantai keluarga Cleinhad karena dendam, bukan janji. Jadi pembantaian keluarga Cleinhad sudah tidak terhindarkan. Dan, untuk kestabilan kerajaan ini, aku tidak terlalu peduli.”
Tante Hervia tidak memberi respon lebih lanjut. Dia hanya menatapku tajam.
Aku tidak tahu pasti apa yang ada di pikiran Tante Hervia. Namun, setidaknya, aku bisa melihat kekecewaan dari cara dia memandangku. Apa aku peduli? Tentu saja tidak! Di lain pihak, justru aku yang seharusnya kecewa.
“Tante, yang memulai Orion bukanlah Tante, kan?”
“Eh? Iya, yang memulai Orion bukan aku. Yang memulai adalah kakek-kakek buyutku. Namun, yang mendukung sistem enam pilar adalah kakekku dan yang berhasil menjadikan Orion satu dari enam pilar adalah ayahku.”
“Jadi, sejak awal, Orion sudah mendukung perdagangan anak?”
“....benar. Kami harus mengikuti aturan main pasar gelap kalau mau berhasil, kan?”
“Benarkah? Lalu, kenapa ibuku, yang mendirikan dan memimpin Akadia, bisa menjadi Enam Pilar dalam satu generasi tanpa melakukan perdagangan anak?”
“....”
Tante Hervia tidak menjawab. Saat ini, aku bisa membayangkan kalau emosinya mulai memuncak.
“Aku tidak memiliki pilihan!” Tante Hervia menggebrak meja. “Dengar, Gin. Tidak semua orang sepintar dan sehebat ibumu.”
“Lalu? Apa itu memberimu hak untuk menjual anak-anak itu?”
“Itu....”
“Aku sudah bertanya pada ibu kenapa dia tidak mempraktikkan perdagangan anak juga. Padahal, kalau dia melakukannya, proses Akadia untuk menjadi enam pilar akan jauh lebih mudah. Namun, apa tante tahu apa jawaban ibu?”
Tante Hervia tidak memberi jawaban. Dia hanya terdiam. Bahkan, dia tidak menggelengkan kepala.
Aku meneruskan ucapan.
“Ibu bilang dia memiliki putra dan putri, aku dan Ninlil. Kalau perdagangan anak diperbolehkan hanya karena alasan mereka anak yatim piatu, ibu khawatir jika suatu ketika dia dan ayah tewas dan meninggalkanku dan Ninlil menjadi anak yatim piatu. Ya, ibu tidak mau kami diperdagangkan setelah dia tewas. Karena itulah, dia menolak untuk mempraktikkannya.”
“Gin, sudah cukup.”
“Ibu memegang teguh prinsip ‘kalau kamu membunuh, kamu harus siap dibunuh,’. Dalam kasus ini, prinsip yang dipegang ibu adalah, ‘kalau kamu menjual anak orang lain, maka kamu harus siap ketika anakmu dijual oleh orang lain,’. Jadi, apa tante Hervia sudah siap kalau Illuvia–“
__ADS_1
Tante Hervia meletakkan piring dan meraih kerahku dengan tangan kanan.
Aku tidak lengah. Aku membiarkan tangan tante Hervia meraih kerahku. Karena tidak merasakan niat membunuh atau aura haus darah kali ini, aku memperkirakan Tante Hervia tidak marah padaku, tapi marah dan kecewa pada dirinya sendiri.
Semua yang aku ucapkan adalah hal yang bisa dibilang normal dan umum. Dan, aku yakin tante Hervia juga sudah menyadarinya. Namun, ketika mendengar orang lain mengatakan hal ini tepat ke wajahnya, tante Hervia tidak akan tinggal diam.
“Kalian rakyat jelata bicara seenaknya sendiri. Kalian tidak tahu beban yang kami, para bangsawan, pikul demi stabilitas kerajaan ini.”
Tante Hervia melepas kerahku. Dia pun mulai memberi sebuah cerita. Tidak. Daripada cerita, ini lebih tepat disebut curahan hati.
Di lain pihak, ada apa dengan aku dan perempuan lebih tua? Kenapa mereka bisa curhat atau cerita sesuatu masalah dengan ringan padaku? Bahkan, pada kasus Rahayu dan Lacuna, aku bisa melihat sisi yang sama sekali tidak diketahui orang lain. Ya, biar aku pikir lain kali.
Sambil mendengarkan cerita, aku lanjut memanggang dan makan daging segar.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1