I Am No King

I Am No King
Chapter 274 – Ibu pt 3


__ADS_3

~Yueni POV~


 


 


Agade menang. Orion resmi hancur


Aku tersenyum ketika melihat pesan yang masuk. Bukan hanya aku, perempuan berkulit sawo matang dan rambut putih di seberang meja ini, Stella, pimpinan Quetzal, juga tersenyum. Tidak seperti biasa dimana pakaiannya minim sekali, malam ini dia mengenakan celana jeans dan jaket jumper normal. Di lain pihak, aku mengenakan celana, kaos, dan blazer.


"Lugalgin benar-benar tidak bisa dibendung."


"Heh, siapa dulu ibunya. Aku...."


"Hehehe," Stella terkekeh. "Kamu tidak benar-benar memiliki hak untuk mengaku sebagai ibu Lugalgin. Secara, kamu hanya melahirkannya dan membantunya makan di awal, sudah itu. Begitu dia sudah bisa makan sendiri, kamu lebih fokus membesarkan Akadia. Bahkan, dia yang membesarkan putrimu."


"Hah? Dari mana kamu mendengarnya?"


"Lugalgin. Dia juga datang kepadaku dengan tawaran itu, ingat?"


Sebenarnya, aku ingin menyanggah ucapan Stella. Meskipun begini, aku tetap ibunya. Di lain pihak, ada sebagian dari diriku yang ingin memarahi Lugalgin. Kenapa dia menceritakan aib keluarga ke pihak luar.


Namun, meski demikian, aku tidak melakukan semua itu. Ucapan Stella benar. Yang aku lakukan hanyalah melahirkan dan membesarkannya hingga balita. Setelah balita, atau lebih tepatnya setelah resmi Lugalgin menjadi inkompeten, aku lebih fokus membesarkan Akadia. Kalaupun di rumah, aku hanya bertengkar dengan Barun, tidak lebih. Aku tidak layak memanggil diriku sebagai ibu karena aku tidak bisa memberi kasih sayang yang sepatutnya didapatkan oleh anak-anakku.


Dan, Lugalgin yang menceritakan hal ini ke Stella, yang adalah orang luar, menandakan bahwa ada sebagian dari dirinya yang marah padaku. Menurutku, kemarahan Lugalgin bukan karena aku menelantarkannya. Lugalgin pasti masih marah ketika mengetahui aku adalah pemimpin Akadia tapi tidak bisa menyelamatkan anak-anak panti asuhan Sargon itu. Dan, meski tidak sadar, tampaknya Lugalgin masih memendam kemarahan itu.


Maafkan ibu, Lugalgin. Maaf.


Meski hati dan pikiran ini sedang berkecamuk, aku tidak membiarkannya muncul ke wajahku begitu saja. Aku memiliki satu skill yang bisa diandalkan, poker face.


"Jadi, bagaimana? Apa Quetzal mau mencoba melawan Akadia dan Agade? Ah, jangan lupa intelijen dan militer kerajaan."


"Tidak, terima kasih. Aku tidak mau melakukan pertarungan yang sia-sia. Lagi pula, sebagian besar anggota Quetzal, yang bangsawan, sudah menerima tawaran Lugalgin."


"Termasuk kamu?"


"Termasuk aku."


Aku masih sulit percaya kalau perempuan ini mau menerima tawaran Lugalgin.


"Ah, sebelum kamu berpikir yang aneh-aneh, tampaknya, tawaran yang diberi Lugalgin padaku berbeda dengan yang didapat bangsawan pada umumnya."


"Berbeda? Berbeda di bagian mana?"


"Hehe. Maaf, tapi aku tidak ada niatan membocorkannya. Lugalgin sendiri yang meminta agar aku tidak membocorkannya. Bahkan, aku mengatakan ini saja sudah berada di zona abu-abu. Kamu tidak mau aku mengingkari janji yang kubuat dengan putramu, kan?"


"Hah. Kalau kamu sudah berjanji dengan Lugalgin, ya sudah. Aku tidak akan mencari tahu lebih jauh."


Kalau tawaran yang diberikan pada Stella berbeda, kemungkinan ada bangsawan lain yang juga mendapat tawaran serupa. Namun, aku akan mengabaikannya. Untuk saat ini.


Stella mengambil pena di atas meja dan menandatangani sebuah dokumen. Dia memberi tandatangan dengan luwes dan tegas, tidak tampak ada keraguan atau paksaan dari gerakan tangannya.


"Dengan ini, Quetzal resmi menghentikan perdagangan anak. Aku harap Akadia juga akan memenuhi kesepakatan ini."

__ADS_1


"Jangan khawatir. Akadia akan menjunjung tinggi kesepakatan ini."


 


 


***


 


 


~Rahayu POV~


 


 


Agade menang. Orion resmi hancur. Oh, dan, aku dengar Fahren dalam perjalanan menemuimu.


 


 


Aku tersenyum melihat pesan yang masuk.


"Sayang sekali, sayang. Agade menang. Lugalgin, menang."


Aku memproyeksikan pesan dari Lugalgin ke udara, membuatnya bisa dilihat orang lain.


Tidak terdengar balasan sama sekali dari lawan bicaraku. Atau suara yang barusan dia keluarkan adalah balasannya? Kelihatannya iya.


Beberapa saat lalu, Fahren datang bersama dua orang mercenary ke kamar. Dia benar-benar yakin kalau aku dilukai dan diancam oleh Lugalgin. Lucu sekali. Aku tidak langsung membuka kartu. Aku berpura-pura untuk sejenak. Ketika dia datang, aku menunjukkan wajah bahagia, berbinar, seolah-olah menanti kedatangannya.


Fahren sempat memeluk dan mengusap punggungku, berusaha menenangkanku. Namun, tidak lama kemudian, dua mercenary yang membawa Fahren roboh. Mereka tewas, dibunuh oleh Jin.


Setelah Jin datang, Fahren masih percaya kalau aku diancam. Dia bahkan berdiri di antara kami dan berkata, "aku akan menjadi bonekamu! Jangan sakiti Rahayu lagi!". Ah, aku benar-benar ingin tertawa ketika mendengar Fahren mengatakan hal itu.


Akhirnya, aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku mengambil pistol syringe yang tersimpan di peti, tersembunyi di balik bantal, dan menyuntikkannya ke leher Fahren. Sebelum dia lumpuh, Fahren sempat berbalik dan melihat ke arahku. Pandangan terbuka lebar dan mulut menganga. Aku bisa melihat pandangan Fahren yang bergetar, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Dan, setelah itu, Jin mengikat Fahren dan menyumpal mulutnya. Meski sebenarnya dia tidak perlu mengikat Fahren, karena aku sudah menggunakan obat pelumpuh, Jin tetap saja melakukannya. Dia bilang berjaga-jaga lebih baik daripada menyesal.


"Fahren, apa kamu benar-benar berpikir Orion memiliki peluang menang? Haha, lucu sekali. Lugalgin sudah memiliki kuasa atas intelijen dan militer kerajaan. Apa yang menurutmu bisa membuat Orion menang? Bukan hanya itu. Lugalgin pun mendatangi bangsawan-bangsawan oposisi, membuat mereka tunduk. Menurutmu kenapa Quetzal tidak ikut bertarung? Hahahaha."


Ya. Aku mendapat laporan dari agen schneider kalau Lugalgin memberi tawaran ke pihak oposisi, menghancurkan sebagian kekuatan lawan sebelum bertarung. Lugalgin benar-benar pintar dan ahli strategi.


"Ahh.....Fahren, apa kamu bertanya-tanya kenapa aku melakukan semua ini? Mudah saja. Karena kamu membiarkan semua ini terjadi. Kamu membiarkan para istrimu saling membunuh untuk mendapatkan posisi permaisuri. Bukan hanya itu, kamu juga membiarkan anak-anakmu menjadi korban. Menjadi permaisuri adalah kehormatan dan impian? Hah! Menjadi permaisuri adalah kesalahan. Kematian mengintaiku dan anak-anakku setiap saat."


Mata Fahren terus membelalak. Aku tidak akan kaget kalau bola matanya lompat saat ini juga.


Aku benar-benar bahagia. Puas melihat Fahren yang terkejut dan tidak mampu menerima kenyataan.


Ahh......benar-benar memuaskan.

__ADS_1


"Oke, Jin, bunuh dia. Aku sudah merasa cukup."


"Baik."


Laki-laki dengan rompi dan dasi ini maju dari pintu dan menusuk leher Fahren.


"MMMM!!!!!!"


Fahren berusaha berteriak. Namun karena mulutnya disumpal, tidak terdengar suara yang berarti dari mulutnya.


Tidak lama kemudian, tubuh Fahren tidak bergerak lagi, menyisakan tubuh tidak bernyawa di atas lantai.


"Lakukan sesuai rencana."


"Baik."


Jin menurut dan membawa tubuh Fahren.


Akhirnya aku sendirian di ruangan ini. Aku menutup pintu dan kembali duduk di kasur.


Semuanya berjalan sesuai rencana.


"Hihihihi,"


Aku tidak bisa menghentikan senyum dan tawaku.


Pandanganku tidak salah. Lugalgin benar-benar sosok yang tepat. Pandanganku sudah tertarik padanya sejak pertemuan pertama, sejak membawa Emir ke rumahnya. Tidak banyak orang yang bisa mengancam dan melawan keluarga kerajaan.


"Ah, Lugalgin. Apakah aku harus menjadi permaisuri dan kamu menjadi Rajanya? Ataukah aku saja yang menjadi Ratu dan kamu cukup menjadi suamiku? Ah....Lugalgin......"


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1


 


__ADS_2