I Am No King

I Am No King
Chapter 335 – Behind Enemy Lines


__ADS_3

"Dan, untuk payudara ini, tenang saja, nanti juga dada Rina akan membesar setelah hamil anak pertama."


"Eh?"


"Hehehe. Kami bukan berasal dari keluarga utama, jadi, kutukan dada rata itu tidak kami bawa sampai mati. Ya, memang ukuran kami di bawah standar, tapi tidak full rata seperti keluarga utama. Namun, memang ukurannya tidak cukup mencolok. Apalagi setelah ditutup pakaian. Ah, tapi, kalau kamu, anak perempuan kalian akan menuruni darahmu, Gin."


"..."


Di dalam tubuhku, mengalir darah keluarga utama Alhold. Semua anakku, juga akan memiliki darah Alhold. Dengan kata lain, semua anak perempuanku akan memiliki dada rata. Kalau di masa depan mereka tahu penyebab dada mereka rata adalah aku, ayahnya ... tidak. Aku tidak bisa membayangkan seberapa marahnya mereka padaku.


"Hey, Lugalgin."


"Ya?"


"Kamu tidak tampak siaga padahal sedang ada di istana kerajaan Nina. Apa kamu tidak takut aku bunuh."


"Hah? Pertanyaan konyol macam apa itu? Kalau kamu ingin membunuhku, kamu tidak akan menyelamatkanku ketika jatuh saat pengendalianku hilang."


Ya, benar. Kalau Ibu Amana ingin membunuhku, dia pasti sudah melakukannya ketika menghilangkan pengendalianku. Bukan hanya saat itu. Selama 3 hari ini, ketika aku menahan rasa sakit, Ibu Amana memiliki banyak kesempatan untuk membunuhku. Namun, dia tidak melakukannya.


Perlakuan yang aku dapat di istana justru sebaliknya. Ibu Amana berkali-kali mengecek keadaanku. Lalu, selama itu juga, ada seorang pelayan perempuan yang merawatku setiap saat. Dia terus mengusap keringat yang membasahi tubuhku dan juga mengganti pakaianku. Namun, aku tidak melihatnya ketika bangun.


Selain beberapa alasan tersebut, aku juga tidak merasakan ada aura haus darah, niat membunuh, atau bahkan pandangan benci. Baik Ibu Amana, pelayan, maupun agen marionette yang mengawasiku. Karena beberapa hal itulah aku berani tidur tadi siang. Kalaupun mereka ingin membunuhku, aku akan dibangunkan oleh insting.


Namun, yang membuat bingung adalah kenapa aku bisa mendapatkan perlakukan ini? Aku sudah menggagalkan usaha Kerajaan Nina untuk membunuh Tera. Aku juga sudah menikahi Rina yang mendeklarasikan perlawanan. Terakhir, aku juga sudah menghancurkan militer Anshan. Saat ini, Anshan pasti sudah diduduki oleh Agade. Dan, kalau Mulisu bergerak, mungkin wilayah sekitar Anshan juga sudah tunduk.


Salah satu kemungkinan adalah Ibu Amana masih menginginkanku menjadi Raja Kerajaan Nina. Kalau menjadi Raja, ada kemungkinan aku mengampuni mereka atas keramahan ini. Atau setidaknya ampunan untuk keluarga karyawan. Namun, Rina sudah mendeklarasikan perlawanan dan akan menjadi Ratu di masa depan. Jadi, seharusnya, kemungkinan aku menjadi Raja sudah kandas.


Atau jangan-jangan Ibu Amana menculikku untuk meyakinkan agar aku mengambil posisi Raja dan melawan Rina? Bisa jadi. Namun, rasanya, kemungkinan ini sangat kecil. Emir dan Inanna bersama Rina. Tidak mungkin aku mengkhianati mereka. Dan, Ibu Amana pasti mengetahui hal ini.


Ahh ... sudahlah! Aku bingung! Semua kejadian selama ini dan perlakuan yang kuterima di istana sangat tidak sesuai. Daripada bingung sendiri, lebih baik aku langsung menanyakannya.


"Ibu Amana, apa kamu bisa ...."


Aku terhenti ketika melihat ibu berambut perak ini memejamkan mata di kasur. Melihatnya yang tertidur, aku membatalkan pertanyaan. Aku pun menutup tubuh Ratu Amana dengan selimut dan berjalan keluar.

__ADS_1


"Rina ... Tera ..."


Saat berjalan, aku sempat mendengar Ibu Amana yang memanggil nama anaknya. Ketika mengucapkan nama Rina dan Tera, suara Ibu Amana terdengar sayu. Aku penasaran apakah dia terpaksa membunuh Tera dan memisahkan diri dari Rina? Atau jangan-jangan ada orang lain yang memaksanya?


Kalau ini adalah sebuah cerita untuk anak-anak, sangat besar kemungkinan ada orang yang mengancam dan mengendalikan Ibu Amana. Namun, sayangnya, ini adalah kenyataan. Kecil sekali kemungkinan ada orang yang mengendalikan Ibu Amana dari belakang. Apalagi, mengingat dia adalah seorang Alhold.


Baru keluar dari kamar, aku sudah disapa oleh sosok familier, seorang pelayan perempuan. Pelayan berambut coklat ini lah yang merawatku selama tiga hari terakhir. Dia juga memotong semua keloid yang tumbuh di wajah dan leherku.


"Yang Mulia Paduka Ratu memerintahkan saya untuk mengantar Anda ke ruang makan. Beliau mengatakan kalau Anda pasti lapar ketika bangun."


Setelah mengatakan hal itu, si pelayan berbalik dan berjalan. Tanpa mengajukan pertanyaan, aku mengikutinya. Tidak lama, kami tiba di ruang makan besar dengan meja panjang di tengah ruangan.


Si pelayan menarik kursi di tengah, mempersilakanku duduk. Aku duduk dan melahap semua makanan yang disajikan. Meski ada kemungkinan makanan ini diberi racun, aku tidak peduli. Aku sudah terlalu lapar untuk berpikir. Mati gara-gara racun lebih baik daripada mati gara-gara kelaparan.


Tidak lama kemudian, aku selesai makan dan si pelayan merapikan piring kosong.


"Mohon Tuan Lugalgin menunggu di sini. Ada yang ingin menemui Tuan Lugalgin."


"Menemuiku? Siapa?"


Tanpa menjawab, si pelayan pergi sambil mendorong gerobak penuh piring kotor.


"Uh ... kepalaku ...."


Suara familier muncul. Ibu-ibu yang seharusnya tertidur berjalan masuk. Dia tidak duduk di sebelahku, tapi di seberang.


"Maafkan kelakuanku yang tadi, Gin. Aku mabuk."


"Jangan khawatir. Aku tidak memiliki masalah dengan mertua yang menekan dadanya di depan menantu."


"... oke. Langsung to the point saja."


Ibu Amana membawa topik inti. Tampaknya, dia benar-benar ingin melupakan kejadian tadi.


"Tapi, kepalaku ...."

__ADS_1


"Yang Mulia, silakan."


"Ah, terima kasih Ira."


Tanpa perintah, pelayan perempuan yang merawatku datang dengan satu gelas air dan pil. Aku memperkirakan pil itu adalah obat untuk meringankan efek hangover. Di lain pihak, akhirnya aku mengetahui nama si pelayan.


"Ira, aku ingin berterima kasih karena kamu sudah merawatku selama 3 hari ini."


"Terima kasih Anda tidak diperlukan, Tuan Lugalgin. Adalah sebuah kehormatan bagi saya untuk merawat Anda."


Ira tersenyum dan merendahkan badan. Senyum yang dia beri bukanlah senyum bisnis, tapi sebuah senyum tulus.


Baiklah, aku semakin bingung dengan keadaan ini.


"Baiklah Lugalgin. Kamu pasti bingung dengan semua kejadian ini, kan? Jadi, biar aku beri penjelasan lengkapnya."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


 



__ADS_2