I Am No King

I Am No King
Chapter 239 – Tahanan Kabur


__ADS_3

Asura?


Tiba-tiba saja Tera melompat ke arahku. Refleks, aku langsung menangkap dan melemparnya ke ujung ruangan. Walaupun terjatuh, dia tampak tidak terganggu. Gerakannya menjadi aneh. Kini, dia berdiri dengan kedua tangan menjulur ke bawah. Matanya membelalak, tapi tidak terlihat ada cahaya, seolah-olah, dia tidak sadar.


Aku menoleh ke kanan, melihat ke arah Yuan dan mengangguk. Yuan pun mengangguk dan berjalan ke samping Inanna dan Emir.


"Pangeran Tera, apa yang kamu lakukan? Kamu mau memantik perang juga?"


Emir mencoba meyakinkan Tera. Namun, usahanya tidak akan berhasil. Tera yang sekarang mungkin tidak akan mendengar apa pun. Di lain pihak, Inanna sudah menodongkan senjatanya ke arah Tera.


Tera kembali melompat ke arahku. Inanna melepas tembakan. Namun, tidak ada satu pun peluru yang berhasil mendarat di tubuh Tera. Logam di ujung ruangan, yang sebelumnya digunakan Tera, dikendalikan dan melindunginya.


Aku menerima Tera dan membantingnya ke meja rendah kaca. Meskipun memecahkan kaca dan beberapa beling menusuk di punggung, Tera tampak tidak peduli. Dia kembali bangkit dan lari ke arah Mulisu.


Mulisu melepas tembakan. Bukan ke arah Tera, tapi ke arah Rina. Sayangnya, tembakan yang dia lepas tidak pernah mendarat di Rina. Tera melompat dan menggunakan badannya untuk melindungi Rena. Dia menjulurkan tangan ke depan, ke kepala Mulisu.


Aku tidak tahu apa yang Mulisu rasakan atau pikirkan, tapi dia tidak menghindar kecil seperti memiringkan kepala. Dia langsung melompat ke samping, menjauh dari Tera. Dan apa yang dilakukan Mulisu adalah tepat. Tangan Tera tiba-tiba berubah menjadi bola api, meledak.


Setelah Mulisu pergi, Tera mengambil satu beling yang menancap di tubuhnya. Membelakangi kami, dia memotong tali yang mengekang Rina dengan beling itu.


"Sial! Makhluk apa dia?"


Karena Tera berdiri di antara kami dan Rina, tidak satu pun tembakan yang dilepaskan oleh Emir, Inanna, maupun Mulisu mampu mendarat di Rina. Semuanya bersarang di tubuh Tera. Dan, dia tampak tidak terganggu walaupun belasan atau bahkan puluhan peluru bersarang di tubuhnya.


"Bagus."


Suara Rina terdengar bersamaan dengan dia mencengkeram Tera. Kali ini, Rina benar-benar menggunakan Tera sebagai pelindung.

__ADS_1


"Lugalgin Alhold, di dalam tubuh Tera, terpasang bom yang cukup kuat untuk meledakkan seisi ruangan ini. Aku peringatkan kamu segera pergi kalau tidak ingin tewas?"


"Sial!"


Instingku mengatakan Rina tidak hanya memberi gertak sambal. Aku langsung menggendong Yuan di depan dan pergi dari ruangan ini. Emir dan yang lain mengikuti. Tidak lama setelah kami pergi dari ruangan, sebuah getaran kuat terasa. Pintu ruangan Yuan pun terlempar. Kalau tidak ada pilar di luar ruangan Yuan, mungkin pintu itu sudah terlempar ke lantai dasar mal.


"Yuan, menurutmu?"


"Tera memiliki gejala yang mirip dengan adikmu ketika dicuci otak, kebal terhadap rasa sakit, fokus pada tujuan. Namun, kalau harus aku bilang, intensitasnya berbeda. Tera menunjukkan tingkat cuci otak yang terlalu tinggi."


"Begitu ya."


Kalau teknik cuci otak yang digunakan adalah berbasis pengendalian, seharusnya, efeknya hilang atau setidaknya melemah ketika aku memegangnya atau dia dilihat oleh Rina. Namun, karena tidak, besar kemungkinan dia dicuci otak dengan cara lama, penyiksaan dan penanaman ingatan.


Karena orang ini meledakkan diri, kemungkinan besar dia bukanlah Tera yang asli, hanya orang yang dicuci otaknya agar percaya kalau dia Tera. Dan kata Asura yang diucapkan oleh Rina lebih kepada pelatuk untuk memunculkan sisi ini.


"Menurutmu kenapa dia memberi tahu kalau ada bom di tubuh adiknya?"


"Karena dia tidak ingin membunuh Lugalgin? Maksudku, tampaknya, dia benar-benar serius ingin menjadikan Lugalgin Raja, kan?"


Sementara yang lain berbincang-bincang, aku berjalan ke balkon, mengabaikan benda-benda yang membara.


Mulisu sudah menggeledah tubuh Rina. Seharusnya, tidak ada satu pun alat yang bisa dia gunakan untuk kabur. Namun, dugaan itu pun hilang ketika aku tiba di balkon. Di balkon, terlihat sebuah kabel baja yang memanjang hingga ke dasar tanah di luar. Namun, yang menjadi perhatianku bukanlah kabel baja ini, tapi benda yang ada di ujungnya.


Di bagian ujung kabel baja, terlihat sebuah benda seperti mangkuk yang menempel di tembok balkon, seperti menghisapnya. Mangkuk ini memiliki warna sawo matang, sama seperti kulit Rina. Memastikan, aku pun menyentuh mangkuk ini. Teksturnya.... lembut dan kenyal.


Sekarang aku paham kenapa perasanku masih mengganjal meskipun Rina mengatakan dia hanya berakting. Selama ini, aku terlalu fokus pada status sebagai inkompeten untuk memastikan dia adalah Alhold. Sampai-sampai, aku lupa satu ciri khas perempuan keluarga Alhold. Ya, itu adalah dada mereka yang datar.

__ADS_1


Hingga saat ini, aku tidak pernah menaruh perhatian pada dada Rina karena ukurannya normal. Namun, seharusnya aku sadar kalau bagi perempuan Alhold, ukuran dada normal adalah tidak normal. Jadi, Rina menggunakan mangkuk kenyal ini sebagai payudara palsu untuk menyembunyikan kabel baja yang dia gunakan untuk kabur. Dan karena di dalam mangkuk kenyal, walaupun dia digeledah atau diremas pun tidak akan ketahuan.


"SIAL! BRENGSEK! ********! BODOH!"


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2