
"Eh? Gin, kamu ngapain?"
Aku tidak menjawab pertanyaan Shu En, hanya mendengung dengan santai dan menuju ke jendela. Ketika sudah sampai, aku menggeser jendela dan menuju balkon. Dengan cepat, aku meletakkan jari di pelatuk dan menekan bagian belakang senapan ke bahu kanan.
Melalui teleskop senapan, aku melihat dua orang yang juga melihat melalui teleskop. Dua orang ini memisahkan pandangan dari teleskop, tampak penasaran.
Tanpa mengatakan apapun, aku melepas dua tembakan dan... Head shot.
"Gin?"
Inanna memanggilku, tapi aku biar aku abaikan dulu.
Orang ketiga muncul. Dia mencoba meraih senapan yang ada di dekat dua orang itu. Sayang sekali, dia tidak berhasil meraihnya. Dalam satu nafas, aku berhasil melubangi mata kanannya.
Tadi, ketika dijemput Shu En dengan mobil, aku mendapati beberapa rumah tampak aneh. Lebih tepatnya, orang di dalamnya aneh. Aku memperhatikan, mereka melihat ke jalan sambil berusaha sembunyi di balik korden. Kalau hanya satu, aku tidak akan penasaran. Namun, karena aku melihatnya beberapa kali, aku menyimpulkan mereka menungguku.
Jadi, baru saja, aku mencoba memastikan beberapa rumah itu. Tidak kuduga, pada salah satu rumah, aku melihat mereka menggunakan teleskop. Di dekat mereka, sebuah senapan sudah siap. Aku mengenal wajah mereka sebagai agen schneider di kota ini. Jadi, tanpa pikir panjang, aku pun langsung melepaskan tembakan.
Sambil melepas pandangan dari teleskop, aku melangkah mundur. Suara tumpul pun terdengar di balkon. Suara tumpul itu berasal dari beton balkon yang dihantam oleh peluru.
Tanpa memedulikan suara-suara yang terus bermunculan, aku kembali ke dalam kantor.
"Oke, jadi–"
Tanpa membiarkanku selesai berbicara, Inanna sudah berlari ke balkon. Semenjak Inanna pergi ke balkon, tidak terdengar lagi suara tumpul antara peluru dengan beton.
Bagi pengendali timah seperti Inanna, dia memiliki keunggulan dalam pertarungan senjata api. Hampir semua peluru yang diproduksi di dunia ini terbuat dari timah. Hanya peluru pesanan khusus yang tidak terbuat dari timah. Dia dapat menghentikan semua peluru yang datang dan mengembalikannya.
Tapi, perempuan ini, hah..... aku hanya menghela nafas. Ya, sekalian lah. Aku ingin mencoba sesuatu.
"Inanna,"
"Hauhh...."
Suara yang lemah lembut terdengar dari bibir Inanna. Sosok yang sebelumnya berdiri gagah itu kini langsung membungkuk, berusaha meringkuk.
Hmm, kenyal dan lembut sekali.
"Gin, tolong tidak di depan umum."
__ADS_1
Inanna menoleh ke arahku dengan perlahan. Wajahnya benar-benar merah merona. Nafasnya pun tersengal-sengal.
Tunggu, aku hanya meremas dadanya, kenapa dia tampak sangat terangsang? Oke, oke. Aku, tahan dulu! Aku, tahan dulu!
Aku terus mencoba meyakinkan diri ini agar tidak berlaku lebih jauh, menekan libido yang berusaha menguasai tubuhku.
"Maaf, aku terpaksa. Aku belum tahu cara untuk mengembalikanmu dari mode bertarung. Namun, aku harus langsung menarikmu. Bagaimana kalau mereka sudah menyelidiki latar belakangmu dan menyiapkan peluru khusus yang tidak terbuat dari timah? Kemungkinan itu sangat besar. Kamu beruntung sekali mereka belum melakukannya."
"Ma, maaf."
Aku berusaha menekan libidoku dengan sedikit kemarahan. Maaf ya Inanna, aku terpaksa sedikit meninggikan nadaku. Kalau tidak, aku akan kesulitan melanjutkan hari.
Di lain pihak, terlihat sedikit air mata di ujung kelopak Inanna. Masih merendahkan badan, aku berusaha menarik Inanna kembali ke ruangan.
"Shu En–"
"Aku sudah menyuruh orang untuk segera memeriksa sekitar," Sela Shu En sambil dengan handphone di tangannya.
Ibu-ibu ini gerak cepat, ya.
Aku melihat wajah Inanna masih merona. Nafasnya sudah terlihat normal, tapi masih sedikit tersengal. Sesekali, dia melempar pandang padaku. Namun, entah kenapa, dia langsung mengalihkan matanya ketika pandangan kami bertemu.
Sial! Reaksi perempuan ini benar-benar menggoda libidoku. Aku harus segera membawa topik baru. Topik yang serius agar aku bisa menekan libido di tubuh ini.
"Oke, jadi, biar aku simpulkan keadaanku, atau keadaan kita, saat ini." Aku menekan nada bicara. "Berkat surat edaran itu, secara tidak langsung, aku sudah menyatakan perang dengan mereka. Perang ini tidak terbatas aku melawan mereka, tapi mencakup agen schneider yang mendukungku dan melawanku. Dan, tentu saja, pembunuhan adalah hal normal, kan? Jadi, aku sarankan kalian siaga. Amankan diri dan keluarga kalian."
"BAIK!"
Shu En menjawabku dengan semangat berkobar. Namun, setelah itu, dia terdiam. Dia melihat ke sekitar, ke orang-orang yang masih melihat-lihat dokumen. Orang-orang itu tampak acuh tak acuh dengan pernyataanku.
Hanya Emir dan Inanna yang tidak melihat dokumen. Entah sejak kapan, mereka sudah memisahkan diri dan ngobrol di pojok ruangan. Um, Emir, Inanna, apa yang kalian bicarakan?
"Um, kok, semuanya tidak ada respon?"
"Tanpa perlu Ka–Lugalgin mengatakannya, kami sudah tahu. Dan lagi, kami tidak memiliki keluarga. Jadi, kami hanya perlu menjaga diri."
Mari adalah orang pertama yang merespon Shu En. Dia menjawab Shu En dengan mata masih melekat di dokumen.
__ADS_1
"Ah, begitu ya. Maaf..." Shu En menurunkan pandangan.
Alasan Shu En meminta maaf adalah karena dia merasa tidak enak dengan ucapan Mari. Ucapan Mari jelas-jelas menyatakan kalau saat ini Mari dan yang lain adalah sebatang kara, tanpa keluarga.
"Tidak apa-apa. Santai saja. Aku sudah menganggap tiga orang bodoh ini keluargaku kok. Ka– Lugalgin, Emir, dan Inanna juga sudah aku anggap sebagai keluarga."
Di lain pihak, Mari menjawab dengan enteng.
Mari, kalau kamu mau memanggilku dengan sebutan Kakak, aku sama sekali tidak keberatan. Entah kenapa, aku merasa kasihan setiap mendengarnya memperbaiki panggilanku.
"Shu En, kamu tidak perlu mengkhawatirkan keluargaku. Kamu hanya perlu mengkhawatirkan dirimu dan keluargamu. Dan tolong kabari orang-orang yang sudah menyatakan kesetiaan padaku."
"Oke,"
Berbeda dari sebelumnya, tidak terlihat lagi sisa-sisa jawaban Shu En yang bergelora. Sekarang, dia menjawab dengan nada normal.
Di lain pihak, aku justru penasaran dengan Emir dan Inanna yang mengobrol, dengan suara pelan, di ujung ruangan. Ya, aku benar-benar penasaran. Atau mungkin, lebih tepatnya, khawatir.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1