I Am No King

I Am No King
Chapter 242 – Pihak Ketiga


__ADS_3

Rahayu tidak langsung memberi respon. Dia terdiam dan melihatku dalam-dalam. Pandangannya begitu tajam, melihat ke seluruh tubuhku, mencari gelagat atau pertanda kebohongan. Sayangnya, selama apa pun mencarinya, kamu tidak akan menemukannya.


"Gin, aku tidak melihat ada satu pun indikasi kamu berbohong. Kamu benar-benar serius dengan ucapanmu, tidak ingin menjadi Raja. Kalau aku boleh tahu, apa yang membuatmu begitu bersikeras? Apa karena darah Alhold mengalir di tubuhmu?"


Sebenarnya, aku bisa memberikan banyak sekali alasan kenapa menjadi Raja atau pimpinan suatu negara adalah sesuatu yang tidak enak. Namun, aku malas kalau harus menjelaskannya satu per satu. Kira-kira alasan apa yang harus kuberikan, ya?


"Ibu," Emir masuk. "Menurutku, Lugalgin memang tidak cocok menjadi Raja."


"Eh?"


"Ibu lihat sendiri kan bagaimana Lugalgin bisa begitu melunak ketika dipertemukan dengan salah satu anak panti asuhan yang dijual, di Mariander?"


Rahayu mengangguk.


"Lugalgin terlalu baik dan lembut. Dia rela mengorbankan hidupnya hanya untuk mencari anak-anak panti asuhan yang dia kenal. Lugalgin juga bersedih ketika mendengar berita salah satu anak dari panti asuhan tersebut tewas. Padahal, mereka tidak memiliki hubungan darah dengan Lugalgin. Untuk seorang Raja yang harus mengorbankan keinginan pribadi untuk kebaikan banyak orang, Lugalgin tidak akan sanggup.


"Emir benar, Tante. Kalau disuruh memilih, Lugalgin justru akan memilih untuk mengorbankan semua orang demi kepentingan pribadi. Contoh saja begini. Gin," Inanna beralih ke aku. "Kalau aku dan Emir disandera. Di lain pihak, musuh juga mengancam akan membunuh warga kerajaan ini. Apa yang akan kamu lakukan, Gin?"


"Tentu saja aku akan memilih kalian. Peduli setan dengan warga yang tidak aku kenal. Mereka semua bisa mati dan aku tetap bisa tidur dengan tenang."


Aku menjawab dengan cepat, tanpa jeda, tanpa berpikir.


"Dari sini, Tante, sudah terlihat kalau Lugalgin sama sekali, aku ulangi, sama sekali tidak memenuhi kriteria untuk menjadi Raja. Dia hanya peduli dengan kepentingan pribadi."


Ah, um, Emir, Inanna, cara kalian mengatakannya seolah-olah aku adalah bangsawan korup yang hanya ingin memperkaya diri sendiri.


"Lalu, tante, ada sebuah ungkapan dari literatur tua yang pernah kubaca. Seorang Raja haruslah serakah. Dia tidak boleh mengucap kata puas. Semua hal harus menjadi miliknya. Walaupun Raja diharuskan memilih keluarga atau masyarakatnya, keserakahannya harus dipegang teguh. Dia harus serakah dan menyatakan akan memilih semuanya, keluarga dan masyarakat.


"Seorang Raja yang lebih memilih keluarganya hanyalah orang egois dengan takhta. Tanpa masyarakatnya, dia bukanlah seorang Raja. Di lain pihak, seorang Raja yang lebih memilih masyarakatnya hanyalah orang bodoh dengan takhta. Tanpa keluarganya, dia tidak akan pernah terlahir dan bertahan hidup. Tanpa keluarga, Raja itu tidak akan menjadi manusia.


"Dari sini, kita bisa melihat Lugalgin sama sekali tidak memiliki keserakahan yang adalah syarat mutlak untuk menjadi Raja. Kalau menjadi Raja, Lugalgin hanya akan menjadi orang egois dengan takhta, tidak lebih."


Di dalam hati, aku bertepuk tangan. Bahkan, aku sangat ingin berdiri dan bertepuk tangan, memberi standing applause untuk Inanna. Namun, aku menahan diri untuk tidak melakukannya.


Tok tok

__ADS_1


Tiba-tiba pintu diketok. Semua orang di ruangan ini langsung menoleh ke pintu.


"Biar aku."


Aku bangkit dan berjalan ke pintu. Begitu aku membuka pintu, tampak seorang pelayan berdiri dengan membawa nampan. Di atas nampan itu, tampak sebuah telepon kabel.


"Panggilan untuk Tuan Lugalgin."


"Terima kasih."


Ruang rapat tertutup ini didesain sedemikian rupa agar tidak ada sinyal yang bisa masuk. Jadi, kalau pihak luar mau menelepon, harus melalui orang istana terlebih dahulu.


"Ya, ini Lugalgin."


[Gin, ini Yuan. Coba kamu cek berita. Kamu pasti akan terkejut.]


"Um, tidak bisa lewat telepon saja?"


[Tidak! Akan jauh lebih cepat kalau kamu lihat berita. Semua saluran menayangkan berita yang sama.]


Aku menutup telepon kembali ke atas nampan sambil mengucapkan terima kasih.


"Baik, perbincangan kita rasanya sudah selesai. Sekarang, aku sarankan kita melihat berita."


"Ke ruang pertemuan terbuka saja. Di situ ada backdrop besar."


Kami menuruti Rahayu dan keluar dari ruangan ini. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya kami datang di sebuah ruang konferensi. Ruang ini memiliki luas sekitar 40 x 25 meter. Berbeda dengan ruang rapat tertutup sebelumnya, ruangan ini memiliki banyak meja berjajar panjang dan tiga meja besar di bagian depan.


Kami berjalan ke depan dimana sebuah layar putih besar terpasang. Aku mengambil smartphone di dalam saku dan mencari situs berita. Setelah masuk ke situs berita, aku meletakkannya di atas meja, mengarahkan proyeksinya ke layar putih di depan.


[Baru saja terjadi serangan di perbatasan Kerajaan Mariander dan Kerajaan Nina. Diperkirakan militer Kerajaan Mariander mengejar pemberontak hingga perbatasan. Namun, beberapa misil salah sasaran dan menghancurkan pos siaga milik Kerajaan Nina. Militer kerajaan Nina tidak tinggal diam dan membalas serangan.]


"Eh?"


Semua orang, termasuk aku, terkejut dengan berita ini. Namun, aku cukup yakin alasan kami terkejut adalah berbeda. Rahayu, Emir, dan Inanna pasti terkejut mengenai serangan Mariander ke Nina ini. Di lain pihak, aku terkejut pada seberapa cepat rencana kami berjalan.

__ADS_1


[Saat ini, militer Kerajaan Mariander dan Kerajaan Nina sedang bersitegang dan saling melepaskan serangan. Di layar, pemirsa bisa melihat tank dari Kerajaan Nina dan Kerajaan Mariander yang terus melepaskan tembakan dan bola api ke udara. Peringatan Evakuasi pun telah dikeluarkan oleh kedua belah Kerajaan agar masyarakat segera menjauh dari daerah konflik.]


Ya, selama perjalanan kesini, aku membuat permintaan pada True One agar menggunakan kendaraan Militer Mariander untuk menyerang perbatasan Kerajaan Nina. Namun, kalau hanya pihak Mariander yang melepas tembakan, ada kemungkinan Kerajaan Nina akan mundur sejenak demi menghindari perang.


Oleh karena itu, aku berkomunikasi dengan Yuan dan Ibla agar mereka menyewa mercenary di perbatasan, mengambil kendaraan Militer kerajaan Nina, dan membalas tembakan Mariander. Dengan pertikaian yang dimulai dari dua kubu kecil ini, personil militer di sekitar akan ikut kepanasan dan melepas tembakan. Dan, hasilnya adalah seperti sekarang, perang terbuka antara Mariander dan Nina.


Bagaimana cara aku meyakinkan True One agar melakukan ini? Mudah saja. Aku hanya perlu mengatakan pada mereka kalau Bana'an dan Nina akan berperang. Dan, ada kemungkinan Nina akan mencoba menggaet Mariander. Kalau hal itu terjadi, sangat besar kemungkinan Bana'an akan kalah. Setelah Bana'an kalah, Mariander pasti akan meminta bantuan Nina untuk menekan pemberontak sebagai balas budi.


Namun, tetap saja. Aku sama sekali tidak menduga rencananya akan berjalan secepat ini.


Gambar berita kini berganti menjadi tiga orang duduk di meja panjang, saling melemparkan opini. Akhirnya, sebuah pernyataan penutup pun muncul dari orang-orang itu.


[Kondisi dunia sangat tidak kondusif. Beberapa minggu yang lalu, perang antara Bana'an dan Mariander resmi pecah setelah ada percobaan pembunuhan terhadap Permaisuri Rahayu. Beberapa saat lalu, Nina resmi mendeklarasikan perang pada Bana'an karena tewasnya keluarga kerajaan ketika berlibur. Dan, saat ini, dengan Mariander dan Nina telah melakukan perang terbuka. Setengah dari Benua Ziggurat resmi dalam keadaan perang. Mari kita berharap agar perang ini tidak merambah lebih jauh dan pecah menjadi perang dunia.]


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1



__ADS_2