
Di saat ini, waktu serasa berjalan begitu lambat. Aku sadar kalau mereka bertiga memang cantik. Namun, hari ini, aku merasa mereka menjadi amat sangat cantik dan menawan. Pandanganku tidak bisa lepas dari mereka bertiga. Gaun yang dikenakan berbeda, tapi ada satu hal yang sama, sebuah jubah dan tudung putih tembus pandang menyelimuti tubuh.
Emir mengenakan gaun putih yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajahnya dan tangan. Roknya tidak mekar seperti gaun pernikahan bangsawan pada umumnya, tapi lemas seperti gaun pesta malam. Pada gaun putihnya, terlihat ornamen bunga merah membara, senada dengan rambut dan senyum di bibir. Pada bagian kepala, rambut merah yang diikat dan dipasangi klip pada sisi kanan terlihat menonjol dari balik jubah tembus pandang.
Inanna mengenakan gaun dengan warna dasar yang sama, putih. Namun, model dan ornamennya berbeda dari Emir. Ornamen pada gaun Inanna adalah motif fraktal kotak hijau muda, senada dengan matanya yang bercahaya. Gaun Inanna berhenti di atas dada dan kembali muncul di leher. Kedua lengan putihnya tidak tertutup oleh kain, hanya sarung tangan putih dengan ornamen di telapak. Dia membiarkan rambut hitam berkilaunya terburai, jatuh, di balik tudung dan jubah putih tembus pandang.
Rina mengenakan gaun yang bisa dibilang paling kasual dibanding Inanna dan Emir. Namun, dia tidak kalah menawan dan cantik. Sebuah gaun panjang dari leher hingga kaki, tanpa lengan, dengan belahan di samping paha memberikan kesan elegan. Kesan elegan Rina semakin kuat dengan sarung tangan panjang, menutup hingga siku. Motif garis melengkung biru langit memberi kesan mengalir, menenangkan. Tudung putih di kepala Rina seolah menjadi satu dengan rambutnya, seolah menjadi perpanjangan, bagaikan dewi yang turun dari langit.
Mereka bertiga berjalan dengan perlahan diiringi orkestra lembut, melewati karpet putih, memikat semua mata yang memandang, terutama aku. Aku bingung harus memandang ke siapa. Baik Emir, Inanna, maupun Rina benar-benar menawan. Mereka bertiga adalah tokoh utama untuk hari ini. Kalau seandainya ketakutan tanpa alasanku masih ada, pasti saat ini sudah hilang, tertutup oleh kekaguman pada ketiga calon istriku ini.
"Mempelai wanita dipersilakan duduk."
Posisi duduk adalah Emir di depanku, Inanna di kiri, dan Rina di kanan.
Musik berhenti.
"Pada hari ini, kita hadir untuk menyaksikan upacara sakral, upacara pemersatu insan-insan yang terikat oleh takdir. Bersama-sama, mari kita saksikan dan dengarkan pertukaran kesetiaan para mempelai. Mempelai wanita pertama dipersilakan."
Emir berdiri. Wajahnya tidak terlihat tegang. Justru sebaliknya, sebuah senyum lebar terpampang, memberi kesan lega dan bahagia.
Emir menarik nafas dan berteriak lantang, "Namaku Emir Falch Exesias dengan ini menerima Lugalgin Alhold sebagai suamiku. Dengan pernyataan ini saya resmi menjadi istri pertama Lugalgin Alhold."
"Saya, Lugalgin Alhold, dengan ini menyatakan bersedia menjadi suami dari Emir Falch Exesias, menerimanya sebagai istri pertama."
Normalnya, kedua mempelai, baik aku maupun Emir, akan menyebutkan nama orang tua juga. Namun, karena pernikahan ini bisa dibilang tidak normal, ibu dan tante filial memutuskan untuk tidak menyebutkan nama orang tua. Cukup sebutkan nama lengkap diri sendiri.
"Dengan ini, Lugalgin Alhold dan Emir Falch Exesias telah resmi menjadi suami istri. Kedua mempelai dipersilakan untuk melakukan ikatan pernikahan."
Tidak! Ikatan pernikahan tidak ditunjukkan dengan ciuman seperti di film-film timur! Di benua ini, kami memiliki cara lain untuk menunjukkan ikatan pernikahan.
Emir melangkah dan berdiri di depanku. Aku pun berdiri dari kursi, menghadapi Emir dengan senyuman. Aku meletakkan kedua tangan di bawah wajah Emir. Kami berdua sedikit menundukkan kepala dan perlahan mempertemukan kening dan ujung hidung. Emir dan aku pun memejamkan mata.
"Terima kasih Lugalgin. Ini adalah momen paling bahagia yang pernah kurasakan dalam hidupku."
__ADS_1
"Aku juga."
Kami tidak mengatakan hal itu dengan lantang, tapi berbisik.
Bukan hanya Emir, aku juga merasa momen ini adalah momen paling bahagia dalam hidupku. Melalui beberapa kalimat ini, kami menghilangkan kata "calon" dan resmi menjadi suami istri.
Emir, kita bertemu setahun yang lalu. Disebabkan oleh kesalahpahaman yang membuatmu mengompol, hubungan kita berubah menjadi putri dan kesatria, lalu menjadi calon suami istri. Kamu rela meninggalkan status keluarga kerajaan demi bersamaku yang membenci status bangsawan. Dan, berkat kamu lah aku bisa bertemu dengan Inanna dan Rina.
Ketika hidupku terombang-ambing tanpa arah, hanya memikirkan untuk mencari anak-anak panti asuhan Sargon, untuk memenuhi janji dengan Tasha, kamu datang, meyakinkan kalau kebahagiaanku juga penting. Terima kasih Emir.
Melalui kontak di kening dan hidung ini juga aku merasakan semua emosi Emir mengalir ke tubuhku. Nafas yang begitu tenang dan lembut menunjukkan bagaimana leganya perasaan Emir setelah melalui berbagai macam rintangan. Mulai dari penolakan ibu tahun lalu hingga usaha Rahayu yang mengerahkan kepolisian. Ya. Semuanya mengalir ke dalam diriku.
Setelah menyampaikan perasaan, kami pun memisahkan diri. Emir adalah pihak pertama yang memisahkan diri. Matanya tampak begitu bahagia, tapi, tampaknya, dia tidak lupa bahwa kebahagiaan ini bukanlah miliknya semata. Kebahagiaan ini juga milik Inanna dan Rina.
Kami pun mundur dan kembali duduk.
"Mempelai wanita kedua dipersilakan."
Inanna berteriak lantang, "Namaku Inanna Arc Spicante dengan ini menerima Lugalgin Alhold sebagai suamiku. Dengan pernyataan ini saya resmi menjadi istri kedua Lugalgin Alhold."
Aku benar-benar terkejut dengan Inanna yang berteriak lantang. Suaranya tidak terdengar sendu walaupun dia menitikkan air mata. Bahkan, aku mendapat kesan lebih tegas pada suara Inanna jika dibandingkan dengan Emir.
"Saya, Lugalgin Alhold, dengan ini menyatakan bersedia menjadi suami dari Inanna Arc Spicante, menerimanya sebagai istri kedua."
"Dengan ini, Lugalgin Alhold dan Inanna Arc Spicante telah resmi menjadi suami istri. Kedua mempelai dipersilakan untuk melakukan ikatan pernikahan."
Penghulu merespons ucapan tulus kami dengan pernyataan resmi sebagai suami istri dan mempersilakan untuk melakukan ikatan pernikahan.
Aku berdiri dan berjalan ke kiri, ke depan Inanna. Aku meletakkan kedua tangan di bawah wajah Inanna. Kami memejamkan mata dan mempertemukan kening dan ujung hidung, membiarkan perasaan dan emosi kami mengalir. Di saat itu, kami pun berbisik.
"Terima kasih Lugalgin. Kamu tidak hanya menyelamatkan ibu dan Ninshubur. Kamu juga telah menghancurkan rantai yang membelengguku dari kerajaan Mariander. Tidak hanya itu, kamu pun memberi banyak pengalaman hidup baru dan indah. Aku menyayangimu, Gin."
"Aku juga menyayangimu, Inanna."
__ADS_1
Inanna, awalnya kita bertemu sebagai musuh. Bahkan, kamu hampir membunuhku dan Emir di jalan tol itu. Namun, berkat kamu yang memercayai bualanku, kami berdua mampu bertahan hidup. Dua bulan setelahnya, kami bertemu lagi denganmu, tidak sebagai musuh, tapi sebagai sekutu.
Kamu memercayai ucapanku mengenai penghilang pengendalian. Kamu juga memercayaiku ketika ibu dan adikmu disandera. Sejak awal hingga akhir, kamu meletakkan kepercayaanmu padaku dengan sepenuh hati.
Di saat ini juga aku bisa merasakan semua perasaan Inanna. Nafasnya agak pendek dan terdengar suara isak yang lirih. Jika Emir menganggap momen ini sebagai momen paling indah dan lega, aku merasakan hal lain dari Inanna. Yang aku rasakan dari kontak ini adalah Inanna menganggap pernikahan ini sebagai sebuah pencapaian, sesuatu yang sebelumnya mustahil dicapai, menikahi pria yang dia sayangi.
Semua ingatan dan kilas balik sejak awal pertemuan dengan Inanna muncul di benakku. Dan, mungkin karena ketularan mood Inanna, aku juga menitikkan air mata.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1