I Am No King

I Am No King
Chapter 302 – Nina Bobo


__ADS_3

"Nina bobo ... oh ... nina bobo ... kalau tidak bobo digigit nyamuk."


Dengan peti arsenal di punggung dan tombak di tangan, aku bernyanyi lantang, membiarkan suaraku terdengar di seluruh ruangan. Tombak ini hanyalah tombak biasa, bukan tombak tiga mata.


Perlahan, aku berjalan menyusuri ruang. Sesekali, aku menebaskan tombak dan membunuh orang yang datang. Terkadang aku menarik pistol yang terpasang di holster pinggang dan melepas beberapa tembakan.


"Seseorang, tolong!"


"Tolong! Tolong buka pintunya!"


"Tolong!"


Samar-samar, di balik suara nyanyianku, teriakan panik terdengar. Tanpa perlu melihat, aku bisa tahu kalau mereka berusaha membuka pintu. Namun, sayangnya, bangunan ini sudah aku segel. Tidak ada seorang pun bisa meninggalkan tempat ini tanpa izin dariku.


Rumah bangsawan selalu besar dengan taman mengelilingi bangunan utama. Bangunan tipe ini memiliki kekurangan yang sangat fatal. Ketika musuh masuk dari dalam dan mengunci akses keluar masuk, tidak akan ada orang yang tahu. Sekencang apapun mereka berteriak, tidak akan ada orang yang dengar.


Bagaimana dengan penjaga? Ya, mereka semua sudah aku bunuh. Ya, tidak semuanya sih. Aku bukanlah pembunuh berdarah dingin. Aku memberi kesempatan bagi pelayan, penjaga dan karyawan yang tidak tahu apa-apa. Kalau mau pergi dan menutup mata atas semua kejadian di sini, aku biarkan mereka hidup. Kalau tidak? Pembersihan.


Efeknya? Tidak banyak yang menyatakan ingin melawan. Orang-orang yang ingin melawanku rata-rata adalah bangsawan yang kebetulan bekerja di bawah keluarga Fafniari. Untuk rakyat jelata, mereka tidak ambil pusing dan langsung pergi.


Jujur, berkat intelijen Bana'an, pembersihanku benar-benar terasa mudah. Dulu, aku harus masuk diam-diam, menghindari semua pelayan dan penjaga, baru bisa membunuh anggota keluarga. Namun, sayangnya, walaupun mereka kubiarkan hidup, pengadilan berkata lain. Para pelayan dan penjaga akan menjadi tersangka. Mereka diduga berkomplot untuk membunuh si bangsawan.


Menyusup tanpa membunuh orang tidak bersalah bukanlah hal mudah. Ketika tahu mereka mendapat hukuman mati, aku mengumpat. Tahu begitu aku bunuh mereka dari awal. Setidaknya, kalau ikut mati, keluarga mereka tidak akan mendapat sanksi sosial. Ya, sudahlah. Yang berlalu biarlah berlalu. Yang penting, sekarang, keselamatan dan bungkamnya mereka pun diawasi oleh intelijen. Jadi, aku bisa santai.


Perlahan, teriakan panik semakin pelan. Bukan pelan, tapi menjauh. Tampaknya mereka sudah menyadari kalau tidak ada seorang pun yang akan menolong. Pilihan yang realistis adalah pindah ke ruangan lain dan bersembunyi. Sayangnya percuma.


Aku sampai di sebuah ruangan dan membuka pintu. Tanpa lampu, tidak ada pencahayaan selain dari luar jendela anti peluru. Wahai bangsawan, jendela anti peluru yang kalian gunakan sebagai perlindungan justru jadi senjata makan tuan.


"Nina bobo ... oh ... nina bobo ... kalau tidak bobo digigit nyamuk."


Sambil menyalakan lampu, aku terus menyanyi.


Menurut Lacuna, kalau melakukan pembersihan dengan cara menyelinap, menyanyi akan sangat membantu. Dengan menyanyi, musuh mengetahui posisimu. Jadi, kemungkinan kamu dan musuh berpapasan karena faktor tidak sengaja sangat kecil. Faktor tidak sengaja adalah sesuatu yang harus diminimalisir.


Anggap saja musuh membawa pisau. Tiba-tiba dia tanpa sengaja bertabrakan denganmu dan pisau itu menancap. Kamu akan mengalami luka. Permasalahan dari tidak sengaja adalah gerakan tanpa pola. Dan, karena tanpa pola, tidak ada aura haus darah atau niat membunuh yang terpancar. Jadi, insting kita tidak akan bergerak tepat waktu.


Dengan menyanyi dan mengumumkan keberadaan, aku bisa meminimalisir faktor tidak sengaja. Musuh akan memancarkan niat membunuh, membuat insting siaga. Selain itu, hal ini juga bisa membuat musuh ketakutan, mengalami teror. Musuh yang panik dan diteror oleh suara nyanyian tidak akan bisa berpikir jernih, memberi efek pergerakan mudah dibaca.

__ADS_1


Ruangan ini terlihat begitu rapi. Bahkan, lampu yang sebelumnya mati mengindikasikan kalau tidak ada orang di dalamnya. Namun, instingku tidak bisa ditipu. Aku bisa merasakan kehadiran 3 orang di ruangan ini. Dua orang di lemari, satu orang di bawah meja kerja.


Aku berhenti bernyanyi. "Yang tersisa tinggal 3 orang. Pertama, Kepala Keluarga saat ini, Duke Sien Fafniari, kakak dari Permaisuri Rahayu dan Pakde dari Emir. Kedua, ibu dari Duke Sien Fafniari, Fatima Fafniari. Dan, yang terakhir, putri bungsu dari Duke Sien, Kari Fafniari. Sangat disayangkan karena sang putri harus mati malam ini padahal dia akan menikah beberapa bulan lagi."


Tidak ada respon. Mereka masih diam. Namun, aku bisa mencium ketakutan mereka mengisi udara.


"Kalian berpikir bisa melawan karena aku tidak tahu niat kalian, kan? Namun, sayangnya, aku mengawasi kalian sejak saat itu. Beberapa anggota keluarga kalian sudah sangat bijak. Mereka memilih untuk dikucilkan oleh Keluarga Fafniari dan hidup di wilayah lain. Namun, di lain pihak, kalian justru angkuh dan arogan, berpikir bisa melawanku. Berpikir aku hanya rakyat jelata yang tidak mungkin melawan bangsawan."


Aku berjalan dan duduk di atas meja. Peti arsenal dan satu tombak kusandarkan di samping meja. Tanpa melihat, aku tahu kalau di bawah meja ini ada seorang perempuan sedang bersembunyi, Kari. Dia hanya 2 tahun lebih tua dari Emir. Dan, dari foto yang kulihat, dia cukup jelita seperti Yurika. Sungguh disayangkan dia harus mati di tanganku.


"Ketahuilah, aku adalah orang yang adil. Bagi mereka yang melawanku, pembersihan. Bagi mereka yang tidak melawan, kehidupan mudah dan aman menanti."


"...."


Tidak ada jawaban.


"Apa aku salah ruangan, ya?" Aku pura-pura salah. "Baiklah, ayo cek ruangan yang lain."


Aku turun dari meja dan kembali meletakkan peti arsenal di punggung. Saat itu, aku membuat sebuah suara ketukan di meja.


"Oh, tampaknya aku benar. Di ruangan ini memang ada orang."


Brakk


Pintu lemari terbuka, memunculkan dua sosok.


"Kumohon, ampuni kami. Kami tidak bermaksud menentangmu. Ibu lah yang memaksa kami untuk menentangmu."


"Brengsek! Apa yang kau lakukan?"


Duke Sien langsung menjual ibunya sendiri. Dia merengek, mengkhianati rambut merah membaranya.


Sadar dirinya sudah dijual, Fatima langsung bangkit dan lari.


"Aku tidak mau mati!"


Aku mengambil tombak di atas meja dan menusuk Fatima dari belakang. Dengan sudut tusukan agak tinggi, tombakku berhasil menembus atas tengkuk hingga mata kanan Fatima. Bahkan, bola mata Fatima menancap di mata tombak.

__ADS_1


Aku tidak menarik tombak untuk melepasnya dari tubuh Fatima, tapi mengayunkannya ke kanan kiri. Ayunanku sukses membuat kepala Fatima dari badan dan tombak, terlempar ke ujung ruangan.


"Satu lagi tewas, tinggal DUA."


Aku memberi tekanan pada kata dua, menunjukkan Duke Sien kalau aku juga akan membunuh putrinya.


Duke Sien berlutut. "Kumohon. Ampuni kami. Kami tidak akan melawanmu lagi. Kami hanya dipaksa menuruti ibu."


"Kau ingin aku memberi ampunan? Berikan alasan kenapa aku harus mengampuni kalian. Maksudku, bisa saja kamu berbohong soal dipaksa, kan? Bisa saja kamu hanya ingin menyelamatkan diri dengan berbohong."


"Aku tidak berbohong. Aku benar-benar terpaksa melakukannya."


Hah! Aku sudah bilang mengawasi kalian sejak kudeta. Dan, yang aku maksud mengawasi, bukan hanya gerak gerik tapi juga kehidupan pribadi. Aku benar-benar tahu Duke Sein tidak dipaksa oleh Fatima. Bahkan, dia menawarkan bantuan layaknya putra yang berbakti.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1



__ADS_2