I Am No King

I Am No King
Chapter 94 – Mengunjungi Pasien/Korban


__ADS_3

"Bisa tolong kartu identitas?"


 


"Kami semua atau cukup satu?"


 


"Cukup satu."


 


"Kalau begitu kartu identitasku saja," ucapku sambil menyodorkan kartu identitas.


 


Resepsionis itu mengetik namaku dengan cepat. Setelah selesai, aku diberi sebuah kartu dengan nomor sebagai ganti kartu identitas.


 


"Kartu identitas Anda akan dikembalikan nanti setelah Anda mengembalikan kartu ini. Untuk ruangan nona Illuvia, Anda cukup menggunakan lift hingga ke lantai lima lalu ke kiri. Di lorong, Anda akan menemui kamar nomor 504."


 


"Terima kasih,"


 


Aku memasukkan kartu bernomor itu ke saku jaket dan berjalan ke kiri, menuju lift. Bersama denganku, Emir dan Inanna juga menjenguk. Kalau datang seorang diri, aku khawatir akan memberi harapan palsu pada Illuvia. Oleh karena itu, aku mengajak Emir dan Inanna yang adalah calon istriku. Aku tidak peduli meskipun dia akan kecewa karena aku tidak sendirian.


 


Karena aku sudah mengenakan sarung tangan kulit, aku bisa menekan tombol lift tanpa khawatir mematikan fungsinya.


 


Kami bertiga pun masuk ke dalam lift. Di dalam lift, Inanna terus memperhatikanku, hingga akhirnya dia pun mengeluarkan pertanyaan.


 


"Kamu tahu, gin. Aku hampir tidak pernah memperhatikan, tapi kamu hampir selalu mengenakan sarung tangan, ya? Tapi, tidak selalu."


 


"Lalu?"


 


"Bagaimana kamu memutuskan kapan harus memakai atau melepas sarung tangan?"


 


Aku jadi ingat pada pertanyaan Emir. Beberapa hari setelah Emir tinggal satu atap denganku, dia juga menanyakan hal yang sama. Maka, kali ini, aku juga akan memberi jawaban yang sama.


 


"Normalnya, aku akan selalu membawa sarung tangan di kantung jaket atau celana. Ketika masuk ke tempat umum, dimana mesin rotasi dengan pengendalian adalah vital seperti lift atau elevator ketika di mal atau rumah sakit, aku akan mengenakan sarung tangan. Kalau hanya di taman, tidak."


 


"Heh, begitu ya."


 


"Tapi, untuk saat seperti sekarang, ketika mendekati musim dingin, aku akan lebih sering mengenakan sarung tangan walaupun berada di taman."


 


Sudah hampir akhir tahun. Daun-daun masih berguguran, dan salju pun baru muncul bulan depan, setelah pergantian tahun. Meski demikian, suhu sudah mulai menurun.


 


Ting


 


Akhirnya lift berhenti dan kami pun keluar. Kami mengikuti petunjuk resepsionis dan berjalan ke kiri, menyusuri lorong dengan dinding di kanan dan jendela di kiri, hingga menemui kamar nomor 504. Begitu tiba di depan, aku pun mengetok pintu.


 


Tidak terdengar jawaban atau respon dari dalam ruangan, tapi, dalam waktu singkat, pintu dibuka. Di depan mataku, berdiri seorang perempuan setengah baya yang lebih pendek dariku, mengenakan pakaian pelayan.


 


"Eh? Lugalgin? Kok kamu..."


 


Nerva tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Dia hanya melihat ke kanan kiri sambil menggigit kuku.


 


"Bagaimana kondisi Illuvia?"


 


"Ah, Nona Illuvia sedang tertidur. Namun, kalau kamu mau masuk, silakan."


 


Meski tampaknya kedatanganku tidak diharapkan, dia tetap mempersilakanku masuk. Kami bertiga pun masuk ke ruangan.


 


"Permisi."


 


"Maaf mengganggu."

__ADS_1


 


Emir dan Inanna mengucapkan salam dengan suara pelan, memastikan tidak mengganggu Illuvia yang sedang tertidur.


 


"Eh?"


 


"Ya?"


 


"Ah, maaf. Hanya saja, Anda mirip sekali dengan Nona Illuvia."


 


"Lugalgin mengatakan hal yang sama. Aku juga penasaran dengan teman Lugalgin ini."


 


Nerva memberi respon yang normal ketika melihat Inanna.


 


Ruangan ini adalah kamar rawat VIP. Terdapat kamar mandi tepat setelah pintu masuk. Setelah itu, ada sofa dengan meja rendah, terletak di samping ranjang pasien. Di depan ranjang pasien, terdapat sebuah televisi layar lebar. Di samping kirinya, terdapat sebuah jendela yang terhubung dengan balkon, yang kordennya tertutup.


 


Sesuai ucapan Nerva, Illuvia tertidur. Dia mengenakan pakaian pasien berwarna putih yang mudah dilepas. Jika tangan kanannya terlihat normal, tangan kirinya tidak. Sikunya ditekuk dan digantungkan ke bahu kanan. Karena pakaian pasien adalah lengan pendek, aku bisa melihat perban yang terbuat dari logam melilit tangan kiri Illuvia.


 


"Wah, dia benar-benar mirip denganmu, Inanna."


 


"Iya, kamu benar. Rasanya seperti melihat diriku di cermin."


 


"Apa jangan-jangan, kalian saudara kembar yang terpisah saat lahir?"


 


"Ha...ha.... aku tidak bisa benar-benar tertawa karena bisa jadi itu benar. Maksudku, wajah kami begitu mirip."


 


Emir dan Inanna berbisik-bisik, memastikan suaranya tidak membangunkan Illuvia. Namun, aku mendengar semua ucapan mereka.


 


Sebelumnya, karena penasaran, aku iseng melakukan uji coba DNA dengan menggunakan rambut mereka berdua. Dan, hasilnya adalah, mereka tidak memiliki hubungan darah. Bagaimana aku bisa memiliki rambut Illuvia? Sudahlah. Tidak usah dibahas bagaimana aku bisa memiliki rambutnya.


 


 


Tanpa aku meminta, Nerva sudah memberi penjelasan.


 


"Berapa lama hingga dia sembuh?"


 


"Tidak terlalu lama. Mungkin beberapa minggu hingga tiga bulan. Namun, sayangnya, setelah itu Nona tidak akan bisa mengangkat tangan kirinya lebih tinggi dari bahu."


 


"Begitu ya," Aku merespon pelan. "Emir, Inanna, kalian berdua tolong tunggu di sofa sementara aku ingin berbicara dengan Nerva."


 


"Eh? Kamu yakin?"


 


"Kalau dia bangun, dan melihat orang asing, apa dia tidak akan panik? Belum lagi melihatku yang mirip dengannya."


 


Emir dan Inanna merespon bergantian.


 


"Kalau dia bangun, teriakkan saja namaku. Itu akan membuatnya tenang."


 


"Ha....aahh....."


 


Emir dan Inanna merespon dengan setengah hati. Apa mereka cemburu karena Illuvia akan tenang ketika mendengar namaku? Apa mereka merasa tersaingi? Ya, mungkin.


 


Aku dan Nerva pun keluar dari kamar. Kami berdua sama-sama bersandar di samping pintu, melihat ke jendela di seberang lorong, di depan kami. Hari masih pagi, jam 10. Jadi, matahari masih bersinar dari kanan.


 


Dua hari lalu, aku dan Ibla menurunkan Nerva dan Illuvia di depan rumah keluarga Nerras. Di saat itu, kami selalu mengenakan topeng. Jadi, Nerva sama sekali tidak tahu kalau aku adalah Sarru.


 


Aku memberi obat tidur dan obat penahan rasa sakit pada Illuvia saat itu. Jadi, selama perjalanan, dia tertidur. Ketika Nerva menanyakan kenapa aku bersedia mengampuni mereka dan bahkan berbaik hati mengantar hingga kediaman keluarga Nerras, aku menjawab, "Aku sering berbisnis dengan Lugalgin Alhold. Kalau dia tahu aku membunuh teman baiknya, aku khawatir dia tidak akan mau berbisnis lagi denganku.".

__ADS_1


 


Di saat itu, hingga saat ini, aku benar-benar berterima kasih pada keputusan Mulisu untuk tidak membunuh Nerva, yang saat itu adalah Kinum palsu, yang berakibat aku mengetahui kalau Sarru adalah Illuvia. Dia sendiri juga terkejut ketika mengetahui Kinum dan Sarru palsu ini adalah orang yang aku kenal.


 


Setelahnya, tiba-tiba, Mulisu tidak mempermasalahkan nama Agade, Kinum, dan Sarru yang digunakan oleh Illuvia. Begitu juga dengan yang lain. Bahkan, mereka bilang, kalau tahu yang menggunakan nama Kinum, Sarru, dan Agade adalah teman baikku, mereka akan membiarkannya begitu saja. Sampai-sampai, Ur meminta maaf karena sempat mengancam akan membunuh Nerva dan Illuvia.


 


Terkadang, aku tidak paham dengan jalan pikir mereka. Ya, sudahlah. Sekarang bukan saatnya aku memikirkan hal itu.


 


"Jadi, Nerva, ada yang ingin kamu katakan padaku? Apa kamu bisa membayangkan, bagaimana terkejutnya aku ketika pagi ini mendapat panggilan dari klien yang tiba-tiba meminta maaf? Bahkan, dia langsung mengirimkan sejumlah uang ke rekeningku sebagai permintaan maaf."


 


Tentu saja, itu semua adalah bohong.


 


"Itu...." Nerva membuang wajah. "Apa saja yang orang itu katakan?"


 


"Dia hanya mengatakan kalau dia telah menghancurkan bahu Illuvia yang kini dirawat di rumah sakit ini, di kamar ini."


 


"Begitu ya...."


 


Sebenarnya, informasi mengenai tempat Illuvia dirawat kudapat dari Ibla.


 


"Nerva,"


 


"Ya?"


 


Aku melihat Nerva sempat terentak. Bahkan, dia hampir melompat ketika aku memanggilnya.


 


"Bisa tolong kamu ceritakan kenapa Illuvia terlibat di dunia pasar gelap? Bahkan hingga berhadapan dengan salah satu orang paling berbahaya di pasar gelap? Bukankah seharusnya dia kuliah di Karia? Kenapa dia dirawat di sini?"


 


Nerva masih membuang muka. Setelah sedikit waktu berlalu, akhirnya dia menoleh ke arahku.


 


"Kamu juga bersalah dalam hal ini."


 


"Hah?"


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Maaf ya karena baru update. Berapa hari yang lalu sempat rawat inap (lagi) dan lalu berapa hari kemudian dalam masa pemulihan. Jadi, update sempat tersendat. Dan, selain itu, Author masih merasa annoyed karena ada komentar promosi judul lain, bahkan komentar itu (karena baru dan panjang) masuk ke komentar terbaik. Jadinya agak males deh. Well, jadi yang membuat update telat karena sempat rawat inap dan annoyed juga. Hehe.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1



__ADS_2